Share

Bab 4

Penulis: Obayantara
Mata sahabatku sampai memerah saat bicara. Napasnya juga memburu. Jelas, dia merasa tidak adil untukku.

Siapa di lingkaran ini yang tidak tahu aku mengejar Titus selama tiga tahun dan tidak mendapatkan apa-apa. Begitu Abigail pulang ke negara ini, bukan hanya aku yang diusir dari rumah, bahkan Titus pun direbut olehnya. Semua orang mentertawakanku.

Aku tersenyum tak peduli dan menenangkan sahabatku. "Sudahlah, yang akan kunikahi itu Louis. Nanti yang mentertawakanku bakal iri setengah mati."

Fondasi bisnis Keluarga Winata jauh lebih kuat daripada keluarga kami. Katanya mereka juga punya koneksi di dunia politik. Di Kota Ardo, hampir tidak ada yang berani macam-macam dengan mereka.

Memikirkan itu, sahabatku langsung terlihat ikut bangga. "Benar juga. Nanti kamu harus menampar wajah orang-orang yang sekarang senang melihatmu jatuh!"

Begitu ucapannya selesai, mata sahabatku langsung berbinar. Dia menunjuk gaun berkilau biru di etalase kaca. "Cepat coba yang ini! Kalau kamu pakai ini, kamu pasti jadi perempuan tercantik di seluruh acara!"

Aku menoleh, sempat terpesona. Detik berikutnya, terdengar suara manja. "Kak Titus, gaun itu cantik sekali!"

Aku dan sahabatku saling memandang tanpa kata-kata. Begitu berbalik, benar saja, Abigail dan Titus berdiri di belakang kami. Abigail menyuruh pramuniaga menurunkan gaun itu.

Sahabatku kesal dan maju selangkah. "Kami lihat lebih dulu!"

Mata Abigail langsung memerah. Dia mengguncang lengan Titus sambil merajuk. "Kak Titus, kamu minta kakakku kasih gaun itu ke aku ya? Aku ingin sekali pakai gaun itu di acara pengakuan keluarga."

Ternyata ayahku benar-benar mengadakan jamuan pengakuan keluarga untuknya. Begitu Abigail diakui secara resmi oleh Keluarga Japardy, itu sama saja menampar wajahku dan ibuku. Untungnya, ibuku sebentar lagi akan bercerai, jadi aku malas peduli.

Detik berikutnya, suara dingin Titus terdengar. "Alaina, serahkan gaunnya pada adikmu. Lain kali waktu kamu pergi menarik ramalan, kamu bisa menarik satu kali lebih banyak."

Aku mendengarnya dan terkekeh-kekeh. Seolah-olah dia memberiku anugerah besar. "Nggak perlu. Siapa juga yang mau?"

Wajah Titus yang dingin menampakkan sedikit keterkejutan, seakan-akan tidak menyangka aku akan menolak. Aku meminta pramuniaga mengambilkan gaun lain berwarna krem polos dari satin dengan potongan ekor ikan.

Sahabatku melirik Abigail, lalu mendengus. "Benar juga. Yang ini lebih cocok buatmu. Lagi pula, di depan keseksian, imut itu nggak ada artinya."

Wajah Abigail di belakang langsung memerah karena marah.

Tak lama kemudian, hari pertunangan pun tiba. Begitu turun dari mobil, aku baru menyadari lantai satu juga sedang mengadakan acara. Itu adalah jamuan pengakuan keluarga yang ayahku selenggarakan untuk Abigail.

Karena tidak ingin terkena sial, aku mempercepat langkah menuju lift. Tak disangka, dari belakang terdengar suara Abigail yang penuh kemenangan. "Kak? Kenapa kamu di sini? Jangan-jangan kamu akhirnya mau mengakui kesalahan pada Ayah dan menerimaku?"

Aku berbalik, memandang Abigail dengan jijik. "Aku sudah bilang, kamu nggak pantas memanggilku kakak!"

Wajah Abigail langsung memerah. Ekspresinya tampak lemah dan menyedihkan. "Kak, jadi hari ini kamu datang untuk menghalangi Ayah? Aku hanya ingin punya keluarga. Kenapa kamu nggak bisa menerimaku?"

Wajah Titus yang dingin segera muncul di belakang Abigail. Dia menepuk bahu Abigail dan menenangkannya sebentar, lalu menatapku dengan tidak senang.

Aku menekan tombol lift dan menunggu. Abigail sudah hampir menangis sampai berlutut di lantai. "Kak, aku mohon. Aku hanya ingin sedikit saja kasih sayang dari Ayah. Yang lain aku nggak mau!"

Aku mendengarnya dan merasa kesal. Dengan sedikit tenaga, aku mendorong Abigail. "Minggir! Mau masuk atau nggak ke Keluarga Japardy, itu urusanmu. Aku hari ini bukan datang untuk menghadiri jamuan pengakuan keluargamu!"

Abigail pun terjatuh duduk di lantai, menangis tersedu-sedu. Orang-orang di sekitar mulai melirik.

Wajah Titus sepenuhnya membeku. Amarah bergulung di matanya. "Alaina, cukup! Cepat minta maaf pada Abi, lalu terima Abi masuk ke Keluarga Japardy!"

Aku melangkah masuk ke lift, menatap Titus, lalu tersenyum. "Aku sudah bilang, aku bukan datang untuk menghadiri jamuan pengakuan keluarganya. Aku datang untuk bertunangan."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 10

    -Epilog-Pertama kali Titus bertemu Alaina adalah di halaman belakang kuil. Gadis itu memegang kertas berisi doa, lalu melemparkannya ke pohon. Karena melompat terlalu tinggi, kakinya tak sengaja terkilir.Titus maju, menanyakan apakah dia baik-baik saja. Wajah gadis itu memerah. Di wajah yang tadinya menahan sakit hingga hampir menangis, justru muncul sebuah senyuman.Sejak hari itu, gadis itu mengatakan ingin mengejarnya.Titus tidak mengerti mengapa Alaina tiba-tiba menyukainya. Jelas-jelas saat dia mengantarnya pulang, gadis itu masih diam-diam mengeluh bahwa dirinya seperti robot, dingin dan kaku. Namun keesokan harinya, dia malah kembali mendekat dengan senyuman cerah di depan Titus.Seperti biasa, Titus menolaknya. Namun, Alaina sangat keras kepala. Tidak peduli seberapa dingin sikap Titus, gadis itu tetap terus mendekat.Tak ada pilihan lain, Titus akhirnya meminta Alaina untuk mengambil hasil ramalan. Jika dia mendapatkan hasil paling mujur, Titus akan menikahinya.Alaina ters

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 9

    Mata Titus berkilat menampakkan sedikit kesedihan. Aku tertawa ringan."Titus, guci keramik yang sudah pecah berarti sudah pecah. Nggak peduli itu buatan tanganmu atau bukan, benda itu bukan lagi yang dulu."Sebelum aku membuka pintu, Titus kembali menarik tanganku. Kali ini, di matanya bahkan terselip permohonan. "Alaina, aku ... aku salah. Dulu aku nggak bisa memahami perasaanku sendiri dengan jelas. Tanpa kusadari, aku sudah menyukaimu sejak lama."Dia mengucapkan kata-kata suka padaku, tetapi ekspresinya tetap penuh keyakinan, seolah-olah dia yakin begitu aku mendengar pengakuannya, aku akan kembali terus mengekornya dengan senang hati.Louis langsung merangkul pinggangku. "Titus, Alaina sekarang adalah tunanganku. Mengaku cinta padanya di hadapanku, rasanya kurang pantas, 'kan?"Titus tertegun sejenak, melirik tangan yang melingkari pinggangku dengan jengkel, lalu menatapku. "Alaina, aku bilang aku menyukaimu."Aku tersenyum kecil. "Terus, kenapa? Titus, aku sudah nggak menyukaimu

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 8

    "Kenapa ini? Abi, kamu kenapa?"Menghadapi ekspresi cemas Titus, Abigail menangis dengan semakin menyedihkan. Sambil menutupi wajahnya, dia berkata bahwa aku tiba-tiba menamparnya.Aku terdiam sejenak, lalu memutar bola mata dengan kesal dan mengangkat tangan memanggil penanggung jawab arena balap. "Permisi, aku ingin melihat rekaman CCTV di sekitar sini, bisa?"Mendengar itu, Abigail terkejut dan mendongak. Penanggung jawab tahu bahwa aku datang bersama Louis, jadi dia segera menyuruh orang untuk mengambil rekaman CCTV.Abigail panik dan buru-buru menghentikan. "Nggak ... nggak boleh!"Saat bertemu dengan tatapan heran Titus, Abigail tergagap-gagap membela diri. "Kak Titus, apa kamu nggak percaya kata-kataku? Kenapa harus melihat CCTV?"Titus hanya mengerutkan kening sedikit, tetapi tidak mengatakan apa-apa.Tatapan Abigail mulai bergerak dengan gelisah ke sana sini. Melihat tidak ada cara untuk menghentikannya, dia kembali berpura-pura lemah. "Kak Titus, kalau kamu nggak percaya pada

