Chapter: Bab 160 Ikuti rencananyaRaka terdiam. Kata-kata ibunya perlahan masuk ke dalam pikirannya, tetapi rasa kecewa terhadap dirinya sendiri masih terasa lebih kuat. Selama ini ia selalu berpikir bahwa dirinya cukup pintar untuk membaca orang lain. Ia bisa melihat kebohongan seseorang, bisa mengetahui jika seseorang memiliki niat buruk. Namun, untuk Reina, semua pertahanannya seolah menghilang begitu saja. Karena Reina adalah orang yang ia percaya. Namun, kenapa kepercayaan yang ia berikan kepada Reina malah digunakan oleh gadis itu untuk menyakitinya. "Ma..." suara Raka terdengar pelan. "Kalau memang Reina bekerja sama dengan musuh keluarga kita, apa tujuan sebenarnya?" Wulan menarik napas panjang. Ia menatap putranya dengan ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Itu yang belum mama ketahui." "Belum ketahui?" ulang Raka. Wulan mengangguk. "Mama hanya menemukan beberapa hal yang mencurigakan. Beberapa pergerakan bisnis yang berhubungan dengan keluarga kita, informasi yang bocor, dan beberapa kejad
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Bab 159 Aku bodoh?Wulan menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menatap kedua anak muda di hadapannya. Senyum kecil masih terlihat di wajahnya, seolah ia sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Raka yang mendengar pertanyaan itu langsung menghela napas pelan. Ia tahu ibunya pasti akan menggoda mereka terlebih dahulu. "Mama kemarin bilang aku harus lebih dekat dengan Reina," ujar Raka akhirnya. "Seira salah paham karena melihat Reina terus datang kepadaku." Seira menunduk sedikit. Mendengar nama Reina disebut masih membuat dadanya terasa tidak nyaman, meskipun sekarang ia sudah tahu bahwa ada alasan di balik semuanya. Wulan melirik ke arah Seira. Ia bisa melihat perubahan ekspresi gadis itu. "Mama memang meminta Raka untuk mendekati Reina, tapi hanya untuk membuktikan ucapan mama benar kan? Bagaimana apakah saat aset yang memang sita telah mama kembalikan, apakah gadis jahat itu menganggumu? " ucap Wulan jujur. Raka langsung menatap ibunya. Seira yang mendengar itu hanya terdiam, karena S
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Bab 158 JadianSetelah berkendara beberapa menit, Raka akhirnya sampai di villa mewah milik keluarga Suryani. Hujan masih membasahi kota bulan. Seorang pria dengan cepat segera berlari ke arah Raka yang baru membuka pintu mobilnya. "Tuan Raka, biar saya antar masuk," ujar pria itu dengan payung hitam di tangannya. Raka segera menggeleng, " Tidak perlu, saya kesini bersama Seira dan saya juga membawa payung," ujarnya. Pria itu hanya mengangguk, lalu mempersilahkan Raka dan Seira untuk berjalan ke gedung utama villa mewah itu. Sesampainya di dalam, dua orang pelayan segera menghampiri mereka. "Aduh, Tuan Raka, Nona Seira, kenapa kalian basah kuyup seperti ini?" ujar seorang pelayan yang sudah berumur sambil terlihat khawatir. Seira hanya tersenyum kecil. Ia merasa tidak enak karena membuat para pelayan di rumah itu ikut cemas. "Maaf, Bi Ina. Hujannya tiba-tiba semakin deras saat kami mau pulang sekolah, tadi juga belum sempat neduh," jawab Seira pelan. Pelayan itu segera mengambil beberap
Last Updated: 2026-07-24
Chapter: Bab 157 Aku.. Aku sayang kamu Seira"Jangan bilang begitu." "Kenapa? Karena itu menyakitkan untuk didengar?" Seira bertanya lirih. "Aku juga sakit, Raka." Tatapan Raka berubah. Ia tidak pernah melihat Seira selemah ini sebelumnya. Seira menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Aku menyukai kamu bukan karena kamu sempurna. Aku tahu kamu punya masa lalu. Aku tahu kamu punya luka. Tapi aku ingin kamu jujur padaku. Aku ingin tahu perasaanmu kepadaku." Raka masih terdiam, ia menatap ke arah manik Seira yang berkaca kaca. Seira yang tidak kunjung mendapatkan jawaban dari pria di hadapannya segera membuka suaranya. "Aku lelah Raka, Aku lelah.... lelah mencintai kamu sendirian." Raka terdiam. Kalimat terakhir yang dilontarkan Seira terasa lebih menyakitkan daripada segala tuduhan yang pernah ia dengar. Ia bisa menghadapi kemarahan Seira, bisa menghadapi tangisnya, bahkan bisa menerima jika Seira membencinya. Tapi melihat Seira yang biasanya kuat kini terlihat menyerah membuat dadanya terasa sesak. "Seira..." p
Last Updated: 2026-07-23
Chapter: Bab 156 Sebuah kepastianJulian terdiam mendengar pertanyaan Reina. Tatapannya yang tadi terlihat tenang perlahan berubah menjadi lebih dingin. Ia tidak langsung menjawab, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia harus membuka sedikit rahasia yang selama ini ia simpan. Reina memperhatikan perubahan ekspresi itu dengan saksama. Selama bekerja sama dengan Julian, ia tahu satu hal. Pria itu bukan seseorang yang mudah menceritakan masa lalunya. "Kenapa?" ulang Reina pelan. Julian menurunkan pandangannya. Tangannya yang terlipat perlahan mengepal. "Karena keluarga Suryani pernah menghancurkan sesuatu yang penting bagiku." Reina sedikit terkejut. Ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban secepat itu. "Maksudmu,keluarga Raka? Bukankah keluarga Suryani selalu tampil layaknya keluarga kaya yang dermawan dan baik. " Julian tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan dalam senyumnya. "Kebaikan yang penuh kemunafikan itu begitu membuatku muak." ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
Last Updated: 2026-07-22
Chapter: Bab 155 Salah PahamRaka yang mendengar ucapan Zidan langsung menatap tajam ke arahnya. "Bukan gara-gara bekal," bantahnya cepat. Julian yang berdiri di samping meja hanya memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Wajahnya tetap terlihat tenang, berbeda jauh dengan Raka yang masih terlihat kesal. "Terus gara-gara apa?" tanya Silva penasaran. Raka membuka mulut, tetapi ia langsung terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya kesal hanya karena Julian terus mencari perhatian Seira. "Intinya bukan masalah penting," jawab Raka akhirnya. Julian menarik kursi kosong di sebelah Seira dan duduk tanpa meminta izin. Hal itu langsung membuat Raka mengernyitkan dahi. "Serius? Dari sekian banyak kursi kosong, lo pilih yang itu?" tanyanya tidak percaya. Julian menoleh santai. "Iya. Kenapa?" "Lo sengaja banget, ya." "Kalau gue bilang enggak, lo bakal percaya?" Raka langsung terdiam karena jawaban itu terdengar seperti sebuah tantangan. Seira yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan sendokny
Last Updated: 2026-07-22