공유

Sky - Langit

작가: Eng_
last update 최신 업데이트: 2025-10-05 10:19:56

Minggu pagi ini rumah keluarga Prayoga terdengar lebih hangat dari biasanya. Suara joystick beradu cepat dengan tawa anak-anak memenuhi ruang tengah padahal belum genap setengah sembilan. biasanya , di hari libur seperti ini, rumah ini masih tenang sampai lewat pukul sebelas.

Sky dan Elio duduk lesehan di karpet depan TV, bahu saling senggol, mata terpaku pada layar.

“Anjir… Awas aja ya, Lo,” Elio bersungut-sungut.

Sky tertawa, jari-jarinya lincah menekan tombol, “Coba aja,” ejeknya.

Di ujung sofa, Noah ikut tertawa hingga bahunya terguncang. Controller ketiga tergeletak di pangkuan tapi dia memilih tidak bermain. Lebih senang menonton dan memberi komentar, atau kadang juga menjadi provokator yang membuat suasana makin panas.

Pintu kamar samping berderit. Langit keluar dengan rambut masih acak. Wajahnya masih basah setelah cuci muka. Ia menutup pintu pintu sambil meloloskan kaos putih dari atas kepala, kuapannya lebar.

“Pagi, semua…” suaranya serak.

Elio cekikikan. “Akhirnya pange
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Fakta Baru (?)

    Aroma kopi yang khas menguar di ruang makan rumah Bima. Wangi pahit itu bercampur dengan udara pagi yang sejuk dari halaman belakang. Hangat. Menenangkan. Matahari yang menyelinap lewat jendela kaca membuat suasana pagi terasa ringan, seolah hari ini akan berjalan tanpa beban.Sadewa berdiri di depan mesin penyeduh kopi. Cairan hitam pekat menetes pelan ke dalam cangkir. Ia bersenandung riang, tubuhnya ikut bergoyang mengikuti irama musik dari speaker kecil di sudut ruangan. Kemeja cokelatnya digulung sampai lengan, memperlihatkan pergelangan tangan yang sesekali bergerak mengikuti ketukan.Langit terkekeh pelan dari kursinya. Tangannya tersilang di dada. Lengan sweater cokelat yang ia tarik sedikit ke atas memperlihatkan jam tangan bermerek di pergelangan tangannya—kontras dengan penampilannya yang santai. Di hadapannya, cangkir kopi masih mengepulkan asap.“Morning.”Suara Irene muncul dari arah ruang tengah. Ia melangkah masuk sambil meletakkan

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Sidang Komite

    Malam yang panjang dan dingin akhirnya berganti pagi. Matahari bersinar cerah, tapi rumah Reya masih sama suramnya. Sky belum membuka suara. Ia juga tak keluar saat Wendy memintanya sarapan. Pintu kamar Sky baru terbuka ketika Reya mengajaknya berangkat. Sama seperti kemarin, anak itu masih menghindari tatapan Reya.Mereka berangkat cukup pagi. Wendy yang menyetir dan Reya duduk di samping. Sky di kursi belakang, headphone terpasang, mata terpejam‒ seolah sengaja menghindari percakapan apapun. Reya dan Wendy hanya bisa saling pandang, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Saat mobil Reya melewati gerbang sekolah, beberapa mobil lain sudah berjajar rapi di area parkir tamu. Sepertinya Reya dan Sky bukan yang pertama tiba. “Elo berangkat ke kantor aja, Wen. Nanti kalau rapatnya selesai gue kabarin,” ucap Reya sambil melepas seatbelt. “Nggak papa. Gue tunggu,” jawab Wendy cepat. “Gue juga udah izin nggak masuk kantor hari ini. Percuma gue ke kantor, pikiran gue pasti kesini terus.”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Bungkam

    Sore itu Reya masih di kantornya, terpaku pada layar laptop, memeriksa beberapa dokumen yang harus segera ia selesaikan.Ponselnya berdering. Reya mengernyit saat melihat nama yang berkedip di layar, Mr. Alex– konselor di sekolah Sky itu. Ini sudah lewat jam pulang sekolah. Ada apa?“Ya, selamat siang, Sir,” sapa Reya begitu ponsel menempel di telinganya. Di seberang, suara Mr. Alex terdengar hati-hati. “Ada hal penting yang harus saya sampaikan tentang Sky.”Deg. Perasaan Reya langsung tidak enak.“Ada apa, Sir?” tanyanya, pelan tapi tegang.“Sky memukuli temannya hingga pingsan, dan sekarang temannya sedang dibawa ke rumah sakit.”Reya bangkit dari kursinya seketika. Jantungnya bertalu. “Apa‒ tunggu! Sky … apa?” suara Reya gemetar.“Saya rasa anda harus segera ke sini.”Meski Mr. Alex jelas tidak akan melihatnya, Reya mengangguk cepat, panik. “Baik. Saya akan ke sana sekarang.”Telepon ditutup.Reya menyambar tas dan kunci mobilnya lalu meninggalkan ruangan dengan tergesa. Ia ba

