Chapter: Keep our promiseSetelah makan siang yang berakhir canggung tadi, mereka akhirnya pulang. Di perjalanan, Reya tetap menyetir. Dia tidak banyak bicara, hanya fokus pada jalanan dan kemudi yang ia genggam erat. Dan diamnya Reya ini pada akhirnya membawa suasana canggung sekaligus menegangkan. Wendy yang duduk di kursi samping pengemudi jelas paling tertekan. Berkali-kali ia menoleh ke Sky yang duduk di belakang. Keduanya saling memberi kode tanpa suara, jelas sedang membicarakan Reya, tapi Reya memilih diam pura-pura tidak peduli.Begitu mobil berhenti di garasi rumah, Reya langsung turun tanpa mengatakan apa-apa. Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan bergegas menuju kamarnya. Di belakangnya, Reya bisa dengar Wendy dan Sky berkasak-kusuk. Kepanikan jelas terasa dalam bisik-bisik itu, tapi Riya tetap memilih tidak mau tahu, kepalanya sudah terlalu penuh.Sampai tepat ketika Reya sudah berdiri di depan pintu kamar, Sky menahan tangannya.“Ibu…” Reya berhenti.“Boleh ngomong bentar nggak?”Reya men
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-13
Chapter: Makan Siang dan Sedikit NostalgiaSudah lewat pukul dua siang waktu akhirnya Sky dan teman-temannya menyerah. Lyra mulai merengek lapar. Elio juga sudah mengeluh dari tadi. Energi mereka yang tadi seolah tidak ada habisnya, kini benar-benar sudah terkuras. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan di area foodcourt yang ada di Dufan. Pilihan makanan beragam, dari jajanan cepat sampai restoran keluarga. Setelah diskusi singkat, rombongan itu sepakat untuk masuk ke Yoshinoya.Begitu masuk, sudah ada beberapa orang yang berbaris mengantri.Langit menoleh ke anak-anak. “Mau makan apa?” tanyanya.“Mau pilih sendiri, atau O aja yang pesenin, kalian duduk?”Elio langsung angkat tangan tangan. “Ikut Om Langit aja. Yang penting enak, cepet, dan bikin kenyang.”Yang lain mengangguk setuju.Langit lalu menoleh ke Reya dan Wendy. “Kalian gimana, Wen, Re? Mau pilih sendiri?”“Gue samain kayak anak-anak aja,” jawab Wendy santai.“Aku juga,” tambah Reya pelan.Langit tersenyum. “Oke. Gue aja yang antri. Kalian duduk dulu.”“Nggak a
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-11
Chapter: Dufan - 4Bagi Reya, kenyataan hampir selalu pahit.Lebih pahit dari racun mematikan.Setidaknya racun tidak akan membiarkannya sadar lagi, tapi kenyataan justru sebaliknya– memaksanya terjaga dengan rasa sakit.Kora-kora yang Reya naiki perlahan berhenti. Ayunannya melambat. Suara mesin mulai senyap hingga akhirnya tak terdengar lagi. Sesi mereka selesai.Reya masih diam sesaat. Matanya masih terpejam dan wajahnya masih tersembunyi di balik lengan Langit. Ia juga masih bisa merasakan tangannya digenggam erat.Detik ini, Reya berharap ia sedang dalam alam mimpi. Hanya bunga tidurnya. Maka saat dia membuka mata, semua akan lenyap begitu saja. Riuh taman bermain akan berganti dengan kamarnya yang kosong dan sunyi. Dengan begitu akan mudah bagi Reya untuk kembali menjalani kenyataan.Sayangnya … semua ini nyata. Tangannya yang digenggam dengan hangat, aroma parfum maskulin yang menyelimuti indra penciumannya, dan jantungnya yang berdebar tidak normal, semuanya nyata. Manis, tapi akan mencekik Re
