Home / Romansa / Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku / Bab 54. Stalking I*******m

Share

Bab 54. Stalking I*******m

Author: Magnolia Lily
last update publish date: 2026-10-09 21:40:08

Bahkan teman-teman dekat Raline tak ada yang pernah masuk ke dalam kamarnya dengan sang suami.

Bagaimana orang asing bisa ada di tempat yang sama persis dengan kamarnya? Tidak mungkin kebetulan, kan?

"Atau..." Matthias kembali melanjutkan ucapannya, "Kalian punya arsitek yang sama dan arsitek itu memberi referensi desain interior kamarmu lalu orang itu menyukainya."

Raline terdiam.

Itu mungkin saja terjadi, tetapi masalahnya dekorasi kamar miliknya sepenuhnya ditata oleh Raline sendiri. Dari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 54. Stalking I*******m

    Bahkan teman-teman dekat Raline tak ada yang pernah masuk ke dalam kamarnya dengan sang suami. Bagaimana orang asing bisa ada di tempat yang sama persis dengan kamarnya? Tidak mungkin kebetulan, kan?"Atau..." Matthias kembali melanjutkan ucapannya, "Kalian punya arsitek yang sama dan arsitek itu memberi referensi desain interior kamarmu lalu orang itu menyukainya."Raline terdiam. Itu mungkin saja terjadi, tetapi masalahnya dekorasi kamar miliknya sepenuhnya ditata oleh Raline sendiri. Dari memilih ornamen, lampu, ukuran kasur, tata letak barang, sampai warna dinding. Di foto itu, tidak seperti replika tapi seperti Gita memang berfoto di dalam kamarnya. "Coba aku lihat lagi."Raline mengambil kembali ponselnya. Kali ini dia stalking unggahan Instagram Gita bersama Matthias yang juga melihat dari samping. "Dia siapa, Raline?""Menantu teman Ibuku, istri teman suamiku.""Jadi maksudnya, keluarga kalian punya hubungan baik dengan keluarga suami wanita ini?""Ya. Bisa dibilang begit

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 53. Omakase Date

    Kata-kata dari Matthias seolah mensugesti ketakutan Raline. Benar. Raline tidak perlu takut. Kalaupun hal tak terduga terjadi, dirinya harus yakin bahwa dia mampu melewatinya. "Terima kasih."Matthias lagi-lagi mengelus rambut halus perempuan itu. "Mau makan siang bersama atau mau langsung pulang?""Aku mau makan sushi.""Baiklah. Ayo makan sushi."Matthias lantas memerintah sang supir untuk mencari restoran sushi enak terdekat melalui internet. Raline bisa saja meminta pulang langsung, tapi entah kenapa akhir-akhir ini rumahnya terasa menyesakkan. Apalagi setelah mendengar kabar ini. Dia selalu merasa ada yang hilang di rumah itu, tetapi tidak tahu apa. Ketidakpastian itu membuatnya frustasi.Matthias memesan private room dengan konsep omakase yang cocok untuk memperbaiki suasana hati. Tampaknya Raline pun setuju dengan pilihan Matthias. Wajahnya terlihat cerah dan bersemangat saat chef memberi informasi tentang makanan yang akan dihidangkan. Suasananya intimate dan tenang. De

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 52. Ketakutan Lainnya

    Jantung Raline berdetak kencang. Dia hampir tidak bisa mempertahankan tubuhnya sendiri. Kakinya lemas. "Siapa wanita itu, Dok? Apa kamu melihat wajahnya? Atau mungkin mereka tidak datang berdua tapi bersama orang lain. Berapa kali mereka datang? Tolong katakan padaku."Dia bertanya dalam satu tarikan napas. Mengeluarkan semua yang ada di kepalanya sampai Theresa kewalahan harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu. Akhirnya perempuan itu meraih tangan Raline, berusaha menenangkannya. "Tenang, Raline. Tenanglah... Jika kamu tidak tenang aku tidak akan cerita sekarang.""Tidak. Bagaimana bisa aku tenang, Dok? Tolong katakan saja."Theresa menarik napas panjang. Dia menuntun Raline untuk duduk di bangku yang tak jauh dari sana. Sementara Matthias diam berdiri berusaha mencerna situasi. "Aku melihatnya tiga kali. Awalnya aku pikir itu bukan Bima tapi setelah bertemu yang kedua kalinya, aku yakin itu Bima apalagi setelah menanyakan secara langsung pada temanku yang menanganiny

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 51. Dokter Theresa Lovina

    Setelah menangis cukup banyak, wajahku memerah dan cukup bengkak. Tak tahu berapa banyak tisu yang telah aku habiskan. Dokter masih menulis sesuatu di kertasnya, sementara aku entah sejak kapan bersandar di bahu Matthias setelah mengeluh kepalaku pusing."Are you oke, Raline?" tanyanya. "Ya. Aku sudah lebih tenang."Tak lama kemudian dokter kembali menatapku dengan ekspresi ramah seperti biasa. "Untuk sementara, saya ingin Anda datang seminggu sekali. Mari kita lihat bagaimana kemajuan kondisi Anda benerapa minggu ke depan."Aku mendengarkannya dengan serius. "Nyonya tidak perlu khawatir dan tetaplah melakukan aktivitas yang positif. Sekarang Anda berada di rumah Anda, bukan lagi di tempat itu. Jika kejadian tersebut terus berputar di kepala Anda, ingatlah bahwa kejadian buruk itu sudah berakhir."Dokter benar. Tak ada alasan kenapa aku harus terpaku pada satu peristiwa itu. Hidupku terlalu berharga untuk berhenti sampai sini saja. Aku selamat dan masih hidup. "Tapi Anda juga ha

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 50. Menggenggam Erat

    "Baiklah. Terserahmu saja." Melawannya hanya buang-buang energi saja. Lihat, dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dan aku mengabaikan hal itu, terserah saja dia mau apa yang penting berhenti mengangguku lagi. Tak lama kemudian, kita sampai di rumah sakit tempat aku melakukan konseling. Dan seperti yang telah aku duga, Matthias tak mau pergi begitu saja. Dia memaksa untuk ikut. Kita sempat beradu argumen di tempat parkir sampai orang-orang melihat ke arah kami. Tanpa diceritakan pun kita sudah tahu siapa pemenangnya. Dia bahkan ikut masuk ke ruangan konseling. Namun kenapa malah dia yang gugup? Lucu sekali. Padahal tadi Matthias sangat percaya diri. Di ruang konseling dia sangat kooperatif. Kami duduk di sebuah sofa berdampingan, berhadapan dengan dokter. Matthias duduk dengan patuh sambil menggenggam tanganku. Meski aku berusaha melepaskannya, dia kembali meraihnya. Dia seolah tengah memberi kekuatan untuk dirinya sendiri bukan untukku. "Kenapa malah kamu

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 49. Tamu Tak Diundang

    "Ah, nggak usah. Ibu bisa telepon Bima nanti." Tidak hanya Ibu yang terlihat canggung, tapi Gita pun ikut menundukkan kepala. Sebenarnya ada apa dengan semua orang? "Mas, kamu nggak suka kita main sama Gita?" tanyaku langsung. Aku yakin sumber kecanggungan ini adalah perempuan itu. "Kenapa bicara begitu sayang?" jawab Bima cepat. "Mas nggak masalah kamu mau main sama siapapun. Mas sedikit kaget saja." "Oh, barangkali emang nggak boleh. Soalnya kalian semua aneh." "Aneh gimana?" tanya Bima lagi. "Ya, aneh aja." Aku tidak bisa bilang kalau situasi ini membuatku tidak nyaman. Bagaimanapun ini adalah pertemuan pertamaku dengan Gita. Tidak baik terlalu mencurigai orang tanpa alasan yang jelas. "Kalau gitu, sudah dulu ya, aku mau pulang." "Iya, Sayang. Hati-hati di jalan yah." Panggilan pun lantas terputus. Setelah itu, suasana sedikit mencair dengan sendirinya. Tidak seperti saat makan, kali ini Ibu bersikukuh membayar seluruh pakaian bayi yang Gita beli. Totalnya l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status