Teilen

2. Syarat

last update Veröffentlichungsdatum: 06.05.2026 14:13:33

[Aku menerima tawaran itu]

​Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.

Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.

​Tidak ada jalan lain. Jika ia ingin meruntuhkan pria yang telah mengkhianatinya, ia harus menerima tawaran Diego.

Meski itu artinya ia harus menyerahkan kesucian yang selama ini dijaga pada Diego__pria yang jauh lebih berbahaya dari siapa pun.

​Napas Freya terasa kian memburu setiap kali bayangan Nadia dan senyum palsu Dani melintas di benaknya.

Kring!

​Tiba-tiba, ponsel yang berada di atas dasbor mobil berdering nyaring. Satu panggilan dari Dani. Freya hanya melirik layar itu dengan tatapan dingin, lalu mengabaikannya.

Tak lama kemudian, satu pesan masuk.

​[Sayang, maaf soal janji makan malam nanti. Aku ada meeting mendadak dan kemungkinan harus lembur sampai tengah malam]

​Freya menyunggingkan senyum sinis. Lembur? Ia tahu betul ke mana kaki Dani akan melangkah. Bukan meja rapat yang akan didatangi pria itu, melainkan ranjang panas yang sudah disiapkan oleh wanita simpanannya.

​Tanpa membalas, Freya menginjak pedal gas lebih dalam, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.

​Tiba di lobi apartemen, jantung Freya nyaris berhenti berdetak saat melihat seorang wanita dengan postur tubuh yang sangat ia kenal, wanita itu sedang berdiri di depan pintu lift.

​Freya melangkah pelan, berusaha menepis prasangka buruk dan meyakinkan diri bahwa itu bukan Nadia.

Namun, harapannya pupus saat wanita itu berbalik dan melempar senyum padanya.

​"Hay ... Dokter Freya?" Nadia menghampiri dengan gaya anggun, lalu mengulurkan tangan.

​Freya membeku di tempat. Sudut matanya melirik ke sekeliling ... apartemen ini hanya dihuni oleh kalangan kelas atas dan ekspatriat.

Bagaimana bisa wanita seperti Nadia berada di sini?

​Melihat tangannya tak kunjung disambut, senyum Nadia sedikit memudar.

"Anda tinggal di sini juga, Dok?" tanya Nadia. "Kebetulan banget ya. Saya juga baru pindah hari ini. Calon suami saya membelikan satu unit di sini sebagai hadiah spesial karena saya sedang mengandung buah cintanya. Saya tinggal di lantai 22, nomor 2332."

​Dunia seolah runtuh menimpa pundak Freya. Ia tercengang, mulutnya nyaris terbuka mendengar penjelasan detail yang sengaja dipamerkan Nadia.

Lantai 22, nomor 2332. Itu sangat dekat ... terlalu dekat dengan unit yang ia tempati.

​"Kalau boleh tahu, Anda di lantai berapa, Dok?" tanya Nadia lagi, senyumnya kini kembali terukir tanpa sedikit pun rasa bersalah.

​Menarik napas panjang, Freya berusaha menekan gejolak amarah yang mendidih.

Rasanya ia ingin sekali menjambak rambut wanita di depannya ini, namun akal sehatnya melarang. Ia tidak akan merendahkan dirinya dengan perbuatan memalukan di depan publik, apalagi ia adalah seorang Dokter.

​"Maaf, saya buru-buru," ucap Freya pendek, enggan meladeni keangkuhan Nadia lebih lama.

​"Oh, silakan." Nadia memberi jalan dengan sopan yang dibuat-buat, lalu mengekor Freya masuk ke dalam lift.

​Suasana di dalam kotak besi itu mendadak canggung dan mencekam. Hanya ada keheningan yang menyesakkan.

Sesekali Nadia melirik Freya yang berdiri kaku dengan wajah pucat pasi. Nadia tersenyum kecil, senyum hambar yang menyiratkan ejekan.

​Ting!

​Pintu lift terbuka. Freya melangkah cepat menuju unitnya, namun langkahnya terhenti saat menyadari Nadia juga berjalan ke arah yang sama. Unit mereka benar-benar bersebelahan.

​"Ohh, ternyata kita tetanggaan ya, Dok," ucap Nadia dengan nada sok akrab yang memuakkan.

​Freya hanya menarik sedikit sudut bibir tanpa suara, lalu segera masuk ke dalam apartemen mewahnya.

​Begitu berada di dalam, pertahanan Freya hancur. Ia menjatuhkan tubuh ke atas lantai marmer yang dingin, memegang dada yang terasa sesak luar biasa.

Tangis Freya pecah dalam sunyi!

​Dani benar-benar telah menghancurkan segalanya. Harapan, impian, dan cinta yang ia bangun selama dua tahun ini musnah tak bersisa.

Ia yang dulu selalu berkhayal menjadi pengantin tercantik yang dicintai sepenuh hati, kini harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya hanyalah pion dalam permainan Dani.

