Masuk“Aku sendiri kurang tahu detailnya,” lanjut Marlina sambil menggaruk kepalanya pelan. “Katanya semua akan dijelaskan ketika kamu bertemu dengan pengacaranya. Tapi aku yakin kalau ini tidak akan merugikanmu. Pacar pasien itu orang berpengaruh. Mungkin saja dia bisa membantu membuka akses pengobatan yang lebih baik untukmu.”
Setelahnya, Marlina berbalik ke arah para koas yang mengikutinya, deng
Belinda berdiri sedikit lebih tinggi karena anak tangga yang ada di dekat pilar lobi, membuatnya seolah menatap dari atas meskipun tubuhnya sebenarnya lebih pendek dari kebanyakan orang di sana.“Sebagai wartawan, kalian seharusnya objektif dan adil, bukan?” ucap Belinda tenang. “Jujur, aku meragukan profesionalisme kalian. Kalian cepat sekali menyebutku selingkuh dan hamil dengan pria lain, seolah-olah kalian melihatnya sendiri. Mana buktinya?”Pertanyaan itu membuat para wartawan tertegun sejenak. Bisik-bisik pun merebak, disertai tatapan gelisah yang saling berkelindan.Hingga akhirnya seorang wartawan memberanikan diri memecah kesunyian. “Kalau ibu tidak bersalah soal perselingkuhan, kenapa memilih menggugurkan kandungannya diam-diam?”
Tepat ketika Belinda selesai bicara, lift berhenti. Pintu pun terbuka. Belinda tersenyum singkat pada Alan. “Aku duluan.” Kemudia ia melangkah keluar.Yang tidak Belinda sangka, lantai dasar RS Sejahtera Internasional hari itu riuh seperti lobi mal di jam pulang kantor. Kerumunan memenuhi area dekat pintu masuk. Wartawan dengan kamera, mikrofon, dan ponsel yang menyala, berebut sudut terbaik di bawah lampu-lampu putih. Bunyi rana kamera terdengar bertubi-tubi.Di pusat keributan itu, Cantika nampak malu-malu, menunduk manis seakan tak terbiasa dengan sorot kamera. Di belakangnya, Arga berdiri sedikit melindungi dengan ekspresi lembut dan memanjakan.“Cantika Maheswari, beredar di media sosial kabar kalau Arga Mahardika memamerkan hubungan kalian untuk membalas istrinya yang selingkuh. Apa tanggapan
Senyum Alan langsung kaku. Ia menoleh canggung ke arah Arga dan Belinda. “Arga, aku cuma bercanda. Kenapa kamu khawatir banget?”Berbeda dengan Alan yang agak gelagapan, Tommy justru blak-blakan mendengus. “Kamu saja nggak menghargai Belinda, jadi wajar kalau ada orang lain yang mau menghargainya. Kalau kamu memang serius mau cerai, kenapa kamu terganggu kalau ada yang tertarik pada Belinda?”Lalu, menoleh ke Alan, Tommy melanjutkan. “Lagipula aku suka Alan. Memang dia baru balik ke Indonesia dan kariernya belum seberapa, tapi setidaknya urusan pribadinya tidak berantakan. Nggak kayak sebagian orang yang memperlakukan mantan yang dulu ninggalin dia layaknya emas berharga!”Ucapan Tommy membuat Arga mengerutkan dahi. “Kakek, aku sudah coba jelaskan. Kakek salah paham soal Can
Tak lama, pelayan datang membawa pesanannya. Tanpa banyak bicara, Belinda menunduk dan mulai makan.Arga mengamati Belinda yang sibuk makan dan tidak terlalu tertarik menghabiskan sandwich miliknya sendiri.Setelah sarapan selesai, mereka pun keluar bersama, berjalan dalam diam yang kaku. Bahkan meskipun koridor rumah sakit itu penuh dengan orang berlalu lalang, tapi Belinda dan Arga seolah tenggelam dalam kesunyian mereka sendiri.Barulah ketika mereka masuk ke lift menuju ruang rawat inap Tommy, Belinda akhirnya mengangkat pandangannya ke arah Arga.“Pak Arga,” ujar Belinda, nada suaranya bercampur antara kesal dan penasaran. “Tadi kamu sampai ngotot mau sarapan bareng aku, kupikir ada hal penting yang mau dibahas…” Belinda menatap
Belinda menatapnya bingung sekaligus tak percaya. Apa dia salah dengar? Bagaimana mungkin Arga bisa mengatakan hal seperti itu.Keterkejutan di mata Belinda membuat Arga mengernyit. Ia menegakkan badan, lalu berbalik dan melangkah keluar lift. “Anggap saja aku nggak ngomong apa-apa.”Arga sempat menangkap kesedihan di mata Belinda ketika keluarga itu membahas bayi. Kesedihan itu menyentuhnya, memantik simpati untuk anak yang sempat hilang dari pelukan mereka. Namun tatapan tak percaya Belinda seolah menamparnya balik, menyadarkannya bahwa ia sudah melampaui batas. Ia pasti gila kalau berusaha menghibur Belinda dengan kalimat seperti itu.Ketika pintu lift mulai menutup, Belinda tersentak dari lamunannya dan bergegas mengejar Arga. Kemudian mereka berjalan berdekatan dalam diam.
Meskipun Alan bukan bagian dari keluarga Mahardika dan Belinda baru mengenalnya sebentar, tapi reputasinya sudah bukan sesuatu yang asing bagi Belinda. Alan tumbuh bersama Arga, dan kedekatannya dengan Mega pun bukanlah hal baru.Dulu, Mega bahkan pernah mengejar Alan. Dan setiap kali Arga kewalahan dan tak sanggup mengurus masalah Mega, Alan yang turun tangan. Mega cukup mengenal Alan untuk mempercayai pria itu bisa menjaga mulut.Makanya tak ada alasan bagi Alan untuk keluar dari ruangan ini.Keterusterangan Belinda membuat Arga semakin mengerutkan dahinya. Ini adalah sisi Belinda yang tidak biasa. Dulu perempuan ini tak akan berani menahan atau membalas seperti sekarang.“Langsung saja,” ucap Tommy, melirik Arga yang tampak enggan melanjutkan, lalu terkeke







