Se connecterCallista hanya ingin hidup nyaman setelah transmigrasi ke novel kaya raya. Namun ia justru masuk ke tubuh antagonis paling dibenci keluarga Lilithana. Di hari pertama membuka mata, Callista sudah dituduh gila setelah menghajar putri kesayangan keluarga itu hingga berdarah. Tanpa ragu, keluarganya sendiri mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Awalnya Callista tidak peduli. Baginya, menjauh dari para tokoh utama jauh lebih aman. Namun tempat itu perlahan menghancurkan dirinya. Dan ketika keluarga Lilithana akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit jiwa itu—Callista sudah terlalu hancur untuk kembali seperti dulu.
Voir plusKesunyian pagi di Vila Lilithana retak oleh suara kaca pecah, teriakan panik, dan hentakan kaki para pelayan yang berlarian seperti ayam kehilangan induk. Matahari bahkan belum sepenuhnya naik ketika kekacauan itu terjadi. Di lantai dua kediaman keluarga Lilithana-keluarga bangsawan modern yang kaya raya dan terpandang-drama yang tak kalah dari kisah sinetron murahan tengah berlangsung.
Dan tepat di pusat kekacauan itu, lahirlah kembali seseorang.
"Aduh... kepalaku sakit banget."
Gadis itu membuka mata perlahan. Kelopak matanya berat, seolah ia baru saja tidur selama seratus tahun. Begitu pandangannya fokus, sosok pertama yang ia lihat adalah seorang gadis lain yang sedang berlutut di lantai dengan tubuh gemetar hebat.
Di lantai, berserakan bingkai foto pecah dan kaca retak.
Bibir gadis yang berdiri-yang kini menjadi dirinya-ternodai darah. Telapak tangannya memegang rambut gadis lain itu, seolah baru saja menghantamnya berkali-kali.
"Eh?" gumamnya bingung.
Perlahan, sebuah ingatan masuk ke kepalanya seperti kilatan listrik.
Callista Zenia Lilithana. 19 tahun. Antagonis utama novel "Takdir Lilithana".
Antagonis galak anti pertumbuhan karakter. Menindas putri keluarga Lilithana,
Arsenia Resa Lilithana.
Dan pada titik ini... Callista akan segera diseret ke rumah sakit jiwa karena kekerasan berlebihan.
Tubuhnya menegang.
...Hah?
Ia, seorang gadis biasa dari dunia modern- gadis yang mendambakan hidup damai dan kaya raya tanpa harus bekerja keras-telah transmigrasi ke dalam novel yang pernah ia baca setengah hati sebelum tidur minggu lalu.
"Kenapa aku ada di sini? Ini bukan kamarku..." bisiknya, suara seraknya bergetar yang nyaris tak terdengar.
Dan lebih buruk lagi, ia menjadi antagonis dan berada tepat di adegan di mana Callista menghajar Arsenia sampai nyaris pingsan.
"Ar... Arsenia?" panggilnya pelan.
Gadis yang ditindas itu menegang. Mata biru pucatnya bergetar seperti anak rusa ketakutan.
"J-jangan pukul aku lagi, Kak... aku... aku sudah minta maaf..."
Semua memori tentang sifat Callista asli jatuh ke kepalanya seperti meteor, kejam, obsesif, iri, manipulatif, dan dilabeli "antagonis gila" oleh fans novel karena kelakuannya yang tak masuk akal.
Dan sekarang? Ia justru harus berada dalam skenario terburuk-di tubuh orang paling menyebalkan dalam cerita.
Callista mengedip.
Kemudian, ia tersenyum-senyum ceria yang sama sekali tidak cocok dengan suasana mencekam di kamar itu.
"Wah, berat banget ya hidupku sekarang... tapi setidaknya aku hidup di keluarga kaya."
Di sudut ruangan, dua pria berwajah sama-dengan rambut hitam dan mata abu gelap-mendorong pintu dengan panik.
Rayyan Lilithana dan Xayyan Lilithana. Abang kembar Callista dan Arsenia.
Seharusnya, dalam novel, keduanya sangat membenci Callista karena sikapnya yang selalu menyakiti adik kandung nya Arsenia. Tapi mereka tetap menjaga Callista karena rasa tanggung jawab keluarga.
Kini, keduanya menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Callista, kau-kau sadar apa yang sedang kau lakukan?!" seru Rayyan, wajahnya memucat. Lagi dan lagi ia melihat adik angkatnya menindas Arsenia.
Xayyan mengumpat pelan. "Kau benar-benar sudah gila!"
Callista memandang kedua pria itu dengan senyum paling cerah yang ia punya.
"Eh, Halo! Pagi semuanya!"
Para pelayan yang tadinya siap memegangi gadis gila berusia sembilan belas tahun itu tertegun.
Arsenia yang semula akan menangis histeris kini malah terlibat situasi yang lebih membingungkan.
Rayyan mendekat hati-hati. "Callista... lepaskan rambut Arsenia dulu."
"Oh!" Gadis itu segera melepas tangannya dari rambut Arsenia. "Maaf, maaf, lupa."
Lupa, katanya.
Rayyan merasa ingin pingsan.
ΩΩΩ
Seluruh rumah seperti tegang menunggu amukan Callista berikutnya. Dalam novel, setelah peristiwa ini, Callista akan mengamuk seperti singa kelaparan karena keputusan keluarga sudah bulat. Callista harus dirawat di rumah sakit jiwa. Karena gangguan emosinya dianggap berbahaya.
Tapi kali ini...
"Callista," kata Ayah Lilithana, suara dalamnya menggema di ruangan. "Ayah sudah sangat merasa kecewa dengan sikapmu selama ini, Jadi, kami sudah memutuskan untuk membawamu ke rumah sakit jiwa."
Arden-kepala keluarga Lilithana sebenarnya sangat berat dengan keputusannya saat ini, walaupun Callista bukanlah anak kandungnya, namun sejak dulu, gadis kecil itulah yang sangat menyayangi nya dan menghiburnya kala ia kesepian dan selalu meratapi Arsenia kecil yang dulu hilang.
Namun, kala Arsenia kembali, sifat manis dan ceria Callista dulu malah hilang dan berganti dengan rasa iri dan kejam lantaran dirinya mengira jika Arsenia pulang maka Callista akan dibuang.
Namun hari ini, keputusan nya sudah bulat, jika Callista mengamuk atau bahkan melakukan hal nekat, mereka tetap akan membawa Callista ke rumah sakit jiwa untuk melakukan pengobatan.
Dalam novel, inilah saat Callista biasa mengamuk, membanting vas bunga, dan menjerit-jerit memanggil Reygan-si tokoh utama laki-laki yang ia obsesikan.
Namun Callista baru? Ia dengan santai mengangkat dua jempolnya.
"Oke, Yah. Ayo berangkat sekarang!"
Keheningan jatuh seperti bom nuklir.
Semua pasang mata membelalak.
Suasana meja makan yang tadinya hanya sekadar kacau, kini perlahan bertransformasi menjadi panggung sandiwara kelas berat. Arsenia, yang merasa "porsi" perhatiannya tersedot habis oleh kemesraan Regan yang melayani Callista, akhirnya memutuskan bahwa sudah saatnya untuk mengeluarkan kartu As-nya: jurus Sesak Napas Dramatis Versi 4.0.Ia mendadak meletakkan sumpitnya dengan gemetar, tangannya memegang dada, dan matanya membelalak dramatis ke arah langit-langit ruangan."Aduh! Astaga... udara di sini tiba-tiba menjadi sangat tipis!" Arsenia terengah-engah, suaranya terdengar seperti peluit kereta api yang macet. "Ray... Rayden! Udara di ruangan ini tidak cukup! Aku merasa oksigennya habis tersedot ke sisi meja sana! Bisakah kau... bisakah kau mengipasi aku?"Rayden, yang sedang berada dalam fase "aku-ingin-pensiun-dari-pernikahan-ini", menoleh dengan tatapan datar yang sanggup membekukan air panas. Ia melihat ke sekeliling, lalu meraih buku resep masakan set
Puncak kekacauan malam itu tidak terjadi saat kuah hotpot terciprat ke jas mahal Rayden, melainkan saat Xayyan, pemuda yang otaknya sering kali bekerja dengan logika yang hanya dia sendiri yang paham, memutuskan untuk mengambil alih kendali panci hotpot. Dengan semangat seorang ilmuwan gila di laboratorium rahasia, Xayyan bangkit dari kursinya, membawa nampan berisi segala jenis sayuran yang tersisa, bakso-baksoan, mie instan, bahkan sisa keripik kentang yang entah kenapa dia bawa ke meja makan."Dengar semuanya! Aku punya teori revolusioner!" seru Xayyan dengan suara lantang, mengabaikan fakta bahwa Rayden sedang sibuk berusaha menyelamatkan harga diri jasnya dengan tisu basah. "Kalau kita memasukkan semua bahan ini secara bersamaan ke dalam panci, rasa kaldunya akan mengalami evolusi molekuler yang sangat drastis, sehingga menghasilkan perpaduan rasa yang unik dan belum pernah dirasakan lidah manusia mana pun di dunia ini!"Ia memegang panci itu seolah sedang mem
Malam itu, ruang makan kediaman Regan disulap menjadi zona perang gastronomi. Alih-alih menyajikan hidangan yang elegan dan tenang, mereka memutuskan untuk mengadakan pesta hotpot. Asap mengepul dari panci besar di tengah meja, menyelimuti ruangan dengan aroma kaldu rempah yang menggoda. Namun, bagi para penghuni meja, hotpot ini bukan sekadar urusan perut; ini adalah instrumen perang psikologis.Regan, dengan ketelatenan seorang pelayan istana yang telah berlatih selama sepuluh tahun, secara otomatis mengambil alih posisi di samping Callista. Ia mengabaikan panci itu sendiri dan memfokuskan seluruh energinya pada "proyek" bernama Callista. Dengan gerakan yang begitu halus hingga hampir tampak seperti koreografi tari, ia meracik saus wijen dengan rasio yang sempurna, memotong daging wagyu kualitas A5 dengan presisi bedah saraf, dan kemudian, dengan satu gerakan sumpit yang sangat terlatih, ia menyuapi Callista seperti sedang memberi makan seorang ratu yang sedang dalam masa
Pintu depan kediaman Regan terbuka dengan gaduh, seolah-olah ada rombongan paduan suara yang baru saja kalah dalam kompetisi dan sedang meluapkan emosi. Rayyan dan Xayyan masuk ke ruang tamu, membawa sekotak donat artisan—jenis donat yang harganya bisa membuat satu orang makan kenyang selama seminggu—dan beberapa botol soda yang berbunyi krek-pess setiap kali tutupnya dibuka.Xayyan, sang pemuda yang memiliki kemampuan alami untuk benar-benar gagal membaca suasana, langsung bergerak seperti radar yang rusak. Ia mengabaikan Callista yang sedang menatapnya dengan tatapan "kalau kau mendekat, kau tamat," dan malah meluncur lurus ke arah Arsenia yang masih dalam posisi duduk anggun setelah sesi yoga-nya yang legendaris."Wah, Nia! Sembuh total? Hebat banget!" seru Xayyan dengan mata berbinar-binar penuh kepolosan. Tanpa aba-aba, ia meletakkan kotak donat mahal itu tepat di samping kaki Arsenia, seolah-olah Arsenia adalah sebuah kuil yang pantas menerima sesaji donat be
Sementara di sisi lain, Rayden tidak tahu apa yang mendorongnya ke rumah sakit jiwa hari itu. Mungkin rasa penasaran. Mungkin karena ia ingin memastikan Callista benar-benar kapok. Atau mungkin... karena ia merasa sesuatu yang tidak ia mengerti menggigit hatinya sejak kemarin.Yang jelas, langkahny
Mobil keluarga Lilithana meluncur pelan keluar dari gerbang vila megah yang dipenuhi tanaman hias dan air mancur yang memercik lembut. Hari itu begitu tenang, langit biru bersih—kontras sekali dengan suasana hati para penumpang mobil. Di bangku paling belakang, Callista berduduk manis dengan koper
Rayyan memegang dadanya."Callista... menyetujui...?"Xayyan menelan ludah."Kenapa jawabannya tidak sesuai ekspektasi ku?"Ibu Lilithana- Sera, yang semula sudah menyiapkan mental untuk menghadapi Callista mengamuk, kini justru terlihat seperti hendak pingsan karena syok positif."C-Callista sayan
Kesunyian pagi di Vila Lilithana retak oleh suara kaca pecah, teriakan panik, dan hentakan kaki para pelayan yang berlarian seperti ayam kehilangan induk. Matahari bahkan belum sepenuhnya naik ketika kekacauan itu terjadi. Di lantai dua kediaman keluarga Lilithana-keluarga bangsawan modern yang kay
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires