Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta

Terlambat: Setelah Cerai Baru Mengaku Cinta

Por:  Yuki NorinAtualizado agora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Classificações insuficientes
50Capítulos
0visualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

Pada hari Nikita menerima hasil diagnosis kanker rahim, dia memergoki suaminya sedang menemani kakak perempuannya menjalani pemeriksaan kehamilan. Di saat dokter memvonis bahwa kemungkinan besar dia tidak akan pernah bisa memiliki anak lagi, Darwis justru tengah merayakan kabar kehamilan sang kakak. Tiga tahun pernikahan. Segala cinta, pengorbanan, dan ketulusannya ternyata tak lebih dari sebuah lelucon. Dengan hati yang hancur, Nikita menyerahkan surat gugatan cerai dengan tenang. Dia memilih menyembunyikan penyakitnya, tak berniat memberi siapa pun kesempatan untuk kembali menyakitinya. Darwis langsung melemparkan surat itu ke tempat sampah. "Kamu bahkan belum melahirkan pewaris untuk Keluarga Susanto. Kamu nggak berhak mengajukan cerai." Nikita menatapnya dengan tenang. "Bagaimana kalau harga yang harus kubayar untuk memiliki anak adalah nyawaku sendiri?" Tanpa mengangkat kepala sedikit pun, Darwis menjawab, "Kalau begitu, kamu mati saja." Saat itu juga, seluruh harapannya benar-benar sirna. Belakangan, penyakit yang selama ini dia sembunyikan akhirnya terungkap. Namun, Nikita telah menghilang tanpa jejak. Ketika namanya kembali terdengar, dia telah bangkit di dunia riset dan menjadi sosok legendaris yang disegani semua orang. Sebaliknya, diplomat yang selama ini dikenal dingin dan tak tersentuh itu justru mencari Nikita hingga ke berbagai penjuru dunia. Dengan mata memerah, Darwis berlutut di hadapannya. "Niki ... aku akan menukar nyawaku dengan nyawamu. Jangan tinggalkan aku ... boleh?" Nikita hanya tersenyum tipis, lalu mengembalikan ucapan yang dulu pernah dia terima. "Pak Darwis ... kalau begitu, kamu mati saja."

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1

"Bu Nikita, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kondisi kanker endometrium yang Ibu derita sudah makin memburuk. Pengobatan konservatif hampir nggak bisa lagi memberikan hasil. Kami menyarankan agar operasi pengangkatan rahim segera dijadwalkan."

"Selama dua tahun ini, Ibu selalu datang sendiri untuk kontrol. Kondisi Ibu sudah sangat serius. Apa nggak sebaiknya suami Ibu diberi tahu?"

Sorot lampu putih di ruang praktik menyinari wajah Nikita Alinskie yang tampak begitu letih. Kulitnya yang memang pucat kini nyaris tak menyisakan sedikit pun warna.

Ucapan dokter terus bergema di telinganya. Nikita menggenggam erat lembar hasil diagnosis yang terasa begitu berat. Ujung jarinya sedingin es dan gemetar, sementara seluruh tubuhnya membeku seolah darahnya berhenti mengalir.

Tak lama setelah mereka menikah, Darwis mendapat penugasan dari kementerian dan dikirim ke Kementerian Luar Negeri Negara Marenda sebagai diplomat.

Pada malam sebelum keberangkatannya, pria itu menatapnya dengan lembut, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Maaf karena aku membuatmu menunggu lagi. Tolong pahami pekerjaanku. Setelah masa penugasanku selesai dan aku pulang, kita akan menjalani hidup dengan tenang, lalu memiliki seorang anak."

Dua tahun lalu saat pertama kali didiagnosis, dokter masih mengatakan bahwa selama Nikita menjalani pengobatan dengan sungguh-sungguh, harapan untuk menjadi seorang ibu masih ada.

Karena tak ingin Darwis yang berada jauh di negeri asing khawatir hingga pekerjaannya terganggu, Nikita memilih merahasiakan penyakit itu. Dia menahan semua rasa sakit, ketakutan, dan penderitaannya sendirian.

Namun kini ... selembar hasil diagnosis itu menghancurkan harapan terakhir yang selama ini dia pertahankan.

Sepanjang hidupnya, mungkin dia tak akan pernah lagi memiliki anak.

Hidungnya mulai terasa perih, matanya terasa panas dan dipenuhi air mata. Dengan tangan gemetar Nikita membuka kunci ponselnya, lalu menghubungi nomor yang sudah begitu lama terukir di dalam hatinya.

Nada sambung terus berbunyi berulang kali. Tidak ada jawaban.

Dengan tatapan kosong, dia berdiri di lorong rumah sakit. Kepalanya terasa berat dan pusing. Barulah dia teringat adanya perbedaan waktu.

Di Negara Marenda saat ini sudah larut malam. Mungkin Darwis sudah tidur.

Rasa tak berdaya memenuhi dadanya. Nikita hanya bisa menggenggam erat hasil pemeriksaan itu sambil berjalan ke luar dengan langkah yang limbung.

Baru saja dia sampai di pintu lobi rumah sakit, sekelompok wartawan yang membawa kamera dan mikrofon tiba-tiba menyerbu. Seseorang mendorongnya dari belakang hingga dia ikut terseret ke tengah arus kerumunan.

"Itu Pak Darwis bersama istrinya!"

"Pak Darwis diam-diam sudah pulang ke tanah air tiga hari yang lalu. Akhirnya kita berhasil menemukan dia!"

Di tengah hiruk-pikuk itu, pandangan Nikita langsung tertuju pada sosok tinggi tegap di tengah kerumunan.

Itu Darwis Susanto.

Dia mengenakan mantel panjang berwarna gelap. Tubuhnya tegap, wajahnya masih setampan dan sedingin yang ada di ingatan Nikita. Hanya saja, kini auranya jauh lebih berwibawa dan membuatnya terkesan sulit didekati.

Seharusnya suaminya itu masih berada di Negara Marenda. Dia bahkan tidak pernah mengabari Nikita kapan akan pulang.

Sebelum Nikita sempat mencerna kenyataan itu, terdengar suara perempuan yang lembut dan manja. "Kak Darwis ... aku agak takut. Di sini ramai sekali. Apa bayinya nggak bakal kaget?"

Nikita menoleh mengikuti arah suara itu. Dalam sekejap, dadanya seperti diremas oleh tangan tak kasatmata, membuatnya hampir tak bisa bernapas.

Perempuan yang berdiri di samping Darwis, bersandar lemah di bahunya dengan wajah pucat ... ternyata adalah kakaknya yang seharusnya masih menempuh kuliah di Negara Marenda, Nirina Alinskie.

Detik berikutnya, Darwis refleks melangkah maju dan berdiri di depan Nirina. Dia melindungi Nirina rapat-rapat.

Sorot matanya berubah dingin saat menatap para wartawan. Dia berkata, "Harap tahu batas. Dia sedang hamil dan kondisi fisiknya lemah. Kalau terjadi sesuatu padanya, aku bisa menuntut kalian."

Setiap katanya menghantam telinga Nikita seperti petir yang menyambar.

Hamil? Kakaknya sedang mengandung anak Darwis?

Namun, sejak kapan Darwis pernah melindungi orang lain dengan begitu protektif?

Melihat sikapnya yang serius, kalau bukan anaknya sendiri, lalu anak siapa?

Dunia Nikita seakan runtuh dalam sekejap. Suara para wartawan menghilang dari pendengarannya. Yang tersisa hanyalah suara hatinya sendiri yang hancur berkeping-keping.

Kenangan lama mendadak membanjiri pikiran Nikita. Tak lama setelah Darwis berangkat ke luar negeri, Nikita mengetahui dirinya hamil. Saat itu dia begitu bahagia. Namun, sebelum sempat memberi kabar kepada Darwis, dia mengalami keguguran.

Selama itu pula dia terus menyalahkan tubuhnya yang lemah. Dia tak tega mengganggu pekerjaan suaminya dan hanya bisa menunggu sampai Darwis pulang. Dia ingin pria itu memeluk serta menghiburnya.

Hingga hari ini ... Darwis bahkan tidak pernah tahu bahwa mereka pernah memiliki seorang anak.

Pria itu juga tidak pernah menyadari betapa lemah, letih, dan menderitanya Nikita dalam setiap percakapan singkat melalui telepon.

Kini, semuanya terasa begitu jelas. Saat itu Darwis rupanya sudah tinggal bersama Nirina di Negara Marenda. Mana mungkin pria itu masih sempat memedulikan dirinya?

