Share

Rencana Licik

Firman masih mendiamkan Savina karena kejadian kemarin. Laki-laki itu sudah termakan hasutan Bu Leni yang mengatakan Savina sebagai menantu tidak becus mengurus rumah tangga.

“Mas, diminum dulu kopinya!” ucap Savina dengan penuh perhatian. Meski Firman bersikap abai dan tidak peduli kepadanya, Savina masih bersikap baik kepada suaminya.

Firman meneguk secangkir kopi yang sudah terhidang di meja. Laki-laki itu menatap lekat kepada Savina yang masih berdiri di hadapannya.

“Vin, apa kamu mencintaiku?” tanya Firman dengan tatapan yang begitu tajam.

“Kenapa Mas, bertanya seperti itu? Seharusnya tanpa bertanya, Mas,  juga tahu kalau aku sangat mencintaimu. Kalau aku tidak mencintai Mas, mungkin aku sudah kembali ke kampung.” Savina berbicara dengan tatapan sendu. Ada kesedihan yang tengah ia sembunyikan di balik tatapan matanya.

“Kalau kamu mencintai Mas, kamu harus bisa mengambil hati ibu. Mas, tahu ini tidak mudah. Tapi bukan berarti hal yang mustahil. Ibu sejatinya sangat menyayangimu Vin, hanya saja ibu tidak bisa mengungakpan perasaannya padamu.” Firman meminta Savina untuk berusaha keras mengambil hati orang tuanya. Laki-laki itu yakin, suatu saat Bu Leni akan menerima Savina seperti menantu-menantu yang lain.

“Mas, dengan cara apa lagi aku mengambil hati ibu? Ibu sepertinya tidak pernah menyukaiku karena aku bukan menantu impian. Aku hanya menantu yang berasal dari desa dan tidak memiliki pendidikan tinggi. Mungkin ibu benar, hidup Mas akan lebih bahagia ketika menikah dengan mantan Mas, yang dokter itu!” Savina berbicara dengan tatapan nanar. Meski dirinya berusaha terus bertahan, tapi Bu Leni tetap saja meremehkan dirinya.

“Vin, jangan menyerah. Sudah tugas kita sebagai anak untuk membahagiakan orang tua. Ibu juga orang tua kamu, jadi sudah sepantasnya kamu berbakti kepada ibuku!” Firman lagi-lagi tidak dapat berbuat banyak. Ia hanya dapat menguatkan Savina untuk bertahan dalam pernikahan mereka.

Savina hanya pasrah. Ia sudah berjanji akan menerima Firman dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Lalu, apa pantas kalau dirinya sekarang menyerah hanya karena Bu Leni yang tidak pernah mau menerimanya sebagai menantu? Setiap rumah tangga ada ujiannya masing-masing, mungkin ujian rumah tangga Savina hadir dari keluarga suaminya.

“Sudah ya, jangan melamun terus. Tolong bantu ibu dan anggap dia sebagai ibumu juga. Aku yakin, suatu saat hati ibu pasti akan terbuka. Kesabaranmu akan berbuah manis!” Firman segera berpamitan dan mencium kening Savina. Ia berharap kalau Savina dan ibunya akan segera berdamai seperti menantu-menantu lainnya.

Sepeninggal Firman, Bu Leni  memanggil Savina. Ia memberi tahu kalau kakak perempuan Firman akan datang berkunjung. Ia meminta Savina memasak beberapa makanan kesukaan putrinya.

“Vin, Rista dan suaminya mau datang ke sini, tolong masak yang enak ya!” ucap Bu Leni kepada menantunya.

“Kak Rista mau ke sini? Tumben, biasanya Kak Rista berkunjung ketika akhir pekan,” jawab Savina kepada Bu Leni.

“Vin, dia itu putriku. Terserah dia mau kapan saja berkunjung ke rumah ini, kenapa jadi kamu yang repot?” Bu Lenin tampak sewot mendengar ucapan menantunya.

“Maaf, Bu. Vina tidak bermaksud apa-apa. Vina hanya bertanya saja.” Savina tampak begitu canggung karena ternyata Bu Lenin tersinggung dengan ucapannya.

“Ini yang membuat Ibu tidak setuju Firman menikahmu. Dari pendidikan saja kalian sudah tidak sederajat, jadi kalau diajak ngobrol juga pasti tidak nyambung. Sudahlah, Ibu pusing. Ibu mau istirahat dan jangan lupa, masak yang enak!” seru Bu Leni dengaan nada ketus.

