LOGIN[Aku menerima tawaran itu]
Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.
Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.
Tidak ada jalan lain. Jika ia ingin meruntuhkan pria yang telah mengkhianatinya, ia harus menerima tawaran Diego.
Meski itu artinya ia harus menyerahkan kesucian yang selama ini dijaga pada Diego__pria yang jauh lebih berbahaya dari siapa pun.
Napas Freya terasa kian memburu setiap kali bayangan Nadia dan senyum palsu Dani melintas di benaknya.
Kring!
Tiba-tiba, ponsel yang berada di atas dasbor mobil berdering nyaring. Satu panggilan dari Dani. Freya hanya melirik layar itu dengan tatapan dingin, lalu mengabaikannya.
Tak lama kemudian, satu pesan masuk.
[Sayang, maaf soal janji makan malam nanti. Aku ada meeting mendadak dan kemungkinan harus lembur sampai tengah malam]
Freya menyunggingkan senyum sinis. Lembur? Ia tahu betul ke mana kaki Dani akan melangkah. Bukan meja rapat yang akan didatangi pria itu, melainkan ranjang panas yang sudah disiapkan oleh wanita simpanannya.
Tanpa membalas, Freya menginjak pedal gas lebih dalam, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Tiba di lobi apartemen, jantung Freya nyaris berhenti berdetak saat melihat seorang wanita dengan postur tubuh yang sangat ia kenal, wanita itu sedang berdiri di depan pintu lift.
Freya melangkah pelan, berusaha menepis prasangka buruk dan meyakinkan diri bahwa itu bukan Nadia.
Namun, harapannya pupus saat wanita itu berbalik dan melempar senyum padanya.
"Hay ... Dokter Freya?" Nadia menghampiri dengan gaya anggun, lalu mengulurkan tangan.
Freya membeku di tempat. Sudut matanya melirik ke sekeliling ... apartemen ini hanya dihuni oleh kalangan kelas atas dan ekspatriat.
Bagaimana bisa wanita seperti Nadia berada di sini?
Melihat tangannya tak kunjung disambut, senyum Nadia sedikit memudar.
"Anda tinggal di sini juga, Dok?" tanya Nadia. "Kebetulan banget ya. Saya juga baru pindah hari ini. Calon suami saya membelikan satu unit di sini sebagai hadiah spesial karena saya sedang mengandung buah cintanya. Saya tinggal di lantai 22, nomor 2332."
Dunia seolah runtuh menimpa pundak Freya. Ia tercengang, mulutnya nyaris terbuka mendengar penjelasan detail yang sengaja dipamerkan Nadia.
Lantai 22, nomor 2332. Itu sangat dekat ... terlalu dekat dengan unit yang ia tempati.
"Kalau boleh tahu, Anda di lantai berapa, Dok?" tanya Nadia lagi, senyumnya kini kembali terukir tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Menarik napas panjang, Freya berusaha menekan gejolak amarah yang mendidih.
Rasanya ia ingin sekali menjambak rambut wanita di depannya ini, namun akal sehatnya melarang. Ia tidak akan merendahkan dirinya dengan perbuatan memalukan di depan publik, apalagi ia adalah seorang Dokter.
"Maaf, saya buru-buru," ucap Freya pendek, enggan meladeni keangkuhan Nadia lebih lama.
"Oh, silakan." Nadia memberi jalan dengan sopan yang dibuat-buat, lalu mengekor Freya masuk ke dalam lift.
Suasana di dalam kotak besi itu mendadak canggung dan mencekam. Hanya ada keheningan yang menyesakkan.
Sesekali Nadia melirik Freya yang berdiri kaku dengan wajah pucat pasi. Nadia tersenyum kecil, senyum hambar yang menyiratkan ejekan.
Ting!
Pintu lift terbuka. Freya melangkah cepat menuju unitnya, namun langkahnya terhenti saat menyadari Nadia juga berjalan ke arah yang sama. Unit mereka benar-benar bersebelahan.
