LOGINSylvia Maheswari Himawan, awalnya ia dijodohkan dengan Edward, anak dari teman ibunya. Namun, di hari pernikahannya, Edward justru menghilang tanpa jejak. Demi menyelamatkan nama baik kedua keluarga, Sylvia terpaksa setuju menikah dengan Edgar yang merupakan saudara kembar dari Edward. Sylvia dan Edgar yang tidak pernah saling mengenal satu sama lain ataupun mencintai. Kini mereka harus tinggal bersama sebagai pasangan suami istri. “Selamat datang, Nyonya muda,” ucap para pelayan Catherine. “Nyonya muda?” Edgar melirik dengan sinis ke arah Sylvia. “Aku tidak sudi mengakuinya sebagai istriku.” Sylvia yang samar-samar mendengar ucapannya Edgar, langsung menoleh. “Kamu bilang apa barusan?” “Tidak penting.” Lantas bagaimanakah kehidupan rumah tangga mereka kedepannya? Apakah cinta akan tumbuh dihatinya Sylvia dan Edgar? Lantas bagaimana dengan Edward? Kemana ia pergi? Apakah benar bahwa Edward sengaja pergi dengan wanita lain di hari pernikahannya dengan Sylvia? Saksikan terus kisah mereka ya. Jangan lupa follow Instagram author: diary942023
View More“Calon suamimu kabur!”
Kaki Sylvia lemas, hingga akhirnya jatuh terduduk. Matanya beralih pada sang mami yang sedang menenangkan calon ibu mertuanya, Catherine. Suara tangisan wanita paruh baya itu pun ikut bersahutan. Wanita itu tampak sangat terpuruk.
“L-lantas… pernikahan kami bagaimana?!”
Sylvia dan Edward memang akan menikah karena dijodohkan oleh ibu mereka yang sudah kenal sejak lama. Selain itu, ada kerja sama dan kesepakatan antara dua keluarga itu yang mempengaruhi bisnis masing-masing.
Namun, Sylvia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Ia sudah mengetahui semua biodata Edward dan berpikir bahwa dirinya bisa bersanding dengan pria tampan, hebat, kaya, dan secerdas Edward dalam membangun bisnis kedua keluarga.
Akan tetapi, kenapa rencana itu semua harus hancur hari ini!?
“Edward-ku….” Sang calon ibu mertua berkata sambil terisak. “Tidak mungkin dia mempermalukan keluarga kami seperti ini….”
Sekarang, keadaan menjadi kacau. Catherine, ibu Edward, menjelaskan sambil terisak bahwa adiknya yang bernama Frans melihat Edward keluar dari Hotel Grand bersama seorang wanita. Ia ingin mengejar, tapi terlanjur kehilangan jejak.
Sampai akhirnya, baru ketahuan bahwa Edward belum juga tiba di gereja, padahal tinggal 30 menit sebelum pemberkatan.
“Edward… bagaimana bisa….”
Sylvia sekarang tidak lagi sedih, tapi lebih merasa marah. Bagaimana mungkin Edward bisa meninggalkannya demi wanita lain.
Semua rencananya untuk menjadi pasangan paling berpengaruh untuk membesarkan perusahaan keluarganya bisa hancur jika begini. Ia bingung harus bagaimana sekarang, terlebih sudah banyak rekan bisnis yang datang.
Tok! Tok!
Di tengah kemarahan dan kebimbangan Sylvia, pintu kembali diketuk. Mata Sylvia terbelalak saat melihat seorang pria tinggi yang sedari tadi mereka bicarakan, berjalan mendekat ke arahnya.
Sylvia langsung berdiri. “Edward?! Mereka bilang kamu–”
“Edward?” Pria itu mendengus. “Jangan bercanda, aku tidak sudi disamakan dengan pria kaku itu.”
“Untunglah kamu datang tepat waktu!” Sebelum Sylvia bertanya lagi, Catherine angkat bicara. “Sylvia, perkenalkan ini putra kedua Tante, namanya Edgar.”
Sylvia mengerutkan dahi. ‘Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Edward?’
“Dia ini saudara kembarnya Edward,” Catherine melanjutkan.
Kembali, Sylvia merasa heran.
‘Kembaran Edward? Kenapa Tante Catherine gak pernah cerita?’ pikir Sylvia.
Seingat Sylvia, selagi membaca biodata Edward, tidak ada sama sekali keterangan kalau pria itu memiliki saudara, apalagi kembaran.
Semua itu seolah disembunyikan rapi-rapi oleh keluarga ini.
‘Apa yang terjadi dengan keluarga ini?'
Sementara itu, Edgar menatap sinis ke arah Sylvia, bahkan melihatnya dari atas sampai bawah.
“Aku tetap gak setuju, Bu.” Pria itu kembali berkata dengan suara yang terdengar lebih berat dari suara Edward, sambil melipat tangannya di dada. “Kenapa pernikahan ini gak ditunda aja, sampai Edward ditemukan?”
