Chapter: Dufan - 3“Roller coaster dulu gimana?”Sky menoleh kebelakang dan melempar pertanyaan itu dengan wajah sumringah yang seolah tidak akan surut.Mereka kini berdiri depan wahana dengan papan bertuliskan ‘Halilintar’ terpampang jelas di atas gerbangnya. Tulisannya merah menyala dengan jenis huruf tajam dan tambahan bentuk kilat yang membuatnya semakin dramatis.Reya melirik ke arah wahana yang sedang berjalan. Sama seperti roller coaster pada umumnya, beberapa kereta kecil-kecil berjejer panjang ke belakang di atas rel besi, meliuk tinggi lalu meluncur tajam. Gerakannya secepat kilat, benar-benar sesuai dengan nama wahananya. Teriakan penumpang memecah udara di ketinggian dan semakin keras saat kereta menukik tajam. Reya bergidik. “Count me out,” jawab Reya cepat. “Kalian aja.”Dia mundur satu langkah dan bergeser cepat ke balik pagar pembatas.“Come on, Mom,” Sky memohon, tapi Reya menggeleng kuat.Wendy tak ketinggalan, ia menyambar pergelangan tangan Reya cepat, tidak memberi kesempatan Rey
Last Updated: 2026-04-23
Chapter: Dufan - 2Sky berjalan cepat. Terlalu cepat bagi Reya yang sebenarnya tidak ingin, tapi terpaksa ikut melangkah karena tangannya sudah diapit kuat oleh putranya. Mau tidak mau ia ikut terseret.Di depan loket, Langit sudah menunggu.“Coach!”Sky mengangkat tangan, dan Langit menyambutnya dengan tos tinggi yang di balas penuh semangat. Senyum pria itu lebar, matanya bersinar – tapi bukan ke arah Reya.Atau setidaknya, belum.Langit terlihat seolah memang datang untuk menyambut Sky. Bukan Reya.Setelah tos itu pun, Langit tidak langsung menoleh ke arahnya. Pria itu justru lebih dulu menyapa Wendy.“Hai, Wen.” Ia mengangkat tangan santai. “Semoga elo nggak bosen ya, hari minggu masih harus ketemu bos,” kekehnya.“Kalau bos nya elo, gue aman aja sih, Bang.”Langit tertawa kecil. “Emang bos yang mana yang gak aman?”Wendy mencebik.Barulah setelah itu, Langit menoleh ke Reya. Tidak ada sapaan. Tidak ada kalimat. Hanya sebuah anggukan kecil dan senyum tipis. Sederhana.Tapi justru karenanya Reya jadi
Last Updated: 2026-04-13
Chapter: Dufan - 1Minggu pagi. Reya bangun dengan keengganan kuat. Rasanya dia hanya ingin tenggelam lebih lama di tempat tidur. Lelah. Bukan cuma fisik, tapi juga pikirannya penuh. Tapi tiba-tiba pintu kamarnya terbuka tanpa permisi.“Ibu ada acara nggak?”Sky berdiri di ambang pintu, menatap Reya dengan wajah cerah. Matanya berbinar – terlalu bersinar untuk minggu pagi. “Kenapa?” tanya Reya curiga.Tidak biasanya Sky bangun pagi di hari minggu, apalagi setelah bermain game sampai larut – Reya masih mendengar Sky asyik main game sampai hampir pukul tiga. “Ke dufan yuk!”Alis Reya terangkat. “Dufan?”Sky mengangguk cepat.“Sekarang?” Sky mengangguk lagi. “Iya. Ayo ke dufan hari ini.”Reya menegakkan tubuhnya, duduk di tepi ranjang dan menatap Sky lebih lama. Senyum Sky masih lebar dan penuh antusias.“Ayolah, Bu. Please! Kita kan belum pernah jalan-jalan dari kita pindah ke sini.”Aneh. Sky sudah terlalu besar untuk tiba-tiba merengek minta pergi ke taman hiburan, apalagi hanya berdua dengannya. Bi
Last Updated: 2026-04-10
Chapter: KonsistensiPukul 09.30 pagi.Langit baru saja tiba di ruangannya. Jasnya baru dilepas, kancing manset belum sepenuhnya terbuka. Ia masih berdiri sambil menggulung lengan kemeja ketika pintu didorong tanpa ketukan.Saga muncul dengan langkah cepat. Wajahnya tegang.“Ada apa, Bang?”“Telepon Wendy. Tanyain dia lagi dimana!”Kening Langit berkerut. “Dia belum dateng?”Saga tidak menjawab pertanyaan itu. “Telepon aja.”Langit menyandarkan pinggulnya ke tepi meja. “Kenapa nggak lo sendiri yang telepon, Bang? Kayak nggak punya nomornya aja.”
Last Updated: 2026-02-19
Chapter: Melewati BatasLampu tanda record di ruang vocal akhirnya mati.Bian melepas headphone dari kepalanya, menggantungnya rapi lalu membuka pintu kada. Wendy sudah berdiri di luar, menyambutnya dengan senyum.“Capek nggak?”Bian menggeleng, senyumnya sopan seperti biasa. “Nggak, Kak.”Wendy mengangguk puas. Di luar dugaan, Bian bukan cuma punya suara bagus. Dia juga cepat menangkap instruksi Saga— bahkan yang terdengar absurd sekalipun. Kemampuannya tetap fokus di bawah tatapan intimidatif Saga sungguh pantas mendapat acungan jempol.“Untuk hari ini cukup sampai di sini dulu. Jadwal berikutnya nanti gue kabarin.”“Iya, Kak. Om, saya pamit.”
Last Updated: 2026-02-18
Chapter: Kiriman Makan SiangSudah jam makan siang. Reya baru selesai rapat bersama stafnya.Ia duduk di kursi nya. Menyandarkan punggung. Pandangannya jatuh ke luar jendela. Mengamati awan-awan kecil yang bergerak pelan.Sudah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Langit di supermarket. Dan Langit sepertinya memang tidak main-main dengan kata-katanya.Tentu saja.Reya kenal Langit.Jika sudah bertekad, tidak akan ada yang bisa membuatnya mundur.Langit mengirim pesan WA setiap hari. Menanyakan hal sepele— sedang apa, sudah makan atau belum, bahkan tak jarang mengirim pesan random, menceritakan bagaimana harinya berjalan. Tak peduli Reya membalas atau tidak, pesan itu tetap dat
Last Updated: 2026-02-17