Share

Bab 3

Author: Waterverri
last update Last Updated: 2025-07-05 16:36:35

Malam itu, begitu sampai di rumah, Irwan langsung mengurung diri di ruang kerjanya. Maya bisa mendengar suara kunci diputar dari dalam. Dia berdiri di depan pintu kayu itu, tangannya terangkat hendak mengetuk, tapi tertahan di udara. Apa yang bisa dia katakan? Bahwa semua akan baik-baik saja? Mereka berdua tahu itu bohong.

"Pak Karyo," Maya memanggil pelan saat melihat asisten rumah tangga mereka lewat. "Tolong siapin makan malam buat Mas Irwan ya. Taruh aja di depan pintu."

"Nggih, Bu." Pak Karyo mengangguk, matanya melirik sekilas ke pintu ruang kerja yang tertutup. Maya bisa menangkap kekhawatiran di wajahnya.

Tiga hari berlalu. Nampan-nampan makanan di depan pintu nyaris tidak tersentuh. Maya hanya bisa mendengar suara keyboard dan sesekali geraman frustrasi dari dalam. Irwan masih mengerjakan pekerjaannya - mungkin lebih dari biasanya - tapi menolak keluar atau berbicara dengan siapapun.

Di hari kedua, Maya mencoba menelepon mertuanya, tapi kemudian membatalkan niatnya. Bagaimana dia bisa menjelaskan situasi ini pada wanita yang selalu membanggakan kesuburan keluarga mereka? Yang selalu bercerita bagaimana ia melahirkan empat anak dengan mudah?

"Bu Maya nggak makan?" Pak Karyo bertanya dengan nada khawatir saat membereskan piring sarapan yang lagi-lagi cuma disentuh setengah.

Maya menggeleng lemah. "Nanti aja, Pak. Aku... aku mau keluar bentar."

Dia mengambil kunci mobil dan tas tangannya, memastikan make-up-nya cukup tebal untuk menyembunyikan mata sembabnya. Ada satu tempat yang selalu dia kunjungi saat hatinya gundah - klinik konsultasi Dr. Sarah di kawasan Menteng, seorang psikolog spesialis pernikahan yang sudah menanganinya sejak program bayi tabung pertama.

Ruang konsultasi Dr. Sarah selalu terasa menenangkan. Aroma lavender dari diffuser, dinding dengan foto-foto keluarga bahagia, dan kehadiran wanita profesional yang selalu bisa membuat masalah seberat apapun terasa lebih ringan.

"Udah tiga kali program ya, Maya?" Dr. Sarah menuang air ke gelas. "Dan sekarang dokter bilang nggak bisa dilanjutin?"

Maya mengangguk, menyesap air mineralnya perlahan.

"Kelainan genetik, Dok. Kualitas spermanya..." dia terdiam, menggigit bibir. "Irwan... dia ngurung diri sejak tiga hari lalu."

"Hmm." Dr. Sarah mengangguk maklum. "Berat emang buat seorang suami. Apalagi di kultur kita, anak itu..." dia berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "kayak bukti kejantanan."

"Aku nggak tau harus gimana lagi, Dok." Maya menunduk, memandangi pantulan wajahnya yang lelah di permukaan air. "Adopsi... aku belum siap. Rasanya... rasanya beda."

"Ada opsi lain sebenernya," Dr. Sarah berkata pelan. "Secara medis, ini udah cukup umum di beberapa negara." Dia membuka sebuah brosur. "Donor sperma."

Maya mengangkat wajahnya, terkejut.

"Tapi... bukannya itu..."

"Ini prosedur medis yang legal dan aman," Dr. Sarah menjelaskan. "Banyak pasangan dengan kondisi kayak kalian yang berhasil punya anak lewat cara ini. Yang penting itu nyari donor yang tepat, dengan latar belakang kesehatan yang jelas, dan pastinya..." dia menatap Maya dengan pengertian, "...dengan persetujuan suami."

"Irwan nggak bakal setuju," Maya menggeleng cepat. "Dia... dia tradisional banget soal hal-hal kayak gini."

"Tapi setidaknya ini opsi yang bisa dipertimbangin," Dr. Sarah menyodorkan brosur itu. "Daripada kalian terus kejebak dalam rasa bersalah. Ada banyak cara buat bangun keluarga, Maya."

Maya termenung. Donor sperma. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya. Tapi sekarang...

"Pikirin baik-baik ya," Dr. Sarah tersenyum profesional. "Omongin sama Irwan kalau dia udah lebih tenang. Dan inget," dia menambahkan, "kadang solusi terbaik datang dari tempat yang nggak kita duga sebelumnya."

Dalam perjalanan pulang, pikiran Maya berkecamuk. Donor sperma. Kehamilan yang nyata. Bayi yang bisa dia kandung sendiri. Tapi... bagaimana cara menyampaikan ini pada Irwan? Pada suaminya yang bahkan mendengar kata "donor" saja sudah membuat wajahnya mengeras?

Mobil Maya memasuki halaman rumah. Dari jendela lantai dua, dia bisa melihat lampu ruang kerja Irwan masih menyala. Tiga hari, dan suaminya masih mengurung diri di sana. Maya menghela napas panjang, menggenggam kemudi erat. Mungkin memang sudah waktunya untuk membicarakan opsi yang tidak biasa ini.

Maya memarkir mobilnya di garasi, tapi tidak langsung turun. Dia menatap pantulan dirinya di spion - wajah lelah seorang wanita yang sudah kehabisan pilihan. Dari sudut matanya, dia melihat Pak Karyo sedang menyiram tanaman di taman depan, sosoknya yang tegap bergerak dengan efisien seperti biasa.

"Pak Karyo," Maya memanggil setelah keluar dari mobil. "Mas Irwan udah makan siang?"

"Belum, Bu. Nampan sarapan masih utuh di depan pintu." Suara Pak Karyo terdengar khawatir.

Maya mengangguk pelan, ide mulai terbentuk di benaknya.

"Tolong siapin sup asparagus ya, Pak. Yang biasa Mas Irwan suka."

Aroma sup yang menguar dari dapur membuat perut Maya bergemuruh, mengingatkannya bahwa dia sendiri belum makan sejak pagi. Dia menunggu dengan sabar sementara Pak Karyo menyiapkan nampan, memastikan semuanya sempurna - sup masih mengepul, roti panggang tersusun rapi, dan segelas jus jeruk segar.

Dengan hati-hati Maya membawa nampan itu ke lantai dua. Di depan pintu ruang kerja Irwan, dia menarik napas dalam-dalam.

"Yang?" Maya mengetuk pelan. Tidak ada jawaban. "Aku bawain sup asparagus. Yang kamu suka."

Hening sejenak. Maya hampir menyerah ketika mendengar langkah kaki pelan mendekati pintu. Suara kunci diputar.

Irwan berdiri di ambang pintu, tampak berantakan dengan kemeja yang sama sejak tiga hari lalu. Matanya merah dan berkantung, janggutnya mulai tumbuh tak beraturan. Maya belum pernah melihat suaminya sekacau ini.

"Boleh aku masuk?" tanya Maya lembut. Jantungnya berdebar melihat kondisi suaminya.

Irwan mundur tanpa kata-kata, membiarkan Maya masuk ke ruang kerjanya yang biasanya rapi tapi kini dipenuhi cangkir kopi kosong dan kertas-kertas berserakan. Laptop-nya menyala, menampilkan spreadsheet yang Maya yakin sudah dikerjakannya selama tiga hari terakhir - cara Irwan melarikan diri dari kenyataan.

"Kamu harus makan," Maya meletakkan nampan di meja, menyingkirkan beberapa dokumen dengan hati-hati. Aroma sup menguar di ruangan pengap itu.

"Aku nggak lapar." Suara Irwan serak, seperti belum digunakan selama berhari-hari.

"Please?" Maya mengambil sendok, mengaduk sup perlahan. "Demi aku?" Matanya memohon.

Irwan akhirnya duduk, membiarkan Maya menyodorkan sendok sup ke mulutnya. Seperti anak kecil yang patuh, ia membuka mulut. Maya bisa melihat air mata menggenang di sudut mata suaminya.

