FAZER LOGINSelesai melakukan pelepasan yang entah untuk keberapa puluh kali, Diego merebahkan tubuh ke samping lalu telentang, mencoba mengatur napas yang perlahan kembali normal.Suara tarikan napas terdengar, memecah keheningan kamar bernuansa Putih Emas.Freya menoleh, memiringkan tubuh, lalu melingkarkan lengannya di atas perut kokoh pria dewasa itu."Bagaimana keadaan Papaku di Meksiko?" tanya Freya, memecah keheningan. "Dia baik-baik saja 'kan? Kapan dia kembali ke Atalia?"Diego mengangkat lengan Freya, mengecup punggung tangannya dengan lembut, lalu meletakkan di atas dada yang masih naik-turun."Kondisi Papamu baik-baik saja. Dia akan pulang besok. Bersama Dani dan ibunya."Mendengar jawaban itu, reflek Freya mengangkat kepala, menatap Diego dengan mata terbelalak. "Dani dan ibunya? Maksudnya? B-bukannya kamu masih menghukum Dani, kenapa ada ibunya juga di sana?"Diego menggeleng pelan. "Hukuman itu harus berakhir setelah Santoso tahu semuanya. Dia sendiri yang memintaku menyudahi
Diego mengecupi leher Freya yang terbaring di bawahnya hingga meninggalkan jejak merah pekat.Setelah napas mereka kembali beraturan, Diego berbisik parau, "Desahanmu sangat merdu. Aku menyukainya.""Dan permainanmu cukup baik," balas Freya dengan nada menantang, "Tapi sayangnya tidak sampai dua menit." Ia terkekeh, meremehkan pria dewasa itu.Diego mengembus napas dalam. Mengangkat kepala, lalu membalas ucapan Freya dengan ciuman yang jauh lebih rakus, memberi hukuman pada bibir yang baru saja meremehkannya.Freya memberontak pelan saat oksigen yang ia hirup mulai menipis. "Paman! Kamu mencoba membunuhku, ya? Aku bisa mati!""Membunuhmu dengan ciuman?" Diego terkekeh, suaranya terdengar seperti alunan musik yang merdu di telinga Freya."Tentu saja bisa 'kan! Aku bisa mati kehabisan napas, karena kamu tidak mau melepas ciuman itu. Kamu sengaja 'kan," protes Freya."Tidak mungkin. Justru kamu mendapatkan kekuatan dari setiap kecupanku, Baby," balas Diego dengan nada percaya diri
Diego menghela napas panjang, menatap lekat manik mata indah milik wanitanya.Freya membalas tatapan itu dengan wajah penuh harap. Jawaban yang keluar dari bibir Diego akan menjadi penentu, 'Apa ia masih pantas mengemis cinta, atau harus tahu diri dan mundur.'Setelah hening selama beberapa detik, Diego akhirnya bersuara. "Jangan berharap banyak pada pria sepertiku. Sejak awal kamu tahu, aku tidak akan melibatkan perasaan hanya karena kita sudah melewati malam bersama. Bukan hanya kamu wanita yang pernah tidur denganku, Dokter Freya Xiana!"Mendengar jawaban itu, Freya tersenyum kecut. Ia mengangguk paham, lalu melepas genggaman tangannya dari Diego dan berdiri."Lagi-lagi aku memperlihatkan kebodohanku hanya karena cinta yang semu." Freya mengusap bibir dengan kasar, menahan agar tidak menunjukkan perasaan sakit hatinya. "Setelah malam ini, aku tidak akan sebodoh ini lagi. Mari kita selesaikan perjanjian kerja sama kita. Aku akan memberimu kepuasan seperti yang kamu inginkan!"F
