Mag-log in"Terima kasih," kataku dingin kepada Carlos saat menerima bunga darinya.Aku lelah dan ingin beristirahat, tetapi aku juga tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Keluarganya mungkin akan menganggapku tidak sopan jika aku melakukan itu."Maaf sudah datang mengganggu. Setelah kami meninggalkan kantormu tadi, tiba-tiba aku merindukanmu. Apa seperti ini rasanya jatuh cinta kepada seorang wanita?" katanya dengan manis.Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ucapannya terdengar sangat gombal dan aku sama sekali tidak menyukainya.Dia merindukanku, tetapi aku justru merasakan sebaliknya. Kalau bisa, aku malah tidak ingin bertemu dengannya lagi. Namun, sekarang dia sudah berada di rumah. Apa lagi yang bisa kulakukan?"Oh, Carlos! Kamu datang berkunjung?"Aku mengembuskan napas lega ketika Papa Ryan tiba-tiba menghampiri kami."Iya. Aku datang untuk menemui Trinity. Kalau Paman nggak keberatan, aku ingin mengajaknya menonton konser malam ini. Ada penyanyi internasional yang akan tampil di kolose
Saat Mama menceritakan semua itu, aku melihat betapa serius ekspresinya. Aku pun tahu dia mengatakan yang sebenarnya."Tapi kenapa tadi malam Papa dan Dante terlihat baik-baik saja? Kenapa Papa kelihatannya nggak marah?" tanyaku kepada Mama Abigail dengan bingung.Dia tertawa."Karena usaha Dante. Meskipun suamimu sudah beberapa kali dipukul oleh papamu, dia nggak pernah berhenti berusaha menebus kesalahannya. Dia hampir setiap hari datang ke rumah hanya untuk meminta maaf," jawab Mama.Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Apa Dante benar-benar melakukan semua itu? Apa karena dia benar-benar menyesali semua kesalahan yang pernah dilakukannya kepadaku?"Tolong jangan marah pada kami karena membiarkannya datang ke rumah. Kami bisa merasakan penyesalannya, dan kami nggak akan memaksamu untuk kembali bersamanya, Trinity. Apa yang dia lakukan kepadamu memang menyakitkan, tapi kami nggak mungkin membencinya selamanya, apalagi dia adalah ayah dari anak-anakmu, cucu-cucu kami," k
Keesokan harinya, aku bangun cukup siang. Aku langsung mandi dan berganti pakaian.Pada jam segini, Papa mungkin sudah berada di kantor.Meski begitu, aku tetap berniat pergi bekerja walaupun sudah terlambat. Aku benar-benar ingin mempelajari seluk-beluk Grup Logistik Baskoro agar seluruh keluargaku bisa bangga kepadaku.Aku harus mulai menjalani hidup dengan serius. Aku akan bangkit dan suatu hari nanti menjadi presdir yang hebat seperti Papa. Aku ingin membuktikan kemampuanku, jadi aku akan bekerja keras.Benar, aku akan menyibukkan diri di perusahaan sampai anak-anakku tumbuh besar. Aku ingin mensyukuri apa yang sudah kumiliki. Aku tidak membutuhkan cinta yang baru untuk bisa bahagia.Setelah riasanku terlihat sempurna, aku menyampirkan tas ke bahu dan keluar dari kamar. Aku langsung menuju kamar bayi untuk melihat anak-anak dan tersenyum ketika mendapati mereka masih tertidur."Semalam anak-anak tidur larut?" tanyaku kepada dua pengasuh yang menjaga anak-anakku."Oh, Nyonya, mereka
Kunjungan Dante untuk menemui anak-anak berjalan lancar. Dia tidak melakukan apa pun yang tidak kusukai. Dia bahkan hampir tidak mau pulang, dan Papa Ryan keburu pulang saat dia masih berada di rumah."Selamat malam, Pak!" sapa Dante kepada Papa.Aku tidak bisa menyembunyikan kebingunganku.Apa dia benar-benar memanggil Papa dengan sebutan "Pak"? Sejak menikah dengan Dante, aku hanya pernah mendengarnya memanggil Papa Ryan dengan sebutan Ayah. Dulu aku tidak pernah mempertanyakannya karena aku terlalu dimabuk cinta oleh Dante. Bagiku, tidak ada yang lebih penting daripada dia."Aku senang kamu datang mengunjungi cucu-cucuku. Makan malam saja di sini. Ada yang perlu kita bicarakan," kata Papa serius.Aku bingung.Sebenarnya, aku ingin Dante segera pergi. Aku merasa canggung karena dia terus menatapku. Semakin lama dia berada di rumah ini, semakin gelisah pula perasaanku. Entah kenapa, rasanya perlahan-lahan aku mulai dikuasai oleh kelemahanku sendiri."Kamu nggak punya urusan lain? Kamu
Aku benar-benar bahagia melihat Dante bersama anak-anak kami. Aku tidak menyangka dia akan menerima mereka dengan begitu hangat. Hatiku dipenuhi kebahagiaan saat aku berusaha keras menahan air mata.Setelah menggendong Beatrice, dia beralih kepada Bernard dan menghujani pipinya dengan ciuman.Ini pertama kalinya aku melihat mata Dante berlinang air mata. Aku tidak bisa menahan diri untuk terus menatapnya. Tidak pernah kusangka anak-anak kami bisa membuatnya menangis.Aku menghampiri mereka ketika mendengar Beatrice menangis. Dia mungkin tidak terima karena papanya menurunkannya demi menggendong kakaknya."Dia cemburu," kataku kepada Dante sambil menggendong Beatrice dan mengayun-ayunkan tubuhnya dengan lembut. Aku menyadari Dante sedang menatapku, tetapi aku mengabaikannya. Aku bahkan membelakanginya sambil menenangkan Beatrice, terutama ketika tangisannya semakin keras karena ingin kembali digendong papanya."Benarkah?" tanyanya.Aku mengangguk."Iya. Dia mau semua perhatian hanya unt
Aku menatap Dante. Harus kuakui, sekarang dia sudah belajar meminta dengan baik-baik. Lagi pula, siapa aku sampai harus melarangnya mendapatkan apa yang dia inginkan?Terlepas dari semua yang pernah terjadi di antara kami dan penderitaan yang kualami karena ulahnya, aku tetap tidak bisa menyangkal bahwa dia adalah ayah dari anak-anakku. Aku tidak mungkin terus menyembunyikan anak-anak darinya selamanya. Suatu hari nanti, mereka pasti akan mencari ayah mereka, dan aku tidak ingin merampas hak mereka untuk mengenal ayahnya.Aku tidak ingin bersikap egois jika menyangkut anak-anakku. Mengabulkan keinginannya bukan berarti kami akan kembali bersama. Aku tetap teguh pada keputusanku untuk tidak kembali kepadanya.Cukup sekali aku menderita karena dia. Aku akan berusaha hidup bahagia dan mencurahkan seluruh perhatianku pada bisnis serta anak-anakku. Aku tidak berniat menjalin hubungan lagi dengan siapa pun."Baiklah. Kamu tetap ayah mereka, dan aku nggak ingin merampas hakmu untuk bertemu me







