LOGINGunawan menatap Wulan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Tidak ada lagi kesombongan seperti biasanya. Tidak ada lagi senyum meremehkan yang selalu ia tunjukkan setiap kali berhasil menjatuhkan orang lain. Yang tersisa hanya seorang pria yang akhirnya harus menerima kenyataan bahwa semua yang ia bangun selama ini runtuh di depan matanya sendiri. "Selesai, semua selesai," gumam Gunawan. Wulan yang melihat itu segera menatap ke arah Gunawan yang mulai diajak polisi untuk pergi. "Sebentar pak, saya ingin berbincang dengan Gunawan sebentar," jelasnya. Polisi itu mengangguk, ia membiarkan Gunawan dan Wulan untuk berbincang. "Bagaimana? Apa keluarga tidak akan menolongmu?" Gunawan masih menunduk, ia benar benar salah karena membiarkan wanita seperti Wulan berkeliaran. Seharusnya ia membunuh Wulan lebih dahulu. "Bagus, bagus sekali Wulan. Kau wanita licik yang berhasil menghancurkanku begitu saja. Kau memang layak disebut ibu yang begitu menyayangi keluarganya." Gunawan t
Gunawan terdiam. Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa begitu sunyi. Hanya suara napas berat dari Baskara, Zevran, dan Jonathan yang masih terdengar di antara ketegangan yang semakin meningkat. Tatapan Gunawan yang sebelumnya penuh kemenangan perlahan berubah menjadi dingin. Namun, ia masih berusaha mempertahankan senyum tipis di wajahnya. "Jadi..." gumamnya pelan. "Akhirnya kau tahu juga." Bagas menatapnya tajam. Ia benar benar tidak menyangka pria yang dulu selalu ia patuhi adalah orang yang sudah menghancurkan keluarganya. "Aku ingin tahu satu hal," lanjut Gunawan sambil melangkah mendekat. "Siapa yang memberitahumu? Siapa yang cukup bodoh untuk membuka semua rahasia itu kepadamu?" Bagas yang ingin menjawab pertanyaan itu, segera ditahan oleh Wulan. Wulan berdiri di depan Gunawan dengan senyum miringnya. "Semua bukti kejahatanmu diberikan oleh putri kandungmu sendiri. Oh ya, aku harus mengatakannya." Wulan menatap ke arah Gunawan tanpa rasa takut sedikitpun. "Putri
Bagas segera menarik tangan Wulan untuk masuk lebih dalam ke ruang bawah tanah. Namun, semakin jauh mereka berjalan, semakin Wulan merasa tempat itu berbeda dari bayangannya. Ia mengira mereka akan menemukan ruangan gelap dan kotor seperti gudang terbengkalai. Tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Lorong panjang itu memiliki lampu dinding berwarna hangat yang menyala sempurna. Lantainya terbuat dari marmer hitam mengkilap. Di sepanjang dinding terdapat kamera keamanan, lukisan mahal, dan beberapa pajangan antik yang terlihat bernilai tinggi. Wulan mengerutkan kening. "Ini... bukan ruang bawah tanah biasa," gumamnya. Bagas mengangguk pelan. Tatapannya tetap waspada. "Gunawan sudah bersembunyi disini cukup lama, bahkan jika bukan orang kepercayaan Gunawan. Tidak ada yang menyangka bahwa gedung tua itu dihuni oleh orang kejam." Wulan hanya mengangguk, mereka segera menyusuri lorong itu sambil mengendap endap. Bagas yang dulu merupakan orang kepercayaan dari Gunawan sudah paham
Bagas menatap Raka cukup lama. Ia bisa melihat sesuatu yang berbeda dari tatapan pria itu. Bukan lagi kemarahan atau kebencian, melainkan rasa kehilangan yang berusaha pria itu sembunyikan. "Raka, apa kamu tidak mau menutup mata Reina? Untuk terakhir kalinya," ujar Bagas, pelan. Namun Raka tidak menoleh. Ia masih menatap tubuh Reina yang kini telah ditutupi oleh kain putih yang telah dibawa pengawal. Ia menatap Seira yang tengah me genggam tangannya. "Bagaimanapun juga, dia pernah menjadi bagian dari hidupmu," lanjut Bagas. Raka mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. Entah kenapa menatap mayat Reina, membuatnya kembali merasa kesal. "Dia melakukan banyak kesalahan," ucap Raka dengan suara rendah. "Dia menyakiti banyak orang." Bagas mengangguk pelan. "Tapi dia juga orang yang menyerahkan bukti untuk menghancurkan Gunawan. Dia bisa saja membawa semua itu dan melarikan diri. Dia bisa saja menyimpan dendamnya sampai akhir. Tapi dia memilih memberikannya kepada kita," uj
Bagas segera mengangguk. Ia bisa melihat amarah yang selama ini disimpan Wulan akhirnya meledak. Wanita itu bukan hanya marah karena kejadian hari ini, tetapi karena luka dari kehidupan sebelumnya yang masih membekas di hatinya. Semua penderitaan yang ia lalui akhirnya ia bisa bayarkan karena berhasil menangkap pembunuhnya di kehidupan masa lalu. "Baik, Wulan," ujar Bagas pelan. Namun sebelum Bagas sempat mengambil ponselnya, Reina tiba-tiba tertawa kecil. Tawa itu bukan tawa bahagia, melainkan tawa seseorang yang sudah tidak memiliki alasan untuk menyembunyikan apa pun lagi. Ia menatap dingin ke arah Wulan. "Kalian benar-benar berpikir semuanya akan selesai hanya dengan menangkapku?" ucap Reina sambil menatap mereka. Wulan mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" Reina mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah dingin. "Aku memang bekerja untuk Gunawan. Aku mendekati Raka karena dia memerintahkanku. Aku membuat Raka percaya padaku, aku mencari informasi tentang keluarga kalian, d
Gunawan terdiam beberapa saat. Untuk pertama kalinya, senyum di wajah pria tua itu menghilang. Tatapannya berubah menjadi dingin, penuh luka dan kemarahan yang selama puluhan tahun ia coba pendam. "Berhenti menyalahkan?Bukankah karena kalian hidupku menjadi hancur seperti ini!" tegasnya. Ia tertawa kecil, tetapi suara tawanya terdengar lebih seperti seseorang yang sudah kehilangan akal sehat. "Kau benar-benar tidak tahu apa pun, Baskara." Baskara tetap mengarahkan pistolnya. "Aku tahu cukup banyak untuk tahu bahwa kamu adalah pembunuh. Dan itu lah kenyataannya." Baskara mengambil ponsel dari sakunya, ia melempar ponsel itu ke arah Gunawan. "Lihat, kalau kau peduli dengan putrimu lebih baik kau menyerahkan diri." Gunawan mengambil ponsel itu, ia menatapnya hingga senyum miring terukir di wajahnya. "Aku tidak peduli dengan dirinya, kalau kau mau bunuh. Bunuh saja," jawabnya, tenang. Gunawan meletakkan ponsel itu di atas meja dengan santai. Tidak ada sedikit pun rasa p
Setelah kepergian Zevran, Wulan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Kelakuan dua putranya itu terlalu menguras energinya yang membuatnya cukup kewalahan. "Kenapa mereka bisa jadi budak cinta yang bodoh seperti itu?" gumamnya lirih, suaranya penuh dengan keletihan dan keputusasaan. Dari arah
Wulan menghembuskan napas panjang, pandangannya menatap ke arah Zevran yang sedang menatapnya penuh akan pertanyaan. "Zevran," panggil Wulan. "Apakah kamu yakin, kalau Sarah yang menyelamatkanmu waktu kecil?" Zevran mengerutkan keningnya, ia diam sejenak mencoba mencerna ucapan dari ibunya. Bayan
Wulan merasa sangat kesal melihat sikap wanita itu, namun ia tetap menahan diri mencoba untuk tidak terprovokasi. Wanita di depannya jelas sekali sedang mencoba menjatuhkan martabatnya dan Wulan tahu jika ia terpancing hal itu hanya akan memperburuk keadaan. "Saya tidak bekerja di sini, Bu," jawab
Raka terus berjalan sambil menggenggam tangan Reina, hingga sampailah mereka di depan kelas. Reina yang sedari tadi merasa janggal dengan sikap Raka segera melepaskan genggaman tangan itu. "Kamu kenapa Rak?apa ada yang salah?" tanyanya sambil menatap pria di hadapannya. Raka masih diam, seolah ia







