Share

Bab 17 Pusing

Penulis: Namorae
last update Tanggal publikasi: 2026-04-27 15:51:24
"Kenapa mama malah mengusirku? Bukankah aku masih anak mama." Raka menatap ibunya dengan kesal, tetapi dibalik kekesalannya ada perasaan sedih yang coba ia sembunyikan.

Wulan hanya menatap datar ke arah Raka, ia malah menarik tangan Seira untuk ikut duduk bersamanya. Wulan segera mengambil majalah yang tak jauh dari tempatnya lalu menunjukan beberapa tas model terbaru kepada Seira. Wulan memilih untuk mengabaikan putranya yang sedang memandanginya.

"Mama beneran mengusirku!?" tanya Raka seka
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 101 Kecurigaan

    Budi akhirnya ditetapkan bersalah dan dipenjara selama 5 tahun dengan denda 250 jt. Mendengar keputusan dari pengadilan, Sarah dan Sari merasa kesal. Ketukan palu hakim tadi masih seperti menggema di kepala Sarah dan Sari saat mereka berdiri di luar ruang sidang, wajah keduanya tegang, tidak menerima hasil itu begitu saja. "Lima tahun?" suara Sari naik, menahan emosi. "Semudah itu mereka mengakhiri semuanya?" Sarah diam, tapi matanya kosong sesaat. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Itu tidak adil," gumam Sarah akhirnya, suaranya bergetar. "Papa bukan orang jahat, ini pasti tidak mungkin." Sari menoleh cepat. "Sudahlah Sarah, jangan membuat keributan. Yang terpenting kita adalah mengamankan perusahaan yang diberikan Zevran kepada kita," ujarnya. Sarah yang mendengar ucapan dari mamanya, hanya mengangguk. "Masalah perusahaan itu, apakah paman Baskara tidak akan merebutnya? " Sari terdiam mencoba memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Lalu saat ia telah mendapatkan

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 100 Laporkan

    Budi terjatuh ke lantai keras, namun ia tidak berani berdiri kembali. Tangannya gemetar saat menopang tubuhnya sendiri, matanya tidak berani menatap langsung ke arah Baskara. Suasana ruangan terasa seperti menekan dada siapa pun yang ada di dalamnya. Zevran berdiri di sisi ayahnya, menatap Budi dengan tajam. Ia menghela napas, menatap pria yang dulu ia anggap ayah mertuanya malah mengkhianatinya dan merusak perusahaan ayahnya. "Jadi begini, sifat aslimu, Pak budi!" tegasnya. Budi masih menunduk ketakutan, Baskara yang memang tidak suka dengan pengkhianatan kembali menarik kerah Budi untuk berdiri menghadapnya. "Semua yang kamu lakukan di perusahaanku…" suaranya pelan, tapi setiap kata terasa berat, "kamu pikir aku tidak akan tahu?kamu pikir aku bodoh?" Budi menelan salivanya, takut mendengar teriakan Baskara. "Tuan… saya bisa jelaskan—" "Jelaskan apa?" potong Baskara, suaranya menggelegar diruangan tersebut. Ia meraih berkas di meja yang sudah dirapihkan Jonathan,

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 99 Siapa yang menyuruhmu!

    Mendengar bisikan dari Jonathan, Harlan membeku. Ia hanya menghela napas dan mematuhi perintah dari Zevran dan Jonathan untuk mengikutinya. Zevran, Nerlina dan Jonathan segera berjalan keluar disusul Harlan yang masihdioegangi oleh dua satpam. "Lanjutkan pekerjaan kalian," tegas Zevran kepada karyawan sebelum ia keluar dari ruangan itu. Para karyawan di ruangan itu langsung terdiam. Beberapa masih berdiri kaku, tidak berani bergerak sedikit pun, sementara yang lain hanya saling menatap bingung melihat Harlan digiring keluar oleh dua satpam. Jonathan tidak menunggu reaksi lebih lama. Ia menarik Harlan keluar tanpa memberi kesempatan untuk melawan.Zevran berjalan paling depan, diikuti Nerlina yang masih sesekali menoleh ke belakang memastikan situasi tetap terkendali. Di koridor, suara langkah mereka terdengar lebih berat dari sebelumnya. Harlan yang ditahan di tengah akhirnya kembali bersuara, suaranya mulai meninggi seolah ia tidak terima tiba tiba ditangkap begitu saja. "Ini

