Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai

Istri Buta Yang Terlambat Kau Cintai

last updateLast Updated : 2026-07-21
By:  Maidina AsifaOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Bagi Adrian, Maya hanyalah istri buta yang membebani. Bagi Larisa, Maya adalah kakak naif yang mudah ditipu. Namun, sebuah keajaiban medis mengubah segalanya. Saat bayangan kabur perlahan menampakkan bentuk di balik matanya, hal pertama yang Maya lihat bukanlah kehangatan rumah tangga, melainkan perselingkuhan haram suami dan adiknya sendiri tepat di depan matanya. Tanpa ada yang menyadari, Maya memilih tetap berpura-pura buta di dalam kegelapan. "Kamu pikir aku akan menyerahkan semuanya begitu saja pada Larisa, Adrian?" batin Maya saat melangkah kaku mengikuti cengkeraman tangan suaminya, "atau kamu yang akan berlutut memohon saat sadar permainan siapa yang sebenarnya baru saja dimulai?"

View More

Chapter 1

Buka Mata

"Kamu yakin dia tidak akan tahu?"

Suara Larisa menembus dinding kamar tamu. Pelan, berbisik, tapi cukup tajam untuk merobek keheningan malam.

Maya berhenti tepat di depan kamar itu. Jemarinya membeku di atas permukaan dinding yang dingin, sementara dadanya naik-turun menahan detak jantung yang mendadak berdegup liar.

"Dia buta, Lar. Dia bahkan tidak bisa melihat wajahku sendiri," jawab Adrian. Desahan kecil menyertai kalimat itu, menyebarkan rasa mual yang mengaduk perut Maya.

Maya berdiri kaku. Ruang tamu di belakangnya gelap gulita, sengaja tidak ia nyalakan karena orang-orang di rumah ini selalu menganggap seorang tunanetra seperti dirinya tidak membutuhkan cahaya. Selama lima tahun terakhir, kegelapan adalah satu-satunya ruang yang disediakannya untuk dunia. Namun malam ini, kegelapan itu justru berbalik menjadi pelindung terbaiknya.

Di dalam genggamannya yang gemetar, sebuah amplop putih berisi hasil pemeriksaan dari klinik dokter Bagas terasa begitu berat. Kabar keajaiban yang membawa secercah harapan, bahwa koreksi operasi korneanya berhasil dan penglihatannya berangsur pulih.

Belum sempat Maya sampaikan pada siapa pun. Ia sempat membayangkan reaksi bahagia Adrian saat mendengar kabar ini. Kini, kabar itu berubah menjadi pisau yang menusuknya tepat di dada.

Maya melangkah maju, perlahan dan tanpa suara. Setiap inci ubin dingin di bawah telapak kakinya telah ia hafal luar kepala dari hitungan ribuan hari. Namun malam ini, ia tidak butuh lagi hitungan langkah untuk memandu jalan.

Matanya—mata yang mereka sangka telah mati, saat ini menangkap seberkas garis cahaya dari celah pintu kamar yang renggang. Penglihatannya yang belum stabil menyajikan bayangan kabur dengan pinggiran siluet yang tajam.

Di sana, di atas tempat tidur, dua bayangan bergerak terlalu dekat, menyatu tanpa sekat. Maya menahan napas rapat-rapat, memaksa tubuhnya tetap diam dan memainkan peran sebagai wanita buta tak berdaya yang selama ini mereka kenal.

"Kalau Papa tahu—"

"Papa koma, Lar. Dia tidak akan tahu apa-apa lagi." Suara Adrian terdengar sangat datar, begitu dingin dan terbiasa.

Darah Maya serasa berhenti mengalir. Punggung tangannya membekap mulut rapat-rapat, menahan jeritan yang nyaris meledak di tenggorokan. Dari celah sempit itu, bayangan yang tadinya kabur perlahan melurus menjadi kenyataan pahit. Ia menyaksikan sendiri bagaimana Adrian—suaminya, merengkuh tubuh Larisa. Jemari lelaki itu melingkar mesra di pinggang adik kandungnya sendiri, diselingi bisikan dan sentuhan yang tampak begitu terbiasa.