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-05-06
Chapter: Dufan - 3“Roller coaster dulu gimana?”Sky menoleh kebelakang dan melempar pertanyaan itu dengan wajah sumringah yang seolah tidak akan surut.Mereka kini berdiri depan wahana dengan papan bertuliskan ‘Halilintar’ terpampang jelas di atas gerbangnya. Tulisannya merah menyala dengan jenis huruf tajam dan tambahan bentuk kilat yang membuatnya semakin dramatis.Reya melirik ke arah wahana yang sedang berjalan. Sama seperti roller coaster pada umumnya, beberapa kereta kecil-kecil berjejer panjang ke belakang di atas rel besi, meliuk tinggi lalu meluncur tajam. Gerakannya secepat kilat, benar-benar sesuai dengan nama wahananya. Teriakan penumpang memecah udara di ketinggian dan semakin keras saat kereta menukik tajam. Reya bergidik. “Count me out,” jawab Reya cepat. “Kalian aja.”Dia mundur satu langkah dan bergeser cepat ke balik pagar pembatas.“Come on, Mom,” Sky memohon, tapi Reya menggeleng kuat.Wendy tak ketinggalan, ia menyambar pergelangan tangan Reya cepat, tidak memberi kesempatan Rey
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-23
Chapter: Dufan - 2Sky berjalan cepat. Terlalu cepat bagi Reya yang sebenarnya tidak ingin, tapi terpaksa ikut melangkah karena tangannya sudah diapit kuat oleh putranya. Mau tidak mau ia ikut terseret.Di depan loket, Langit sudah menunggu.“Coach!”Sky mengangkat tangan, dan Langit menyambutnya dengan tos tinggi yang di balas penuh semangat. Senyum pria itu lebar, matanya bersinar – tapi bukan ke arah Reya.Atau setidaknya, belum.Langit terlihat seolah memang datang untuk menyambut Sky. Bukan Reya.Setelah tos itu pun, Langit tidak langsung menoleh ke arahnya. Pria itu justru lebih dulu menyapa Wendy.“Hai, Wen.” Ia mengangkat tangan santai. “Semoga elo nggak bosen ya, hari minggu masih harus ketemu bos,” kekehnya.“Kalau bos nya elo, gue aman aja sih, Bang.”Langit tertawa kecil. “Emang bos yang mana yang gak aman?”Wendy mencebik.Barulah setelah itu, Langit menoleh ke Reya. Tidak ada sapaan. Tidak ada kalimat. Hanya sebuah anggukan kecil dan senyum tipis. Sederhana.Tapi justru karenanya Reya jadi
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-13
Chapter: Dufan - 1Minggu pagi. Reya bangun dengan keengganan kuat. Rasanya dia hanya ingin tenggelam lebih lama di tempat tidur. Lelah. Bukan cuma fisik, tapi juga pikirannya penuh. Tapi tiba-tiba pintu kamarnya terbuka tanpa permisi.“Ibu ada acara nggak?”Sky berdiri di ambang pintu, menatap Reya dengan wajah cerah. Matanya berbinar – terlalu bersinar untuk minggu pagi. “Kenapa?” tanya Reya curiga.Tidak biasanya Sky bangun pagi di hari minggu, apalagi setelah bermain game sampai larut – Reya masih mendengar Sky asyik main game sampai hampir pukul tiga. “Ke dufan yuk!”Alis Reya terangkat. “Dufan?”Sky mengangguk cepat.“Sekarang?” Sky mengangguk lagi. “Iya. Ayo ke dufan hari ini.”Reya menegakkan tubuhnya, duduk di tepi ranjang dan menatap Sky lebih lama. Senyum Sky masih lebar dan penuh antusias.“Ayolah, Bu. Please! Kita kan belum pernah jalan-jalan dari kita pindah ke sini.”Aneh. Sky sudah terlalu besar untuk tiba-tiba merengek minta pergi ke taman hiburan, apalagi hanya berdua dengannya. Bi
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-04-10