"Ohh, ternyata kita tetanggaan ya, Dok," ucap Nadia dengan nada sok akrab yang memuakkan.
Freya hanya menarik sedikit sudut bibir tanpa suara, lalu segera masuk ke dalam apartemen mewahnya.
Begitu berada di dalam, pertahanan Freya hancur. Ia menjatuhkan tubuh ke atas lantai marmer yang dingin, memegang dada yang terasa sesak luar biasa.
Tangis Freya pecah dalam sunyi!
Dani benar-benar telah menghancurkan segalanya. Harapan, impian, dan cinta yang ia bangun selama dua tahun ini musnah tak bersisa.
Ia yang dulu selalu berkhayal menjadi pengantin tercantik yang dicintai sepenuh hati, kini harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya hanyalah pion dalam permainan Dani.
"Brengsek kamu Dani .... " isak Freya kian pilu.
Bagaimana mungkin Dani membelikan apartemen mewah untuk wanita itu tepat di samping tempat tinggalnya sendiri?
Di tengah isak tangisnya, Freya tiba-tiba teringat akan satu hal ... cincin berlian itu ... palsu.
Sebuah kecurigaan muncul. Jika cincin itu palsu, bagaimana dengan apartemen ini?
Dengan tangan bergetar, Freya segera menghubungi pihak pengelola gedung untuk menanyakan status kepemilikan unit yang katanya akan segera berganti nama menjadi miliknya.
Dan kenyataan pahit kembali menghantamnya tanpa ampun. Dani tidak pernah membeli unit itu.
"Mohon maaf, Ibu Freya. Status unit tersebut saat ini adalah sewa atas nama Bapak Dani. Beliau menyewanya untuk jangka waktu satu tahun, dan saat ini tersisa tiga bulan lagi."
Telepon tertutup. Freya tertawa getir di sela tangis. Tersisa tiga bulan. Tepat setelah tanggal pernikahan yang mereka rencanakan, Dani berniat membuangnya begitu saja setelah masa sewa habis.
"Kenapa kamu bisa sejahat ini?" isak Freya.
*
Malam harinya, Freya melangkah ke luar dari apartemen dengan perasaan yang masih berkecamuk.
Lagi-lagi pemandangan di lobi membakar matanya. Di sana, Nadia berdiri dengan anggun, sedang dijemput sebuah mobil BMW mewah keluaran terbaru.
Freya memilih mengabaikan. Ia melewati Nadia begitu saja, mengacuhkan senyum manis pura-pura yang dilemparkan wanita itu.
Tanpa sepatah kata pun, ia masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Tujuannya malam ini hanya satu, menemui Diego. Sang Naga Emas yang mengundangnya makan malam di restoran Jepang paling eksklusif di Kota ini.
Sesampainya di sana, suasana mewah langsung menyambutnya. Freya dilayani seperti Tuan Putri oleh empat orang pelayan wanita yang sudah bersiap di pintu masuk.
Ia diarahkan ke sebuah ruangan khusus untuk berganti pakaian. Mereka memakaikan Freya kimono sutra khas Jepang yang sangat indah, lalu mengantarnya menuju ruang VVIP.
Freya hanya diam, sambil berkali-kali menelan ludah dengan susah payah.
Seumur hidupnya, bahkan selama bertahun-tahun bertunangan dengan Dani yang kaya raya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seistimewa ini.
"Tuan Diego sudah menunggu di dalam. Silakan masuk, Nona Freya." Dua pelayan membungkuk dengan sangat hormat, lalu menggeser pintu kayu khas Jepang di depan mereka.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Freya melangkah masuk. Di tengah ruangan, Diego duduk dengan tenang.
Pria itu mengenakan kimono hitam pekat yang membuat auranya semakin misterius. Tangannya yang kokoh terlihat sedang memegang gelas koktail dan menyesap wine mahal.
"Duduk!" titah Diego.
"B-baik." Freya mengangguk kaku. Langkahnya terasa berat dan ragu saat berjalan mendekat, lalu duduk di hadapan Diego.