"Maaf..." bisik Irwan setelah beberapa suap. "Aku... aku gagal jadi suami."

"Jangan ngomong gitu," Maya menggenggam tangan Irwan. "Ini bukan salah siapa-siapa."

"Tapi bener kan?" Irwan tertawa getir. "Aku nggak bisa kasih kamu anak. Kayak yang Papa bilang soal Om Hendra - bukan cowok beneran."

"Yang..." Maya meletakkan sendoknya. Ini saat yang tepat. "Sebenernya... ada cara lain."

Irwan mengangkat wajahnya, menatap Maya dengan mata sembab.

"Tadi aku ke tempat Dokter Sarah," Maya melanjutkan hati-hati. "Dia bilang... ada beberapa opsi yang bisa kita pertimbangin."

"Adopsi?" Irwan menggeleng. Tangannya gemetar memegang sendok. "Kamu sendiri yang bilang belum siap."

"Bukan," Maya menelan ludah. "Donor... donor sperma." Suaranya hampir tak terdengar saat mengucapkan kata terakhir.

Ruangan itu mendadak sunyi. Maya bisa mendengar detak jam dinding dan suara samar Pak Karyo menyapu halaman di bawah.

"Nggak." Irwan berdiri, mendorong kursinya ke belakang dengan kasar. "Aku nggak mau denger soal itu."

"Tapi Yang, kalo donornya orang yang kita kenal..."

"NGGAK!" Irwan menggebrak meja, membuat sup tumpah ke dokumen-dokumen. "Kamu mau aku biarin cowok lain... ngehamilin istriku?"

"Bukan gitu," Maya mencoba tenang meski jantungnya berdebar kencang. "Ini... ini kayak transfusi darah. Cuma prosedur medis."

"Prosedur medis?" Irwan menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Kamu denger nggak apa yang dokter bilang? Tingkat keberhasilannya cuma lima belas persen! Lima belas persen, Maya! Setelah semua yang udah kita lalui, semua uang yang kita keluarin..."

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu, tangannya mengepal. "Belum lagi prosedurnya itu... begitu kaku, begitu artifisial. Ruangan steril, alat-alat dingin, dokter dan perawat yang masuk keluar seperti pabrik. Apa itu cara manusia membuat keturunan?"

Maya menatap Irwan dengan sedih. Ia mengerti keberatan suaminya. Tiga kali program bayi tabung yang gagal memang sudah menguras mereka, bukan hanya secara finansial tapi juga emosional.

"Iya, aku tau tingkat keberhasilannya rendah," Maya mengusap lengannya sendiri, merasa dingin tiba-tiba. "Tapi apa pilihan kita, Yang? Kita sudah di jalan buntu."

Irwan menghempaskan tubuhnya kembali ke kursi. "Dan uangnya... Ya Tuhan, kita hampir menghabiskan seluruh tabungan. Apa kita sanggup bayar satu program lagi yang kemungkinan berhasilnya kecil?"

"Dan bayangkan," Irwan melanjutkan, suaranya merendah menjadi bisikan getir, "kita harus minta donor itu masturbasi di lab lagi dan lagi. Berapa kali? Tiga kali? Lima kali? Sepuluh kali sampai berhasil?" Ia mengusap wajahnya kasar. "Apa nggak memalukan, Maya? Tiap kali gagal, kita harus minta dia datang lagi, masuk ruangan itu lagi, keluarkan... keluarkan benihnya lagi. Ya Tuhan, aku bahkan nggak sanggup membayangkan harus minta tolong seperti itu berkali-kali!"

Maya menggigit bibirnya. Inilah saatnya. "Sebenarnya..." ia memulai dengan hati-hati, "Dokter Sarah menyebutkan ada cara lain yang tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi. Dan biayanya... jauh lebih rendah."

Mata Irwan melebar, terlihat tertarik. "Cara apa? Kenapa dokter Ratna nggak pernah menyebutkan ini?"

"Karena..." Maya menelan ludah, mencari keberanian, "cara ini nggak sepopuler bayi tabung di kalangan dokter. Lebih sedikit prosedur medis, lebih sedikit intervensi. Dokter Sarah bilang tubuh lebih responsif dengan... pendekatan alami."

"Ada cara yang lebih... natural," Maya berbisik, mengingat penjelasan Dokter Sarah. "Yang nggak harus di rumah sakit."

"Lebih parah lagi!" Irwan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Dadanya naik turun. "Kamu mau tidur sama cowok lain? Atas nama apa? Medis? Keturunan?"

"Yang..." Maya mencoba meraih tangannya.

"Keluar." Irwan menunjuk pintu. "Aku butuh waktu sendiri." Matanya berkilat marah.

"Tapi..." Suara Maya tercekat.

"KELUAR!" Teriakannya memenuhi ruangan.

Maya bangkit perlahan, kakinya gemetar. Di ambang pintu, dia berhenti sejenak.

"Aku bakal selalu sayang kamu, Yang. Tapi aku juga pengen jadi ibu. Dan kalo ini satu-satunya cara..."

Irwan tidak menjawab. Maya menutup pintu di belakangnya, tepat saat mendengar suara benda dibanting ke dinding. Dia bersandar ke pintu, membiarkan air matanya jatuh.

Di ujung tangga, Pak Karyo berdiri dengan sapu di tangan, wajahnya menunduk sopan tapi Maya tahu ia mendengar semuanya. Pertengkaran hebat mereka yang pertama setelah enam tahun pernikahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Novelnya berbau Islami, tapi judul dan ceritanya tidak Islami, wkwkwk
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Kenapa pembantu rumah tangganya yang bagian memasak kok laki-laki yaaa
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Padahal novelnya berbau Islami, tapi judul dan isinya gak Islami, wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 644 (Tamat)

    Malam itu, setelah anak-anak tidur, Irwan memasuki kamar utama.Maya dan Ratih sudah di tempat tidur. Mereka berbaring berdekatan, berbisik tentang sesuatu yang membuat mereka tertawa pelan. Tangan Ratih bermain dengan rambut Maya. Tangan Maya melingkar di pinggang Ratih.Irwan berhenti di ambang pintu, mengamati mereka.Empat tahun yang lalu, pemandangan ini mungkin akan membuatnya cemburu, marah, atau minimal tidak nyaman. Sekarang? Sekarang dia hanya merasa... tenang.Maya mendongak, melihatnya berdiri di sana. Senyumnya mengundang. "Sini."Irwan menutup pintu dan mendekati tempat tidur. Dia berbaring di sisi Maya, tangannya melingkari pinggang istrinya.Untuk beberapa menit, mereka hanya berbaring bertiga dalam keheningan yang nyaman. Napas yang teratur. Kehangatan tubuh yang saling berbagi.Lalu tangan Irwan mulai bergerak. Menelusuri pinggang Maya, naik ke punggungnya. Bibirn

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 643

    Satu Tahun KemudianMalam sudah larut saat Ratih keluar ke teras belakang.Dia tidak bisa tidur. Lagi. Sudah setahun, tapi kadang-kadang bayangan Karyo masih muncul dalam mimpinya. Senyumnya. Suaranya. Tangannya yang kasar tapi selalu lembut padanya.Teras belakang gelap, hanya diterangi cahaya bulan. Ratih hampir berbalik masuk saat dia melihat sosok lain sudah duduk di sana.Maya."Nggak bisa tidur juga?" Maya bertanya tanpa menoleh.Ratih duduk di sampingnya. "Nggak."Mereka duduk dalam keheningan. Memandang taman yang masih terawat—Irwan yang mengambil alih tugas berkebun setelah Karyo pergi, meski hasilnya tidak sebaik tangan aslinya."Aku kangen dia." Maya berbisik.Ratih tidak menjawab. Tidak perlu. Dia merasakan hal yang sama setiap hari."Ceritain aku tentang dia." Maya menoleh. "Waktu kalian pertama ketemu. Gimana Ma

