Mag-log in"Kalau itu benar ini masalah besar. Mau tidak mau kita harus membuat perlawanan untuk menghancurkan benteng Gunawan," jelas Wulan. Baskara dan Bagas saling berpandangan, mereka setuju dengan pendapat Wulan. Namun, masalah ini tidak mudah. Masalah ini sangat rumit karena menyangkut semua orang, apalagi Gunawan bukan pria biasa yang mudah untuk dikelabuhi. "Ini tidak mudah Wulan, aku sudah bekerja dnegan Gunawan dari lama. Pria itu sungguh pintar atau bahkan pikirannya jauh melampaui pikiran manusia biasa." Bagas menghela nafasnya sejenak sebelum malanjutkan ucapannya. "Kalau pun kita mulai menyerangnya, ia pasti akan mengetahuinnya." Mendengar itu Wulan terdiam, ia menatap ke arah Baskara yang memilih untuk menunduk sambil mencari solusi untuk masalah ini. Karena Baskara tahu yang mereka lawan bukan orang biasa melainkan pria yang menggenggam dunia bawah tanah. Pria yang keji, saking kejinya bisa membunuh siapa saja tanpa ketahuan polisi. "Wulan, lebih baik kita urungkan saja n
Baskara, Wulan dan Bagas segera bergegas menuju tempat dimana Julian berada. Namun sebelum Wulan pergi, ia mendekat ke arah Jonathan yang tengah menunggunya. "Kalian duluan saja, aku harus berbincang dengan Jonathan," jelasnya. Baskara dan Bagas hanya mengangguk, mereka segera bergegas menuju ke dalam mobil. Sedangkan Wulan menatap Jonathan dengan tatapan tanda tanya. "Sudah kamu dapatkan soal Reina, Jonathan?" tanyanya. Jonathan mengangguk, ia menyodorkan map coklat kepada Wulan. Wulan segera menerimanya dan bergegas menemui Baskara dan Bagas yang sudah menunggunya. Setelah beberapa menit mobil itu melaju, sampailah mereka di rumah tempat dimana Julian berada. Wulan segera turun lebih dahulu, disusul Baskara dan Bagas di belakangnya. Ia menoleh ke arah Bagas. "Dimana putramu?" tanyanya. Bagas terdiam sejenak mendengar pertanyaan Wulan. Tatapannya langsung berubah serius, seolah ada sesuatu yang berat yang harus ia sampaikan. "Di dalam," jawab Bagas singkat. Ia
"Bagas, jawab!" suara Kakek Suryani terdengar berat. "Apa maksudmu datang ke keluarga kami dengan tujuan tertentu?" Bagas masih menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal erat, berusaha menahan rasa bersalah yang semakin menghimpit dadanya. "Aku..." Bagas menarik napas panjang. "Aku tidak bisa mengatakannya," ujarnya, pelan. Baskara kembali menarik kerah pria itu, ia benar benar kesal dengan saudara sepupunya itu. Tatapan Baskara berubah tajam. "Katakan sialan!" teriaknya. Wulan segera menahan tangan suaminya itu, ia mencoba menenangkan Baskara agar pria itu tidak hilang kendali. "Sudah Baskara, biar Bagas nenangin diri dulu," jelasnya. Baskara segera melepaskan cengkeraman tangan itu, ia segera menjauh dari Bagas. Sedangkan Wulan memilih untuk menanyakan menganggtikan suaminya. "Aku tahu kau takut putramu kenapa napa, tapi dengan kau menghancurkan keluarga Suryani. Apakah pria itu bakal membantumu nanti?" Bagas terdiam mendengar pertanyaan Wulan. Kalimat itu sederhan
Setelah beberapa hari Bagas memutuskan untuk tinggal di villa keluarga Suryani. Wulan mulai merasa bahwa gelagat pria itu benar benar janggal, apa lagi saat ia sempat memergokinya masuk ke ruang kerja milik Baskara. Hingga saat ini, Wulan tengah berdiri di balik tembok untuk mendengar Bagas yang tengah berbicara oleh seseorang. Untungnya, kali ini Wulan bisa mendengar jelas ucapan Bagas dengan seorang pria yang entah siapa. "Saya akan menyelesaikan kali ini tuan, tolong jangan sakiti putraku," ujar Bagas. Wulan yang menguping pembicaraan itu mengernyit. "Selesaikan? Sakiti?" gumamnya. Hingga saat ia kembali menguping pembicaraan itu, satu kata yang diucapkan Wulan membuatnya benar benar terkejut. "Saya akan menghancurkan keluarga ini, tunggu sebentar lagi tuan," ujarnya. Wulan yang tahu bahwa Bagas datang ke keluarga Suryani untuk melakukan hal keji, segera keluar dari tempat persembunyianya dan berdiri di hadapan pria seusianya itu. "Apa yang sebenarnya kamu rencanakan