Keringat dingin mulai merembes ke luar dari pori-pori kulit mulusnya. Berada di dekat Diego selalu membuatnya merasa seperti mangsa yang sedang diawasi oleh Singa Lapar.
Diego meletakkan gelas koktailnya, lalu menatap Freya lekat. "Aku sudah menerima pesanmu."
Freya meremas jemari tangan di atas pangkuan sambil menelan ludah keras.
"Jika kamu bersedia menerima syarat itu, kamu tidak akan pernah bisa menarik kembali ucapanmu. Sekali kamu masuk ke duniaku, kamu adalah milikku," lanjut Diego.
Tatapan dingin Diego mengunci netra Freya, menuntut kepastian di atas meja perjanjian yang akan mengubah hidup sang Dokter selamanya.
"Apa yang kalian lakukan di dalam ruangan itu?" Suara Bibi Ziang melengking, memecah keheningan koridor. Ia melangkah maju mendekati pelayan bertubuh subur yang sudah siap dengan senjatanya.Mata Bibi Ziang melotot tajam, wajah tuanya memerah menahan amarah yang membuncah.Entah mengapa, sejak insiden penangkapan Bernard kemarin, instingnya yang tajam menangkap ada kejanggalan besar dari tingkah laku kedua orang di hadapannya ini.Terlebih lagi Ray. Pengawal itu makin sering mengawasi pergerakan di dalam mansion, bahkan sudah beberapa kali tertangkap basah mengintai di sekitar kamar utama.Awalnya, Bibi Ziang hanya mengira kalau Ray sedang menjalankan perintah Diego untuk memperketat keamanan. Namun sekarang, asumsi itu musnah, berganti menjadi kecurigaan."Jawab pertanyaan saya!" tegas Bibi Ziang, kini berdiri tegak persis di depan pelayan berbadan subur itu.Bukannya takut, pelayan itu hanya membisu sambil menyunggingkan senyum miring yang mengerikan."Kenapa kamu diam sa ...."
Pagi harinya, tak ada yang berbeda, Freya masih bersemangat menyiapkan sarapan untuk sang suami. Sementara Diego tengah menjaga bayinya yang baru saja dimandikan dan selesai dijemur Bibi Ziang.Saat tengah fokus memasak, tiba-tiba saja pikiran Freya tertuju pada Bernad yang ditahan di ruang bawah tanah."Apa yang membuat pria itu nekad melakukan pengkhianatan? Atau sebenarnya Paman hanya salah paham? Tidak mungkin Pak Bernad melakukan itu tanpa alasan, dan apa mungkin anaknya belum ditemukan? Lalu dimana anaknya sekarang?"Freya bermonolog sendiri. Sebagai seorang Ibu dan orang tua baru, ia merasa tidak tega setiap kali mengingat anak Pak Bernad diculik. Ia tahu bagaimana perasaan orang tuanya sekarang, pasti hancur.Menelan ludah, Freya mengedarkan pandangan ke seluruh ruang dapur. Pagi ini Zhue dan pelayan lain sedang membersihkan kamar Dante, sementara Bibi Ziang ada di kamar utama bersama Diego dan bayinya.Dalam keheningan di dapur, tiba-tiba saja pikiran liar melintas di benak
"Zhue, apa yang terjadi? Aku harus tahu, karena aku juga bagian dari Paman Diego. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada suami dan keluargaku. Tolong katakan, Zhue!" desak Freya dengan suara gemetar menahan cemas.Tidak mungkin kan gadis di depannya terlihat tegang kalau tidak ada yang terjadi? Insting tajam Freya tidak pernah sekalipun meleset.Zhue menggigit bibirnya. Tatapan tajam Freya yang menuntut penjelasan membuat pertahanannya runtuh seketika."Katakan!" Freya meninggikan suaranya."Kak, kamu harus berjanji jangan katakan pada siapapun kalau Kakak tahu ini dariku," bisik Zhue sambil memegang erat kedua tangan Freya, menatap cemas.Freya mengerutkan kening, mengangguk cepat. "Iya, aku janji! Sekarang katakan ada apa, Zhue!"Zhue menarik napas panjang, merendahkan suaranya makin dalam. "Tadi aku melihat Pak Bernard diseret anak buah Tuan Diego menuju ruang bawah tanah. Dia ditahan dan disekap di sana."Mata indah Freya membelalak sempurna, mulutnya ternganga. "Pak