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Batas Kesabaran

    Sky sudah cukup tenang.Bisik-bisik itu masih beredar. Tatapan aneh pun masih mengikutinya sepanjang pagi. Bahkan di kelas, dia berkali-kali memergoki teman-temannya menoleh ke arahnya. Tapi Sky belajar mengabaikannya. Tidak apa-apa. Dia bisa menahannya. Selama Elio, Lyra, Noah, dan Bian tetap berdiri di sisinya, semua itu bukan masalah besar.Pergantian jam terakhir berbunyi. Kelas Sky harus menuju laboratorium kimia. Elio dan Bian sudah lebih dulu keluar, disusul anak-anak lain. Sky masih di dalam kelas, merapikan buku-bukunya dengan gerakan pelan.Saat ia melangkah keluar, lorong sudah hampir kosong. Dan di sanalah Xander berdiri. Bersandar di dinding, tangan terlipat di dada, dengan senyum miring yang sejak pagi jelas mencarinya. Sepertinya melihat Sky tetap tenang setelah provokasi tadi pagi membuat Xander tidak puas.“Ternyata selain nggak punya bapak,” Xander membuka suara, nyaring di lorong sepi itu, “elo juga nggak punya malu ya.”Sky tidak berhenti. Dia terus berjalan.“Eh?”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Pesan Misterius

    Reya menurunkan kaca mobil begitu Sky membuka pintu.“Good luck, Sayang. See you after school.”Sky mendekat, mencium pipi ibunya singkat. “See you, Mom.”Ia berbalik, melangkah ke arah gerbang. Pagi itu cerah, tapi langit tidak menjamin perasaan manusia di bawahnya ikut cerah, kan?Begitu Sky melewati gerbang, ia menangkap sekilas tatapan beberapa siswa. Bukan tatapan biasa. Cara mereka melihat Sky terasa aneh.Mereka menunduk cepat setelah Sky menoleh. Tapi jelas tadi mereka saling bisik di belakang tangan, menunjuk samar ke arah Sky.Apa gue cuma overthinking? Mungkin. Sky menarik napas, memilih tidak ambil pusing. Namun semakin jauh Sky masuk ke halaman, semakin banyak tatapan itu berdatangan. Sama bentuknya, sama nadanya: berbisik, melirik, dan menahan tawa kecil.Langkah Sky mulai terasa berat.Saat ini tiba di depan kelasnya, Xander sudah disana, berdiri bersandar pada dinding. Tangannya terlipat di dada, wajahnya memancarkan senyum yang menyebalkan. Senyum yang membuat Sky me

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Gadis Plaster dan Air Mineral Waktu Itu

    Setengah sepuluh pagi. Matahari Jakarta menanjak cerah, menembus sela dahan peneduh di sudut taman Maplewood International High School. Daun-daun rimbun membentuk bayangan teduh, cukup untuk Lyra dan Sky berlindung. Kedua duduk bersila beralas rumput hijau. Jauh dari keramaian. Jauh dari kemungkinan Elio melihat dan mengolok-olok Lyra yang sedang pucat karena gugup.Lyra menggenggam ponselnya. Sudah tiga kali Lyra berkali-kali menggulir layar, tapi tetap tidak berani menekan link berwarna biru itu. Hasil Ujian Tengah Semester. Jari-jarinya seperti membeku.“Gue yakin hasilnya bagus, Ra. Chill.” Sky menepuk-nepuk pundak Lyra pelan. Tapi itu jelas tidak terlalu membantu. Lyra justru menatapnya sebal. Alis gadis itu bertaut lucu dengan pipi menggembung. Jujur Sky ingin tertawa, tapi dia tidak tega. Lyra benar-benar terlihat panik.Lyra kembali menatap layar. “Tapi jawaban gue banyak yang ngasal, Sky. Banyak banget. Gimana kalau …”Ia berhenti sendiri lalu menggeleng cepat seperti mengu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status