Tidak mungkin, batin Maya. Matanya memanas saat pandangannya mulai mengabur oleh air mata. Mereka... tega melakukannya di rumah ini? Di kamar yang sama saat Papa masih terbaring lemah di rumah sakit?

"Maya makin aneh belakangan ini," bisik Larisa di sela napasnya yang memburu. Tangannya membelai rahang Adrian dengan keintiman yang menuntut.

"Kemarin dia jalan ke dapur tanpa memegang tembok sama sekali," lanjutnya.

"Dia sudah lima tahun buta, Lar. Orang buta pasti hafal denah rumahnya sendiri," sahut Adrian acuh tak acuh, memiringkan kepalanya seolah menikmati sentuhan itu. "Jangan paranoid."

Bulir-bulir bening akhirnya lolos meniti pipi Maya. Ia terpaksa memejamkan mata sejenak. Rasa perih akibat bayangan menyakitkan itu jauh lebih menyiksa daripada rasa sakit saat korneanya dioperasi. Penglihatan yang baru kembali ini rasanya bukan lagi berkah, melainkan sebuah kutukan yang meremukkan seluruh hidupnya.

Ingatan Maya melompat mundur ke enam bulan lalu, saat bayangan pernikahan ini belum menjadi mimpi buruk. Bagi Maya, pernikahan bisnis itu hanyalah sebuah bentuk kewajiban demi menyelamatkan nama besar keluarga.

Saat itu, di balik gaun pengantin serba putih yang berat dan kaku, Maya hanya bisa mengandalkan pendengarannya yang tajam. Ia ingat betul bisikan Devan—sahabat kecilnya, di dekat pintu belakang gedung resepsi yang bising.

"Kamu masih bisa mundur, Maya," bisik Devan saat itu dengan nada cemas yang tertahan. "Perusahaan Adrian yang butuh suntikan dana, bukan keluargamu. Kamu tidak harus mengorbankan hidupmu untuk lelaki yang bahkan tidak kamu kenal."

Tetapi Maya saat itu memilih bertahan. "Papa butuh kepastian ini, Devan. Aku sudah biasa menanggung banyak hal, satu lagi tidak akan membunuhku."

Hari itu, Maya memang tidak bisa melihat bagaimana rahang Adrian mengeras kaku saat berdiri di sampingnya di hadapan para tamu undangan. Maya juga tidak tahu bagaimana pandangan mata Adrian saat mengikat janji suci, apakah ada kejujuran di sana, atau sekadar sandiwara. Yang Maya ingat, genggaman tangan Adrian di altar terasa sedingin es, seolah-olah menyentuh benda mati.

Maya baru menyadari sekarang, mungkin selama ini Larisa yang berdiri di barisan depan tamu bukan sekadar adik yang terharu, melainkan wanita yang menatap pengantin pria dengan kepemilikan yang tertahan dan rasa iri yang terpendam.

Dulu, Maya berpikir Adrian hanya lelaki kaku dan pendiam yang terpaksa menikahi wanita cacat demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang terancam bangkrut. Maya memaklumi dinginnya sikap Adrian selama enam bulan ini karena menganggap mereka hanyalah dua orang asing yang dipaksa berbagi tempat tidur. Maya bahkan sering kali menyalahkan dirinya sendiri atas jarak yang membentang di antara mereka.

Namun malam ini, di depan kamar tamu, kebenaran itu menghantamnya tanpa ampun hingga ke dasar.

Maya baru paham, Adrian tidak dingin pada wanita. Adrian hanya dingin padanya. Dan Larisa—adik yang selama lima tahun ini selalu bersikap manis, memeluknya dengan hangat, dan telaten berpura-pura merawatnya, ternyata adalah orang yang menyuapkan racun paling mematikan dalam hidupnya.