Nirina berangkat ke Negara Marenda dengan alasan kuliah, hanya berselang setengah bulan setelah keberangkatan Darwis.

Jadi ... itu bukan kebetulan. Mereka memang sengaja pergi bersama.

Kalau begitu ... apa arti semua janji yang pernah Darwis ucapkan sebelum berangkat?

Selama tiga tahun ini, Nikita menjadikan janji itu sebagai satu-satunya cahaya yang menemaninya melewati malam-malam panjang seorang diri. Hari demi hari dia menghitung waktu, menantikan kepulangan suaminya.

Siapa sangka ... hati manusia begitu mudah berubah. Janji pun begitu mudah dilupakan.

Nikita menjaga rumah yang kosong, menggenggam janji yang semu, dan menghabiskan tiga tahun dalam kesepian. Pada akhirnya, semua itu hanyalah lelucon yang lahir dari cintanya yang sepihak.

"Minggir! Semua orang yang nggak berkepentingan segera bubar!"

Bentakan keras itu menarik Nikita kembali ke dunia nyata.

Yang datang adalah Chicco, asisten Darwis. Dia memimpin beberapa petugas keamanan rumah sakit dan memerintahkan mereka membubarkan kerumunan dengan ekspresi profesional yang dingin.

Tak lama kemudian, para petugas sudah berdiri di depan Nikita, seolah hendak mengusirnya juga.

Para wartawan tak berani menyinggung Darwis dan segera mundur.

Hanya Nikita yang tetap berdiri mematung. Kakinya terasa berat. Sedikit pun tak mampu digerakkan.

Di matanya bercampur rasa kecewa, sakit hati, dan tidak percaya.

Chicco sempat melirik Nikita. Dia ragu sejenak. Setelah para wartawan menjauh, barulah dia mendekat dan berbisik dengan hormat, "Nyonya."

Sapaan itu terdengar pelan, tetapi cukup jelas hingga sampai ke telinga Darwis.

Tubuh pria itu sedikit membeku, tetapi dia tidak menoleh. Sejak awal hingga akhir, dia bahkan tidak melirik ke arah Nikita.

Perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Nirina. Dengan suara lembut, Darwis menenangkan wanita itu, lalu membungkuk dan menggendongnya sebelum berjalan menuju ruang rawat inap.

Sepanjang waktu, dia memperlakukan Nikita seolah mereka hanyalah dua orang asing.

Nikita hanya mampu berdiri mematung, memandangi Darwis yang menggendong kakaknya pergi makin jauh. Saat itu juga, hatinya benar-benar tenggelam ke dalam jurang es yang tak berdasar.

Entah berapa lama Nikita tetap berdiri di sana.

Setelah lobi kembali tenang, Darwis keluar dari ruang rawat inap. Aura dingin yang membuat orang enggan mendekat masih menyelimuti dirinya.

Dia mendongak. Tatapannya akhirnya tertuju pada Nikita yang masih berdiri di tempat semula. Sorot matanya tenang, nadanya datar. "Sedang apa kamu di sini?"

Pandangan Darwis kemudian turun ke lembar hasil pemeriksaan yang digenggam erat oleh Nikita.

"Apa itu? Berikan padaku."

Jantung Nikita langsung menegang. Kalau Darwis mengetahui penyakitnya, pilihan apa yang akan dia ambil?

Darwis mengernyit. "Kamu sakit?"

Nikita refleks menggenggam kertas itu lebih erat, berusaha menyembunyikannya.

Namun saat berikutnya, Chicco datang membisikkan sesuatu di telinga Darwis.

Kening pria itu kembali berkerut. Dia melirik Nikita sekilas, lalu berkata, "Aku masih ada urusan. Kamu pulang saja dulu."

Sudut bibir Nikita terangkat membentuk senyum penuh ejekan.

Sesaat yang lalu pria itu masih bertanya tentang keadaannya. Sekarang, dia sudah menyuruhnya pergi. Pada akhirnya, semua itu hanya karena dia ingin segera kembali menemani orang yang paling berharga di hatinya.

Nikita tetap berdiri di tempat.

Darwis mengangkat pandangannya ke arahnya.

Kemudian ....

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sem comentários
50 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status