LOGIN"Pria culun itu suamiku?" "Jangan begitu. Dia pria pilihan papamu. Dia sopan dan pria bersih. Lebih dari itu, dia adalah cucu pemilik kontrakan tempat papamu merintis karir. Dia keturunan orang baik." "Ogah, Ma." "Kalau gak mau, jangan harap papa serahkan gedung serba guna itu buatmu. Dan kamu tidak boleh meminjamnya secara gratis. Bayar secara profesional. Jangan bilang papa kejam, gajimu sebagai fashion desainer terkenal pasti mampu bayar biaya sewa," ucap sang ayah dibumbui ancaman. Dan ... berhasil. "Okay, aku ... aku bersedia menikah dengannya." Tanpa pikir panjang Areta setuju. Karena saldo direkingnya ... berupa deretan angka yang miris untuk disebutkan. Bagaimana kehidupan pernikahan Areta dan suami culunnya?
View More“Sorry, Miss Areta. Your card cannot … maybe over limit.”
Areta membeku. "Sial. Ini tidak boleh terjadi," batinnya gusar.
Ia menggenggam kuat kartu itu, wajahnya memanas. “Coba sekali lagi.”
Pelayan menggeleng sambil tersenyum kaku. “Still the same, Miss.”
Areta menelan ludah. Tas jinjingnya hanya berisi bedak, lipstik, dan permen karet. Tidak ada uang tunai. Tidak ada cadangan. Penjualan koleksi busananya habis untuk sewa model, gedung runway, dan biaya hidup dua bulan di Eropa.
Dan sekarang … ia resmi bangkrut.
Teman-temannya tergeletak mabuk di sofa, sama sekali tidak bisa diandalkan.
“Excuse me,” ucap Areta dengan senyum tipis. Ia mengangkat ponsel untuk memberi isyarat ingin menelpon dan bergegas ke sudut bar yang gelap, tempat lampu neon berubah menjadi bayangan samar.
Satu-satunya orang yang mungkin bisa menolongnya adalah orang yang tidak ingin ia hubungi.
Telepon tersambung.
“Ma ...,” sapa Areta dengan suara lembut, berusaha menghapus sisa nada bossy yang biasa digunakan di dunia kerja.
“Kau ... masih berani menghubungi mamamu!” seru Veronica dengan suara nyaring.
Areta menjauhkan ponselnya sedikit dari telinga, menarik napas panjang sebelum menjawab pelan, “Ma, kirimi aku uang.”
Hening sesaat.
“Kamu sedang ada di bar?” tebak Veronica dingin, samar menangkap dentuman musik di latar.
“Enggak, Ma. Aku … di depan toko,” jawab Areta cepat, suaranya bergetar halus, mencoba menambal kebohongan dengan sedikit harapan.
“Sudah berbohong. Sekarang malah berani minta uang. Nggak.” Veronica tegas menolak. Walau ia sedang dirundung cemas. Bagaimana tidak cemas. Anak gadisnya kelayapan dua bulan gak ada kabar.
“Please ma .... Iya, aku memang ada di bar. Tapi aku gak minum, sumpah. Mama tahu sendiri, aku alergi alkohol. Aku cuma pesan jus.” Areta mencoba terdengar tenang. “Tapi aku traktir teman-temanku, Ma. Masa aku tiba-tiba bilang gak punya uang? Mau ditaruh di mana mukaku?”
“Ini kebiasaanmu yang gak pernah berubah. Terlalu royal sama orang lain, tapi kalau sudah kepepet, siapa yang kamu telepon? Teman-temanmu? Enggak, kan? Masih mama juga yang harus membereskan. Katamu cuman dua minggu kenapa jadi dua bulan. Kamu buat mama papamu malu. Pulang sekarang juga.”
“Kan aku gak punya uang. Mana bisa langsung pulang. Masa mama suruh aku menggelandang di Milan buat cari uang ongkos pulang. Itu tega namanya.”
“Lalu yang kemarin kamu lakukan apa namanya? Kamu juga tega. Membiarkan mama sama papamu harus berbohong ke calon besan dan calon mantu kami.”
“Aku tahu aku salah.”
“Bagus kalau sadar.”
“Jadi …?”
“Tidak akan.” Jawaban Veronica meluncur cepat, tanpa jeda.
Areta menutup mata, menahan helaan napas panjang. Kali ini ibunya benar-benar keras. Tapi Areta belum menyerah. Ia menegakkan tubuh, bersandar ke dinding dingin di sudut bar, dan menyiapkan kartu terakhirnya.
“Aku gak mau nikah.”
“Ya sudah jangan harap mama kirimi uang.”
“Mama mau pekan depan nama papa tampil di berita online. Areta Nindiya Kusuma, fashion desainer terkenal, putri dari pengusaha Rajes Kusuma ditemukan terbujur kaku di trotoar kota Milan karena menggelandang?” Areta berusaha memprovokasi mamanya.
“Areta!” bentak Veronica sampai membuat Rajes, yang baru hendak masuk ruang kerja, spontan mundur dan menutup pintu lagi.
“Ayolah, Ma. Yaudah. Aku janji kalau mama kirimi aku uang pulang. Aku mau temui calon mantu idaman papa itu. Tapi urusan nikah masih aku pikirkan. Aku mau lihat kayak apa pria idola papa itu.”
Veronica tidak langsung menjawab. Ia menimbang dan mengukur. Karena ia dikaruniai seorang putri yang banyak akal.
“Ya sudah.” Akhirnya sang mama berhasil diluluhkan.
Yes! Areta mengepalkan tangan senang karena usahanya membuahkan hasil.
Orang yang paling gampang ia bujuk adalah mamanya sendiri. Gampang terenyuh.
“Sepuluh ribu euro deh, Ma. Sekalian buat ongkos pulang.”
“Berikan ponselmu ke pelayan bar,” potong Veronica tanpa menggubris nominal absurd itu.
“Ma, mereka pakai bahasa asing loh,” elak Areta.
“Berikan ....”
“Mama bisa?”
“Cepat Berikan. Atau kamu mau mama batalkan.”
“Jangan. Okay, sebentar, Ma.” Areta mendesah, lalu menghampiri pelayan pirang yang masih menunggu di meja.
“I am mommynya Areta. How much I buyer the bill?” ujar Veronica lantang dari seberang sana, dengan bahasa asing ala kadarnya.
Pelayan itu berkedip bingung. “Buyer München? Are you Bayern München fan, madam? Wow, me too! But—”
“Hah?” Veronica panik. “Areta! Areta!” serunya lantang.
Mendengar teriakan Veronica, pelayan buru-buru mengembalikan ponsel ke Areta.
Sudah kuduga, gumam Areta dalam hati.
“Gimana, Ma?” tanyanya pura-pura polos.
“Kamu foto billnya saja,” ucap Veronica ketika gagal berbincang dengan pelayan bar karena kendala bahasa.
“Tuh kan apa aku bilang.”
“Cepat.”
Dengan senyum penuh kelegaan, Areta memotret bill dan mengirimkannya. Foto Bill terkirim.
“Mama akan kirim lima ratus euro. Tiket pulang biar mama yang beli dari sini. Dan jangan coba-coba pesan penerbangan ke Tokyo, Areta. Mama sudah pantau semua akunmu.”
“Tapi buat bayar hotel juga."
"Itu jadi tanggunganmu sendiri. Siapa suruh pergi lama."
Negosiasi sepertinya buntu. "Oke, Ma,” jawab Areta pelan.
Dalam hati ia mengumpat kecil. Rencananya memperpanjang masa tinggal sampai visanya habis resmi gagal total.
#
"Siapa, Ma?" tanya Rajes yang kembali masuk ke ruang kerja setelah memastikan istrinya tak lagi marah.
"Siapa lagi."
"Areta?"
"Hm."
“Ada apa? Dia bikin masalah lagi?”
Veronica menggeleng pelan. “Dia kehabisan uang. Hubungi pemuda itu. Areta setuju dengan perjodohannya. Dia akan pulang.”
Rajes terdiam sejenak lalu terkekeh. “Anak itu kabur dua bulan … sekarang malah menyerahkan diri?”
Veronica hanya tersenyum tipis. “Sepertinya dunia sudah cukup mengajarinya kehidupan.”
"Aku tahu dulu pernah tenar. Tapi aku juga pernah jatuh. Rasanya janggal jika dalam keterpurukan seseorang ada uluran tangan semudah sekarang. Tapi akan menandatanganinya besok. Kamu jangan berpikir karena kontrak ini, aku akan langsung percaya padamu," ucap Areta tanpa menoleh. "Aku masih ingat refleksmu tadi malam. Dan caramu bicara dengan orang Rajawali itu ... kamu tidak terlihat seperti 'asisten' yang takut kehilangan pekerjaan. Kamu terlihat seperti ... seseorang yang sedang memberi perintah."Adam menunduk, menatap lantai ruko yang sudah mulai menua. "Kamu terlalu menyanjungku, Are. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu."Areta menghela napas sebelum akhirnya bicara, "Istirahatlah, Adam. Besok kita mulai babak baru dengan kontrak ini. Dan aku harap, tidak ada lagi kejutan 'ajaib' darimu yang membuatku merasa seperti orang bodoh di rumahku sendiri," pungkas Areta sebelum melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan rapat.Adam menghela napas panjang. Kursi di sampingn
Lampu sorot berwarna putih terang menyapu seluruh panggung saat musik grande mencapai puncaknya. Tepuk tangan riuh bergema di seluruh aula megah tersebut. Pembawa acara dengan suara lantang mengumumkan, “Dan pemenang utama kategori Best Menswear Design tahun ini adalah... Areta Niku dengan koleksi ‘The Hidden Power’!”Areta menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata haru mengalir deras. Ia tidak menyangka jas yang hampir hancur tadi justru menjadi mahakarya yang paling dipuja para juri. Saat ia melangkah ke panggung, ia mendadak berhenti di sayap panggung dan menoleh ke arah Adam.“Adam, ikut aku. Ini juga hasil kerjamu,” tarik Areta tanpa menunggu jawaban.Adam sempat ragu, namun tarikan tangan Areta begitu kuat. Ia melangkah ke tengah panggung dengan kacamata tebal yang masih bertengger di hidungnya. Namun, di bawah lampu panggung ribuan watt, aura CEO-nya tidak bisa lagi disembunyikan. Tubuhnya tegak, langkahnya mantap, dan meski ia berpakaian sederhana sebagai “asisten”, ia
Adam melihat keraguan di mata Areta mulai bercampur dengan rasa kagum yang berbahaya. Ia tahu, jika ia membiarkan Areta terus menganalisis wajah dan refleksnya, penyamarannya sebagai pria biasa dari Ambulu akan runtuh malam ini juga.Dengan gerakan yang tenang namun pasti, Adam tidak mundur. Sebaliknya, ia justru menarik tangan Areta yang masih memegang kacamatanya, membawa tubuh istrinya itu selangkah lebih dekat hingga aroma kain dan lavender dari rambut Areta memenuhi indranya."Are," bisik Adam. Suaranya kini tidak lagi terbata-bata, melainkan rendah dan sangat dalam, jenis suara yang biasa ia gunakan untuk memenangkan negosiasi triliunan rupiah.Areta tersentak, namun ia tidak menarik diri. Ia seolah terhipnotis oleh tatapan mata Adam yang kini terlihat sangat tajam dan jernih tanpa penghalang lensa."Aku hanya pria yang kebetulan sangat beruntung bisa menikahimu," lanjut Adam, suaranya nyaris berupa desiran di dekat telinga Areta. "Apa itu belum cukup untuk menjawab rasa pen
Setelah pelanggan pengantin itu pulang dengan wajah puas, Areta mengembuskan napas panjang. Ia merasa lelah namun senang karena deposit awal sudah masuk ke rekening butiknya. Ia melangkah menuju meja jahit, bermaksud mengambil ponselnya di dalam tas untuk mengecek saldo.Namun, saat jemarinya merogoh ke dalam tas, ia merasakan sesuatu yang sangat lembut—jauh lebih lembut dari sutra manapun yang pernah ia miliki. Areta menarik keluar benda tersebut.Matanya membelalak. Itu adalah potongan kain Wool-Silk langka yang tadi baru saja sampai. Namun, yang membuat jantungnya berdegup tidak karuan adalah bentuk potongan kain itu. Potongan tersebut membentuk pola “Hati” kecil yang sangat simetris dan dipotong dengan sangat rapi, seolah dikerjakan dengan gunting presisi tinggi.Areta terdiam sejenak, memandangi potongan hati itu di telapak tangannya. Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum tipis yang tulus. Ia menoleh ke arah dapur, di mana Adam sedang sibuk menata gelas-gelas b






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.