Kalimat itu membuat Kakek Wicaksono yang sejak tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan keduanya kembali bertemu. Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, tidak ada amarah yang meledak di antara mereka. Hanya ada dua pria tua yang sama-sama membawa luka dari masa lalu. "Aku tahu kau akan mengatakan itu," jawab Kakek Wicaksono pelan. Kakek Suryani menghela napas berat. Tangannya masih menggenggam tongkat dengan erat. "Tapi aku juga tahu, selama ini kau membenciku karena kau berpikir aku adalah penyebab kematian Laras. Aku mengatakan sejujurnya, aku tidak pernah membunuh Laras." Kakek Wicaksono terdiam. "Bagaimana aku tidak membencimu?" balasnya lirih. "Putriku meninggal setelah hubungan kalian hancur. Reno juga meninggal. Semua orang mengatakan bahwa keluarga Suryani adalah penyebab penderitaan Laras dan saat Laras izin untuk mengatakan bahwa Bagas adalah putra Reno, ia malah kecelakaan dan meninggal." Kakek Suryani menutup matanya sejenak. Ia kembali membuka
Bagas terdiam mendengar perkataan Baskara. Tatapan pria itu berubah sedikit tajam, seolah ia sudah menduga bahwa keluarga Suryani tidak akan langsung percaya kepadanya. "Aku datang bukan untuk mengambil apa yang menjadi milik keluarga Suryani," jawab Bagas tenang. Baskara menyipitkan matanya. "Lalu untuk apa?bukankah sudah jelas kau pasti kesini hanya untuk meminta bagianmu dari keluarga Suryani?" Bagas terdiam sejenak, ia tersenyum miring dan segera mendudukkan dirinya di sofa. Tatapannya masih tajam. "Aku baru tahu Baskara Suryani memang begitu pintar? Karena kau sudah bertanya aku akan mengatakan sejujurnya." Bagas mengambil satu dokumen dari tasnya, ia melempar ke arah meja. Baskara buru buru mengambilnya dan membaca semua huruf huruf yang tergores di kertas putih itu. Matanya terbelalak saat ia menatap satu angka. " Lima puluh persen saham?" Baskara segera menyodorkan kertas itu kepada Kakek Suryani. Membaca itu kakek Suryani benar benar kesal, ia kembali mengetuk n
“Jika aku tahu membunuhmu semudah ini, akan aku lakukan dari dulu!”Wulan Suryani, wanita setengah baya itu tergeletak tak berdaya di tengah jembatan besar. Darah terus merembes dari kepalanya, membuat bau amis menusuk semakin tajam di tengah genangan air hujan.Namun, meskipun kesadaran Wulan nyar
Setelah kepergian Zevran, Wulan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kelakuan dua putranya itu terlalu menguras energinya yang membuatnya cukup kewalahan. "Kenapa mereka bisa jadi budak cinta yang bodoh seperti itu?" gumamnya lirih, suaranya penuh dengan keletihan dan keputusasaan. Dari arah
Wulan menghembuskan napas panjang, pandangannya menatap ke arah Zevran yang sedang menatapnya penuh akan pertanyaan. "Zevran," panggil Wulan. "Apakah kamu yakin, kalau Sarah yang menyelamatkanmu waktu kecil?" Zevran mengerutkan keningnya, ia diam sejenak mencoba mencerna ucapan dari ibunya. Bayan
Wulan merasa sangat kesal melihat sikap wanita itu, namun ia tetap menahan diri mencoba untuk tidak terprovokasi. Wanita di depannya jelas sekali sedang mencoba menjatuhkan martabatnya dan Wulan tahu jika ia terpancing hal itu hanya akan memperburuk keadaan. "Saya tidak bekerja di sini, Bu," jawab