"Apa yang sebenarnya terjadi, Tuan?" tanya Bibi Ziang lembut sambil mendorong pelan pintu ruang kerja Diego.Wanita paruh baya itu melangkah masuk, membawa baki berisi segelas cokelat hangat yang asapnya masih mengepul.Melihat kedatangan wanita tua itu lengkap dengan hidangan di tangannya, Diego menghentikan gerakan jemarinya yang tengah mengetuk meja.Pria itu mengusap pelipis perlahan lalu berdecak pelan, berusaha menyembunyikan kehangatan yang mendadak menyusup ke dadanya."Berhenti memperlakukan aku seperti anak kecil, Bibi," gumam Diego dengan keluhan manja. "Aku bahkan sudah menjadi kepala keluarga, memiliki Istri dan seorang putra."Bibi Ziang tertawa kecil. Dengan telaten, ia meletakkan segelas cokelat hangat itu ke atas meja, disusul sepiring cemilan manis favorit Diego sejak kecil."Sejauh apa pun waktu berjalan dan mengubah Tuan Muda menjadi sosok yang ditakuti banyak orang, Tuan tetaplah anak kecil di mata Bibi. Begitu juga di mata mendiang Ibu Tuan jika beliau masih
"Bawa dia ke ruang bawah tanah!""Baik Tuan!"Deg!Kedua mata Bernard membulat sempurna saat mendengar perintah dingin dan mematikan yang keluar dari mulut Diego Foster. Dan tatapan tajam sang Naga membuat tubuh Bernad bergetar hebat.Setelah mendengar perintah, dua pengawal berbadan tegap yang sejak tadi berdiri di sekitar sofa langsung maju dan mencengkeram kedua lengan Bernard dengan cengkeraman kuat."P-Pak Diego! A-apa yang Anda lakukan?" teriak Bernard panik. "K-kenapa ini?"Wajahnya seketika pucat pasi bagai mayat, jantungnya berdegup kencang dengan napas yang tertahan mendadak di tenggorokan.Tanpa mengucap sepatah kata pun, Diego bangkit berdiri dari sofa. Pria itu memutar tubuh santai, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang tamu tanpa melirik sedikit pun."Pak Diego!" jerit Bernard histeris saat tubuhnya ditarik paksa menyeret lantai. "Pak Diego, kenapa saya diperlakukan seperti ini? Saya tidak bersalah, Pak! Saya memberikan laporan yang benar tentang keuangan perusaha
"Tuan, Pak Bernard ada di luar gerbang mansion. Dia mengatakan ingin menemui Anda," lapor Yenzing yang baru saja mendapat informasi melalui radio panggil dari Yoss.Diego mengangkat satu tangannya, melihat jam yang melingkar. Sudah pukul sebelas malam, ada urusan segenting apa hingga membuat Bernad datang semalam ini?"Bernad?" Diego mengangkat satu alis tebalnya."Benar Tuan," jawab Yenzing. "Bagaimana Tuan?" tanyanya menunggu intruksi dari Diego."Suruh dia masuk," titah Diego tanpa mengalihkan pandangan."Baik, Tuan." Yenzing memutar tubuh dan melangkah cepat ke luar dari ruang kerja Diego.Setibanya di halaman depan, Yenzing memerintah Ray untuk membukakan pintu gerbang utama dan mengizinkan mobil Bernard masuk.Ray melaksanakan perintah itu. Namun, setelah mobil sedan hitam Bernard melaju perlahan memasuki halaman mansion, Ray sengaja memalingkan wajah, berusaha menghindari kontak mata dengan Bernard.Hingga saat ini, Ray belum menemukan celah sedikit pun untuk membawa bayi D
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me







