Mag-log inFarel Adiyaksa terpaksa menjadi pengganti sepupunya untuk menikah dengan gadis Bernama Nayara yang ia ketahui adalah kekasih sepupunya Karena permintaan Pamannya yang sulit untuk ia tolak karena sebuah balas budi. Sementara sepupu nya telah menghilang entah kemana. Membuat Farel sering melontarkan kata-kata kasar pada wanita bernama Naya yang telah di nikahinnya itu. Sementara Naya pasrah saat calon suaminya di gantikan oleh orang yang sama sekali tidak dia kenal. karena kekasihnya yang seharusnya menikah dengannya hari ini telah kabur entah kemana. Apakah Naya sanggup menghadapi sikap Farel yang selalu menyakitinya dengan kata-kata kasarnya? mampu kah Naya meluluhkan hati Farel? Yuk simak kisah mereka
view more"Apa?! Mempelai laki-lakinya kabur?" Teriak Wahyu dengan mata melotot marah. Bagaimana bisa seperti ini. Sementara penghulu sudah menunggu sejak tadi. Ini sama saja sengaja mempermalukan dirinya untuk kedua kalinya.
Wahyu menoleh Putrinya yang duduk dengan menundukkan kepalanya. Dengan tatapan nyalang seakan ingin menelannya hidup-hidup. Karena telah mencoreng nama baiknya. "Kurang ajar sekali dia, berani-beraninya mempermainkan anak saya!" Ucap Wahyu lagi dengan rahang mengeras. "Tenang dulu Pak Wahyu, mungkin anak kami terjebak macet di jalan." Ucap Yanto Ayah Dicky calon mempelai pria yang juga tidak habis pikir dengan tindakan Dicky saat ini. "Bagaimana saya mau tenang! anak anda tidak bertanggung jawab begini!. Dia sudah membuat malu saya, dan sekarang dia malah lari dari tanggung jawabnya, kalian telah kembali mempermalukan saya hari ini." Sahut Wahyu dengan suara menggelegar penuh emosi. Tidak perduli suaranya akan di dengar oleh banyak orang yang hadir untuk menyaksikan pernikahan Putri nya. Sudah terlanjur basah dengan air comberan, jadi sekalian saja nyembur ke got. Begitu pikir Wahyu yang merasa pening memikirkan nasib anaknya. Yang di tinggal calon suaminya. Yanto selaku Ayah dari Dicky mengusap kasar wajahnya. Tak tahu harus bagaimana lagi. Sementara Rita istrinya tersenyum miring melihat kekacauan ini. Inilah yang di harapkannya. Salah satu pria kerabat dari Yanto berdiri dari duduknya dan menghampiri sang Paman. Untuk menanyakan akar permasalahannya apa. Menggapa Dicky sepupunya belum juga hadir di pernikahan yang telah di sepakati itu. Pria itu adalah Farel keponakan Yanto, Farel pria berusia 28 tahun itu sengaja datang memenuhi undangan Yanto untuk menyaksikan pernikahan Dicky yang di langsungkan secara tertutup itu. Hanya beberapa tetangga dekat Wahyu dan saksi saja yang hadir. "Ada apa ini Paman? Kemana Dicky?" Tanyanya yang memang tidak tahu menahu tentang permasalahan yang terjadi. Dirinya yang belum lama tiba di lokasi pernikahan merasa sedikit terkejut saat mendapati keributan yang terjadi. sepertinya mendapatkan angin segar Yanto pun menatap Farel. "Farel, tolong Paman nak, hanya kamu yang bisa paman harapkan! Dicky kabur, anak buah paman sudah mencarinya kemana-mana. Tapi Dicky tidak ketemu juga." Ucap Yanto yang sedikit bernafas lega saat melihat Farel keponakan satu-satunya yang hadir di pernikahan Dicky putranya. "Apa yang bisa saya bantu Paman? Jika saya mampu, saya akan lakukan." Jawab Farel yakin. "Farel, sebelumnya maafkan Paman nak! Tolong gantikan Dicky, jadilah mempelai pria untuk gadis itu. Dicky telah melakukan kesalahan yang tidak bisa di maafkan. Dan sekarang dia juga kembali melakukan kesalahan dengan lari dari tanggung jawabnya. Tolong nak, tolong Paman." Pinta Yanto lirih memohon pada keponakannya itu. Farel tercengang mendengar permintaan sang Paman. Pamannya itu sudah sangat berjasa pada kesuksesannya saat ini. Di antara keluarga yang lain. Paman Yanto lah yang selalu mendukung nya. Yanto selalu menjadi garda terdepan untuk membelanya. Bahkan ketika kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil Yanto lah yang merangkulnya dengan tulus. Tidak seperti yang lainya penuh kemunafikan. Nayara gadis berusia 21 tahun itu tertunduk malu mengetahui jika calon suaminya tidak hadir karena telah melarikan diri, tidak bisa berbuat apa-apa, hanya air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya. Rasa malu, amarah dan sedih bercampur aduk menjadi satu. Tubuhnya kaku, hatinya sakit bak di remas dengan kuat oleh tangan tak kasat mata. Naya yang sejak satu jam