تسجيل الدخول"Nyonya Sarah, lalu apa tujuan asli dari uang suap yang diterima suamimu dari Rio?" tanya Sena, suaranya mendadak berubah berat, menuntut kepastian.
Sarah mengusap sisa air matanya, menatap Sena dengan pandangan pasrah. "Besok lusa, Suamiku dan Rio berniat menggunakan dokumen palsu itu untuk menggusur paksa gubuk peninggalan orang tuamu. Mereka sengaja mengkambinghitamkan Ayu dengan alibi bahwa ada sengketa tanah antara keluarga Ayu dan dirimu, jadi warga desa tidak akan curiga ketika gubukmu diratakan." Mendengar rencana busuk musuh-musuhnya, Sena tidak marah. Sebaliknya, sebuah seringai tipis terukir di wajah tampannya. Wicaksana menyadari bahwa inilah momen yang sangat tepat untuk membalikkan keadaan tanpa perlu menguras tenaga atau beradu fisik. Saat ini, posisi Sena di desa sudah tidak bisa diremehkan lagi. Empat wanita paling berpengaruh di wilayah ini, Ayu yang tulus, Bidan Irma yang ketagihan, Nyonya Widya sang penguasa lahan, dan Sarah sang istri kepala desa, kini telah terpikat dan bergantung sepenuhnya pada sentuhan magis Ilmu Gowok miliknya. Sena tahu, mengumpulkan keempat wanita ini secara bersamaan di malam hari atau sore hari akan memicu kecurigaan besar di desa kecil ini. Maka, menjelang siang hari, Sena bergerak cepat menyusun bidak caturnya. Pertama, dia mendatangi Ayu untuk melindunginya, mengirim pesan rahasia pada Bidan Irma lewat dalih pemeriksaan, serta memanfaatkan ketergantungan Nyonya Widya dan Sarah yang masih segar dari sentuhannya. Sena mengatur agar mereka datang secara terpisah namun dalam waktu yang berdekatan ke gubuknya, demi merancang sebuah jebakan hukum dan sosial bagi musuh-musuhnya. Tepat saat keempat wanita itu baru saja duduk melingkar di ruang tamu gubuk Sena yang sempit, suasana di dalam ruangan mendadak menegang. Di atas meja, beberapa dokumen rahasia yang dibawa oleh Sarah mengenai korupsi suaminya sudah tergelar. Brakkk! Suara bantingan keras dari arah pagar depan memecah keheningan. Sebuah langkah kaki yang berat dan kasar terdengar mendekat. Dengan lancang, Rio menggebrak pintu depan gubuk yang memang sengaja dibiarkan setengah terbuka oleh Sena. Preman kampung itu melangkah masuk dengan dada membusung, tangan kanannya mengacungkan selembar surat peringatan penggusuran berstempel resmi balai desa. Cih! Rio meludah sembarangan di lantai teras, matanya mendelik liar, bermaksud mengintimidasi Sena agar pemuda itu ketakutan dan segera mengosongkan lahan gubuknya. "Heh, Sena! Penggusuran dipercepat! Ini surat resmi dari Balai Desa. Angkat kaki kamu dari tanah ini sekarang juga sebelum dilindas rata!" bentak Rio sangar. Merespons gertakan murahan tersebut, Sena tetap duduk tenang di kursi kayunya. Dia memberikan isyarat tangan yang halus, meminta keempat wanita di dalam ruang tamu agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Sena menatap kertas di tangan Rio, lalu terkekeh rendah. Lewat tatapan mata yang sedingin es, dia berucap, "Surat resmi? Stempel itu tidak lebih dari sekedar coretan sampah di atas kertas murahan, Rio. Keabsahannya nol besar." Merasa diremehkan secara telak oleh pemuda yang selama ini ia injak-injak, darah Rio langsung mendidih. "Kurang ajar! Berani kamu menghina dokumen negara?!" Matanya melotot tajam, Rio merangsek maju, bersiap mengangkat kerah baju Sena dengan kedua tangannya yang kekar. Namun, sebelum kulit kasar Rio sempat menyentuh pakaian Sena, sebuah pergerakan serentak terjadi di dalam ruangan. Secara bersamaan, Nyonya Widya dan Sarah berdiri dari kursi kayu mereka, melangkah maju menghalangi Sena. Keduanya memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat dan berwibawa, langsung menekan mental sang preman kampung. Nyonya Widya menyilangkan kedua lengan di depan dadanya yang sintal, menatap Rio dengan pandangan yang sanggup membekukan darah. "Rio! Berani kamu menyentuh Sena, detik ini juga aku akan mencabut semua modal utang bapakmu di warungku, dan menyita seluruh lahan pertanian keluargamu sebagai jaminan!" ancam Widya, suaranya bergetar penuh kuasa seorang tengkulak tertinggi. Belum sempat Rio mencerna syok tersebut, Sarah selaku istri Kepala Desa maju satu langkah lagi dengan mata menghunus tajam. "Dan jika tangan kotormu itu berani menyentuh Sena, aku sendiri yang akan membawa berkas suap suamiku dan bapakmu ke pihak kecamatan hari ini juga. Biar kalian semua membusuk di penjara!" Sadar bahwa mangsa empuk yang biasanya ia tindas kini dilindungi secara ekstrem oleh istri kepala desa dan penguasa ekonomi terbesar di desa, nyali Rio seketika menyusut drastis ke titik terendah. Kejutan bertubi-tubi itu membuat lutut kekarnya gemetar hebat. Menahan rasa malu yang luar biasa serta ketakutan yang mencekik leher, preman bertubuh kekar itu melangkah mundur perlahan dengan wajah pucat pasi. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik lalu kabur terbirit-birit meninggalkan pekarangan gubuk Sena seperti anjing yang ekornya terjepit. Sena membalikkan badannya, memberikan senyuman puas penuh pesona kepada para wanita pelindungnya yang tampak nafasnya masih memburu akibat emosi. "Terima kasih, para Nyonya," ucap Sena lembut, membuat wajah Widya dan Sarah seketika merona merah mengingat kejadian intim sebelumnya. Namun, tepat saat suasana gubuk mulai mencair, perhatian Sena mendadak teralih oleh suara deru motor di luar pagar. Sesosok wanita muda cantik bernuansa kota baru saja turun dari jok ojek online. Kulitnya putih bersih, kontras dengan hawa pedesaan, dan kedua tangannya tampak kesusahan membawa sebuah kardus paket berukuran sedang menuju ke arah pintu gubuk Sena. “Sena…”Malam itu di gubuk Sena. Elsa duduk di tepi dipan kayu, merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.Napas wanita cantik itu masih sedikit terengah-engah setelah menempuh perjalanan jauh dari pusat kota."Kamu terlihat lelah sekali, Elsa," ucap Sena seraya melangkah mendekat dan duduk di sampingnya.Elsa menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang menawan. Matanya yang indah menatap Sena penuh kehangatan. "Lelahku langsung hilang begitu sampai di gubukmu, Sena. Tapi ada hal penting yang harus kuberitahukan padamu."Sena memicingkan mata, menangkap nada cemas yang tersembunyi di balik suara lembut Elsa. "Soal Adrian dan Handoko?"Elsa mengangguk pelan. Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Siang tadi, proses penahanan mereka berjalan lancar. Tapi sore harinya... semuanya berubah. Pihak Dokter Handoko mendatangkan pengacara kondang dari ibu kota. Pengacara kelas atas yang punya banyak koneksi di kalangan pejabat.""Lalu?" tanya Sena tenang."Mereka mengajukan beb
Lutut orang-orang itu bergetar hebat, "B-Baik kami akan pergi." Kata Pengacara tersebut. Namun belum sempat mereka berbalik Sena memanggilnya kembali. "Berikan map merah itu." Sambil menunjukan map merah yang dipegang pengacara. Pria itu semakin menggenggam erat mapnya, seolah enggak memberikannya kepada Sena. "Berikan atau aku rebut!" Pengacara ini terdiam, hingga suara Sena kembali terdengar. "Cepat!" Teriak Sena sambil mengangkat tangannya. "Baik-baik, ini A-ampun, Ampun!" jerit pengacara itu panik buru-buru menyerahkan sebuah map tebal berisi berkas sertifikat tanah. "S-saya cuma disewa! Ini semua berkasnya!" Lalu Pengacara itu pergi dari klinik. Sena menerima map tersebut, memeriksa sekilas, lalu mendengus dingin. Tanpa buang waktu, Sena langsung merogoh ponsel dari sakunya dan menghubungi Elsa."Elsa, aku butuh bantuanmu sekarang," ujar Sena begitu sambungan telepon terhubung."Ada apa, Sena? Katakan saja," sahut suara Elsa yang sigap dari seberang telepon."Datang
Esok paginya suasana di dalam gubuk terasa jauh lebih hidup dan riuh dibanding hari-hari biasanya.Nyonya Widya meregangkan tubuhnya di atas dipan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Nyonya Sarah dan Irma ikut terbangun, tersenyum simpul saat mendapati diri mereka tertidur lelap nyaris menempel satu sama lain di dekat Sena."Pagi yang sangat nyaman..." gumam Nyonya Sarah manja, melirik Sena yang sudah lebih dulu bangun dan berdiri di dekat pintu."Pagi, Nyonya-nyonya. Cepat bangun, matahari sudah tinggi," ucap Sena tersenyum tipis."Ini sudah bangun Sena." sahut Irma. Wanita itu merasakan tubuhnya sangat ringan, sentuhan Sena benar-benar sudah menjadi candu. "Sena apa boleh setiap hari aku menginap disini." kata Irma. Sena menatap Irma, mana boleh setiap hari tidur di gubuk nya, yang ada para warga menganggapnya tukang pijat cabul. "Nggak boleh, kamu punya rumah sendiri mana boleh tidur di gubukku." Mendengar penolakan Sena, Nyonya Sarah dan Widya tertawa, "Irma Irma
Usai mengikat pria suruhan itu di pohon yang aman dan membiarkannya pingsan, Sena melangkah kembali ke dalam rumah Ayu. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Suasana luar makin sepi dan mencekam."Bagaimana, Sena? Siapa orang itu?" tanya Nyonya Sarah panik begitu Sena melangkah masuk."Hanya orang suruhan. Masalahnya sudah selesai untuk malam ini," jawab Sena tenang. Ia lalu menatap ke arah Nyonya Sarah, Nyonya Widya, dan Irma. "Sudah makin malam. Sebaiknya Nyonya sekalian dan Irma pulang untuk beristirahat."Nyonya Widya membelalakkan matanya, mengibaskan tangan cepat. "Aduhh, Sena! Pulang ke mana jam segini? Aku takut! Bagaimana kalau di jalan ada orang-orang jahat itu lagi?""Iya, Sena! Aku juga takut sekali. Di rumahku sepi, cuma ada pembantu," timpal Nyonya Sarah bergidik ngeri, memegangi lengan Sena.Sena menghela napas pelan, menoleh ke arah Irma. "Irma, kamu kan tinggal di klinik desa, dekat dari sini—""Jangan bercanda, Sena!" potong Irma cepat sebelum Sena meny
Sena memegang pisau bernoda tulisan itu dengan erat. Matanya yang tajam memindai kegelapan malam di sekitar teras rumah Ayu. "Sena... ada apa? Siapa yang melempar pisau itu?" tanya Nyonya Widya dengan melangkah mendekat bersama Nyonya Sarah dan Irma. "Tetap di dalam rumah. Kunci pintunya dari dalam," bisik Sena dingin tanpa menoleh. "Tapi Sena, kamu mau ke mana?!" seru Irma cemas. Tanpa menjawab, Sena memusatkan hawa murni Gowok ke bagian telinganya. Di antara desir angin malam dan suara jangkrik, ia menangkap helaan napas terengah-engah dari arah semak-semak yang berjarak sepuluh meter di samping rumah. Wusss! Dalam satu kejapan mata, tubuh Sena melesat bagaikan bayangan hitam. "S-Sena?!" pekik Nyonya Sarah kaget melihat kecepatan Sena yang tak masuk akal. Di balik semak-semak gelap, seorang pria berjaket hitam yang memegang selongsong tempat pisau mendadak membelalakkan mata. Ia baru saja hendak berbalik untuk kabur, namun sesosok pria sudah berdiri tegak tepat di
"Jangan pergi... di sini saja, Sena," bisik Ayu sekali lagi. Suaranya terdengar begitu pasrah dan rapuh, jari-jarinya berusaha menggapai tangan Sena.Sena menarik napas panjang. Aura membekukan di sekitarnya perlahan menghilang. Ia berlutut kembali di samping pembaringan Ayu, meraih tangan halus gadis itu dan menggenggamnya erat."Baik, Ayu. Aku tidak akan pergi ke mana-mana," ucap Sena lembut. "Aku di sini menyimpangimu."Pak RT dan Bidan Irma yang berdiri di dekat pintu mendadak bisa bernapas lega."Syukurlah..." gumam Irma seraya mengusap dadanya. "Kalau kamu pergi dalam keadaan emosi begitu, aku takut ada jebakan di luar sana, Sena.""Pak RT," panggil Sena tanpa menoleh."Iya, Sena? Ada apa?" jawab Pak RT sigap."Tolong perintahkan seluruh warga untuk tidak menggunakan air sumur mana pun sampai nanti sore. Saya sendiri yang akan memeriksa dan menetralkan kandungan air di hulu desa," tutur Sena tegas."Siap, Sena! Segera saya laksanakan dan umumkan ke warga!" balas Pak RT