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 98 Audit Palsu

    Jonathan tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap berkas-berkas di atas meja seolah mencoba membaca kemungkinan yang belum terjadi, pandangannya kembali menatap Nerlina yang tengah menunggu jawaban atas pertanyaannya. "Pak Baskara itu orangnya tegas," ucap Jonathan akhirnya. "Kalau ini memang menyangkut keamanan data perusahaan, dia akan menilai dari dua sisi yaitu resiko dan hasilnya." Nerlina mengerutkan kening. "Berarti bisa iya, bisa tidak?" Jonathan mengangguk pelan, menyetujui ucapan dari Nerlina. "Tergantung Zevran bisa menjelaskan dengan benar atau tidak." Nerlina yang mendengar itu terdiam sejenak, mencoba menebak apakah Zevran akan berhasil atau tidak. Lalu ia menatap ke arah Jonathan. "Aku percaya, tuan Zevran pasti akan berhasil," ujarnya, penuh keyakinan. Belum sempat Jonathan menjawab, dari arah pintu Zevran sudah berdiri sambil mengatur nafasnya. "Aku berhasil... berhasil," ujarnya, sambil menstabilkan nafasnya. Nerlin

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 97 Bereskan masalahmu

    Baskara tidak langsung menjawab. Ia menoleh sedikit ke arah Zevran, lalu kembali ke arah para pemegang saham. "Semua akses yang berkaitan dengan pihak tersebut akan dicabut sepenuhnya. Dan jika terbukti ada pelanggaran hukum, kami akan menyerahkan kasus ini ke jalur hukum." Kalimat itu membuat beberapa orang saling berpandangan. Lalu mereka mengangguk secara bersamaan. "Kalau begitu kami akan mempercayai masalah ini kepada kalian. Kami tunggu penjelasannya secara jelas," ujar salah satu pemegang saham. Rapat besar segera diakhiri, para pemegang saham segera keluar dari ruangan itu. Menyisakkan Nerlina, Zevran,Baskara,Wulan dan Jonathan. Pintu ruang rapat tertutup perlahan, menyisakan gema langkah kaki yang menjauh di koridor panjang perusahaan itu. Sesaat tidak ada yang berbicara. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar, seperti mencoba menutupi ketegangan yang belum benar-benar selesai. Baskara akhirnya menarik napas panjang, lalu duduk kembali. Wajahnya yang

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 96 Rapat Besar

    Zevran menatap tangan Nerlina yang masih berada di punggungnya. Sentuhan itu sederhana, tapi entah kenapa membuat kepalanya yang tadi penuh sesak terasa sedikit lebih ringan. Ia menghela napas pelan. "Terimakasih," gumamnya lirih. Nerlina menarik tangannya perlahan, lalu kembali duduk dengan posisi lebih rapi di depan laptop. "Tidak usah berterimakasih bukankah sudah sebaiknya saling membantu," jawabnya tenang. "Yang terpenting sekarang adalah menyelesaikan laporan ini dan segera mempresentasikannya di rapat nanti." Zevran tersenyum kecil, ia harus kembali fokus untuk bisa menyelesaikan perintah ayahnya. Ia tidak mau hidupnya hanya tentang percintaan, seperti yang telah ia lakukan dulu. Kesempatan ini ia harus bisa menjalankannya dengan baik. Ia meraih map di atas meja lagi, membuka lembar laporan yang tadi mereka tinggalkan. "Baik," katanya akhirnya. "Apakah ada yang perlu saya bantu?" Nerlina mengangguk, lalu langsung kembali mengetik, membuka data yang sudah mereka

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 86 Jangan benci mama

    Raisa menahan napasnya, matanya mengikuti langkah ibunya yang berlari tanpa ragu meninggalkan ruang VIP itu. "Ma!" teriaknya, namun suaranya seolah tidak terdengar. Nyonya Hartono tidak menoleh sama sekali. Melihat itu seperti tamparan yang lebih menyakitkan daripada semua kata-kata Wulan tadi

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 85 Sebuah Luka

    Kalimat Wulan itu membuat Nyonya Hartono benar-benar kehilangan kata kata. Wajahnya yang semula terangkat mulai menunduk. Matanya tidak lagi mampu menatap Wulan dengan tegas seperti sebelumnya. "Panti? Kejam?" gumamnya pelan, seperti baru benar-benar mendengar kata itu dengan makna yang lebih dala

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 84 Siapa putri kandungmu sebenarnya?

    Wulan berhenti tepat sebelum melewati pintu VIP.Langkahnya tidak terburu-buru, hanya berhenti seperti seseorang yang sudah menduga hal itu akan terjadi.Ia menoleh sedikit ke samping, menatap Nyonya Hartono tanpa banyak emosi. "Ada apa lagi?" tanya Wulan datar. Nyonya Hartono menarik napas, lalu

  • Kesempatan Kedua Seorang Ibu   Bab 83 Permintaan maaf

    Nerlina hanya menghela napas saat mendengar nada suara Raisa yang meninggi. Wulan hanya menatap datar ke arah Raisa yang tengah menatap tajam ke arah Nerlina. Ia melangkah sedikit ke depan tepat di depan Raisa, pandangannya menatap tepat ke manik coklat gadis itu. "Karena aku yang memintanya," j

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status