Tiba di mansion mewah Naga Emas, Freya langsung disambut oleh empat orang pelayan wanita yang kemudian mengantarnya menuju kamar utama.Di dalam kamar, para pelayan meminta Freya untuk mengenakan lingerie seksi transparan berwarna merah tua yang telah disiapkan khusus oleh Diego."Aku satu-satunya wanita yang pernah masuk ke dalam kamar ini, 'kan?" tanya Freya pada salah satu pelayan, mencari kepastian. "Paman bahkan tidak pernah membawa wanita murahannya ke halaman mansion ini, bukan begitu?" Ia menyempitkan mata.Pelayan itu tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sedikit dengan sopan.Setelah memastikan Freya didandani secantik mungkin, mereka buru-buru melangkah keluar dari kamar utama, agar tidak salah bicara.Tak lama, beberapa pelayan lain datang membawa hidangan mewah, lalu menatanya dengan rapi di atas meja makan yang terletak di balkon kamar.Freya hanya duduk diam di tepi ranjang, menatap ke arah para pelayan yang sibuk berlalu-lalang."Makanan sudah siap, Nona," la
Di Meksiko, Dani baru saja menghabiskan sepotong roti pemberian seorang anak kecil. Sama seperti hari-hari biasa, entah darimana anak kecil itu tahu keberadaannya setiap pagi. Ia selalu ditemukan dan diberi makanan enak.Deg!Saat bersiap meninggalkan tempat peristirahatan di depan sebuah toko, sekilat bayangan wanita yang sangat familier menarik perhatiannya.Dengan langkah kaki tergesa, Dani bergegas menghampiri wanita paruh baya itu."Mami!" Suaranya parau, menahan tangis yang nyaris pecah saat melihat wanita itu benar-benar ibunya. "Mam!"Wanita paruh baya yang baru saja turun dari mobil mewah itu melangkah mendekat, lalu memeluk erat tubuh putranya yang kini berpenampilan seperti gelandangan di negara orang."Mami ... akhirnya Mami datang. Kenapa Mami lama sekali menyadari kalau aku tidak ada di Atalia? Aku hampir gila berjuang bertahan hidup di sini tanpa uang dan makanan," isak Dani di pelukan ibunya.Wanita bernama Tiara itu hanya menghela napas dalam-dalam. "Masuk ke mo
Baru saja Diego hendak mengunci pergerakan Freya dalam pelukannya, seorang petugas gudang arsip tiba-tiba melangkah mendekat.Pelukan itu terlepas seketika. Freya berjalan cepat meninggalkan Diego untuk menghampiri si petugas."Bagaimana? Apa data yang saya minta ketemu?" tanya Freya tak sabar."Semua ada di sini, Bu Freya. Pada tahun 2001, memang ada seorang wanita bernama Nyonya Giani yang melahirkan bayi perempuan di rumah sakit ini. Nama anak itu ... Freya Xiana."Tubuh Freya seketika membeku. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengambil dokumen yang disodorkan dan langsung membacanya.Semua tertulis jelas, tanggal lahir, jenis kelamin, hingga nama lengkap kedua orang tuanya."Jadi benar ... aku anak kandung Mama dan Papa?" gumam Freya lirih.Ada sedikit harap dalam hati kalau semua ini hanya mimpi buruk. Selama ini, ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang tulus dari kedua orang tua yang membesarkannya.Saat Freya melihat foto sepasang suami-istri di ruang rahasia Diego beb
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
Jet Pribadi mewah itu akhirnya mendarat mulus di landasan pribadi keluarga Foster.Begitu pintu hidrolik terbuka, Diego melangkah turun lebih dulu. Tangan kokohnya menggenggam erat jemari lentik Freya, menuntun dengan sangat hati-hati, memastikan wanita itu aman di setiap pijakan anak tangga.Di a
"Cari keparat yang sudah berani berkhianat itu sekarang juga!" perintah Diego pada Yenzing_salah satu tangan kanan kepercayaannya."Baik, Tuan. Dimengerti," sahut Yenzing tegas. Ia menegakkan tubuh, berbalik, lalu melangkah cepat meninggalkan ruang kerja Tuan Besar.Setelah Yenzing pergi, ponsel