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 7

    Mobil balap di samping perlahan berhenti. Tatapan Titus yang suram dan tak terbaca tertuju pada tangan Louis yang melingkari pinggangku.Di sampingnya, Abigail menatapku dengan wajah penuh ketidakpuasan.Louis berkata di dekat telingaku dengan nada penuh minat, "Kalau dari awal kamu pakai gaun seperti ini buat ngejar Titus, biksu itu pasti sudah lama melanggar pantangannya."Aku melirik Titus, lalu menoleh ke Louis. "Cemburu?"Louis tertegun sejenak, lalu segera kembali ke sikap santainya. "Siapa yang cemburu? Kamu pakai gaun, berdiri di samping mobil balap sambil tersenyum semanis itu. Di sirkuit ini siapa yang nggak curi-curi pandang?""Bahkan Titus yang kamu kejar mati-matian selama tiga tahun sampai kehilangan fokus. Cara kamu kejar orang itu ...." Ucapan Louis terhenti, lalu rona merah tipis segera muncul di wajahnya.Karena tanganku sudah berada di tengkuknya, aku menariknya turun dan berbisik di telinganya, "Kalau begitu, sekarang kamu nggak perlu cemburu lagi. Karena gaun ini m

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 6

    Aku mengangguk dengan tenang."Ya, aku tahu. Kalau dari awal aku tahu kamu begitu jengkel denganku, sampai terpikir cara seperti ini untuk membuatku mundur, aku pasti sudah lama menyerah. Jadi Titus, aku nggak akan menyukaimu lagi."Titus menatapku dengan mata terbelalak tak percaya. Wajahnya pucat pasi. Beberapa saat kemudian, dia membuka mulut dengan gugup. "Aku ... bukan, aku nggak merasa terganggu ...."Aku malas mendengarkan omong kosongnya lagi, langsung berbalik dan masuk ke lift.Titus menatapku dalam diam. Seulas rasa sedih melintas di matanya.Keluar dari hotel, aku berpapasan dengan Abigail. Dia merangkul lengan ayahku sambil tersenyum lebar.Saat melihatku serta Louis yang lengannya kugandeng, kilatan iri melintas di mata Abigail.Detik ayahku melihat Louis, raut wajahnya juga menunjukkan keterkejutan. Kemudian, dia segera memasang senyuman dan maju menyapa.Aku menarik Louis. Louis sempat hendak menyapa, tetapi setelah melihat ekspresiku yang tidak senang, dia menelan kemb

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 5

    Begitu kata-kataku selesai, detik berikutnya pintu lift tertutup. Aku melihat sekilas keterkejutan yang melintas di wajah Titus.Lift segera sampai di lantai paling atas. Ibuku sudah berdiri menungguku di depan pintu. Melihatku naik, dia menatapku sekilas. Setelah memastikan aku tidak terlihat aneh, barulah dia menghela napas lega.Aku tersenyum padanya, lalu kami masuk bersama.Louis datang dengan tergesa-gesa. Jasnya bahkan baru dia kenakan satu detik sebelum masuk. Saat berdiri di sampingku, dia bersiul ringan dengan nada menggoda. "Cantik juga."Aku tersenyum sambil menggandeng lengannya. "Oh ya? Aku juga merasa aku cukup cantik. Tapi dibandingkan penampilanmu pakai jas, sepertinya kamu lebih keren waktu pakai baju balap."Sorot mata Louis menampakkan sedikit keterkejutan. "Kamu pernah lihat aku balapan?"Aku mengangguk. "Juara Supercar Championship tahun lalu. Masuk trending sampai tiga hari. Susah kalau nggak melihatnya."Louis tampak sedikit tertarik. "Nanti setelah selesai, mau

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status