LOGIN-Epilog-Pertama kali Titus bertemu Alaina adalah di halaman belakang kuil. Gadis itu memegang kertas berisi doa, lalu melemparkannya ke pohon. Karena melompat terlalu tinggi, kakinya tak sengaja terkilir.Titus maju, menanyakan apakah dia baik-baik saja. Wajah gadis itu memerah. Di wajah yang tadinya menahan sakit hingga hampir menangis, justru muncul sebuah senyuman.Sejak hari itu, gadis itu mengatakan ingin mengejarnya.Titus tidak mengerti mengapa Alaina tiba-tiba menyukainya. Jelas-jelas saat dia mengantarnya pulang, gadis itu masih diam-diam mengeluh bahwa dirinya seperti robot, dingin dan kaku. Namun keesokan harinya, dia malah kembali mendekat dengan senyuman cerah di depan Titus.Seperti biasa, Titus menolaknya. Namun, Alaina sangat keras kepala. Tidak peduli seberapa dingin sikap Titus, gadis itu tetap terus mendekat.Tak ada pilihan lain, Titus akhirnya meminta Alaina untuk mengambil hasil ramalan. Jika dia mendapatkan hasil paling mujur, Titus akan menikahinya.Alaina ters
Mata Titus berkilat menampakkan sedikit kesedihan. Aku tertawa ringan."Titus, guci keramik yang sudah pecah berarti sudah pecah. Nggak peduli itu buatan tanganmu atau bukan, benda itu bukan lagi yang dulu."Sebelum aku membuka pintu, Titus kembali menarik tanganku. Kali ini, di matanya bahkan terselip permohonan. "Alaina, aku ... aku salah. Dulu aku nggak bisa memahami perasaanku sendiri dengan jelas. Tanpa kusadari, aku sudah menyukaimu sejak lama."Dia mengucapkan kata-kata suka padaku, tetapi ekspresinya tetap penuh keyakinan, seolah-olah dia yakin begitu aku mendengar pengakuannya, aku akan kembali terus mengekornya dengan senang hati.Louis langsung merangkul pinggangku. "Titus, Alaina sekarang adalah tunanganku. Mengaku cinta padanya di hadapanku, rasanya kurang pantas, 'kan?"Titus tertegun sejenak, melirik tangan yang melingkari pinggangku dengan jengkel, lalu menatapku. "Alaina, aku bilang aku menyukaimu."Aku tersenyum kecil. "Terus, kenapa? Titus, aku sudah nggak menyukaimu
"Kenapa ini? Abi, kamu kenapa?"Menghadapi ekspresi cemas Titus, Abigail menangis dengan semakin menyedihkan. Sambil menutupi wajahnya, dia berkata bahwa aku tiba-tiba menamparnya.Aku terdiam sejenak, lalu memutar bola mata dengan kesal dan mengangkat tangan memanggil penanggung jawab arena balap. "Permisi, aku ingin melihat rekaman CCTV di sekitar sini, bisa?"Mendengar itu, Abigail terkejut dan mendongak. Penanggung jawab tahu bahwa aku datang bersama Louis, jadi dia segera menyuruh orang untuk mengambil rekaman CCTV.Abigail panik dan buru-buru menghentikan. "Nggak ... nggak boleh!"Saat bertemu dengan tatapan heran Titus, Abigail tergagap-gagap membela diri. "Kak Titus, apa kamu nggak percaya kata-kataku? Kenapa harus melihat CCTV?"Titus hanya mengerutkan kening sedikit, tetapi tidak mengatakan apa-apa.Tatapan Abigail mulai bergerak dengan gelisah ke sana sini. Melihat tidak ada cara untuk menghentikannya, dia kembali berpura-pura lemah. "Kak Titus, kalau kamu nggak percaya pada
Mobil balap di samping perlahan berhenti. Tatapan Titus yang suram dan tak terbaca tertuju pada tangan Louis yang melingkari pinggangku.Di sampingnya, Abigail menatapku dengan wajah penuh ketidakpuasan.Louis berkata di dekat telingaku dengan nada penuh minat, "Kalau dari awal kamu pakai gaun seperti ini buat ngejar Titus, biksu itu pasti sudah lama melanggar pantangannya."Aku melirik Titus, lalu menoleh ke Louis. "Cemburu?"Louis tertegun sejenak, lalu segera kembali ke sikap santainya. "Siapa yang cemburu? Kamu pakai gaun, berdiri di samping mobil balap sambil tersenyum semanis itu. Di sirkuit ini siapa yang nggak curi-curi pandang?""Bahkan Titus yang kamu kejar mati-matian selama tiga tahun sampai kehilangan fokus. Cara kamu kejar orang itu ...." Ucapan Louis terhenti, lalu rona merah tipis segera muncul di wajahnya.Karena tanganku sudah berada di tengkuknya, aku menariknya turun dan berbisik di telinganya, "Kalau begitu, sekarang kamu nggak perlu cemburu lagi. Karena gaun ini m
Aku mengangguk dengan tenang."Ya, aku tahu. Kalau dari awal aku tahu kamu begitu jengkel denganku, sampai terpikir cara seperti ini untuk membuatku mundur, aku pasti sudah lama menyerah. Jadi Titus, aku nggak akan menyukaimu lagi."Titus menatapku dengan mata terbelalak tak percaya. Wajahnya pucat pasi. Beberapa saat kemudian, dia membuka mulut dengan gugup. "Aku ... bukan, aku nggak merasa terganggu ...."Aku malas mendengarkan omong kosongnya lagi, langsung berbalik dan masuk ke lift.Titus menatapku dalam diam. Seulas rasa sedih melintas di matanya.Keluar dari hotel, aku berpapasan dengan Abigail. Dia merangkul lengan ayahku sambil tersenyum lebar.Saat melihatku serta Louis yang lengannya kugandeng, kilatan iri melintas di mata Abigail.Detik ayahku melihat Louis, raut wajahnya juga menunjukkan keterkejutan. Kemudian, dia segera memasang senyuman dan maju menyapa.Aku menarik Louis. Louis sempat hendak menyapa, tetapi setelah melihat ekspresiku yang tidak senang, dia menelan kemb
Begitu kata-kataku selesai, detik berikutnya pintu lift tertutup. Aku melihat sekilas keterkejutan yang melintas di wajah Titus.Lift segera sampai di lantai paling atas. Ibuku sudah berdiri menungguku di depan pintu. Melihatku naik, dia menatapku sekilas. Setelah memastikan aku tidak terlihat aneh, barulah dia menghela napas lega.Aku tersenyum padanya, lalu kami masuk bersama.Louis datang dengan tergesa-gesa. Jasnya bahkan baru dia kenakan satu detik sebelum masuk. Saat berdiri di sampingku, dia bersiul ringan dengan nada menggoda. "Cantik juga."Aku tersenyum sambil menggandeng lengannya. "Oh ya? Aku juga merasa aku cukup cantik. Tapi dibandingkan penampilanmu pakai jas, sepertinya kamu lebih keren waktu pakai baju balap."Sorot mata Louis menampakkan sedikit keterkejutan. "Kamu pernah lihat aku balapan?"Aku mengangguk. "Juara Supercar Championship tahun lalu. Masuk trending sampai tiga hari. Susah kalau nggak melihatnya."Louis tampak sedikit tertarik. "Nanti setelah selesai, mau