Savina hanya mengurut dada mendengar ucapan mertuanya. Apa sehina ini menjadi wanita yang hanya memiliki ijazah SMA? Untuk mengenyam pendidikan di sekolah lanjutan saja, Savina dan keluarganya harus banyak berkorban. Bapak yang hanya seorang buruh tani, harus rela bermandi peluh seharian di sawah milik juragan Ramli. Ibunya yang hanya ibu rumah tangga juga tidak tinggal diam. Wanita itu rela bekerja apa saja asalkan menghasilkan uang.

Savina tertunduk dengan air mata yang menetes ketika mengingat pesan bapak dan ibunya sebelum ia dibawa pergi ke kota oleh Firman dan keluarganya.

“Nduk, apa pun yang terjadi dengan rumah tanggamu, kamu harus kuat. Tidak ada rumah tangga yang mudah. Semua memiliki ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan ekonomi, suami, anak dan keluarga. Jadi tinggal bagaimana kamu menyikapinya. Ibu dan bapak menikah hanya sekali dan Ibu berharap kamu juga akan menikah sekali saja seumur hidup!” kata-kata itu kembali terngiang di telinga Savina. Ketika ia ingin menyerah, bayangan wajah ke dua orang tuanya seakan menjadi penguat untuknya terus bertahan bersama Firman.

Savina segera bergegas memasak ikan mujair goreng dengan sambal bawang kesukaan Kak Rista. Tidak lupa lalapan dan sayur asem sebagai pendamping menu utama. Ketika ia sedang menggoreng tempe dan tahu, tamu yang ditunggu-tunggu telah datang.

“Vin, Rista sudah sampai. Kamu segera buatkan minum untuknya!” seru Bu Leni kepada menantunya. Ia tampak tersenyum hangat menyambut kedatangan putri dan menantunya. Sementara Savina tampak sibuk di dapur seperti biasa.

“Rista, Ardi, ayo masuk ke dalam!” Bu Leni tampak begitu bahagia melihat anak dan menantunya berkunjung. Terlebih mereka membawa anak semata wayang mereka yang bernama Alisa.

Ardi dan Rista tampak menyalami Bu Leni dan segera bergegas masuk ke dalam. Dari raut wajah mereka, sepertinya mereka sedang ada masalah sehingga Rista sengaja datang ke rumah ibunya.

“Bu, aku mau cerita sama Ibu,” ucap Rista dengan wajah cemberut.

“Ya, sudah, ayo masuk dulu. Kebetulan Vina sudah selesai memasak!” Bu Leni mengajak mereka masuk ke dalam.

“Kebetulan Bu, aku dan Mas Ardi belum sarapan!” kekeh Rista dengan senyum lebar.

Savina segera menyajikan tiga gelas teh hangat di meja, ketika Savina menyodorkan tangannya untuk bersamalan dengan Rista, wanita itu justru memberikan Alisa kepada adik iparnya.

“Vin, tolong titip Alisa ya, aku mau makan dulu sama Mas Ardi!” ucap Rista tanpa sempat berbasa-basi kepada adik iparnya. Ia bahkan tidak bertanya, apa Savina sedang sibuk atau tidak? Rista dan Bu Leni memang memiliki sifat yang sama. Mereka selalu merendahkan orang yang tidak sederajat dengan mereka.

Savina segera mengambil alih Alisa dari gendongan kakak iparnya. Ia segera mengajak Alisa main di beranda rumah sambil mengamati seekor kucing yang tengah berlarian di halaman.

“Kamu ada masalah apa, Ris? Kenapa wajahmu cemberut seperti itu?” Bu Leni bertanya kepada putrinya yang tengah memiliki masalah.

“Bu, pengasuh yang biasa mengurus Alisa pulang kampung, jadi aku bingung. Sementara Ibu tahu kan, aku harus sering ke luar kota. Kalau aku belum juga menemukan pengasuh Alisa, bagaimana dengan karierku?” Rista tampak begitu sedih ketika pengasuh anaknya pulang kampung dan menikah.

“Sudah, jangan dipikirkan lagi. Kenapa kamu tidak titipkan saja sama Vina? Lihat, Alisa juga sepertinya nyaman sama Vina.” Bu Leni menunjuk ke arah Savina dan Alisa yang tengah bermain di beranda rumahnya.

“Savina juga tidak bekerja, jadi sudah sewajarnya membantumu!” Bu Leni menyarankan Savina sebagai pengasuh sementara untuk Alisa.

“Tapi bagaimana dengan Firman? Apa dia tidak keberatan kalau Savina menjadi pengasuh sementara untuk Alisa?” sahur Rista dengan tatapan lekat.

“Itu urusan Ibu, kamu cukup ikuti saja kata-kata Ibu!” ucap Bu Leni kepada putrinya.

***

Bersambung

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status