​"Brengsek kamu Dani .... " isak Freya kian pilu.

Bagaimana mungkin Dani membelikan apartemen mewah untuk wanita itu tepat di samping tempat tinggalnya sendiri?

​Di tengah isak tangisnya, Freya tiba-tiba teringat akan satu hal ... cincin berlian itu ... palsu.

​Sebuah kecurigaan muncul. Jika cincin itu palsu, bagaimana dengan apartemen ini?

Dengan tangan bergetar, Freya segera menghubungi pihak pengelola gedung untuk menanyakan status kepemilikan unit yang katanya akan segera berganti nama menjadi miliknya.

​Dan kenyataan pahit kembali menghantamnya tanpa ampun. Dani tidak pernah membeli unit itu.

​"Mohon maaf, Ibu Freya. Status unit tersebut saat ini adalah sewa atas nama Bapak Dani. Beliau menyewanya untuk jangka waktu satu tahun, dan saat ini tersisa tiga bulan lagi."

​Telepon tertutup. Freya tertawa getir di sela tangis. Tersisa tiga bulan. Tepat setelah tanggal pernikahan yang mereka rencanakan, Dani berniat membuangnya begitu saja setelah masa sewa habis.

​"Kenapa kamu bisa sejahat ini?" isak Freya.

*

Malam harinya, Freya melangkah ke luar dari apartemen dengan perasaan yang masih berkecamuk.

Lagi-lagi pemandangan di lobi membakar matanya. Di sana, Nadia berdiri dengan anggun, sedang dijemput sebuah mobil BMW mewah keluaran terbaru.

​Freya memilih mengabaikan. Ia melewati Nadia begitu saja, mengacuhkan senyum manis pura-pura yang dilemparkan wanita itu.

Tanpa sepatah kata pun, ia masuk ke dalam mobilnya sendiri.

​Tujuannya malam ini hanya satu, menemui Diego. Sang Naga Emas yang mengundangnya makan malam di restoran Jepang paling eksklusif di Kota ini.

​Sesampainya di sana, suasana mewah langsung menyambutnya. Freya dilayani seperti Tuan Putri oleh empat orang pelayan wanita yang sudah bersiap di pintu masuk.

Ia diarahkan ke sebuah ruangan khusus untuk berganti pakaian. Mereka memakaikan Freya kimono sutra khas Jepang yang sangat indah, lalu mengantarnya menuju ruang VVIP.

​Freya hanya diam, sambil berkali-kali menelan ludah dengan susah payah.

Seumur hidupnya, bahkan selama bertahun-tahun bertunangan dengan Dani yang kaya raya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seistimewa ini.

​"Tuan Diego sudah menunggu di dalam. Silakan masuk, Nona Freya." Dua pelayan membungkuk dengan sangat hormat, lalu menggeser pintu kayu khas Jepang di depan mereka.

​Dengan jantung yang berdegup kencang, Freya melangkah masuk. Di tengah ruangan, Diego duduk dengan tenang.

Pria itu mengenakan kimono hitam pekat yang membuat auranya semakin misterius. Tangannya yang kokoh terlihat sedang memegang gelas koktail dan menyesap wine mahal.

​"Duduk!" titah Diego.

​"B-baik." Freya mengangguk kaku. Langkahnya terasa berat dan ragu saat berjalan mendekat, lalu duduk di hadapan Diego.

​Keringat dingin mulai merembes ke luar dari pori-pori kulit mulusnya. Berada di dekat Diego selalu membuatnya merasa seperti mangsa yang sedang diawasi oleh Singa Lapar.

​Diego meletakkan gelas koktailnya, lalu menatap Freya lekat. "Aku sudah menerima pesanmu."

Freya meremas jemari tangan di atas pangkuan sambil menelan ludah keras.

"Jika kamu bersedia menerima syarat itu, kamu tidak akan pernah bisa menarik kembali ucapanmu. Sekali kamu masuk ke duniaku, kamu adalah milikku," lanjut Diego.

​Tatapan dingin Diego mengunci netra Freya, menuntut kepastian di atas meja perjanjian yang akan mengubah hidup sang Dokter selamanya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Kesayangan sang Penguasa   6. Paman yang Mengerikan

    "Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat Diego.Pria matang itu menatap tajam, seolah Freya adalah mangsa yang akan mengenyangkan perutnya malam ini."Aku senang kamu menepati janjimu." Diego kemudian duduk sambil menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada Freya untuk duduk juga.Mata Freya tertambat pada makanan mewah yang tersaji di atas meja. Makanan yang bahkan tidak pernah dipesan Dani saat mereka masih menjalin kasih.Tanpa sadar, Freya tersenyum kecil. Rasa lapar mulai mencekik lambungnya, yang memang belum diisi sejak pagi tadi."Apa kamu suka dengan drama yang aku suguhkan tadi?" tanya Diego, memecah keheningan.​Freya termangu, matanya membulat menatap Diego yang hanya melempar senyum dingin.Otaknya berputar cepat men

  • Kesayangan sang Penguasa   5. Haruskah?

    Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu.​"Nona, kami datang untuk menjemput Anda," ucap salah satu dari mereka.​Mendengar itu, kedua mata Freya membulat sempurna. "Menjemput?" ulangnya, memastikan tidak salah dengar. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh kedua pria di depan.​"Silakan masuk ke dalam mobil, Nona Freya. Mari kami antar," lanjut pria itu sembari membukakan pintu belakang mobil.​Freya langsung menggeleng cepat, refleks mundur satu langkah. Tatapan matanya beralih pada mobil hitam miliknya yang terparkir tak jauh di samping mobil mewah itu.​"Aku bawa mobil sendiri. Aku bisa pulang sendiri," ucap Freya dengan suara yang sedikit bergetar.​Ia tahu betul kedua orang ini adalah orang suruhan Diego. Pria matang itu be

  • Kesayangan sang Penguasa   4. Awal Dari Kehancuran

    Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift.​"Nadia?" gumamnya tak percaya.​Mencurigai ada sesuatu yang tidak beres, Dani mempercepat langkah untuk mengejar wanita itu.Namun, gerakan kakinya terhenti secara kasar saat sekretaris pribadinya menghampiri dengan wajah tegang."Pak Dani, tolong tinjau lagi beberapa dokumen penting yang dibutuhkan hari ini. Ada beberapa dokumen revisi dari audit internal yang membutuhkan tanda tangan Anda segera.""Hmm, bawa ke mejaku!" sahut Dani datar.Sambil melangkah cepat menuju ruang kerja, Dani merogoh saku jasnya.Dengan tangan gemetar Dani mencari nama selingkuhannya di daftar kontak. Begitu sambungan terhubung, ia tak memberikan kesempatan bagi wanita itu untuk menyapa.​"Nad! Kamu di mana?" tanya Dani tanpa basa-basi. Tidak seperti biasanya, suaranya n

  • Kesayangan sang Penguasa   3. Menerima

    "Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"​Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?​Namun, Freya sadar siapa lawannya. Dani dan keluarganya memiliki jaringan koneksi yang sangat luas, yang mampu menghanguskan karier kedokterannya hanya dalam waktu semalam.Jika pernikahan itu tetap terlaksana dan berakhir dengan fitnah keji yang direncanakan Dani, masa depan Freya tamat. Belum lagi, ia harus merelakan kesuciannya direnggut oleh pengkhianat itu di malam pertama nanti.​"A-aku mau, Paman," ucap Freya dengan suara parau.​Jawaban itu disambut senyum dingin sang Naga Emas yang tampak puas. "Aku tahu kamu wanita baik-baik, tapi mulai sekarang, kamu harus belajar menjadi wanita nakal seperti yang aku inginkan."​Mata Freya membulat sempurna. Ia belum sempat mencerna maksud kata-kata itu ketika tiba-

  • Kesayangan sang Penguasa   2. Syarat

    [Aku menerima tawaran itu]​Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.​Tidak ada jalan lain. Jika ia ingin meruntuhkan pria yang telah mengkhianatinya, ia harus menerima tawaran Diego.Meski itu artinya ia harus menyerahkan kesucian yang selama ini dijaga pada Diego__pria yang jauh lebih berbahaya dari siapa pun.​Napas Freya terasa kian memburu setiap kali bayangan Nadia dan senyum palsu Dani melintas di benaknya.Kring!​Tiba-tiba, ponsel yang berada di atas dasbor mobil berdering nyaring. Satu panggilan dari Dani. Freya hanya melirik layar itu dengan tatapan dingin, lalu mengabaikannya.Tak lama kemudian, satu pesan masuk.​[Sayang, maaf soal janji makan malam nanti. Aku ada meeting mendadak dan kemungkinan harus lembur sampai tengah malam]​Freya menyunggingkan senyum

  • Kesayangan sang Penguasa   1. Meminta Bantuan

    "Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... "​"Aku akan membantumu, dengan satu syarat."​Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak pernah menyangka pasien yang datang ke kliniknya tadi pagi adalah selingkuhan Dani_calon suaminya.Wanita bernama Nadia itu bahkan sudah hamil dua bulan. Lalu, dengan bangganya dia memamerkan cincin tunangan yang sama persis seperti cincin pernikahan yang Freya desain sendiri.Lebih parahnya, Dani justru memberikan cincin berlian palsu dengan desain serupa padanya.Mungkin Dani lupa, sebelum orang tua Freya bangkrut karena penipuan, mereka adalah pemain besar di bisnis perhiasan.Freya tumbuh besar dengan melihat perbedaan antara berlian murni dan zircon murahan.Tidak ingin diam saja saat harga dirinya diinjak-injak, Freya nekat menemui Diego_paman kekasihnya sendiri untuk meminta bantuan.

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status