LOGINCinta Zilva diuji saat sang suami dipaksa ibunya untuk menikah lagi demi mendapatkan keturunan. Mungkinkah Zilva dan Amran tetap bersama setelah ada Lala dan Zain yang hadir di antara mereka?
View More"Aku nggak mandul, Mas. Kenapa kamu bersikeras menikah lagi?" tanyanya seminggu yang lalu saat aku izin untuk menikah dengan Lala.
Zilva benar. Dua tahun lalu aku memang menolak perjodohanku dengan Lala sebab aku sudah tertarik pada Zilva sejak pandangan pertama di kampus. Zilva adalah adik kelasku saat kuliah dulu.
Wajahnya yang cantik, sorot matanya yang teduh, senyum manisnya, keanggunan dan kelembutannya membuat banyak lelaki jatuh cinta, termasuk aku. Ditambah dia termasuk mahasiswi berprestasi. Rasanya Zilva adalah calon istri idaman setiap lelaki.
Rumah Amran sore ini terasa berbeda. Udara hangat, aroma masakan memenuhi rumah, dan suara tawa bercampur riuh anak-anak menggema dari halaman belakang. Hari ini bukan perayaan besar. Tak ada tenda, tak ada dekorasi mewah, hanya syukuran kecil-kecilan, tetapi hangatnya menembus sampai ke dada.Zilva berdiri di dapur, mengatur piring dan gelas sambil sesekali menoleh ke arah halaman belakang. “Mas, tolong ambilin karpet gulung yang di gudang ya,” serunya.Amran yang sedang membantu mama menata meja tertawa kecil.“Iya, Tuan Putri. Perintahnya langsung jalan.”Mama Amran, Bu Ratna, ikut terkekeh.“Anak Mama tuh kalau istrinya yang ngomong langsung nurut. Mama saja kalah pamor.”“Ma … jangan begitu dong." Amran protes sambil tertawa. “Ini kan acara syukuran buat semuanya. Jadi, suami harus rajin dikit.”Bu Ratna hanya menggeleng sambil tersenyum bangga.“Kamu tuh sekarang jauh lebih lembut, Ran. Zilva yang bikin kamu berubah.”Zilva mendongak, mengelap tangannya dengan sapu tangan.“Ad
Suasana ruang keluarga Amran sore ini terasa lebih berat daripada hari-hari sebelumnya. Prilly duduk di sofa dengan kaki diperban, Romy berada di sampingnya, dan Roby berdiri dekat jendela sambil memegang map berisi bukti-bukti yang berhasil ditemukan. Amran melangkah masuk dengan wajah serius, tetapi ada juga kelembutan yang sulit disembunyikan.“Mas, gimana? Sudah lapor polisi?” tanya Prilly, suaranya pelan namun penuh cemas.Amran duduk di depan mereka sembari menyilangkan tangan.“Belum. Belum ada laporan apa pun dari kita ke polisi.”Romy mengerutkan alis. “Kenapa, Mas? Kita punya bukti lengkap. Luka Prilly, rekaman CCTV, identitas pelaku bahkan pengakuan Fammy di telepon itu." Romy menepuk-nepuk pelan pundak istrinya yang ikut gelisah. Amran menghela napas panjang. “Iya, aku tahu. Tapi sebelum kita bertindak jauh, kita harus pikir matang-matang.”Prilly menggigit bibir. “Bertindak matang-matang gimana, Mas? Tinggal jebloskan perempuan itu ke penjara kan semua sudah jelas dan
Minimarket itu sudah sepi. Lampunya tinggal satu yang menyala redup. Roby mengetuk pintu kaca.“Permisi! Ada pengurus shift malam?" Seorang karyawan muncul, wajah mengantuk. “Iya, Mas. Ada apa?” Roby mengeluarkan kartu nama.“Saya Roby, asisten Amran Iriansyah.” Dia menekan nama itu dengan sengaja. “Kami butuh akses rekaman CCTV untuk penyelidikan kecelakaan tabrak lari.”Karyawan itu segera tersadar.“Oh … iya, iya, Mas! Tunggu, saya panggil kepala tokonya.”Tak sampai semenit, kepala toko datang tergopoh-gopoh.“Maaf, Mas. Ada kepentingan apa dengan CCTV?” Romy ikut bicara. “Istri saya ditabrak orang dekat sini. Kami butuh lihat arah datangnya motor itu.”Kepala toko langsung mengangguk.“Saya bantu, Mas. Silakan masuk.”Mereka masuk ruang monitor. Roby memperhatikan dengan tajam.“Putar mulai jam delapan lewat lima belas.”Rekaman berjalan. Lalu…“STOP!” Roby menunjuk layar.“Itu dia! Itu motornya!”Terlihat Prilly berjalan membawa plastik belanja. Lalu sebuah motor melaju dari
Ruang kerja Amran sudah gelap ketika semua lampu kantor lain padam, namun dia masih duduk tegak di balik meja besar kayu mahoni. Tangan kirinya mengepal, sementara tangan kanan memijat pelipis. Wajahnya tegang, matanya merah karena lelah tetapi pikirannya tak berhenti bekerja.Dia baru saja pulang dari rumah sakit setelah menjenguk Prilly. Adiknya itu masih shock. Tubuhnya penuh memar, kakinya diperban akibat benturan keras. Dokter bilang luka itu bisa lebih parah kalau Prilly tidak sempat melompat ke samping sebelum motor itu benar-benar menabraknya.Tapi yang lebih menakutkan adalah kalimat Prilly waktu sadar."Sepertinya dia emang sengaja nabrak aku, Mas. Dia udah ngawasin aku sejak beberapa hari belakangan. Mungkin ini kesempatan yang pas, makanya dia langsung eksekusi." Detik ini, Amran meremas rambutnya sendiri dengan frustrasi. Dia tak bisa tinggal diam. Dia akan selesaikan satu persatu masalah keluarganya. Setelah teror keluarga kecilnya usai, dia mulai fokus membantu Prilly
"Itu bukannya Pak Laksono supirnya Bu Mirad, Pak?" tanya Zilva lirih, tanpa mengalihkan pandangannya dari gerbang. Pak Joko yang masih bergeming di depannya pun mengiyakan. Dia masih kaget melihat supir Bu Mirad berdiri di depan gerbang. Jika laki-laki itu baru datang dengan kotak nasinya, lantas ko
"Racun, Mbak?" Pak Joko kaget saat mendengar Zilva mengucapkan kata itu. "Iya, Pak. Saya khawatir ada racunnya. Saya nggak bermaksud melarang Pak Joko makan nasi kotak ini. Hanya saja bapak tahu sendiri kalau akhir-akhir ini saya dan Mas Amran sering mendapatkan teror. Waktu itu ada paket berisi ula
Zilva baru saja menyelesaikan sarapannya dan mencuci peralatan makan di wastafel saat melihat Amran keluar kamar sembari menggendong Rafka. Wajah lelaki itu terlihat cemas dan tak baik-baik saja, membuat Zilva segera mendekat. "Sini sama mama, Sayang," ajak Zilva kemudian. Rafka tak menolak. Dia mer
"Kenapa murung begitu, Sayang? Ada masalah?" tanya Amran setelah makan malam di rumahnya. "Lihat deh, Mas." Zilva menunjukkan pesan dan foto yang dikirimkan Arumi kemarin malam padanya. Amran mengernyit. Dia menatap foto di layar handphone Zilva beberapa saat lalu bergeming. Sepertinya dia sedang me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore