共有

Sena!

作者: DewaRa
last update 公開日: 2026-06-29 21:43:44

"Nyonya Sarah, lalu apa tujuan asli dari uang suap yang diterima suamimu dari Rio?" tanya Sena, suaranya mendadak berubah berat, menuntut kepastian.

Sarah mengusap sisa air matanya, menatap Sena dengan pandangan pasrah. "Besok lusa, Suamiku dan Rio berniat menggunakan dokumen palsu itu untuk menggusur paksa gubuk peninggalan orang tuamu. Mereka sengaja mengkambinghitamkan Ayu dengan alibi bahwa ada sengketa tanah antara keluarga Ayu dan dirimu, jadi warga desa tidak akan curiga ketika gubukmu diratakan."

Mendengar rencana busuk musuh-musuhnya, Sena tidak marah. Sebaliknya, sebuah seringai tipis terukir di wajah tampannya. Wicaksana menyadari bahwa inilah momen yang sangat tepat untuk membalikkan keadaan tanpa perlu menguras tenaga atau beradu fisik.

Saat ini, posisi Sena di desa sudah tidak bisa diremehkan lagi. Empat wanita paling berpengaruh di wilayah ini, Ayu yang tulus, Bidan Irma yang ketagihan, Nyonya Widya sang penguasa lahan, dan Sarah sang istri kepala desa, kini telah terpikat dan bergantung sepenuhnya pada sentuhan magis Ilmu Gowok miliknya.

Sena tahu, mengumpulkan keempat wanita ini secara bersamaan di malam hari atau sore hari akan memicu kecurigaan besar di desa kecil ini. Maka, menjelang siang hari, Sena bergerak cepat menyusun bidak caturnya.

Pertama, dia mendatangi Ayu untuk melindunginya, mengirim pesan rahasia pada Bidan Irma lewat dalih pemeriksaan, serta memanfaatkan ketergantungan Nyonya Widya dan Sarah yang masih segar dari sentuhannya.

Sena mengatur agar mereka datang secara terpisah namun dalam waktu yang berdekatan ke gubuknya, demi merancang sebuah jebakan hukum dan sosial bagi musuh-musuhnya.

Tepat saat keempat wanita itu baru saja duduk melingkar di ruang tamu gubuk Sena yang sempit, suasana di dalam ruangan mendadak menegang. Di atas meja, beberapa dokumen rahasia yang dibawa oleh Sarah mengenai korupsi suaminya sudah tergelar.

Brakkk!

Suara bantingan keras dari arah pagar depan memecah keheningan. Sebuah langkah kaki yang berat dan kasar terdengar mendekat. Dengan lancang, Rio menggebrak pintu depan gubuk yang memang sengaja dibiarkan setengah terbuka oleh Sena.

Preman kampung itu melangkah masuk dengan dada membusung, tangan kanannya mengacungkan selembar surat peringatan penggusuran berstempel resmi balai desa.

Cih!

Rio meludah sembarangan di lantai teras, matanya mendelik liar, bermaksud mengintimidasi Sena agar pemuda itu ketakutan dan segera mengosongkan lahan gubuknya. "Heh, Sena! Penggusuran dipercepat! Ini surat resmi dari Balai Desa. Angkat kaki kamu dari tanah ini sekarang juga sebelum dilindas rata!" bentak Rio sangar.

Merespons gertakan murahan tersebut, Sena tetap duduk tenang di kursi kayunya. Dia memberikan isyarat tangan yang halus, meminta keempat wanita di dalam ruang tamu agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi.

Sena menatap kertas di tangan Rio, lalu terkekeh rendah. Lewat tatapan mata yang sedingin es, dia berucap, "Surat resmi? Stempel itu tidak lebih dari sekedar coretan sampah di atas kertas murahan, Rio. Keabsahannya nol besar."

Merasa diremehkan secara telak oleh pemuda yang selama ini ia injak-injak, darah Rio langsung mendidih. "Kurang ajar! Berani kamu menghina dokumen negara?!" Matanya melotot tajam, Rio merangsek maju, bersiap mengangkat kerah baju Sena dengan kedua tangannya yang kekar.

Namun, sebelum kulit kasar Rio sempat menyentuh pakaian Sena, sebuah pergerakan serentak terjadi di dalam ruangan.

Secara bersamaan, Nyonya Widya dan Sarah berdiri dari kursi kayu mereka, melangkah maju menghalangi Sena. Keduanya memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat dan berwibawa, langsung menekan mental sang preman kampung.

Nyonya Widya menyilangkan kedua lengan di depan dadanya yang sintal, menatap Rio dengan pandangan yang sanggup membekukan darah.

"Rio! Berani kamu menyentuh Sena, detik ini juga aku akan mencabut semua modal utang bapakmu di warungku, dan menyita seluruh lahan pertanian keluargamu sebagai jaminan!" ancam Widya, suaranya bergetar penuh kuasa seorang tengkulak tertinggi.

Belum sempat Rio mencerna syok tersebut, Sarah selaku istri Kepala Desa maju satu langkah lagi dengan mata menghunus tajam. "Dan jika tangan kotormu itu berani menyentuh Sena, aku sendiri yang akan membawa berkas suap suamiku dan bapakmu ke pihak kecamatan hari ini juga. Biar kalian semua membusuk di penjara!"

Sadar bahwa mangsa empuk yang biasanya ia tindas kini dilindungi secara ekstrem oleh istri kepala desa dan penguasa ekonomi terbesar di desa, nyali Rio seketika menyusut drastis ke titik terendah. Kejutan bertubi-tubi itu membuat lutut kekarnya gemetar hebat.

Menahan rasa malu yang luar biasa serta ketakutan yang mencekik leher, preman bertubuh kekar itu melangkah mundur perlahan dengan wajah pucat pasi. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik lalu kabur terbirit-birit meninggalkan pekarangan gubuk Sena seperti anjing yang ekornya terjepit.

Sena membalikkan badannya, memberikan senyuman puas penuh pesona kepada para wanita pelindungnya yang tampak nafasnya masih memburu akibat emosi. "Terima kasih, para Nyonya," ucap Sena lembut, membuat wajah Widya dan Sarah seketika merona merah mengingat kejadian intim sebelumnya.

Namun, tepat saat suasana gubuk mulai mencair, perhatian Sena mendadak teralih oleh suara deru motor di luar pagar.

Sesosok wanita muda cantik bernuansa kota baru saja turun dari jok ojek online. Kulitnya putih bersih, kontras dengan hawa pedesaan, dan kedua tangannya tampak kesusahan membawa sebuah kardus paket berukuran sedang menuju ke arah pintu gubuk Sena.

“Sena…”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Pulang Dan Menikah

    Sena menuntaskan semua tugas medisnya di ibu kota dengan sempurna. Luruhnya penyakit kronis para pejabat VIP serta kukuhnya benteng dukungan politik dari Bu Mawar dan Bu Jasmin membuat nama Sena menjelma menjadi legenda hidup di Rumah Sakit Kepresidenan. Namun, kemewahan dan riuk-pikuk Jakarta tak pernah sanggup mengikat hatinya. Rindu pada heningnya desa dan sosok Ayu—wanita lembut yang menjadi penambat jiwanya—kian membuncah di dalam dada.​Di ruang tamu rumah dinas, Bu Mawar, Bu Jasmin, dan Dokter Vera berkumpul untuk mengantar kepulangan Sena.​"Sena, apa kamu yakin tidak ingin menetap di Jakarta?" tanya Bu Mawar dengan nada berat melepas. "Fasilitas rumah dinas ini, posisi di rumah sakit, hingga perlindungan politik... semuanya sudah kami siapkan untukmu."​Bu Jasmin ikut mengangguk pelan, menatap Sena dengan binar penuh rasa terima kasih dan keterikatan yang mendalam. "Benar, Sena. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar untukmu. Kehadiranmu di sini sangat berarti bagi kami."​Sen

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Terima Kasih Sena.

    Pikiran Sena berdesir pelan. De javu. Sungguh sebuah pola takdir yang sangat sempurna. Dokter Vera yang tegas namun penuh perhatian persis seperti Mbak Irma, Bu Mawar yang anggun dan berkelas seperti Nyonya Sarah, Bu Jasmin yang lembut dan penuh kehangatan seperti Nyonya Widya, serta Ina yang sigap melayani seperti Elsa. Kota besar ini ternyata menyimpan cerminan persis dari wanita-wanita yang membantunya membangun pilar kekuatan di desa.​Sena menatap Bu Jasmin yang berdiri penuh harap di hadapannya.​"Bisa, Bu. Kalau Bu Jasmin berkenan, kita bisa lakukan terapinya sekarang di kamar terapi," tutur Sena ramah.​"Sekarang, Sena? Apa tidak merepotkanmu?" tanya Bu Jasmin, matanya berbinar gembira meski nada suaranya tertahan sopan.​"Tidak sama sekali, Bu. Lebih cepat ditangani, tidur Bu Jasmin malam ini akan jauh lebih nyenyak," sahut Sena seraya melangkah membimbingnya menuju koridor dalam.​Bu Mawar tersenyum tipis, melempar pandangan penuh arti pada Bu Jasmin. "Masuklah, Jasmin. Perc

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Bu Mawar Dan Bu Jasmin Seperti Dejavu

    Bu Mawar melangkah mendekati ranjang terapi kayu. Dengan penuh keanggunan, wanita berpengaruh itu merebahkan tubuhnya menelungkup di atas kasur empuk. Gaun sutra mewahnya sedikit tersingkap di bagian punggung atas, menyingkapkan kulit mulus nan kencang yang memancarkan aroma cendana.​Sena mengatur napasnya, memusatkan Hawa Murni dari pusat dada ke kedua telapak tangannya hingga pendar keemasan hangat memancar samar dari jemarinya.​"Saya mulai ya, Bu Mawar. Rileks dan bernapaslah teratur," bisik Sena halus.​"Baik, Sena... lakukan saja," pukas Bu Mawar dengan nada bergetar gugup bercampur harap.​Sena menempelkan kedua telapak tangannya di belikat belakang Bu Mawar. Sentuhan itu seketika memicu letupan energi. Aliran Hawa Murni yang hangat dan perkasa menerobos masuk melintasi pori-pori kulit punggungnya, merayap cepat menghantam penyumbatan pembuluh darah kronis di belikat dan rongga dada.​"Aahhh..."​Desahan halus lolos dari bibir Bu Mawar. Tubuhnya mendadak lemas seketika. Sensas

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Sena Bisa Pijat Aku

    Malam kian larut di kompleks perumahan dinas Rumah Sakit Pusat Kepresidenan. Suasana di sekitar kediaman Sena tampak tenang, hanya diselingi gesekan dedaunan yang ditiup angin malam. Sena baru saja selesai membersihkan diri dan mengenakan kaos polos serta celana kain santai saat ketukan halus terdengar di pintu depan.​Ina, sang ART yang selalu sigap, bergegas membukakan pintu. Tak lama kemudian, gadis itu melangkah menuju ruang tengah tempat Sena sedang duduk menikmati teh hangat.​"Mas Sena, ada Bu Mawar di depan. Beliau membawakan hantaran camilan untuk Mas," pukas Ina dengan nada sopan dan sigap.​Belum sempat Sena menjawab, sosok wanita bertubuh jenjang berkelas itu sudah melangkah masuk. Bu Mawar tampak sangat anggun dengan gaun malam berbahan sutra yang jatuh pas di lekuk tubuhnya. Aromanya yang mewah dan tegas—perpaduan wangi mawar dan kayu cendana—langsung memenuhi ruangan, membuat Sena teringat total pada keanggunan Nyonya Sarah di desa.​"Malam, Sena. Maaf ya kalau Mawar me

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Ada Apa?

    Sena melipat kedua kakinya di atas ranjang, bersila dalam posisi meditasi sempurna. Ia memejamkan mata rapat-rapt, mencoba memusatkan pikiran untuk mengamati sirkulasi Hawa Murni di dalam meridian tubuhnya.​Biasanya, arus energinya terasa tenang dan stabil—terkunci rapat sejak ia mengikat ikrar batin dengan Ayu di desa. Namun malam ini, ada getaran asing yang bergejolak hebat di pusat dadanya.​Pendar keemasan merembes keluar dari pori-pori kulitnya, menerangi kamar rumah dinas yang remang. Sena dapat merasakan dengan sangat jelas bagaimana energi kehidupan milik Dokter Vera yang baru saja ia sentuh meninggalkan jejak halus, menyatu, dan membuka pilar energi baru di dalam dirinya.​"Kenapa bisa seperti ini...?" gumam Sena pelan. Solilokui itu bergetar di keheningan malam. "Energi yang seharusnya terkunci rapat bersama Ayu... tiba-tiba merekah kembali. Sensasi ini... persis saat pertama kali aku membantu Bidan Irma."​Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Apakah penyembuhan yang

  • Kesayangan Janda Dan Gadis Desa   Lega Sekali Sena

    Desahan lega yang lolos dari bibir Dokter Vera tadi bukanlah sekadar reaksi atas hilangnya rasa pening. Saat Hawa Murni hangat dari telapak tangan Sena meresap menembus pangkal tengkoraknya, sensasi itu meletup lembut, mengalir terus ke bawah melintasi tulang belakangnya.​Aliran hangat itu meluncur deras menuju area bawah perutnya, memicu denyut halus yang begitu nikmat hingga membuat otot-otot tubuhnya lemas seketika. Sebuah sensasi asing namun sangat membuai, membuat dadanya berdesir hebat.​Sena menarik pelan kedua tangannya, memutus pendar keemasan yang samar-samar menyelimuti jemarinya. Ia melangkah ke samping, menatap wanita di hadapannya dengan raut tenang.​"Bagaimana, Dokter Vera? Sudah enakan?" tanya Sena seraya menyodorkan segelas air hangat.​Dokter Vera menarik napas panjang, mencoba menguasai degup jantungnya yang masih berdebar kambar. Sensasi nikmat di bawah perutnya bertahap surut, menyisakan kebugaran luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.​"Sudah.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status