“Kita gak bisa menunggu,” tukas calon ibu mertua Sylvia. “Lagi pula, kamu menikah bukan atas dirimu, tapi atas nama Edward–”
“T-tunggu!” Sylvia tampak bingung dengan percakapan ibu dan anak itu. “Apa maksudnya dia yang menikah denganku?”
Catherine dan Larissa tampak berpandangan, sebelum akhirnya Catherine berucap, “Pernikahan ini akan tetap dilaksanakan. Edgar-lah yang akan menggantikan posisinya Edward sebagai pengantin prianya.”
Mata Sylvia membulat. Dengan menahan sedikit amarahnya Sylvia berucap, “Tante. Ini perjodohan antara diriku dan Edward, bukan dengan anak Tante yang lain!”
Sylvia sedikit tidak percaya dengan ide gila barusan. Keluarga ini … kenapa seperti mempermainkannya begini!?
“Hei, kamu!” Edgar mendekati Sylvia dan berdiri dengan angkuh di depannya. “Aku juga gak mau menikah dengan perempuan sombong sepertimu.” Edward berucap sambil menunjuk Sylvia.
“Edgar!” bentak Catherine setelah mendengar ucapan anaknya.
Edgar tampak mendengus, menghindari tatapan marah ibunya. Gaya bicara Catherine saat membicarakan Edward, dan saat berbicara dengan Edgar, membuat Sylvia terdiam sejenak.
Sampai akhirnya, ia kembali disadarkan ketika Catherine meraih tangannya dan berbicara sambil terisak.
“Sylvia. Tante ngerti, tapi situasinya mendesak. Kamu pasti menyadari juga kalau pernikahan ini dibatalkan, maka hal ini bisa mencoreng nama baik kedua keluarga kita. Bahkan yang lebih buruknya lagi, perusahaan Tante dan bisnis Mami kamu akan goyah….”
Sylvia tidak mengatakan apa pun, berat untuk menyetujui ucapan Catherine.
“Kemampuan Edgar di bidang bisnis memang gak sebagus Edward. Namun, Edgar juga lulusan luar negeri seperti Edward. Yang terpenting sekarang, pernikahan kedua keluarga ini tetap berlangsung, dan tamu-tamu di sana tidak kecewa.”
Sylvia lagi-lagi bisa mendengar dengusan Edgar. Pria itu tampak acuh tak acuh saat melihat ekspresinya Sylvia yang seakan tidak percaya ketika ibunya menjelaskan mengenai latar belakang pendidikannya.
Sylvia mulai berpikir. Keluarganya menginginkan pernikahan ini demi kelancaran perusahaan. Dari awal, ia memang merasa Edward adalah calon yang tepat.
Namun, benar ucapan Catherine. Jika pernikahan mendadak dibatalkan, bukan hanya nama keluarga Edward yang tercoreng, tapi juga keluarganya. Mereka mungkin akan berpikir, seburuk apa calon pengantinnya sampai Edward melarikan diri.
‘Baiklah. Berhasil atau enggak, kita hanya perlu melalui ini,’ tekad Sylvia dalam hati.
Sylvia menatap Edgar, tapi pria itu masih tampak tak peduli. “Baik, mari kita lanjutkan pernikahan ini.”
Setelah menemui Edgar, Sylvia kembali masuk kedalam rumah. Saat melihat Sylvia melintas, Oma Beatrice yang sedang membaca buku, langsung menurunkan kacamata nya."Ada siapa diluar?" tanya Oma Beatrice.Seketika langkah Sylvia pun terhenti. "Cuma kurir aja, Oma. Mau nganterin barang, tapi alamatnya salah.""Yakin, cuma kurir?" tanya Oma Beatrice."Yakin, Oma." Sylvia menyahut sambil menganggukkan kepalanya.Oma Beatrice kembali memakai kacamata nya untuk melanjutkan membaca buku. Sedangkan, Sylvia yang merasa lega karena Oma Beatrice percaya dengan ucapannya, ia langsung bergegas pergi ke kamar nya. Selang 5 menit kemudian, Sylvia kembali turun ke lantai bawah."Kamu mau kemana?" tanya Beatrice."I-itu, Oma. Aku mau ke butik, sebentar. Aku mau diskusi sama asisten pribadi ku," ucap Sylvia."Butik? Oma ikut dong. Oma pengen liat butik kamu dan ibu mu," pinta Oma Beatrice.Mendengar permintaan Oma Beatrice, Sylvia tentu saja panik. Ia pun mencoba memikirkan cara, agar Oma Beatrice tidak
Hanya karena ponselnya Sylvia tidak bisa dihubungi, hal tersebut membuat Edgar berasumsi bahwa Sylvia sedang bersama client yang jauh lebih tampan darinya. Dengan terburu-buru, Edgar pun pergi dari kantor. Selang 45 menit kemudian, Edgar akhirnya sampai di butik milik maminya Sylvia.Setelah turun dari mobilnya, Edgar bergegas masuk kedalam butik. Namun, ketika berada didalam butik, Edgar hanya melihat Elis yang merupakan asisten pribadi Sylvia, yang sedang berbincang dengan salah satu client. "Mmm ... Elis! Apa Sylvia ada di dalam?" tanya Edgar.Elis pun menoleh. "Tidak ada, pak. Hari ini Bu Sylvia tidak datang ke butik.""Kamu gak membohongi saya, kan?" "Sama sekali tidak, pak. Jika pak Edgar tidak percaya dengan ucapan saya. Silahkan periksa sendiri diruangan pimpinan." Elis berucap seraya menunjuk ke arah salah satu ruangan yang biasa dipakai oleh Elis, ketika sedang bertugas di butik.Dengan langkah cepat, Edgar pun pergi ke ruangan yang dimaksud oleh Elis. Namun, ia dibuat her
Setelah mendapatkan saran dari Andre, Edgar langsung menghubungi pengacara nya untuk membuat kan surat pembatalan pernikahan. Sementara itu disisi lain, Larissa yang sudah mengetahui bahwa putrinya sudah berada di rumahnya, ia pun pergi ke kamar Sylvia. Sesampainya didepan kamar Sylvia, Larissa terlebih dahulu mengetuk pintu, sebelum ia masuk kedalam.Tok! Tok! "Sayang, ini mami. Mami boleh masuk ke dalam?" tanya Larissa."Boleh, mami. Masuk aja. Pintunya gak dikunci," ucap Sylvia dari dalam kamar.Mendengar ucapan putrinya, Larissa langsung membuka pintu kamar Sylvia. Saat melihat Sylvia sedang duduk di meja kerjanya, Larissa pun bergegas menghampiri Sylvia. "Kamu lagi ngapain, sayang?""Biasa, mi. Aku lagi ngelanjutin desain yang kemarin belum selesai," ucap Sylvia.Larissa pun menghela nafasnya. "Huft! Kalau begitu, mami gak bisa minta tolong sama kamu dong."Mendengar ucapan maminya, Sylvia langsung berhenti mendesain dan menoleh ke samping. "Minta tolong apa ya, Mi?""Mmm ... Be
Disisi lain, Edgar yang sudah sampai di kantor, ia langsung bersiap untuk rapat pagi ini. Meskipun ruangan kerjanya terlihat tampak sepi tanpa adanya kehadiran Sylvia, Edgar harus semangat dan bersikap professional. Pagi itu, untuk mengalihkan pikirannya, Edgar menyibukkan diri dengan setumpuk pekerjaannya. Mulai dari rapat dengan para kepala divisi kantor, hingga rapat dengan 2 klien pun ia lakukan.Siang harinya.Setelah lelah dengan setumpuk kegiatan pada pagi hari, Edgar akhirnya bisa duduk santai di ruangannya. Namun, baru sejenak ia beristirahat, Andre justru masuk ke ruangannya."Ahh!! Akhirnya aku bisa istirahat juga." Edgar berucap sambil melonggarkan dasinya.Ceklek! "Lagi nyantai kayaknya nih." Andre berucap sambil melangkah masuk kedalam ruangan Edgar."Lo mau ngapain sih kesini? Ganggu gue aja," tanya Edgar."Ngapain ya? Mmm... Gak ada. Gue lagi gabut plus boring aja. Makanya gue main kesini," ucap Andre.Ketika Andre melirik ke arah sofa tempat biasa Sylvia duduk, ia pu
Tidak adanya sahutan dari putranya, hal itu membuat Catherine merasa bingung. Ia pun mencoba memanggil putranya. Tak lama barulah Edgar menyahuti ibu."Halo... Gar. Edgar! Kamu masih ada disana kan?" tanya Catherine."I-iya, bu. Edgar masih disini," ucap Edgar."Kamu tadi kenapa diem? Lagi ngelamun
Mendengar ucapan suaminya, seketika kedua pipi Sylvia langsung memerah. Melihat hal itu Edgar pun bertambah gemas. Lalu, ia pun merangkul pinggang istrinya. Saat Edgar akan mencium bibir istrinya, tiba-tiba seseorang pun masuk kedalam ruangannya.Ceklek! "Oow... Sorry... Sorry, gue gak liat." Andr
Edgar pun mengambil jasnya. Setelah jas nya dipakai, Edgar dan Sylvia langsung keluar dari kamar. Tak lama ia pun sampai di meja makan. Melihat ibu mertuanya belum berada di meja makan, hal itu pun membuat Sylvia heran."Ibu kemana? Tumben belum ada di meja makan? Biasanya, ibu yang lebih awal, had
Beberapa menit kemudian.Setelah makan malam yang dibuat oleh Wira sudah siap, ia langsung membawa makanan tersebut ke dalam rumahnya. Tak lama kakek Teguh pun duduk di tikar plastik untuk menyantap makan malam bersama cucunya. Berhubung pria yang mereka selamatkan dipinggir sungai sudah siuman, ka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews