MasukHazel Lunara tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah hanya karena satu permintaan dari sahabatnya. Demi menghindari perjodohan dengan Lucian Griffin, seorang miliarder yang dikenal dingin dan telah memiliki seorang anak, Selena Morcant meminta Hazel menggantikan dirinya. Dengan identitas seorang pewaris konglomerat, Hazel harus menjalani kehidupan yang sama sekali bukan miliknya. Makan malam bersama Lucian, pergi berkencan, hingga merawat putranya membuat batas antara kepura-puraan dan perasaan perlahan menghilang. Namun, semakin dekat Hazel dengan Lucian, semakin sulit baginya menyembunyikan rahasia. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku, Selena?" Hazel terdiam. "Jawab aku. Siapa kau sebenarnya?" IG: @sweet.poisoned_
Lihat lebih banyak"Aku dijodohkan dengan pria yang sudah memiliki seorang anak!"
Hazel Lunara, menoleh kepada anak majikannya sekaligus sahabat dekatnya. Ia tampak terkejut mendengar ucapan itu, terlebih ketika melihat wajah sang sahabat yang menunjukkan kesedihan dan keputusasaan. "Tunggu!" Hazel mengerutkan dahinya penuh kebingungan. "Dia sudah memiliki seorang anak? Bukankah itu berarti dia sudah menikah?" Selena Morcant, wanita cantik yang merupakan putri sekaligus calon penerus keluarga Morcant, mengangguk dengan lesu. Ia duduk di tepi kolam renang dengan tubuh yang masih terbalut pakaian renang berwarna hitam. Rambut panjangnya yang basah terurai di punggung, sementara beberapa tetes air masih mengalir dari ujung rambutnya. Selena meraih handuk yang tergeletak di sampingnya, lalu mengeringkan rambutnya dengan malas. "Dia seorang duda," jawab Selena akhirnya. Hazel terdiam sejenak. "Duda?" "Ya." Selena menghela napas panjang. Wajahnya semakin muram ketika kembali mengingat percakapan dengan Ibunya tadi pagi. "Namanya Lucian Griffin. Keluarganya sangat kaya, tetapi dia sudah memiliki seorang anak." Hazel mengedipkan mata beberapa kali. "Kalau begitu, kau bisa menolaknya, Selena!" "Tidak bisa! Ibu memiliki utang budi pada keluarga Griffin!" Selena menjatuhkan handuknya ke samping, kemudian memeluk kedua lututnya sendiri. "Perjodohan itu sudah disepakati oleh keluarga kami sejak bertahun-tahun lalu. Aku bahkan tidak tahu mengapa mereka masih menganggapnya penting." Hazel terdiam selama beberapa saat. Ia tahu betul bagaimana keluarga Morcant mengambil keputusan. Terutama Diana Morcant, ibu Selena sekaligus majikan Hazel. Bagi wanita itu, urusan pernikahan bukan sekadar masalah perasaan, melainkan juga tentang kepentingan keluarga dan nama besar. Namun, Hazel tidak pernah menyangka Selena akan sampai terlihat seputus asa ini. "Apakah kau sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Hazel. Selena menggeleng. "Terakhir kali aku bertemu dengannya ketika kami masih berusia tujuh tahun!" Setelah itu, keduanya saling diam. Hazel masih bingung dengan pria yang dijodohkan dengan Selena, sedangkan Selena memikirkan jalan keluar dari perjodohan yang dialaminya. Sampai akhirnya, Selena kembali membuka suara. "Hazel!" Hazel menoleh pada Selena dengan satu alis terangkat. "Iya, Selena?" "Kau menyayangiku bukan?" Pertanyaan itu membuat Hazel mengangguk. Keluarga Morcant memperlakukan dirinya dan sang Ibu dengan sangat baik. Bahkan saat pertama kali ibunya bekerja sebagai pelayan di kediaman Morcant, Selena langsung mengajak dirinya berteman. "Iya, aku sangat menyayangimu, Selena!" Hazel menjawab tanpa ada keraguan sedikit pun. Membuat Selena tersenyum lebar, dengan mata berbinar. "Kalau begitu, kau bisa membantuku, Hazel." "Membantumu?" tanya Hazel dengan dahi berkerut. Selena mengangguk. Ia bangkit dan berjalan menuju sebuah kursi panjang di dekat kolam renang, lalu mengambil jubah mandi yang terletak di atasnya. Setelah mengenakannya, Selena kembali menatap Hazel yang sudah berada di dekatnya. "Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Hazel menatapnya dengan penuh perhatian. "Apa itu?" Selena duduk dengan anggun sambil menyilangkan kedua kakinya. "Kau tahu aku tidak ingin menikah dengan Lucian Griffin." Hazel mengangguk perlahan. "Aku ingin kau menggantikanku," lanjut Selena dengan santai. Hazel terkejut mendengar permintaan Selena. Ia membeku selama beberapa saat. "Menggantikanmu?" "Ya." Selena tersenyum, seolah-olah permintaan itu hal yang biasa. "Kau harus berpura-pura menjadi aku di depan Lucian." Hazel menatap Selena dengan tidak percaya. Menggantikan Selena? Yang benar saja, ini sangat mustahil. Belum mencoba saja, hanya membayangkan dirinya bertemu Lucian sebagai Selena sudah membuat dirinya frustrasi. Karena ia yakin, Lucian pasti akan menyadari kalau dirinya bukan Selena. "Selena, tidak mungkin bisa aku menggantikanmu!" Hazel menggeleng, menolak permintaan aneh dari Selena. "Tenang saja." Selena segera menggenggam tangan Hazel. "Keluarga Griffin sudah bertahun-tahun tidak melihatku. Mereka tidak akan tahu perbedaannya." Kalimat itu tidak membuat dirinya tenang begitu saja. Ia tetap menolak. "Maaf, Selena, aku tidak bisa membantumu! Lebih baik kau bicarakan ini pada Nyonya Diana!" "Aku yakin, Nyonya Diana pasti akan mencari jalan keluar agar kau bisa menolak perjodohan ini!" Hazel menunduk merasa bersalah, karena sudah menolak permintaan Selena. "Hazel, kau serius menolak membantuku?" Selena mengangkat wajahnya, tatapan tajamnya menatap Hazel yang masih setia menunduk. "Kau tega melihat aku menikah dengan seorang duda?" "Kau tahu kalau aku sudah memiliki seorang kekasih! Dan aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat, aku ingin menikmati masa mudaku!" Nada suara Selena yang semula meninggi, perlahan memelan menyiratkan keputusasaan dan kesedihan yang mendalam. "Dengan menerima perjodohan ini, aku harus mengubur semua impian aku! Aku harus meninggalkan Andrew, dan aku harus mengurus anak yang bukan darah dagingku sendiri!" Mendengar semua itu, Hazel perlahan mengangkat kepalanya. Rasa bersalahnya semakin besar melihat Selena yang kini menangis tersedu-sedu. Ia berjalan mendekat, dan mengambil duduk di sisi Selena. "Maaf, Selena. Aku tidak bermaksud menolakmu, hanya sa—" "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Hazel. Aku akan membantumu nanti!" "Tap—" "Aku akan mengatakan ini pada Mama, aku yakin Mama setuju dengan keputusanku. Keluarga Lucian juga tidak akan curiga, kalau kau menggantikanku nanti!" Selena mengusap air matanya yang membasahi pipi cantiknya. Ia memiringkan posisi duduknya agar berhadapan dengan Hazel yang wajahnya kini dipenuhi kebingungan. "Selena?" Hazel menatap sahabatnya dengan tatapan penuh keraguan. "Iya?" Selena membalas tatapan Hazel penuh keyakinan. "Aku takut ...," cicit Hazel yang kini dipenuhi perasaan campur aduk. Antara bingung, takut, ragu, dan juga rasa bersalah. "Bagaimana kalau nanti calon tunanganmu tahu kalau aku bukan kamu?" Selena menghela napas pelan. "Itu tidak akan pernah terjadi, Hazel." "Tolong, Hazel. Aku tidak bisa menerima perjodohan ini!" Ekspresi wajah Selena tampak memelas. Membuat Hazel tidak bisa menolak lagi, dengan penuh keterpaksaan dan keraguan ia mengangguk perlahan. Selena tersenyum lebar, ia langsung memeluk Hazel dengan erat. "Terima kasih, Hazel." "Jadi, kapan semua ini akan