MasukTiga minggu terasa bagai kilat. Bangunan tua klinik desa tempat Bidan Irma mengabdi dulu, yang semula hanyalah struktur kayu lapuk dan cat yang mengelupas, kini telah rata dengan tanah. Di atas fondasi yang sama, berdiri tegak tahap pertama Puskesmas Terpadu Taraf Nasional: sebuah bangunan modern satu lantai bernuansa hijau-putih yang memadukan teknologi medis mutakhir dengan keasrian alam.Meski baru tahap satu dan nantinya akan disusul pembangunan lantai dua, kemegahan bangunan ini sudah cukup membuat siapa pun berdecak kagum.Pagi ini, desa tidak lagi terlihat seperti pelosok biasa. Jalanan menuju puskesmas dijejali karangan bunga ucapan selamat dari berbagai menteri, perusahaan farmasi, hingga kepala daerah. Suasana riuh, penuh sesak oleh warga desa yang antusias, para pejabat yang berseragam necis, dan awak media nasional yang sibuk mengatur kamera.Sena berdiri di depan panggung utama dengan kemeja putih formal yang pas di tubuhnya. Aura kepemimpinannya terasa begitu kuat, na
Ayu merebahkan kepalanya agak ke belakang saat Sena menyalurkan Hawa Murni. "A-ah... Sena... hangat sekali.""Tahan sebentar, Ayu," bisik Sena lembut sambil menekan titik meridian di bahunya.Irma menyenggol lengan Elsa, matanya tak lepas dari dipan. "Lihat itu, Mbak. Manja sekali. Sentuhan Sena ke Ayu beda banget."Elsa melipat tangan di dada, matanya memicing. "Bukan cuma kamu yang merasa begitu, Irma. Aku juga lihat. Sentuhannya jauh lebih lembut."Nyonya Sarah berdehem canggung, mencoba menutupi rasa irinya. "Sudah, kalian berdua. Jangan memprovokasi suasana.""Nah, selesai," pukas Sena sambil menarik tangannya. "Jangan tidur di sini, Ayu, nanti dingin."Ayu berdiri merapikan baju dengan pipi merona. Ia menyentuh lengan Sena pelan. "Terima kasih banyak, Sena. Pegal di punggungku langsung hilang."Nyonya Sarah melangkah mendekat. "Ehem... Baiklah. Kita sudah membuktikan sendiri kalau Hawa Murni milikmu murni pengobatan medis yang luar biasa.""Iya," timpal Elsa mengibaskan
"Dimana-mana yang tua dulu, Bidan Irma," sahut Nyonya Sarah menaikkan dagunya."Baiklah Nyonya, silakan Anda dulu," balas Irma mengalah, meski matanya menatap sengit.Nyonya Sarah berdehem pelan seraya merapikan gaun elegannya. "Sekarang, Sena," pukasnya menatap Sena lurus-lurus. "Buktikan kalau ucapanmu tadi bukan sekadar alasan untuk memegang janda itu.""Silakan duduk membelakangi saya di atas dipan, Nyonya," ujar Sena tenang.Nyonya Sarah melangkah anggun lalu duduk di tepi dipan bambu. Sena mendekat, mengoleskan sedikit minyak herbal beraroma terapi di telapak tangannya, lalu menempelkan kedua jemarinya tepat di pangkal leher Nyonya Sarah.Zap..."N-Ngh... hangat sekali," desah Nyonya Sarah tanpa sadar. Matanya terpejam rapat, sementara jemarinya meremas kain gaunnya sendiri saat rasa hangat menembus hingga ke tulang."Ini penekanan titik Jianjing," terang Sena lembut seraya memijat perlahan dengan dorongan Hawa Murni. "Rasa hangat ini yang melelehkan ketegangan syaraf leh
Sirene tiga mobil patroli dan satu truk polisi meraung menembus kegelapan malam, mengepung gudang Distributor Obat Jaya. Di dalam mobil operasional, Elsa menunjukkan tabletnya pada Pak Hendra, Sena, Dr. Agus, dan Dr. Tirta. "Pabrik ini terdaftar sebagai gudang makanan olahan, Pak," kata Elsa. "Taktik Frans menghindari inspeksi." Pak Hendra menatap tegas. "Sena, Agus, Tirta, ikut saya dan tim reserse untuk identifikasi bahan baku. Elsa, pastikan dokumen penangkapan siap." Brakkk! Pintu besi gudang didobrak. "Jangan bergerak! Polisi!" teriak Komandan Reserse. Belasan pekerja panik. Tuan Frans dan seorang dokter berjas rapi yang berada di tengah ruangan mendadak pucat pasi. "P-Pak Hendra?! Bagaimana bisa...?" gagap Tuan Frans. Pak Hendra melangkah maju. "Kaget melihatku masih hidup, Frans? Racun Nitroso-kompleks buatan dokter bayaranmu itu gagal total!" Tuan Frans berusaha tenang. "Apa maksudmu? Ini cuma gudang suplemen herbal biasa! Kamu tidak punya hak menggeledah t
Sena tidak membuang waktu. Dengan gerakan jemari yang presisi, lima jarum perak menancap di titik-titik meridian vital di dada dan leher Pak Hendra. Pendar hangat Hawa Murni mengalir perlahan, melonggarkan edema laring yang mencekik pernapasan pria tua itu secara cepat. "Irma, tahan posisi kepala Pak Hendra! Ayu, cepat seduh racikan Akar Bangle dan Ekstrak Meniran dengan air hangat untuk membilas lambungnya!" perintah Sena sigap. Irma dan Ayu bergerak cepat tanpa ragu. Hanya dalam hitungan menit, napas Pak Hendra yang tadi tersengal berat perlahan menjadi teratur dan stabil. Warna kebiruan di bibirnya berganti merona segar. Setelah bahaya krisis berlalu, Sena menarik jarum-jarumnya dan menatap tajam ke arah dua botol obat di meja. Ia memandang pria bersetelan jas anak Pak Hendra yang masih mengusap keringat dingin. "Reaksi toksin Nitroso-kompleks dari racikan ini terlalu spesifik dan mematikan untuk disebut ketidaksengajaan," pukas Sena dingin. "Siapa yang meresepkan kombi
Dua minggu sejak insiden sabotase malam itu, progres pembangunan Puskesmas Terpadu sudah mencapai tiga puluh persen. Kerangka pondasi ruang rawat inap dan struktur lantai satu mulai berdiri gagah. Namun, karena pengerjaan fasilitas medis lengkap masih membutuhkan waktu dua bulan lagi, Sena dan Dr. Tirta tetap setia mengoperasikan posko pengobatan darurat di gubuk herbal Sena.Karena nama Sena yang makin harum, posko darurat bertambah ramai setiap paginya. Deretan warga desa antri untuk mendapatkan penanganan medis maupun terapi herbal.Di dalam ruangan gubuk yang tak seberapa luas itu, riuh suasana tak hanya datang dari para pasien, tetapi juga dari empat wanita cantik yang mendadak berkumpul untuk turun tangan membantu Sena."Permisi, Pak... silahkan duduk di sebelah sini dulu untuk pengecekan tekanan darah," ujar Bidan Irma anggun dengan seragam dinasnya. Jarinya yang terampil cekatan memasang tensimeter di lengan pasien. Sesekali matanya melirik ke arah Sena yang sedang memijat







