Share

Bab 60

Author: Waterverri
last update Huling Na-update: 2025-09-09 09:04:55
Maya merasakan milik Pak Karyo berdenyut semakin kuat di tenggorokannya, tanda bahwa pria itu mendekati klimaksnya. Setiap urat yang menonjol bergetar di lidahnya, kepalanya membengkak semakin besar. Tangannya mencengkeram paha Pak Karyo, bersiap menerima semburan cairannya.

Pak Karyo merasakan dorongan untuk melepaskan seluruh benihnya di tenggorokan hangat Maya. Tapi kilasan. program kehamilan melintas di pikirannya. Ora kena percuma. Pejuhku kudu mlebu neng wadhah, ora neng gorokan. Iki kanggo program. (Tidak bisa disia-siakan. Spermaku harus masuk ke rahimnya, bukan tenggorokannya. Ini untuk program.)

Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, Pak Karyo menarik diri dari mulut Maya, meninggalkan benang saliva tebal yang masih menghubungkan ujungnya dengan bibir bengkak wanita itu. Tanpa memberikan Maya kesempatan untuk mengambil napas, dia mendorong tubuh wanita itu telentang dan dalam sekejap memposisikan dirinya di antara kedua kaki Maya yang terbuka.

Dengan satu hentakan brutal,
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Pak Karyo sudah punya rasa terhadap Maya. Apakah lama-kelamaan Maya juga punya rasa terhadap Pak Karyo?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 501

    Seminggu berlalu sejak kejadian di pagi subuh itu. Kehidupan di rumah perlahan menemukan ritme barunya, meski semua orang masih beradaptasi dengan kehadiran Karya. Di ruang keluarga yang terang benderang oleh sinar matahari pagi, Maya duduk di sofa besar dengan Karya di pangkuannya. Setelah sesi menyusui yang melelahkan, dia mencoba mengingat cara menggendong yang benar seperti yang Ratih tunjukkan sebelumnya."Kok rasanya tanganku selalu salah posisi ya," keluh Maya, tangannya terasa canggung menopang tubuh mungil putranya.Bayinya yang baru berusia seminggu itu menggeliat tidak nyaman. Meski wajah mungilnya belum sepenuhnya mengungkapkan ekspresi, kerutan di dahinya dan gerakan tubuhnya yang gelisah menunjukkan ketidaknyamanan. Maya merasa hatinya mencelos. Rasa frustrasi menyengat, seperti tusukan jarum-jarum kecil di harga dirinya. Insting ibu yang seharusnya secara alamiah muncul terasa begitu asing baginya."Sayang...

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 500

    Dari balik pintu kamar utama yang sedikit terbuka, Karyo menyaksikan seluruh adegan dalam diam. Dia telah bangun sejak tangisan pertama Karya terdengar, tapi memilih tidak menampakkan diri. Bukan tempatnya untuk ikut campur, terutama setelah "hukuman" yang dijatuhkan Irwan pasca-insiden jamu beberapa bulan lalu.Tangannya mengepal keras, matanya tak lepas dari pemandangan Karya dalam pelukan Maya, sementara Ratih dengan sabar memberikan instruksi. Ada sesuatu yang janggal dalam hatinya—campuran rasa bangga akan kemampuan Ratih dan rasa sakit melihat bayinya, darah dagingnya sendiri, dalam situasi di mana dia tidak bisa mengakui atau mendekat."Karya..." bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.Karyo mundur perlahan. Dia bergerak seperti bayangan di rumah itu, memastikan kehadirannya tidak terdeteksi. Beberapa saat kemudian, dia melangkah keluar dari kamar utama yang pintunya telah sengaj

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 499

    Di minggu pertama setelah kepulangan pasca bersalin, sebuah tangisan memecah keheningan subuh. Tangisan itu seperti sirine darurat. Tajam, mendesak, menuntut perhatian segera.Maya tersentak bangun dari tidurnya yang dangkal, kesadarannya langsung penuh meski matanya masih berat. Tiga hari di rumah dengan Karya terasa seperti tiga minggu tanpa tidur nyenyak. Setiap saat tubuhnya hampir menyerah pada kelelahan, tangisan putranya kembali menariknya ke permukaan realitas yang keras."Karya... sayang..." Maya berbisik, berusaha menggerakkan tubuhnya untuk bangun. Rasa sakit tajam dari jahitan episiotomi langsung menyengatnya. "Aduh!"Di sampingnya, Irwan sudah terduduk, matanya terbuka lebar seperti baru tersengat listrik. Tangannya refleks meraih tablet di nakas. "Ini aneh," gumamnya, jari-jarinya cepat menggeser layar yang menampilkan grafik berwarna dengan garis-garis naik turun. "Lihat, checklistnya udah semua, nyusu, ganti

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 498

    Sementara keluarga besar sibuk mengerumuni box bayi, Ratih dengan efisien mengatur semua keperluan—mengganti bunga yang mulai layu, mengemas makanan yang dibawa pengunjung, memastikan Maya cukup minum. Dani bermain di sudut ruangan dengan mobil-mobilan yang dibawakan oleh adik Maya."Ratih, kamu dan keluargamu benar-benar luar biasa," ibu Maya berkomentar, tangannya menepuk pundak Ratih. "Selalu siap membantu kapan pun. Maya beruntung punya kalian."Ratih menunduk sopan. "Sudah kewajiban kami, Bu." Tangannya meraih Dani, mengajaknya kembali bermain di sudut ruangan.Malam menjelang dan pengunjung mulai berpamitan. Hanya tinggal Irwan, Maya, dan Karya di kamar itu, dengan Ratih dan Dani yang sesekali masuk untuk mengecek kebutuhan mereka. Perawat masuk membawa troli berisi perlengkapan bayi, tersenyum ramah."Waktunya ganti popok dan pemeriksaan rutin, Bu," ujarnya. "Mau saya bantu atau Ibu mau mencoba sendir

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 497

    Enam jam berlalu dalam ketegangan. Di ruang bersalin, Maya berjuang dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Peluh membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya lepek menempel di dahi dan leher. Teriakan dan erangan kesakitannya bergema di ruangan itu, sesekali diselingi instruksi tegas dari dokter dan bidan."Sedikit lagi, Bu Maya. Kepalanya sudah mulai terlihat," dokter memberikan semangat.Di sampingnya, Irwan menggenggam tangannya erat, membisikkan kata-kata dukungan di antara napas Maya yang terengah. "Kamu kuat, sayang. Kamu bisa."Maya mengerahkan seluruh tenaganya untuk satu dorongan terakhir yang panjang dan menyakitkan. Suara tangisan bayi yang pertama kali memecah keheningan adalah melodi terindah yang pernah mereka dengar."Selamat, Pak, Bu. Bayi laki-laki, sehat sempurna," dokter mengumumkan dengan senyum lebar.Air mata Maya mengalir deras melihat sosok mungil berlumuran darah yang diangkat ke udar

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 496

    Sakit itu datang di tengah malam, menusuk dan menghantam hingga Maya tersentak dari tidurnya. Satu tangan meremas seprai, yang lain mencengkeram perutnya. Nafasnya terputus-putus, keringat dingin mengalir di dahi."Wan... Irwan..." Maya berbisik, suaranya tercekat. Sentuhan lembutnya di bahu Irwan begitu kontras dengan kerasnya kontraksi yang melanda tubuhnya.Irwan terbangun seketika, matanya melebar saat melihat ekspresi kesakitan Maya. Bertahun-tahun menanti momen ini membuat mereka telah mempersiapkan segalanya—tas sudah disiapkan di depan pintu, rute tercepat ke rumah sakit sudah dipelajari, semua dokumen tersusun rapi dalam map transparan."Sudah waktunya?" tanya Irwan, suaranya bergetar antara panik dan antisipasi.Maya mengangguk, giginya mengatup menahan gelombang kontraksi berikutnya.Rumah langsung berubah riuh. Irwan berteriak memanggil Ratih yang segera muncul dengan jubah tidur terka

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status