MasukSetelah beberapa hari Wulan dan kedua kakaknya menyiapkan strategi, hari ini adalah hari di mana Baskara Suryani akan pulang dari luar negeri dan hari yang sama di mana kecelakaan itu seharusnya terjadi. Wulan dan kedua kakaknya sudah menunggu di depan bandara. Mereka mengenakan pakaian hitam lengkap dengan masker hitam agar pengintai dari Rendra Suryani tidak mengetahui gerak-gerik mereka. "Bagaimana, Wulan? Apakah kamu sudah mengabari suamimu?" tanya Roni. Wulan menoleh cepat ke kanan dan kiri sebelum menjawab. "Sudah, Mas. Sebentar lagi pesawat yang ditumpangi Baskara akan mendarat." Matanya tetap awas, menatap orang-orang di sekelilingnya. "Jonathan dan yang lain sudah menunggu di mobil yang sama persis dengan yang akan ditumpangi Jason. Kita harus tetap waspada agar musuh tidak curiga," jelas Wulan. Ratna dan Roni hanya mengangguk, sementara Wulan menatap kakak iparnya dengan tatapan sedih. "Mas, apa kamu yakin mau menjadi umpan? Kalau mereka nekat membunuhmu, bagaimana?"
Belum sempat kakaknya menjawab, ponsel Wulan berdering, menampilkan nama suaminya. Wulan buru-buru mengangkatnya. "Halo," panggil Wulan lirih. "Sayang, aku harus pergi ke luar negeri hari ini juga. Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu karena perusahaan di sana sedang ada masalah internal," jelas Baskara dari balik telepon. Dari nada suaranya saja, Wulan bisa merasakan bahwa suaminya sedang tergesa-gesa. Wulan diam, tidak menjawab. Pandangannya kosong menatap ke depan, membuat Ratna dan Roni menatapnya dengan khawatir. Baskara memanggilnya lagi dari telepon, tapi Wulan tetap diam, tanpa sadar ponselnya jatuh ke lantai. 'Apakah kejadian itu akan terus terjadi? Apakah suamiku akan meninggal?' pikir Wulan, hatinya bergejolak. Ia sempat merasa lega saat suaminya berjanji tidak akan meninggalkan negeri ini, tapi kenyataan bahwa ia harus pergi tetap membuat Wulan takut, khawatir tragedi yang sama akan terulang. "Wulan..." panggil kakaknya lembut. Wulan tak menjawab. Kepalan
Wulan menatap kakaknya dengan mata tajam, dadanya berdebar kencang. "Aku tidak peduli musuh keluargaku siapa. Kalau dia berani mendekati suamiku, aku tidak akan tinggal diam," ujarnya tegas, suaranya rendah tapi penuh tekad. Ratna menatap Wulan, seolah menilai keseriusan adiknya. "Baiklah, Wulan. Aku percaya dengan instingmu. Tapi kita harus merencanakan semuanya dengan hati-hati. Jangan sampai gegabah, nanti malah jadi celaka sendiri," ujarnya menenangkan. Roni yang sedang fokus dengan laptopnya segera menoleh, "Benar Wulan, jangan gegabah kita harus membuat rencana dengan baik, kami akan membantumu," jelasnya. Wulan mengangguk, kemudian membuka ponselnya. Ia segera menelpon Jonathan, memberitahukan semua informasi yang dimilikinya mulai dari foto Jason, alamat, dan gerak-gerik mencurigakan yang ia lihat di supermarket. "Dengar Jonathan! ," suara Wulan terdengar tegas. "Aku yakin pria ini tidak akan bergerak sendirian, pasti dibelakangnya ada seseorang yang menyuruhnya. Aku
Wulan menahan napas, bersembunyi di balik rak-rak supermarket sambil mengamati pria berbaju hitam itu. Pria itu tampak terburu-buru, sesekali menoleh ke sekeliling seolah memastikan tidak ada yang memperhatikannya. 'Dia sangat berhati-hati,' pikir Wulan, alisnya berkerut. 'Kalau dia cuma pegawai biasa, kenapa bersikap seperti ini?' Wulan merapat ke sudut rak, berusaha mendekat tanpa ketahuan. Pria itu menurunkan salah satu kardus ke lantai, membuka tutupnya sebentar, lalu menaruh sesuatu yang tampak mencurigakan. Setelah itu, ia berjalan ke arah pintu keluar supermarket sambil membawa kardus itu. Wulan segera mengikuti dengan hati-hati, memastikan langkahnya tak terdengar. Namun, nasib sial menghampirinya. Ia menabrak seseorang yang tiba-tiba tersenyum lebar menatapnya. "Wulan, kenapa kamu datang ke sini nggak bilang-bilang?" ujar pria yang lebih tua darinya. "Aduh, Mas Roni, kamu ngagetin aja. Udahlah, minggir dulu, saya lagi ngikutin seseorang," jawab Wulan sambil mendoro
"Delapan ratus juta," ujar Reni dengan lantang. Ia menoleh ke arah Wulan dengan tatapan meremehkan, namun Wulan hanya memutar bola matanya tanpa terpengaruh dengan tatapan mengejek Reni. Dengan cepat, ia mengangkat tangannya, membuat beberapa orang yang hadir menatapnya dengan antusias. "Satu miliar," tegas Wulan. Pelelang dan sosialita yang hadir ternganga. Tidak ada yang menyangka Wulan akan menawar setinggi itu. Bisik-bisik dari belakang membuat Reni semakin panik. "Sialan… bagaimana bisa dia menawar sebanyak itu?" Reni menatap Sari dengan wajah panas. Reni hanya tahu Wulan adalah istri pemilik Suryani Grup, tapi ia tak pernah membayangkan bahwa Wulan bisa membeli berlian dengan harga satu miliar. Sekarang Reni kebingungan, tidak tahu bagaimana bisa menandingi Wulan. "Kamu bilang dia tidak punya banyak uang," bisik Reni kepada Sari. Sari menunduk, menggaruk ujung kukunya, takut untuk menatap Reni. "Aku… aku tidak tahu kalau Wulan punya uang sebanyak ini. Aku pikir Wul
Suara gong bergema di aula pelelangan, memecah bisik-bisik sosialita yang hadir. Seorang pria berpakaian rapi, jas hitam dan dasi merah, melangkah ke podium. Ia adalah pelelang, yang tersenyum profesional ke arah para hadirin. "Selamat siang, hadirin sekalian," ucapnya lantang. "Hari ini kita akan memulai pelelangan untuk beberapa berlian istimewa yang ada di sini. Terdapat sepuluh berlian dengan kualitas terbaik di kota ini," ujarnya sambil menunjuk deretan kotak berlian yang tersusun rapi di atas meja. Semua mata menatap kagum ke arah berlian-berlian itu. Bahkan dari kejauhan, kilau mereka tampak memukau. Tatapan hadirin tertuju pada seorang pelayan yang membawa sebuah kotak tertutup kain merah, menambah rasa penasaran semua orang. "Selain sepuluh berlian ini, ada satu berlian yang sangat istimewa dan hanya ada satu di dunia," lanjut pelelang, menunjuk ke kotak utama di belakangnya. "Peserta bisa ikut melelang berlian istimewa ini dengan syarat membeli salah satu dari sepuluh







