로그인"Lain kali bisa begini lagi?" tanya Nyonya Widya penuh harap, tanganya perlahan mengelus dada bidang Sena yang masih naik-turun memburu.Sena tersenyum tipis, mengecup lembut dahi wanita itu. "Tentu saja, Nyonya. Asalkan situasinya memungkinkan, aku pasti akan kembali memanjakanmu."Mendengar jawaban itu, Nyonya Widya tersenyum lebar. Sisa-sisa kesedihan akibat musibah kebakaran gudangnya benar-benar lenyap, tergantikan oleh rasa puas dan kebahagiaan yang menghangatkan jiwanya.Setelah merapikan pakaiannya, Sena pamit pada Nyonya Widya. Namun, ia kembali ke gubuknya untuk kembali mengatur energinya. Sore harinya Sena melangkah menuju rumah Nyonya Sarah, meski energinya sudah melimpah, ia butuh penyatuan satu kali lagi agar hawa murni Gowok di dalam tubuhnya benar-benar mencapai tingkat kesempurnaan sebelum menghadapi Kek Jabar.Begitu Sena menginjakkan kaki di kediaman Nyonya Sarah yang sepi, dia langsung disambut Nyonya Sarah yang kebetulan ingin menutup pintu."Sena, ada apa?
Sena semakin kuat menghisap, membuat Irma benar-benar panas dan hilang kendali."Aaahhhhh...!"Tubuhnya menegang hebat, dan cairan hangat keluar cukup banyak dari area intimnya, membasahi persendian mereka. Irma menggeliat, menatap Sena dengan matanya yang sayu dan napas yang memburu."Sena... aku tidak kuat kalau di atas terus, bagaimana kalau kita tukar posisi," desah Irma dengan suara yang gemetar.Sena tak membantah. Dengan sisa tenaganya, ia membalikkan posisi tubuh mereka. Sena menyalurkan kembali hawa murni Gowok yang hangat ke dalam pembuluh darah Irma, tujuannya untuk membuat area sensitif wanita itu tetap basah. Sena mulai memacu gerakannya dari atas. Sentuhan murni yang beradu dengan gairah panas Irma membuat seluruh racun dan rasa lelah di dalam tubuh Sena terkikis pesat. Beberapa waktu kemudian, saat gerakan mereka mencapai ritme paling intens, Sena mengerang hebat. Cairan kental menyembur keluar, memenuhi rahim Irma bersamaan dengan pelepasan puncak wanita itu yang
Perjalanan dari kota menuju desa terasa begitu panjang bagi Sena. Langkah kakinya yang masih sedikit gontai menyusuri jalan setapak yang gelap, menuntunnya kembali ke gubuk tua di ujung desa.Begitu menginjakkan kaki di dalam gubuk, Sena tak membuang waktu. Ia segera menghubungi Irma melalui telepon genggamnya, memintanya datang seraya membawa beberapa racikan obat pemulih stamina.Tak sampai lima belas menit, suara derak pintu gubuk mengejutkan keheningan malam. Irma melangkah masuk dengan napas terengah-engah, wajah cantiknya dipenuhi rasa cemas yang amat sangat."Sena!" pekik Irma panik saat melihat Sena duduk bersandar di tepi dipan kayu dengan wajah yang masih agak pucat. "Kamu kenapa, Sena? Ada apa sebenarnya?!""Irma... syukurlah kamu cepat datang," bisik Sena serak.Melihat keadaan pria pujaannya yang tampak lemas, Irma bergerak cepat. Tanpa banyak bicara, bidan cantik itu melangkah ke dapur kecil di sudut gubuk. Dengan gesit ia menyeduh teh hangat dan menyiapkan obat-oba
Dengan senang Elsa menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada Sena. Dia mulai melepas pakaiannya sendiri satu per satu hingga tak sehelai benang pun menempel di tubuhnya.Elsa lalu berbaring di samping Sena, dia menatap Sena dengan sorot mata penuh cinta dan kepasrahan."Sena, aku sudah siap. Lakukan apapun yang kamu mau," bisik Elsa dengan suara serak. Sena tidak membuang waktu untuk basa-basi atau melakukan foreplay. Tenaga dalamnya terkuras habis dan luka dalam akibat hantaman energi hitam masih menggerogoti tubuhnya. Sena menyalurkan sedikit sisa tenaga murninya, mengalirkan hawa hangat untuk memicu gairah dan membuat tubuh Elsa panas serta siap menerima.Sena dengan cepat melepas seluruh pakaiannya, lalu menaikkan tubuhnya di antara kedua kaki Elsa yang terbuka. "Buka kakimu lebih lebar, Elsa," bisik Sena berat.Begitu kaki Elsa terbuka semakin lebar, Sena langsung melakukan penyatuan secara mantap dan bertenaga.Jleb!"Ohhhh...!" jerit tertahan lolos dari bibir Elsa, m
Baru saja duka atas terbakarnya gudang Nyonya Widya mereda, esok harinya berita mengejutkan kembali mengguncang. Klinik kecantikan milik Nyonya Sarah di pusat kecamatan mendadak terbakar hebat akibat dilempar bom molotov oleh dua pria tak dikenal yang melaju dengan sepeda motor.Nyonya Sarah menangis histeris. Tempat usaha yang baru buka kini rata dengan tanah. Dada Sena bergemuruh hebat. Amarahnya sudah berada tepat di titik didih.Malam itu juga, Sena mengumpulkan Pak RT dan para pemuda desa terkuat di balai desa. Suasananya begitu mencekam dan tegang."Pak RT, malam ini saya minta tolong," ujar Sena dengan suara berat penuh penekanan. "Tolong kerahkan seluruh pemuda desa untuk menjaga ketat klinik milik Irma, serta warung dan toko milik ibunya Ayu. Jangan biarkan ada orang asing mencurigakan yang mendekat!""Siap, Sena! Kami tidak akan membiarkan bajingan-bajingan itu merusak desa kita lagi!" seru Pak RT dengan tangan mengepal mantap.Namun, di tengah kesibukan Sena membente
Di sebuah ruangan mewah berinterior serba hitam di pusat kota, Dokter Handoko dan Adrian duduk berhadapan. Hukum yang menjerat mereka bisa dibeli dengan mudah, meski sempat dilaporkan dan ditangkap pihak berwajib tapi mereka sama sekali tak jera. "Dok, anak muda bernama Sena itu benar-benar bukan manusia biasa," ujar Adrian seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Serangan tenaga dalam, kecepatannya, bahkan cara dia menetralkan racun sumur... Kita tidak akan pernah bisa menang kalau menghadapinya secara fisik atau lewat hukum."Dokter Handoko menyesap minumannya pelan, matanya menyipit tajam. "Sena memang sangat kuat. Kita tidak bisa melawannya dengan cara awam."Pria paruh baya itu meraih ponsel khususnya, menyentuh sebuah kontak seorang praktisi spiritual tingkat tinggi yang menjadi penasihat gaibnya. “Ada apa, Handoko?” suara berat dan parau terdengar dari balik telepon."Kek, saya menghadapi masalah besar. Ada seorang pemuda di desa yang memiliki kemampuan ajaib. Dia bisa







