Share

Bab 5

Penulis: Waterverri
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-05 16:37:19

Pencarian donor dimulai minggu berikutnya. Maya memutuskan untuk mendekati sepupunya, Andi, yang sudah memiliki tiga anak. Mereka bertemu di Starbucks sebuah mall di Jakarta Selatan, jauh dari lingkungan sosial mereka yang saling mengenal.

"Jadi," Andi menyesap espresso-nya dengan gugup, "kalian mau aku... ngasih..."

"Spermamu," Maya menyelesaikan kalimatnya, mencoba kedengaran profesional seperti waktu meeting. "Secara medis, tentu aja. Semua bakal dilakukan dengan prosedur yang bener."

Andi nyaris tersedak kopinya. "Kamu udah gila?" bisiknya tajam. "Gimana kalo Tante tau? Atau Papa? Mereka bisa kena stroke!"

"Nggak bakal ada yang tau," Maya mencondongkan tubuhnya, suaranya memohon. "Please, Ndi. Kamu tau kan banget kami pengen punya anak."

"Nggak mungkin." Andi menggeleng tegas, membereskan tasnya. "Aku nggak mau ikutan drama kayak gini. Cari orang lain aja deh." Ia berdiri, lalu menambahkan dengan nada lebih lembut, "Dan May... please jangan cerita ke siapa-siapa soal obrolan ini ya."

Irwan tidak lebih beruntung. Ia mencoba peruntungannya dengan Dimas, teman kuliahnya yang masih lajang. Mereka bertemu di Senayan National Golf Club, tempat yang cukup eksklusif untuk menjamin privasi.

"Sorry, Wan," Dimas mengayunkan stick golf-nya dengan gugup, bolanya meleset jauh. "Ini... terlalu berat. Maksud gue, kita emang temen deket, tapi..."

"Kita bikin perjanjian resmi," Irwan menjelaskan, tangannya gemetar memegang stick. "Semuanya legal dan rahasia."

"Dan bayangin setiap liat anak lo nanti, itu sebenernya..." Dimas menggeleng kuat-kuat. "Nggak bisa, Wan."

Dimas meninggalkan lapangan golf bahkan sebelum menyelesaikan hole ketiga. Sejak itu, ia menghilang dari grup W******p alumni, dan status terakhir dilihat-nya di chat personal dengan Irwan selalu "Lama sejak terakhir dilihat".

Penolakan demi penolakan berdatangan. Undangan makan malam yang biasanya disambut antusias, kini selalu berakhir dengan "Ada meeting dadakan" atau "Anak lagi sakit". Group chat yang biasanya ramai dengan candaan dan gosip, mendadak sepi setiap Maya atau Irwan mengirim pesan.

"Liat deh cara mereka ngeliatin aku di supermarket tadi," Maya terisak suatu malam. "Istri Dimas pura-pura nggak liat, padahal jelas-jelas kita papasan di bagian sayur."

Irwan melampiaskan frustrasinya dengan lembur. Kantornya yang biasanya sepi setelah jam lima, kini menjadi tempat pelariannya hingga tengah malam. Proposal-proposal menumpuk di mejanya bukan karena banyak pekerjaan, tapi karena ia takut pulang dan menghadapi kenyataan.

Suatu malam, Maya pulang dengan wajah kusut. Blazer Burberry-nya tampak kusut, maskara luntur di sudut matanya. Satu lagi makan siang yang dibatalkan sepihak oleh teman-temannya - kali ini Sandra, sahabatnya sejak kuliah.

"Ini semua gara-gara kamu!" Maya membanting tas Hermes-nya ke lantai. Pak Karyo yang sedang mengepel di dekat situ terlonjak kaget, tapi tetap diam melanjutkan pekerjaannya. "Kalo aja kamu normal..."

"Kalo kamu normal, kita nggak perlu bikin malu diri sendiri kayak gini!"

Kata-kata itu menggema di dapur yang luas. Pak Karyo, yang sedang mengelap konter dapur, menghentikan gerakannya sejenak. Selama empat tahun bekerja di rumah ini, ia sudah terbiasa dengan pertengkaran majikannya. Biasanya hanya bisikan-bisikan tajam atau pintu yang dibanting. Tapi malam ini berbeda.

"Kamu pikir aku mau kayak gini?" Irwan membalas, suaranya bergetar. "Kamu pikir aku sengaja bikin kita jadi bahan omongan?"

Maya tertawa getir. Air mata mengalir di pipinya yang masih berbekas foundation mahal. "Setidaknya kamu nggak perlu ngadepin tatapan mereka tiap hari. Tatapan kasihan, tatapan jijik..." Ia mengambil gelas dari rak, tangannya gemetar saat menuang air. "Kamu bisa sembunyi di balik meeting sama lembur-lembur kamu itu."

"Dan kamu pikir aku bahagia?" Irwan menghempaskan diri di kursi makan. "Kamu pikir aku nggak ngerasa... nggak ngerasa..." Suaranya tercekat.

Pak Karyo melirik dari sudut matanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Irwan - pria yang selalu tampil tegar dan profesional itu menangis. Air mata mengalir di pipinya tanpa suara, bahunya berguncang menahan isakan.

"Permisi, Pak, Bu..." Pak Karyo berdeham pelan, merasa tidak nyaman menyaksikan momen intim ini. "Saya.... mungkin saya ke belakang dulu."

"Nggak usah, Pak Karyo," Maya menggeleng lemah. "Selesain aja kerjaan Bapak. Toh semua orang juga udah tau betapa menyedihkannya rumah tangga kita."

Pak Karyo menunduk, melanjutkan pekerjaannya membersihkan dapur. Tapi matanya sesekali melirik ke arah Maya yang kini terduduk lemas di meja makan, dan Irwan yang masih terisak tanpa suara. Sebagai pria berusia 54 tahun dengan lima anak yang sehat, hatinya terenyuh melihat penderitaan pasangan muda ini.

Tangannya yang kuat menggenggam lap dengan lebih erat. Ia ingat bagaimana dulu istrinya melahirkan anak-anak mereka dengan mudah. Lima kali hamil, lima kali melahirkan dengan lancar. Bahkan di usianya yang sudah kepala lima, ia masih sering mendapat godaan dari tetangga-tetangga di kampung tentang 'kehebatannya'.

Maya terisak lagi, kali ini lebih keras. "Aku nggak kuat lagi, Yang... Aku nggak kuat liat Sandra gendong bayinya tadi. Dia bahkan nikah dua tahun setelah kita..."

Irwan bangkit, hendak memeluk istrinya, tapi Maya menghindar. "Jangan pegang-pegang," bisiknya tajam. "Aku nggak mau... aku nggak bisa..."

Pak Karyo meletakkan lapnya perlahan. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya - sesuatu yang membuatnya memberanikan diri melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan selama empat tahun bekerja di rumah ini.

"Maaf, Pak, Bu..." Pak Karyo berdeham pelan, menghentikan aktivitasnya mengelap konter dapur. Matanya melirik canggung pada kedua majikannya yang masih bersitegang.

Maya menoleh tajam. "Apa?" Suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan, mata merahnya masih basah oleh air mata.

Pak Karyo tersentak kecil. Selama empat tahun bekerja di rumah ini, ia jarang melihat nyonyanya semarah ini. Tangannya yang kasar meremas lap di genggamannya, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi keberaniannya menciut melihat tatapan Maya.

"Sa-saya..." ia memulai ragu, "Saya cuma mau bilang kalau-"

"Bilang apa?" Maya memotong tidak sabar. "Kalau sudah waktunya Bapak istirahat? Ya, silakan. Kami butuh privasi."

Pak Karyo menunduk, mengurungkan niatnya. "Nggih, Bu. Permisi." Ia mundur perlahan, matanya sesekali melirik ke arah Irwan yang masih terdiam.

Sepeninggal Pak Karyo, suasana dapur kembali mencekam. Denting samar sendok kopi Irwan yang terus diaduk tanpa tujuan memecah keheningan.

"Ini nggak adil, Wan," Maya berbisik, tangannya menggenggam ujung blazernya hingga kusut. "Berapa banyak lagi penolakan yang harus kita terima? Sepupu kamu, teman-teman kita... semua menjauh begitu kita minta bantuan."

Irwan meletakkan sendoknya dengan suara denting pelan. "Aku udah hubungi semua orang yang bisa dipercaya, Maya. Tapi ini permintaan yang... sulit."

"Sulit?" Maya tertawa getir. "Kita cuma minta sperma mereka, bukan ginjal!" Suaranya meninggi, getaran emosi terdengar jelas. "Dimas bahkan nggak mau ketemu kita lagi sejak kita bilang soal donor."

Irwan menghela napas berat. "Gimana pun, ini masalah sensitif. Orang-orang takut ada komplikasi nanti, takut kalau-"

"Kalau apa? Kalau aku tiba-tiba jatuh cinta sama donor?" Maya mencibir sarkastis. "Kamu pikir aku semurahan itu?"

"Maya, bukan gitu..." Irwan bangkit dari kursinya, kursi kayu itu berderit keras di lantai marmer. "Tapi kita harus realistis. Siapa yang mau ambil risiko jadi donor untuk kita tanpa ada ikatan apapun setelahnya?"

Di sudut dapur, tanpa mereka sadari, Pak Karyo berdiri diam, tangannya menggenggam kantong sampah yang seharusnya ia buang ke luar. Matanya menatap kedua majikannya dengan sorot yang sulit dibaca.

