로그인Enam belas tahun lalu, Mireya pergi meninggalkan Langit dengan membawa bayi dalam kandungannya. Bagi dunia, ia hanyalah gadis panti asuhan yang merebut dan menghancurkan masa depan pewaris Andaru Group. Kini, Reya kembali sebagai wanita sukses. Tanpa ia sadari, putranya justru bergabung di dojo milik Langit—ayah yang selama ini hanya ia kenal dari cerita sang ibu. Rahasia yang dijaga selama bertahun-tahun akhirnya pecah. Mampukah Reya dan Langit menemukan kesempatan kedua? Atau justru harus kembali memilih luka masing-masing?
더 보기Setelah makan siang yang berakhir canggung tadi, mereka akhirnya pulang. Di perjalanan, Reya tetap menyetir. Dia tidak banyak bicara, hanya fokus pada jalanan dan kemudi yang ia genggam erat. Dan diamnya Reya ini pada akhirnya membawa suasana canggung sekaligus menegangkan. Wendy yang duduk di kursi samping pengemudi jelas paling tertekan. Berkali-kali ia menoleh ke Sky yang duduk di belakang. Keduanya saling memberi kode tanpa suara, jelas sedang membicarakan Reya, tapi Reya memilih diam pura-pura tidak peduli.Begitu mobil berhenti di garasi rumah, Reya langsung turun tanpa mengatakan apa-apa. Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan bergegas menuju kamarnya. Di belakangnya, Reya bisa dengar Wendy dan Sky berkasak-kusuk. Kepanikan jelas terasa dalam bisik-bisik itu, tapi Riya tetap memilih tidak mau tahu, kepalanya sudah terlalu penuh.Sampai tepat ketika Reya sudah berdiri di depan pintu kamar, Sky menahan tangannya.“Ibu…” Reya berhenti.“Boleh ngomong bentar nggak?”Reya men
Sudah lewat pukul dua siang waktu akhirnya Sky dan teman-temannya menyerah. Lyra mulai merengek lapar. Elio juga sudah mengeluh dari tadi. Energi mereka yang tadi seolah tidak ada habisnya, kini benar-benar sudah terkuras. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan di area foodcourt yang ada di Dufan. Pilihan makanan beragam, dari jajanan cepat sampai restoran keluarga. Setelah diskusi singkat, rombongan itu sepakat untuk masuk ke Yoshinoya.Begitu masuk, sudah ada beberapa orang yang berbaris mengantri.Langit menoleh ke anak-anak. “Mau makan apa?” tanyanya.“Mau pilih sendiri, atau O aja yang pesenin, kalian duduk?”Elio langsung angkat tangan tangan. “Ikut Om Langit aja. Yang penting enak, cepet, dan bikin kenyang.”Yang lain mengangguk setuju.Langit lalu menoleh ke Reya dan Wendy. “Kalian gimana, Wen, Re? Mau pilih sendiri?”“Gue samain kayak anak-anak aja,” jawab Wendy santai.“Aku juga,” tambah Reya pelan.Langit tersenyum. “Oke. Gue aja yang antri. Kalian duduk dulu.”“Nggak a
Bagi Reya, kenyataan hampir selalu pahit.Lebih pahit dari racun mematikan.Setidaknya racun tidak akan membiarkannya sadar lagi, tapi kenyataan justru sebaliknya– memaksanya terjaga dengan rasa sakit.Kora-kora yang Reya naiki perlahan berhenti. Ayunannya melambat. Suara mesin mulai senyap hingga akhirnya tak terdengar lagi. Sesi mereka selesai.Reya masih diam sesaat. Matanya masih terpejam dan wajahnya masih tersembunyi di balik lengan Langit. Ia juga masih bisa merasakan tangannya digenggam erat.Detik ini, Reya berharap ia sedang dalam alam mimpi. Hanya bunga tidurnya. Maka saat dia membuka mata, semua akan lenyap begitu saja. Riuh taman bermain akan berganti dengan kamarnya yang kosong dan sunyi. Dengan begitu akan mudah bagi Reya untuk kembali menjalani kenyataan.Sayangnya … semua ini nyata. Tangannya yang digenggam dengan hangat, aroma parfum maskulin yang menyelimuti indra penciumannya, dan jantungnya yang berdebar tidak normal, semuanya nyata. Manis, tapi akan mencekik Re
“Roller coaster dulu gimana?”Sky menoleh kebelakang dan melempar pertanyaan itu dengan wajah sumringah yang seolah tidak akan surut.Mereka kini berdiri depan wahana dengan papan bertuliskan ‘Halilintar’ terpampang jelas di atas gerbangnya. Tulisannya merah menyala dengan jenis huruf tajam dan tambahan bentuk kilat yang membuatnya semakin dramatis.Reya melirik ke arah wahana yang sedang berjalan. Sama seperti roller coaster pada umumnya, beberapa kereta kecil-kecil berjejer panjang ke belakang di atas rel besi, meliuk tinggi lalu meluncur tajam. Gerakannya secepat kilat, benar-benar sesuai dengan nama wahananya. Teriakan penumpang memecah udara di ketinggian dan semakin keras saat kereta menukik tajam. Reya bergidik. “Count me out,” jawab Reya cepat. “Kalian aja.”Dia mundur satu langkah dan bergeser cepat ke balik pagar pembatas.“Come on, Mom,” Sky memohon, tapi Reya menggeleng kuat.Wendy tak ketinggalan, ia menyambar pergelangan tangan Reya cepat, tidak memberi kesempatan Rey
Sepanjang perjalanan, Reya tidak banyak bicara. Pandangannya lebih sering terlempar ke luar jendela, mengikuti lalu lalang kendaraan lain yang melintas cepat.Ibrar beberapa kali mencoba membuka obrolan, tentang pekerja
Lampu tanda record di ruang vocal akhirnya mati.Bian melepas headphone dari kepalanya, menggantungnya rapi lalu membuka pintu kada. Wendy sudah berdiri di luar, menyambutnya dengan senyum.
Langit dan Sky memilih sebuah restoran mie Yamin tak jauh dari Skywave. Tempatnya sederhana, khas Bandung, dengan jendela kaca lebar menghadap jalan utama yang mulai padat oleh arus pulang kantor.Lampu-lampu kend
Wendy tiba di kantor lebih pagi dari biasanya. Bahkan resepsionis yang biasanya menyambut di lobby bawah saja belum datang. Jika bukan karena Langit, Wendy tidak mungkin serajin ini.Ngomong-ngomong tentang Langit






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