yang lalu telah duduk di hadapan penghulu itu hanya bisa menundukkan kepalanya menahan malu dan kecewa. Bisik-bisik tetangga semakin menambah beban di hatinya. Cemoohan manusia-manusia suci itu terasa perih menusuk telinga. "Ya Tuhan, bagaimana ini bisa terjadi!" Monolognya sedih. "Bisa kita mulai pak?" Suara seseorang yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelah nya itu sukses mengagetkannya. Naya mengangkat wajahnya menatap siapa pemilik suara tersebut. Tentu saja itu bukan suara Dicky kekasihnya orang yang seharusnya menjadi suaminya. "Silahkan di mulai pak Penghulu, dia mempelai pria nya." Ucap Wahyu yang kembali duduk di samping Putrinya. Wajahnya masih menyiratkan kekesalan yang berusaha di redamkan. Naya yang hendak membuka mulut untuk berbicara. Urung ketika lengannya di cengkram kuat oleh sang Ayah. Naya pun mengurungkan niatnya untuk protes. Naya memilih diam dan menerima saja. Terserah takdir akan membawanya ke mana. Akhirnya pernikahan itu terlaksana juga dengan mempelai pria nya di gantikan oleh orang lain. "Sekarang kalian sudah menikah, itu berarti tanggung jawab saya pada Naya sudah lepas. Sekarang terserah kamu mau membawanya ke mana pun kamu mau. Itu urusan kamu. Saya tidak perduli lagi dengannya. Sudah cukup saya di buat malu oleh anak ini. Sekarang silahkan bawa dia pergi dari rumah ini." Ucap Wahyu dengan wajah ketus menatap Naya. Deg! Sakit sekali mendengar setiap kalimat yang bernada kekecewaan dari mulut Ayahnya itu. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini adalah kesalahnya. Semua ini adalah kelalaiannya yang tidak bisa menjaga martabat keluarganya. "Ayah!" panggilnya dengan suara tercekat. Ayahnya benar-benar murka padanya yang telah mencoreng nama baiknya di mata para tetangga. Dan sekarang dirinya seperti di buang begitu saja pada orang asing yang baru saja menikahinya. Sementara Yanto Ayah Dicky dan istri nya sudah pulang saat akad nikah usai dilaksanakan. Tidak ada basa basi sama sekali padanya. Dirinya benar-benar tidak berharga di mata orang-orang yang memandangnya hina itu. Farel menatap Pria yang berstatus sebagai Ayah mertuanya bergantian dengan Naya yang hanya diam menundukan kepalanya. "Ayo pergi!" Ajak Farel singkat sembari berlalu mendahului Naya. Tanpa mengucapkan sepata kata pun pada Wahyu yang berstatus Ayah mertuanya. Demi apa dirinya yang berniat menghadiri undangan sang Paman. malah menjadi pengganti sepupu nya yang kabur di hari pernikahannya. "Jangan pergi kak, nanti kak Naya bagaimana hidup dengan orang baru itu! Ayo kita bujuk Ayah!" Bagas adik Naya menggenggam tangannya dengan wajah sedih. "Bagas!...masuk, jangan ikut campur urusan orang dewasa!" Teriak Wahyu yang merasa kesal sebab anak bungsu nya itu berusaha mencegah kepergian Naya yang telah membuatnya malu. "Bagas, Kakak nggak akan kenapa-napa! Kamu jangan membantah Ayah. Ayo sana, masuk! Nanti Ayah makin marah!" Dengan berat hati Bagas akhirnya masuk ke dalam Rumah. Wahyu pun langsung menutup rapat pintu rumahnya. "Rasanya sakit sekali di buang keluarga sendiri, Ayah! maafkan Naya!" Gumamnya seiring dengan langkah kakinya yang mulai meninggalkan pekarangan rumahnya. "Lambat sekali!" Ucap Farel ketua saat Naya sudah masuk ke dalam mobil. "Maaf!" Lirih Naya Degh!! Farel memegang jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak kuat mendengar suara lirih Naya.Suasana sunyi di lorong rumah sakit itu seolah menjadi saksi bisu atas hancurnya sebuah keluarga. Farel hanya bisa tertunduk, menatap buku jarinya yang terluka, luka fisik yang tak sebanding dengan kerusakan yang ia timbulkan pada hatinya sendiri dan Naya.Farel menyandarkan kepalanya ke dinding rumah sakit yang dingin. Kata-kata Dicky terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak: “Kau yang menyiramkan bensinnya.” Penyesalan itu datang terlambat, membawa beban yang begitu berat hingga ia merasa sulit bahkan hanya untuk sekadar berdiri.Ia ingin masuk, ingin bersimpuh di kaki Naya dan memohon ampun, namun ia sadar bahwa keberadaannya saat ini mungkin adalah racun terbesar bagi pemulihan istrinya.Saat fajar mulai menyingsing, pintu kamar rawat terbuka. Bagas keluar dengan wajah kuyu dan mata sembab. Langkahnya terhenti saat melihat Farel sudah duduk di sana seperti raga tanpa jiwa."Kak Naya mau pulang pagi ini," ucap Bagas dingin, tanpa menatap kakak iparnya itu. "Aku sudah menguru