"Aku lelah, Wan," suara Maya melunak, bahunya turun dalam kekalahan. "Aku lelah terus berharap, terus mencari... tapi hasil tetap sama."

Irwan mendekati istrinya, tangannya ragu hendak menyentuh bahu Maya yang bergetar menahan isak. "Kita akan temukan jalan keluar. Mungkin... mungkin memang sudah waktunya kita pertimbangkan adopsi?"

"Nggak!" Maya menjauh, matanya menatap nyalang. "Aku pengen ngerasain hamil, Wan. Ngerasain bayi bergerak di perut aku sendiri. Ngerasain semua yang Linda rasain, yang semua sepupu kamu rasain!" Suaranya pecah oleh isak tangis.

"Maya..." Irwan menatap nanar, tangannya jatuh ke sisi tubuhnya.

Dari tempatnya berdiri, Pak Karyo bergerak pelan. Sepatu lusuhnya berderit kecil di lantai mengkilap, menarik perhatian Maya.

"Pak Karyo masih di sini?" Maya mengusap air matanya kasar, memasang wajah tegas yang biasa ia tunjukkan di kantor. "Saya bilang Bapak boleh pulang."

"Maaf, Bu..." Pak Karyo mengeratkan genggamannya pada kantong sampah, ada keraguan di matanya. "Saya cuma... saya mau..." Ia tidak melanjutkan kata-katanya, terintimidasi oleh tatapan Maya.

"Apa?" desak Maya tidak sabar. "Kalau nggak penting, tolong biarkan kami sendiri."

Pak Karyo mengangguk cepat, lalu berbalik menuju pintu belakang. Langkahnya sedikit terburu-buru, punggungnya yang biasa tegap kini sedikit membungkuk.

Sepeninggal Pak Karyo untuk kedua kalinya, Maya menatap Irwan dengan mata berkaca-kaca. "Aku nggak tahan lagi, Wan. Aku nggak bisa terus hidup dalam penolakan begini."

"Maya, dengarkan aku-"

"NGGAK!" Maya mendorong Irwan menjauh. "Kamu nggak ngerti perasaan aku! Kamu nggak pernah bisa ngerti!" Ia menyambar tasnya dan berjalan cepat ke arah tangga, meninggalkan Irwan yang terpaku.

Dari pintu belakang yang sedikit terbuka, Pak Karyo mengamati dalam diam, kantong sampah masih di tangannya. Ada sesuatu dalam tatapannya - sebuah keputusan yang mulai terbentuk.

Malam itu, Maya tidur dengan air mata mengering di pipinya, sementara Irwan terjaga di ruang kerjanya. Di kamar belakang yang sederhana, Pak Karyo menatap foto lima anaknya yang tersenyum lebar, jemarinya yang kasar menelusuri wajah-wajah bahagia itu dengan gerakan penuh pertimbangan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
anang hadiwijayanto
kayaknya nggak gini deh prosedur pencarian donornya......ngaco....
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Betuuuul banget
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Maya egois
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 498

    Sementara keluarga besar sibuk mengerumuni box bayi, Ratih dengan efisien mengatur semua keperluan—mengganti bunga yang mulai layu, mengemas makanan yang dibawa pengunjung, memastikan Maya cukup minum. Dani bermain di sudut ruangan dengan mobil-mobilan yang dibawakan oleh adik Maya."Ratih, kamu dan keluargamu benar-benar luar biasa," ibu Maya berkomentar, tangannya menepuk pundak Ratih. "Selalu siap membantu kapan pun. Maya beruntung punya kalian."Ratih menunduk sopan. "Sudah kewajiban kami, Bu." Tangannya meraih Dani, mengajaknya kembali bermain di sudut ruangan.Malam menjelang dan pengunjung mulai berpamitan. Hanya tinggal Irwan, Maya, dan Karya di kamar itu, dengan Ratih dan Dani yang sesekali masuk untuk mengecek kebutuhan mereka. Perawat masuk membawa troli berisi perlengkapan bayi, tersenyum ramah."Waktunya ganti popok dan pemeriksaan rutin, Bu," ujarnya. "Mau saya bantu atau Ibu mau mencoba sendir

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 497

    Enam jam berlalu dalam ketegangan. Di ruang bersalin, Maya berjuang dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Peluh membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya lepek menempel di dahi dan leher. Teriakan dan erangan kesakitannya bergema di ruangan itu, sesekali diselingi instruksi tegas dari dokter dan bidan."Sedikit lagi, Bu Maya. Kepalanya sudah mulai terlihat," dokter memberikan semangat.Di sampingnya, Irwan menggenggam tangannya erat, membisikkan kata-kata dukungan di antara napas Maya yang terengah. "Kamu kuat, sayang. Kamu bisa."Maya mengerahkan seluruh tenaganya untuk satu dorongan terakhir yang panjang dan menyakitkan. Suara tangisan bayi yang pertama kali memecah keheningan adalah melodi terindah yang pernah mereka dengar."Selamat, Pak, Bu. Bayi laki-laki, sehat sempurna," dokter mengumumkan dengan senyum lebar.Air mata Maya mengalir deras melihat sosok mungil berlumuran darah yang diangkat ke udar

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 496

    Sakit itu datang di tengah malam, menusuk dan menghantam hingga Maya tersentak dari tidurnya. Satu tangan meremas seprai, yang lain mencengkeram perutnya. Nafasnya terputus-putus, keringat dingin mengalir di dahi."Wan... Irwan..." Maya berbisik, suaranya tercekat. Sentuhan lembutnya di bahu Irwan begitu kontras dengan kerasnya kontraksi yang melanda tubuhnya.Irwan terbangun seketika, matanya melebar saat melihat ekspresi kesakitan Maya. Bertahun-tahun menanti momen ini membuat mereka telah mempersiapkan segalanya—tas sudah disiapkan di depan pintu, rute tercepat ke rumah sakit sudah dipelajari, semua dokumen tersusun rapi dalam map transparan."Sudah waktunya?" tanya Irwan, suaranya bergetar antara panik dan antisipasi.Maya mengangguk, giginya mengatup menahan gelombang kontraksi berikutnya.Rumah langsung berubah riuh. Irwan berteriak memanggil Ratih yang segera muncul dengan jubah tidur terka

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 495

    Senyum Ratih memudar sedikit. Dia meletakkan pisau, matanya menatap lurus ke mata Maya. "Waktu pertama kali dia begitu sama saya, saya pikir saya bakal mati."Maya mengangguk cepat, tangannya turun dan tanpa sadar mengusap perutnya yang besar. "Persis! Tapi anehnya... tubuh kita... malah...""Minta lagi," Ratih melanjutkan, suaranya bergetar. Dia menunduk, menyembunyikan kilatan air mata di sudut matanya.Maya mengulurkan tangan, hampir menyentuh tangan Ratih tapi berhenti di tengah jalan. "Dan sekarang... dengan jamu itu..."Ratih menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit. "Kayak monster, Bu. Dia nggak bisa berhenti." Jarinya bergerak memperlihatkan bekas melingkar di pergelangan tangannya. "Lima kali, enam kali, tujuh kali... sampe saya pingsan.""Ya Tuhan," Maya menggelengkan kepalanya, matanya melebar. "Pas program kemarin, tiga jam nonstop. Aku pikir aku bakal rusak.""Tapi tetep e

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 494

    Ratih meletakkan pisaunya, jari-jarinya gemetar saat narik napas panjang. Dia natap potongan kentang di depannya seolah benda itu paling menarik sedunia."Itu..." Ratih menelan ludah, suaranya pelan. "Pak Karyo lagi... nyobain jamunya. Nyari dosis yang pas."Maya mengernyitkan kening, sedikit condong ke depan. "Jamu?"Ratih mengangguk, jari-jarinya saling bertaut di pangkuannya. "Jamu kuat, Bu. Yang... yang bikin Pak Karyo hampir... sama Bu Maya waktu itu." Kalimat terakhir hampir nggak kedengeran."Oh..." Pemahaman nyapu wajah Maya kayak ombak. Dia duduk tegak, tangannya refleks meluk perutnya yang besar. "Kenapa dia masih minum jamu itu? Bukannya udah jelas bahaya?"Ratih ngangkat wajahnya, matanya ketemu Maya untuk pertama kali sejak topik ini dimulai. Ada keteguhan di sana yang bikin kaget."Dosis yang waktu itu kebanyakan, Bu. Kita... lagi nyari dosis yang pas. Yang bikin dia... bisa ngo

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 493

    Satu bulan telah berlalu. Kehamilan Maya kini memasuki bulan terakhir, tubuhnya semakin berat dan sering terasa tidak nyaman. Sore itu, Maya menangkap sosok Ratih sendirian di beranda belakang, duduk dengan sekeranjang kentang yang sedang dikupas.Dorongan untuk bergabung dengannya muncul secara tidak terduga. Mungkin karena kesepian, mungkin karena penasaran, atau mungkin karena intuisi wanita yang menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan Ratih."Boleh aku duduk di sini?" tanya Maya, mengejutkan Ratih yang tampak tenggelam dalam pikirannya."Bu Maya! Silakan, Bu," Ratih buru-buru bergeser, memberi tempat. Tangannya yang memegang pisau pengupas terlihat gemetar sedikit.Maya duduk perlahan, menghela napas lega saat berat tubuhnya berpindah dari kaki ke kursi. "Lega banget bisa duduk. Pinggang aku sakit banget akhir-akhir ini."Ratih tersenyum kecil, "Memang gitu, Bu. Bulan terakhir paling berat. Ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status