Share

Bab 3

Author: Obayantara
Di dalam hati, aku sering mengeluh karena dia seperti robot. Setelah itu, aku hampir membuang kitab suci yang dia salin selama setengah bulan, tetapi ekspresinya tetap sama. Aku bahkan sengaja belajar gombalan murahan dari internet untuk merayunya, tetapi dia tetap tidak bereaksi.

Aku kira dia benar-benar sudah memutuskan perasaan dan keinginan duniawi. Namun sekarang, hanya karena satu kalimat yang kuucapkan pada Abigail, dia justru marah.

Mendengar ucapanku itu, ayahku langsung bangkit dan menamparku sekali lagi. "Di rumah ini, bukan kamu yang menentukan!"

Usai berkata begitu, dia memerintahkan para pelayan untuk membuang semua barang milik ibuku dan aku. Aku hendak maju menghentikan mereka, tetapi ayahku langsung menarik tanganku dan mendorongku keluar pintu.

"Kalau kamu nggak tahan melihatku dan Abi, kamu dan ibumu pindah saja!"

Pintu ditutup dengan keras. Ibuku berjongkok di tanah, menangis tersedu-sedu.

Tak lama kemudian pintu kembali terbuka. Abigail keluar sambil memeluk barang-barangku. Wajahnya penuh kemenangan. "Kak, kenapa sih harus sejauh ini? Lihat, kalian langsung diusir dari rumah!"

Mataku yang tajam menangkap sebuah guci keramik di dalam pelukannya. Mataku membelalak. Aku berteriak keras, "Berikan itu padaku!"

Melihat wajahku yang tegang, Abigail tiba-tiba tersenyum, lalu mendadak melepaskan tangannya. Guci keramik di dalam kardus jatuh ke lantai, menimbulkan suara keras dan hancur berkeping-keping.

Mataku memerah karena marah. Aku langsung maju, meraih Abigail, lalu menamparnya. "Kamu sengaja ya?!"

Abigail segera menjerit. Dengan nada menyedihkan, dia meminta maaf padaku. Aku hanya ingin membunuhnya.

Guci keramik itu adalah hasil tugas sekolah yang dibuat nenekku bersamaku saat aku masih SD. Itu juga satu-satunya kenangan yang ditinggalkannya untukku.

Pintu di belakang segera terbuka. Titus melihat Abigail yang wajahnya bengkak akibat tamparanku. Dengan marah, dia maju dan menarikku dengan kasar. Di belakangku ada anak tangga. Ditarik seperti itu oleh Titus, aku langsung terjatuh dari tangga ke lantai.

Pergelangan kakiku terasa nyeri menusuk. Tatapan Titus sedingin es. "Alaina, Abi nggak bersalah."

Melihat pecahan barang di lantai, alisnya bahkan tidak berkerut sedikit pun. "Itu hanya barang-barang nggak berharga. Kalau pecah, ya sudah. Apa perlu kamu menyalahkan Abi sampai seperti ini?"

Aku kesakitan sampai keringat dingin bercucuran, bahkan tidak sanggup mengucapkan bantahan.

Titus tidak menoleh lagi padaku. Dengan wajah penuh rasa sayang, dia memeluk Abigail dan membawanya masuk ke rumah.

Ibuku menangis sambil memelukku. Aku memaksakan senyuman dan mengeluarkan ponsel untuk memesan taksi.

Hujan mulai turun. Entah berapa lama berlalu, pintu kembali terbuka. Titus berdiri di ambang pintu sambil memegang payung.

"Aku sudah membantumu memohon. Asal kamu masuk dan minta maaf pada Abi, kamu masih bisa masuk rumah."

Aku menunduk, tidak bergerak sama sekali. Setelah beberapa saat, Titus turun, meletakkan salep luka bakar di telapak tanganku, lalu menyerahkan payung pada ibuku dan berbalik naik ke mobilnya.

Aku menunduk, melirik obat di tanganku dua kali. Tanpa ragu, aku melemparkannya ke tempat sampah.

Saat duduk di dalam taksi, ibuku perlahan berhenti menangis. Dia mengeluarkan ponselnya dan segera berkata padaku, "Nana, Keluarga Winata sudah setuju dengan perjodohan. Mereka bilang akan segera memilih waktu untuk bertemu."

Ibuku membawaku kembali ke rumah orang tuanya. Setelah menjelaskan kejadian hari ini pada kakek dan nenekku, ibuku menatapku dan berkata, "Ayah, Ibu, aku memutuskan untuk cerai. Dulu demi Nana, aku bisa menahan apa pun. Tapi sekarang, aku nggak ingin menahannya lagi."

Mendengar itu, sekeluarga kembali menangis bersama untuk beberapa saat.

Mata pamanku memerah saat berujar, "Kak, Nana, tenang saja. Aku pasti akan menuntut keadilan untuk kalian!"

Selesai berkata begitu, dia bangkit untuk menelepon dan menghubungi pengacara. Karena kakiku cedera, aku berbaring di rumah lebih dari seminggu sampai benar-benar pulih.

Selama waktu itu, Keluarga Winata dan ibuku sudah membicarakan semua urusan perjodohan. Tinggal menunggu kakiku sembuh untuk mengadakan pesta pertunangan.

Akhir pekan, aku janjian dengan sahabatku untuk melihat gaun. Begitu bertemu, dia langsung memelukku dengan penuh iba. Setelah melihatku benar-benar bertekad melepaskan Titus, barulah dia meluapkan kekesalannya.

"Kamu tahu nggak, beberapa hari ini gosip di lingkaran kita sudah gila-gilaan. Katanya kamu diusir oleh anak haram dan ke depannya Nona Keluarga Japardy cuma Abigail!"

"Dan yang lebih parah lagi, Titus benar-benar memanjakan Abigail setengah mati, sampai menuruti semua perkataannya. Orang-orang jahat itu sekarang sibuk mentertawakan kamu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 10

    -Epilog-Pertama kali Titus bertemu Alaina adalah di halaman belakang kuil. Gadis itu memegang kertas berisi doa, lalu melemparkannya ke pohon. Karena melompat terlalu tinggi, kakinya tak sengaja terkilir.Titus maju, menanyakan apakah dia baik-baik saja. Wajah gadis itu memerah. Di wajah yang tadinya menahan sakit hingga hampir menangis, justru muncul sebuah senyuman.Sejak hari itu, gadis itu mengatakan ingin mengejarnya.Titus tidak mengerti mengapa Alaina tiba-tiba menyukainya. Jelas-jelas saat dia mengantarnya pulang, gadis itu masih diam-diam mengeluh bahwa dirinya seperti robot, dingin dan kaku. Namun keesokan harinya, dia malah kembali mendekat dengan senyuman cerah di depan Titus.Seperti biasa, Titus menolaknya. Namun, Alaina sangat keras kepala. Tidak peduli seberapa dingin sikap Titus, gadis itu tetap terus mendekat.Tak ada pilihan lain, Titus akhirnya meminta Alaina untuk mengambil hasil ramalan. Jika dia mendapatkan hasil paling mujur, Titus akan menikahinya.Alaina ters

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 9

    Mata Titus berkilat menampakkan sedikit kesedihan. Aku tertawa ringan."Titus, guci keramik yang sudah pecah berarti sudah pecah. Nggak peduli itu buatan tanganmu atau bukan, benda itu bukan lagi yang dulu."Sebelum aku membuka pintu, Titus kembali menarik tanganku. Kali ini, di matanya bahkan terselip permohonan. "Alaina, aku ... aku salah. Dulu aku nggak bisa memahami perasaanku sendiri dengan jelas. Tanpa kusadari, aku sudah menyukaimu sejak lama."Dia mengucapkan kata-kata suka padaku, tetapi ekspresinya tetap penuh keyakinan, seolah-olah dia yakin begitu aku mendengar pengakuannya, aku akan kembali terus mengekornya dengan senang hati.Louis langsung merangkul pinggangku. "Titus, Alaina sekarang adalah tunanganku. Mengaku cinta padanya di hadapanku, rasanya kurang pantas, 'kan?"Titus tertegun sejenak, melirik tangan yang melingkari pinggangku dengan jengkel, lalu menatapku. "Alaina, aku bilang aku menyukaimu."Aku tersenyum kecil. "Terus, kenapa? Titus, aku sudah nggak menyukaimu

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 8

    "Kenapa ini? Abi, kamu kenapa?"Menghadapi ekspresi cemas Titus, Abigail menangis dengan semakin menyedihkan. Sambil menutupi wajahnya, dia berkata bahwa aku tiba-tiba menamparnya.Aku terdiam sejenak, lalu memutar bola mata dengan kesal dan mengangkat tangan memanggil penanggung jawab arena balap. "Permisi, aku ingin melihat rekaman CCTV di sekitar sini, bisa?"Mendengar itu, Abigail terkejut dan mendongak. Penanggung jawab tahu bahwa aku datang bersama Louis, jadi dia segera menyuruh orang untuk mengambil rekaman CCTV.Abigail panik dan buru-buru menghentikan. "Nggak ... nggak boleh!"Saat bertemu dengan tatapan heran Titus, Abigail tergagap-gagap membela diri. "Kak Titus, apa kamu nggak percaya kata-kataku? Kenapa harus melihat CCTV?"Titus hanya mengerutkan kening sedikit, tetapi tidak mengatakan apa-apa.Tatapan Abigail mulai bergerak dengan gelisah ke sana sini. Melihat tidak ada cara untuk menghentikannya, dia kembali berpura-pura lemah. "Kak Titus, kalau kamu nggak percaya pada

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 7

    Mobil balap di samping perlahan berhenti. Tatapan Titus yang suram dan tak terbaca tertuju pada tangan Louis yang melingkari pinggangku.Di sampingnya, Abigail menatapku dengan wajah penuh ketidakpuasan.Louis berkata di dekat telingaku dengan nada penuh minat, "Kalau dari awal kamu pakai gaun seperti ini buat ngejar Titus, biksu itu pasti sudah lama melanggar pantangannya."Aku melirik Titus, lalu menoleh ke Louis. "Cemburu?"Louis tertegun sejenak, lalu segera kembali ke sikap santainya. "Siapa yang cemburu? Kamu pakai gaun, berdiri di samping mobil balap sambil tersenyum semanis itu. Di sirkuit ini siapa yang nggak curi-curi pandang?""Bahkan Titus yang kamu kejar mati-matian selama tiga tahun sampai kehilangan fokus. Cara kamu kejar orang itu ...." Ucapan Louis terhenti, lalu rona merah tipis segera muncul di wajahnya.Karena tanganku sudah berada di tengkuknya, aku menariknya turun dan berbisik di telinganya, "Kalau begitu, sekarang kamu nggak perlu cemburu lagi. Karena gaun ini m

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 6

    Aku mengangguk dengan tenang."Ya, aku tahu. Kalau dari awal aku tahu kamu begitu jengkel denganku, sampai terpikir cara seperti ini untuk membuatku mundur, aku pasti sudah lama menyerah. Jadi Titus, aku nggak akan menyukaimu lagi."Titus menatapku dengan mata terbelalak tak percaya. Wajahnya pucat pasi. Beberapa saat kemudian, dia membuka mulut dengan gugup. "Aku ... bukan, aku nggak merasa terganggu ...."Aku malas mendengarkan omong kosongnya lagi, langsung berbalik dan masuk ke lift.Titus menatapku dalam diam. Seulas rasa sedih melintas di matanya.Keluar dari hotel, aku berpapasan dengan Abigail. Dia merangkul lengan ayahku sambil tersenyum lebar.Saat melihatku serta Louis yang lengannya kugandeng, kilatan iri melintas di mata Abigail.Detik ayahku melihat Louis, raut wajahnya juga menunjukkan keterkejutan. Kemudian, dia segera memasang senyuman dan maju menyapa.Aku menarik Louis. Louis sempat hendak menyapa, tetapi setelah melihat ekspresiku yang tidak senang, dia menelan kemb

  • Ketika Cinta Dimanipulasi, Aku Tak Menginginkan Pernikahan Lagi   Bab 5

    Begitu kata-kataku selesai, detik berikutnya pintu lift tertutup. Aku melihat sekilas keterkejutan yang melintas di wajah Titus.Lift segera sampai di lantai paling atas. Ibuku sudah berdiri menungguku di depan pintu. Melihatku naik, dia menatapku sekilas. Setelah memastikan aku tidak terlihat aneh, barulah dia menghela napas lega.Aku tersenyum padanya, lalu kami masuk bersama.Louis datang dengan tergesa-gesa. Jasnya bahkan baru dia kenakan satu detik sebelum masuk. Saat berdiri di sampingku, dia bersiul ringan dengan nada menggoda. "Cantik juga."Aku tersenyum sambil menggandeng lengannya. "Oh ya? Aku juga merasa aku cukup cantik. Tapi dibandingkan penampilanmu pakai jas, sepertinya kamu lebih keren waktu pakai baju balap."Sorot mata Louis menampakkan sedikit keterkejutan. "Kamu pernah lihat aku balapan?"Aku mengangguk. "Juara Supercar Championship tahun lalu. Masuk trending sampai tiga hari. Susah kalau nggak melihatnya."Louis tampak sedikit tertarik. "Nanti setelah selesai, mau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status