Mesin mobil Farel menderu membelah jalanan malam yang mulai lengang. Amarahnya sudah melampaui batas logika. Di tangannya, ia meremas ponsel, melacak lokasi terakhir Dicky melalui orang kepercayaannya.Ia tidak menuju rumah, melainkan ke sebuah gudang tua dimana markas anak buah Edward membawa Dicky.Farel melangkah masuk dengan aura yang begitu gelap hingga para anak buah Edward segera menyingkir secara naluriah. Mempersilahkan Bos besar mereka untuk lewat."Silahkan Tuan, salah satu anak buah Edward membukakan pintu ruangan dimana Dicky berada. Di sudut ruangan yang pengap dengan pencahayaan yang remang , ia melihat Dicky duduk di sebuah kursi kayu dengan tangan dan kaki terikat. Bugh!!Bugh!!Tanpa aba-aba Farel segera melayangkan bogemnya, tepat mengenai rahang Dicky. "Bajingan! Akan ku habisi kau!" geram Farel dengan wajah memerah penuh emosi. Farel mencengkeram kerah baju Dicky, mengangkat wajahnya mendongak dan....Bugh!!Satu tinjuan keras mendarat tepat di rahang kanan Di
Bagas dan Farel serentak berdiri, menghampiri dokter tersebut dengan jantung yang berdegup kencang. Bagas mendahului Farel, wajahnya menegang menunggu vonis yang akan keluar dari mulut sang dokter."Saya adiknya, Dok. Bagaimana keadaan Kakak saya?" tanya Bagas dengan suara bergetar.Dokter itu menghela napas panjang, tatapannya beralih dari Bagas ke Farel yang berdiri mematung di belakangnya dengan wajah memar di sudut bibirnya."Pasien mengalami perdarahan hebat akibat stres akut dan tekanan fisik yang luar biasa. Sayangnya..." Dokter itu menjeda kalimatnya sejenak, memberikan beban keheningan yang menyesakkan. "Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya, namun kandungan Nyonya Naya tidak bisa kami selamatkan. Kami terpaksa melakukan tindakan kuretase demi keselamatan Pasien." jelas sang Dokter dengan wajah muram. Lutut Farel terasa lemas. Ia bersandar pada dinding rumah sakit, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Dunianya benar-benar hancur. C
Tiba-tiba Naya merasakan perutnya kram. Di tangannya masih memegang amplop coklat, berikut foto Farel yang sedang merangkul wanita lain yang mirip dengan dirinya. "Akh! Rintih Naya sembari memegang perut bawahnya. Naya berusaha berpegang pada pinggiran kursi kayu untuk menyanggah beban tubuhnya agar tidak jatuh. Di saat yang bersamaan Bagas keluar dan mendapati Naya sedang meringis sambil memegangi perutnya. "Kak Naya! Kakak kenapa?" paniknya sembari menghampiri Naya yang sudah berkeringat dingin. "Tolong kakak, perut kakak sakit sekali " lirihnya, sembari mencengkram kursi kayu itu. "Ya Tuhan, darah!" pekik Bagas saat melihat darah mengalir dari betis Naya. "Kita harus segera ke rumah sakit kak." panik Bagas sembari merogoh ponselnya dan mulai memesan taxi online. "Bertahanlah kak, sebentar lagi taxinya datang." ucap Bagas. Naya merasakan pandangannya mulai mengabur. Rasa sakit di perutnya kini menjalar hingga ke punggung, seolah tubuhnya sedang diremukkan dari dalam. Cengkeram
El melangkah ragu menembus keremangan lampu gudang. Rambut panjangnya yang tertiup angin malam menciptakan siluet yang sempurna untuk menipu siapapun dalam kegelapan. Di telinganya, sebuah earpiece kecil terpasang, menghubungkannya langsung dengan Edward yang mengintai dari kegelapan luar.Dicky ke
Lampu kota mulai berpendar, namun bagi Farel, dunia terasa berhenti. Di ruang kerjanya yang pengap oleh aroma kopi dingin dan kecurigaan, ia akhirnya menyambar ponselnya. Ada belasan panggilan tak terjawab dari Naya dan Bi Mirah. Hatinya mencelos. Ego menghentikan jarinya untuk menelpon balik, namu
"Hahahaha...!" Tawa Dicky menggema di dalam ruangan dengan pencahayaan yang minim itu. "Kau cerdas dalam melumpuhkan lawan bisnismu, tapi kau lemah, dalam urusan asmaramu Farel, kau ragu dengan wanita yang telah melahirkan anakmu sendiri." tukas Dicky setelah menerima beberapa foto Naya yang kini
Pagi itu, kantor pusat perusahaan Farel terasa lebih dingin dari biasanya. Farel duduk di kursi kebesarannya, namun matanya yang merah karena kurang tidur hanya menatap kosong ke arah jendela. Bayangan Naya yang menolaknya di teras rumah tadi malam terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.T






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu