LOGIN"Tuan, ayo bangkit. Saya akan menemani perjuangan tuan melawan mereka disini." "Bukan hanya menemani, Anindya. Tapi aku juga mau kau hidup bersamaku." Anindya hanya berniat menggantikan ibunya bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga ningrat. Namun kehadirannya justru mempertemukannya dengan Tuan Arka, pewaris lumpuh yang hidup dalam kesepian dan dikelilingi orang-orang yang menginginkan kejatuhannya. Di balik rasa simpati yang berubah menjadi cinta, Anindya menemukan rahasia besar tentang kecelakaan Arka... dan tentang asal-usul dirinya yang ternyata bukan sekadar anak seorang pelayan. Bagaimana kehidupan Anindya setelahnya?
View MoreAnin masih berdiri mematung di teras samping rumah. Jantungnya masih berdebar setelah tak sengaja mendengar pembicaraan tentang pembatalan pernikahan dari calon istri Arka. Lelaki itu yang menyedihkan, tapi hati Anin yang ikut bersedih.“Kenapa masih di sini? Kamu mau pergi kuliah kan?” Suara Alaric membuat Anin terkesiap kaget. dia sampai terlonjak karena begitu terkejutnya."Tuan.""Kenapa belum pergi?" tanya lelaki itu lagi. Dia sudah rapi dengan kemeja kerjanya."Tidak. Saya cuma menunggu tuan Arka, mungkin ada yang bisa saya bantu lagi.""Tidak perlu. Dia sudah tidur."Anin mengernyit. "Tidur?"“Dia memang tukang tidur. Gak usah heran. Memang begitu. Dia bakalan bangun kalau hari udah sore atau malam.”Anin mengernyit. “Bukannya tadi dia ...”Alaric menghela nafas panjang. “Ya. Karena calon tunangannya membatalkan pernikahan mereka, Arka jadi makin gak mau bicara. Dokter bilang dia depresi. Maka dari itu dia lebih memilih tidur lama untuk melupakan semua rasa sakitnya. Begitu ban
Tangan Anindya sedikit bergetar saat dia membuka pintu kamar. Apalagi saat melihat kamar itu gelap gulita tak ada cahaya sedikitpun yang menerangi. Hanya bayangan Arkalana yang terduduk di sisi ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah, itu pun bisa terlihat karena cahaya dari luar ruangan yang pintunya Anin buka sebelum akhirnya dia tutup kembali.“Permisi, tuan. Saya masuk ya. Saya bawa makanan,” ucap Anindya pelan sembari meraba saklar lampu yang berada di dalam kamar itu.Aroma tak sedap sudah menyusup masuk ke hidungnya. Bau amis, bau keringat, dan juga bau air seni terasa begitu menyengat. Jujur saja, perut Anin terasa mual saat masuk lebih dalam. Entah kenapa bisa sekotor dan sebau ini. Kemarin juga sudah seperti ini, hanya saja tidak terlalu buruk. Namun sekarang, rasanya bertambah parah. Apa memang tidak ada yang membersihkan?‘Astaghfirullah.’ Anindya terkejut setengah mati saat melihat kondisi kamar. Begitu lampu hidup, suasana kamar langsung bisa terlihat jelas. Apalagi
Ini hari kedua Anindya bekerja di rumah keluarga Vayudipta. Sesuai perjanjian jika dia akan menginap dan pulang di pagi hari. Dan ketika sore hari, Anin akan datang lagi untuk memasak makan malam keluarga ini. Sejak malam tadi, Anin tak lagi mendatangi kamar Arka. Alaric berkata jika dia tidak perlu mengantar makanan sebab Arka masih tertidur. Pun begitu dengan pagi tadi dia masih tidak dibiarkan melihat lelaki itu. Tak ada yang bisa Anin lakukan selain hanya menurut.Setelah dari ruang makan untuk menyiapkan tempat makan, Anin kembali ke dapur. Di sana, bibi Maria, salah satu ART yang bekerja di rumah itu langsung menyambutnya. Dia langsung bertanya banyak hal pada Anin. Mungkin dia mencemaskan pekerjaan Anin selama satu hari semalam. Apakah bisa membuat tuan Vayudipta puas atau tidak. Tapi ternyata, jawaban yang Anin berikan bisa membuat dia lega. “Syukurlah. Pokoknya jangan sekali-kali membuat ulah di rumah ini ya. Apalagi sampai berbicara kalau nggak diminta,” ujarnya.Anin menga
“Tuan mau saya suapi atau makan sendiri?”“Yang lumpuh itu kakiku, bukan tanganku!” dengus Arka kesal. Dia merebut mangkuk bubur yang diberikan Anin dengan kasar. Matanya menatap mangkuk itu dengan dada yang bergemuruh. Entah kapan terakhir kali dia makan, Arka bahkan lupa. Merasa perutnya sudah benar-benar perih dan lapar, Arka langsung menyantap buburnya dengan lahap.Anin yang semula terkejut, kini langsung tersenyum tipis saat melihat Arka yang langsung makan dengan lahap.“Enak tuan?”Arka diam. Dia hanya terus memakan buburnya.“Itu resep dari ibu. Semoga tuan suka ya.”“Diamlah!”Anin langsung terdiam saat mendengar gerutuan lelaki itu. Di dalam hati dia mengumpat, tapi sebenarnya hatinya juga senang melihat Arka makan dengan lahap. Ah tidak, bukan lahap tapi dia makan seperti orang yang kelaparan. Anin memandang Arka heran. Buburnya yang enak, atau karena Arka kelaparan hingga dia makan seperti orang yang sudah beberapa hari tidak ada menyentuh makanan. Tangan Arka gemetar s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.