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 642

    Ratih kembali mendekat.Dia duduk di sisi lain Karyo, melengkapi formasi mereka lagi. Dani diserahkan ke Irwan yang berdiri sedikit menjauh.Untuk pertama kalinya, Maya benar-benar melihat Ratih.Bukan sebagai pembantu. Bukan sebagai saingan. Bukan sebagai wanita yang berbagi suaminya.Hanya sebagai wanita lain yang mencintai pria yang sama.Mata mereka bertemu di atas tubuh Karyo yang sekarat.Ada pengertian di sana. Pengakuan tanpa kata.Kita berdua kehilangan dia.Karyo melihat kedua wanita di sisinya. Napasnya semakin pendek, semakin jarang."Dik Maya. Ratih." Suaranya hampir tidak terdengar. "Jaga satu sama lain. Jangan... jangan bertengkar. Anak-anak... besarkan bareng."Pesan sederhana. Bukan wasiat formal. Bukan permintaan rumit. Hanya kata-kata terakhir dari pria yang tahu waktunya hampir habis.Maya mengangguk. Ratih me

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 641

    Dani berlari keluar dari pintu depan."Bapak! Bapak pulang!"Kaki-kaki kecilnya berderap di lantai teras, melewati Ratih yang berdiri mematung, melewati Irwan yang sudah bersiap. Bocah lima tahun itu tidak mengerti tatapan cemas ibunya atau ketegangan di bahu Om Irwan. Yang dia tahu hanya satu—Bapak sudah pulang.Karyo melihat anaknya berlari mendekat. Senyumnya melebar. Dia mengangkat tangan, bersiap menangkap tubuh mungil itu dalam pelukan.Kakinya melangkah maju.Satu langkah.Lututnya menyerah.Dunia berputar. Langit sore yang keemasan tiba-tiba miring. Karyo merasakan tubuhnya jatuh—perlahan, seperti dalam mimpi—sebelum lengan kuat menangkapnya dari belakang.Irwan."Pak Karyo!"Suara Maya. Panik. Langkah sepatu hak tinggi di lantai teras.Karyo merosot dalam pelukan Irwan, tubuhnya berat seperti karung beras basah.

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 639

    Mereka check-out siang itu.Maya berdiri di tengah kamar untuk terakhir kalinya, matanya menyapu setiap sudut. Tempat tidur yang sudah rapi. Sofa tempat mereka pertama kali bercinta di trip ini. Jendela dengan pemandangan Jakarta."Mas.""Ya?""Makasih." Maya berbalik menghadap Karyo. "Buat dua minggu ini. Buat semua kenangan. Buat..." Suaranya pecah. "Buat cinta Mas."Karyo memeluknya erat. "Saya yang harusnya berterima kasih. Dik kasih saya... semuanya."Mereka berdiri begitu selama beberapa menit. Tidak ada yang mau melepaskan.Akhirnya Karyo yang mundur duluan. "Ayo. Mereka nunggu di rumah."Di mobil, perjalanan pulang terasa terlalu cepat. Maya menatap keluar jendela, tangannya menggenggam tangan Karyo."Mas.""Hmm?""Kalau anaknya lahir..." Maya menyentuh perutnya. "Aku mau Mas yang pilih namanya."Karyo tersenyum—s

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 638

    Hari keenam sampai kesepuluh berlalu dalam ritme yang memabukkan.Setiap pagi dimulai dengan tubuh yang saling mencari—kadang lembut dan mengantuk, kadang lapar dan tidak sabar. Maya belajar membaca mood Karyo dari cara pria itu menyentuhnya. Sentuhan di pinggang berarti mau pelan. Cengkeraman di rambut berarti mau kasar."Mas." Maya terengah di pagi ketujuh, tubuhnya masih bergetar pasca klimaks. "Kok Mas selalu tau apa yang aku mau?""Badan Dik yang ngasih tau." Karyo mencium bahunya. "Saya cuma dengerin."Siang mereka habiskan untuk menjelajah kota. Tempat-tempat yang tidak pernah mereka kunjungi bersama—museum, galeri seni, taman-taman tersembunyi. Maya memotret semuanya. Karyo di depan lukisan. Karyo makan bakso pinggir jalan. Karyo tertidur di bangku taman dengan mulut setengah terbuka."Hapus yang itu!" Karyo protes saat melihat foto terakhir."Nggak mau." Maya tertawa, men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status