Dada Maya bergemuruh hebat. Air matanya telah mengering, menyisakan tatapan tajam yang tak pernah dilihat oleh siapa pun selama lima tahun terakhir. Penglihatannya yang baru pulih dipaksa menyaksikan pengkhianatan paling busuk di dalam rumahnya sendiri.

Maya tidak sanggup lagi berdiri di sana. Ia memutuskan untuk mundur perlahan, berniat pergi sebelum rasa mualnya meluap menjadi jeritan.

Namun, di dalam kegelapan lorong dan gejolak emosi yang membakar kepalanya, ujung kakinya tanpa sengaja menyenggol meja konsol kecil di sudut dinding.

PRANG!

Sebuah vas keramik tersapu jatuh, hancur berkeping-keping menghantam ubin dingin. Suaranya bergema nyaring, membelah keheningan malam rumah besar itu.

Jantung Maya serasa berhenti berdetak. Dalam hitungan detik, gagang pintu kamar tamu berputar kasar. Pintu terbuka lebar, memancarkan cahaya terang dari dalam kamar. Adrian dan Larisa muncul di ambang pintu dengan napas memburu dan raut wajah panik yang tak sempat disembunyikan.

"Maya?!" suara Adrian melengking kaget, matanya melotot menatap sosok istrinya yang berdiri hanya dua langkah di depan pintu.

Di belakang Adrian, Larisa dengan cekatan merapikan gaun tidurnya yang kusut, wajahnya pucat pasi bertatapan langsung dengan sang kakak.

Tepat saat dua pasang mata itu menyapu ke arahnya. Refleks Maya pun bekerja cepat. Sorot matanya yang tajam mendadak meredup, berganti menjadi tatapan kosong, rapuh, dan tanpa fokus.

Dengan gerakan gemetar yang teramat alami, Maya berjongkok ke ubin. Tangannya terulur ke udara, meraba-raba pecahan keramik di sekitarnya seolah-olah ia berada di dalam kegelapan yang pekat.

"A-aw..." bisik Maya serak, sengaja membiarkan jemarinya tergores pecahan vas, hingga meneteskan darah segar. Wajahnya terangkat ke arah suara pintu, menatap lurus ke wajah Adrian tanpa mengedipkan mata, berakting seolah lelaki di depannya hanyalah sekadar bayangan hitam. "Adrian...? Larisa...? Itu kalian?"

Adrian dan Larisa membeku di tempat, mematung menyaksikan reaksi Maya.

"Adrian?" Jari-jari Maya yang berdarah masih berpura-pura meraba ubin dingin. "Aku... aku tadi mendengar suara gaduh dari kamar ini. Aku cuma mau mengecek, tapi malah menyenggol sesuatu."

Larisa mengembuskan napas lega yang begitu kasar, sementara Adrian menghela napas panjang. Ketegangan di wajah lelaki itu berangsur mengendur, berganti kembali menjadi raut dingin dan jengkel yang biasa.

Adrian melangkah maju, menghindari pecahan keramik, lalu mencengkeram pergelangan tangan Maya dengan kaku untuk memaksanya berdiri tanpa sedikit pun kepedulian pada jemari istrinya yang meneteskan darah.

"Iya, aku baru ke sini," kebohongan itu meluncur dingin dari bibir Adrian, sama sekali tidak berniat menenangkan. "Makanya jangan keluyuran malam-malam kalau tidak bisa melihat. Hanya bikin repot."

Di balik wajah rapuhnya yang menunduk pasrah saat dituntun, Maya mengukir senyum samar di balik kegelapan—sebuah senyuman yang menyembunyikan badai di dalam dadanya.

Lelaki yang berdiri di sampingnya ini adalah suaminya. Lelaki yang telah merebut sisa hidupnya, sekaligus lelaki yang kini membagikan kehangatan pada adiknya sendiri.

Kamu pikir aku akan menyerahkan semuanya begitu saja pada Larisa, Adrian? batin Maya saat melangkah kaku mengikuti cengkeraman tangan suaminya. Atau kamu yang akan berlutut memohon saat sadar permainan siapa yang sebenarnya baru saja dimulai?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status