MasukSetelah memergoki calon suaminya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, Rosalin memilih meninggalkan kota kelahirannya. Di tempat yang baru, ia hanya ingin memulai hidup dari nol dan menyelamatkan sebuah cabang perusahaan yang hampir bangkrut. Namun, masalah baru muncul ketika rumah murah yang disewa Rosalin ternyata sudah ditempati oleh seorang pria bernama Rigen. Tak ingin menjadi bahan gunjingan warga, keduanya sepakat menikah kontrak demi bisa berbagi tempat tinggal. Di rumah, Rigen hanyalah suami manja yang suka memakai piyama, rambut awut-awutan, dan membuat Rosalin ingin mengumpat setiap hari. Namun, di siang hari, pria muda itu tampil sebagai kepala cabang yang tampan, tegas, dan ditakuti semua staf. Bagi Rosalin, ikatannya dengan Rigen adalah kesialan yang tak dapat dihindari. Tanpa ia ketahui, pria yang dianggapnya sebagai suami dan bos yang menyebalkan itu memiliki identitas rahasia yang mengejutkan.
Lihat lebih banyak"Ros, kamu yakin akan pergi dari kota ini cuma gara-gara Nicholas?" tanya Joana, memecah keheningan.
Rosalin tidak langsung menjawab. Ia memasukkan kemeja terakhirnya lantas menutup koper rapat-rapat. Gerakan Rosalin seakan menjadi sebuah penegasan bahwa ia telah menutup lembaran hidup yang lama. "Percayalah, kamu bisa mendapatkan calon suami yang lebih ganteng, lebih kaya, dan lebih muda," lanjut Joana, mencoba mencairkan suasana. "Pria yang dewasa saja tukang selingkuh, apalagi yang masih muda," balas Rosalin tanpa minat. Joana mendengus, setengah tertawa setengah gemas. "Jangan begitu. Siapa tahu jodohmu nanti berondong." Rosalin memilih untuk tidak menanggap lelucon konyol dari rekan kerja sekaligus sepupunya itu. Ia tahu Joana hanya mencoba menghibur hatinya yang sedang hancur oleh pengkhianatan. "Aku pergi bukan karena Nicholas," imbuh Rosalin kemudian. "Aku ingin mengambil kesempatan untuk meningkatkan karier dengan menjadi kepala marketing di kantor cabang." Mendengar alasan Rosalin, Joana mengerutkan kening. "Peningkatan apa? Ke kota Sinar sama seperti bunuh diri pelan-pelan, Ros. Semua orang juga tahu cabang itu adalah tempat buangan." "Tapi, aku menganggapnya sebagai kemajuan," sahut Rosalin dengan nada mantap. Belum sempat Joana membalas, ponsel Rosalin bergetar di atas meja rias. Ia meraih dan membaca pesan masuk dengan wajah yang sedikit mengeras. Merasa penasaran, Joana bergeser dan ikut membaca dari balik bahu Rosalin. Ternyata, itu adalah pesan dari pihak vendor gedung pernikahan yang meminta pelunasan lima puluh persen, sebagai konsekuensi pembatalan sepihak. "Nicholas nggak mau ikut bayar?" Joana bertanya dengan nada prihatin. Rosalin meletakkan ponsel di tangannya dengan tenang. "Nggak perlu. Aku bisa bayar tanpa bantuan dia." Joana tidak dapat menyembunyikan kecemasannya. Ia tahu betul betapa keras perjuangan Rosalin selama ini untuk mengumpulkan uang. "Kalau tabunganmu habis untuk membayar semua biaya itu, bagaimana kau bisa mencari tempat tinggal yang baru?" Rosalin pun duduk di sebelah Joana, menghela napas panjang sebelum akhirnya tersenyum kecut. "Aku sudah dapat kontrakan rumah yang murah di Kota Sinar." Setelah berkata demikian, Rosalin membuka riwayat transfer dan menyodorkannya pada Joana. Di layar itu tertera bukti transfer ke seseorang bernama Maya, disusul beberapa foto rumah kecil bercat putih dengan halaman mungil yang terawat. Mata Joana langsung membelalak lebar. "Beruntung banget kamu, Ros. Rumah sebagus ini harganya sangat murah." "Kebetulan Bu Maya lagi butuh uang, jadi dia menyewakan rumahnya di bawah harga normal," sahut Rosalin sambil melirik jam dinding. "Sudah waktunya aku berangkat." Tanpa banyak bicara lagi, Rosalin menyeret koper besar miliknya keluar dari kamar. Ia berjalan beriringan dengan Joana, hingga sampai ke halaman depan. Di sana, mobil tua milik Joana telah siap mengantar Rosalin menuju stasiun kereta api. Sepanjang jalan, Rosalin lebih banyak diam sembari menatap keluar jendela. Ia memperhatikan gedung-gedung pencakar langit yang perlahan bergerak mundur, seolah kota tempat ia dilahirkan ikut melepas kepergiannya. Suasana stasiun ramai seperti biasa. Suara pengumuman keberangkatan bersahutan dengan langkah kaki penumpang yang terburu-buru. Di depan pintu gerbong, Rosalin memeluk Joana erat-erat sebelum mereka berpisah. "Aku pergi, Joana." "Hati-hati, Ros. Kabari aku kalau sudah sampai di rumah kontrakanmu," balas Joana dengan mata berkaca-kaca. Tak berselang lama, peluit tanda keberangkatan berbunyi. Rosalin melepaskan pelukan itu dan melangkah naik tanpa keraguan sedikit pun. Di dalam gerbong, ia duduk di kursi dekat jendela. Baru saja Rosalin menyandarkan kepala, sebuah pesan masuk dari nomor Sinta. Jemari Rosalin bergerak membuka pesan itu, dan yang pertama muncul adalah foto cincin berlian di jari manis Sinta. Benda itu berkilau di bawah lampu, yang sengaja diatur agar terlihat sempurna dalam bingkai kamera. "Terima kasih karena kamu rela melepas Nicholas untukku, Ros. Dia sudah melamarku dengan cincin berlian ini. Kami akan segera menikah, sebelum perutku semakin membesar." Rosalin membaca pesan itu tanpa gejolak emosi yang berarti. Tidak ada air mata, tidak ada amarah yang meletup seperti yang mungkin diharapkan Sinta di seberang sana. Hatinya sudah terlalu mati rasa. Dengan gerakan tenang, Rosalin memblokir nomor Sinta dan menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas. Cukup sudah ia menjalin persahabatan dengan wanita munafik itu. Tujuh jam perjalanan terasa panjang sekaligus singkat. Rosalin tertidur beberapa kali, terbangun oleh guncangan rel atau pengumuman stasiun yang dilewati, lalu kembali memejamkan mata. Ketika kereta akhirnya melambat dan berhenti di peron Kota Sinar, jam di ponsel menunjukkan pukul empat sore. Rosalin menyeret kopernya keluar stasiun, menghirup udara kota asing itu dalam-dalam. Ia bergegas memesan taksi, lalu menyebutkan alamat rumah sudah ia hafal luar kepala. Ketika taksi telah meluncur, Rosalin membuka kembali foto-foto rumah yang dikirimkan Bu Maya di ponselnya. Ia mengingat setiap detail, mulai dari pagar, cat dinding, hingga pot bunga di teras. Taksi pun berbelok memasuki kompleks perumahan, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan yang sangat mirip dengan foto yang ia simpan. Merasa yakin itu adalah rumah yang ia sewa, Rosalin buru-buru turun dari taksi. Namun begitu ia mendekat, ada sesuatu yang terasa janggal. Pagar rumah terbuka setengah, dan di tali jemuran depan teras tergantung sehelai jaket kulit pria. Rosalin berdiri sejenak, membandingkan antara rumah di depannya dan layar ponsel. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak salah alamat. Nomor rumah cocok. Warna cat cocok. Pada akhirnya, Rosalin memutuskan untuk mendorong kopernya melewati pagar dan melangkah ke teras. Dengan jantung yang berdebar, ia mengetuk pintu kayu itu dua kali. Tak berapa lama, daun pintu itu terbuka. Seorang lelaki muda bertubuh tinggi menjulang, berdiri di ambang pintu. Wajahnya tampan dan rambutnya masih sedikit basah, seperti baru selesai mandi. Namun, ada sorot keangkuhan yang terpancar jelas dari matanya. Selama beberapa detik, tidak ada yang bicara.Lelaki itu memandang koper besar di tangan Rosalin. Sementara Rosalin balas menatapnya dengan kebingungan yang tak kalah besar.
"Kamu siapa?" tanya Rosalin, berusaha terdengar tegas.
Alih-alih menjawab, lelaki itu malah melemparkan pertanyaan yang sama. "Kamu sendiri siapa?" "Aku Rosalin, penyewa di sini. Aku baru tiba dari luar kota," jawab Rosalin penuh penekanan. Untuk sesaat, lelaki itu mengerukan alis sambil memandang Rosalin lekat-lekat.Di saat yang sama, Rosalin merasa terhipnotis. Entah mengapa ia merasa pernah melihat sorot mata itu.
Ketika Rosalin masih berusaha mengingat, lelaki itu menyandarkan bahunya ke kusen pintu. Seulas seringai meremehkan terbit di bibirnya.
"Kamu pasti salah alamat, Nona," katanya, penuh keyakinan. "Aku yang akan menempati rumah ini selama satu tahun ke depan."
Berbeda dengan Rosalin, Rigen sama sekali tidak menghiraukan penampilan kurir itu.Dengan tenang, ia mengucapkan terima kasih kepada si pengantar makanan, lalu menutup pintu depan."Ini untukmu," ujar Rigen seraya menyerahkan satu kotak makanan ke tangan Rosalin."Terima kasih. Berapa harganya, nanti aku ganti?"Alih-alih menjawab, Rigen malah melenggang santai menuju sofa. Ia meraih remote dan menyalakan televisi dengan gaya seorang raja yang baru pulang dari medan perang.Rosalin mendengus dalam hati. Lelaki ini menganggap pertanyaannya semacam angin lalu yang tidak penting untuk ditanggapi.Berusaha menahan rasa dongkol, Rosalin menyusul ke ruang tengah dan duduk di ujung sofa yang berlawanan dengan Rigen. Ia membuka kotak nasi gorengnya sendiri.Matanya melirik sekilas ke arah layar televisi. Rigen sedang memutar saluran berita mengenai pergerakan bursa saham pagi ini. Wajahnya begitu serius, seakan memahami setiap angka dan grafik yang muncul di layar.Rosalin diam-diam memperhat
Rosalin mengikuti arah telunjuk Bu Maya dengan jantung berdebar. Firasatnya mengatakan bahwa apa yang akan ia lihat sebentar lagi bukanlah sesuatu yang baik.Dan, benar saja.Rosalin melihat kedua kakinya terjulur santai di atas pangkuan Rigen. Sementara, pria itu masih tertidur dalam posisi setengah bersandar di sofa.Kepala Rigen sedikit miring ke samping, sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang dijadikan sandaran kaki."Astaga!"Jeritan Rosalin menggema keras di ruang tengah yang sepi itu. Ia menarik kedua kakinya secepat kilat, lalu melompat berdiri dengan wajah semerah kepiting rebus.Teriakan panik itu sukses membuat Rigen tersentak bangun. Matanya membelalak lebar dan tubuhnya oleng ke samping. Nyaris saja, Rigen terjungkal jatuh dari sofa jika tangannya tidak mencengkeram pinggiran sofa"Apa ada pencuri yang masuk rumah?!" seru Rigen dengan suara serak. Kepalanya menoleh ke segala arah, mencari ancaman yang sebenarnya tidak pernah ada.Bu Maya dan Pak Santosa, hanya saling
Begitu sadar apa yang sedang ia duduki, Rosalin langsung melompat berdiri. Wajahnya terasa memanas hingga ke belakang telinga."Kamu... kenapa bisa tiduran di sofa ini?" tanyanya, suaranya masih sedikit tercekat oleh kaget. "Bukannya kamu tidur di kamar dengan Pak Santosa?"Rigen bangkit dari posisi berbaringnya dengan tenang, seolah tidak ada yang aneh sama sekali dari situasi barusan."Seharusnya aku yang tanya begitu. Kenapa kamu duduk sembarangan tanpa lihat-lihat dulu?""Aku nggak kelihatan! Di sini remang-remang!" Rosalin tergagap, membela diri dengan nada yang jauh lebih tinggi dari biasanya.Rigen ikut berdiri sambil meregangkan bahunya sedikit. "Di dalam, Pak Santosa mendengkur seperti gergaji mesin. Aku hampir tidur sampai kamu mengganggu.""Aku juga nggak bisa tidur," balas Rosalin ketus. "Makanya mau nonton TV."Rigen menatapnya sejenak, lalu mengangkat bahu, seolah sudah tidak punya energi untuk berdebat lebih jauh."Kita bagi dua saja sofa ini. Jangan saling mengganggu."
Mendengar persetujuan yang keluar dari bibir Rigen, Bu Maya dan Pak Santosa tampak sumringah. Pasangan itu tiba-tiba menjadi kompak, seolah baru saja menemukan jalan keluar terbaik dari seluruh kekacauan yang mereka ciptakan sendiri."Nah, bagus kalau Rigen setuju!" Bu Maya bertepuk tangan senang."Kebetulan saya kenal petugas di catatan sipil. Namanya Pak Herman. Biar saya telepon sekarang, ya, supaya besok pagi-pagi semua sudah bisa disiapkan."Kali ini, Pak Santosa mengangguk setuju, kompak sekali dengan istrinya. "Betul. Daripada berlarut-larut, lebih baik cepat selesai."Berbeda dengan tiga orang di sekelilingnya, Rosalin masih berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar.Menikah....Kata itu berputar-putar di kepalanya seperti kumpulan lebah yang berdenging.Tidak. Ini suatu kegilaan yang terlalu besar untuk diterima oleh akal sehat."Saya nggak mau! Pernikahan adalah komitmen seumur hidup, bukan permainan," potong Rosalin dengan nada tinggi. Ia merasa perbuatan ketiga orang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.