dimulai, Selena?" tanya Hazel setelah pelukan mereka terlepas. "Besok, kau bisa memulai jadi aku, Hazel!"Victoria mengajak Hazel duduk di salah satu sofa yang berada tidak jauh dari ranjang Raiden. Setelah memastikan cucunya kembali beristirahat dengan nyaman, Victoria kemudian duduk di sisi Hazel. Senyum hangat masih menghiasi wajah wanita itu, membuat Hazel yang sejak tadi sedikit tegang perlahan mulai merasa lebih santai."Tante masih tidak menyangka kau sudah sebesar ini," ujar Victoria sambil memperhatikan Hazel. "Rasanya baru kemarin kau masih menangis saat bermain petak umpet dengan Lucian, dan kau gagal menemukan tempat persembunyian Lucian." Hazel tersenyum kecil. "Waktu memang berjalan cepat, Tante.""Benar sekali." Victoria tertawa pelan. "Dulu kau dan Lucian hampir tidak pernah bisa diam. Setiap kali kalian bermain bersama, rumah selalu menjadi berantakan."Hazel ikut tertawa kecil meskipun sebenarnya ia tidak memiliki ingatan mengenai masa-masa tersebut. Ia hanya memberikan respon seadanya, dan tentunya penuh hati-hati. Pasalnya Selena tidak menceritakan masa lalunya dengan
Taksi yang ditumpangi Hazel berhenti di depan Rumah Sakit Pradipta Medika. Setelah membayar ongkos perjalanan, Hazel segera turun dan berjalan memasuki lobi rumah sakit. Ia masih mengingat jelas ruang rawat Raiden di lantai 3, karena kemarin baru saja ia menjenguknya bersama Lucian dan bertemu calon mertua Selena. Langkah kakinya bergerak menuju lift yang berada tidak jauh dari meja resepsionis.Sesampainya di lantai tempat Raiden dirawat, Hazel berjalan menyusuri lorong panjang, dan belok ke kanan sampai akhirnya ia sampai pada ruang rawat Raiden yang terletak paling ujung. Ia mengetuk pintu ruang rawat dengan pelan. "Silakan masuk."Terdengar sahutan dari dalam sana. Hazel tanpa ragu membuka pintu perlahan dan mendapati seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri di dekat tempat tidur. Wanita itu mengenakan pakaian sederhana dan tampak sedang merapikan beberapa barang milik Raiden.Begitu melihat Hazel, wanita itu langsung tersenyum dan menghampirinya. "Nona Selena?"Ha
Kedua mata Hazel langsung terbuka lebar membaca pesan singkat dari Lucian. Ia dengan cepat mengetikkan balasan untuk pria itu.Selena~Belum, Lucian. Ada apa?Setelah pesan terkirim, kedua ceklis abu-abu berubah biru. Lucian masih berada di room chat. Tidak lama, pria di seberang sana terlihat mengetik.LucianSelena, aku ingin meminta tolong padamu.Besok, Raiden pulang dari rumah sakit.Aku ingin kau menemaninya sejak pagi hingga malam.Hazel menatap layar ponselnya yang menampilkan tiga pesan yang dikirimkan oleh Lucian. Ia terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya membalas.Selena~Tentu saja aku bisa, Lucian.Hazel masih berada di room chat bersama Lucian. Sampai dua detik setelahnya, balasan kembali masuk.LucianKau tidak keberatan, Selena?Selena~Tidak sama sekali. Aku akan datang besok pagi, jangan khawatir, Lucian. Raiden akan aman bersamaku.Hazel melirik jam yang menempel pada dinding kamarnya. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 malam waktu Pandora. Ia haru
"Selena, sebelumnya aku minta ma—" "Duduk," potong Selena cepat. Dengan jantung berdegup kencang, Hazel berjalan menuju sofa di kamar Selena. Sedangkan gadis itu duduk di atas ranjang, sehingga posisi kami saling berhadapan dengan jarak satu meter. "Kau pergi kemana, Hazel?" Tatapan tajam Selena membuat Hazel kikuk. "Aku menjemput Ibu yang sedang bersama Rodric." "Kau tahu, Selena. Seberapa kejamnya Rodric, dan hari ini dia meminta uang pada Ibu. Tapi Ibu tidak memberinya, karena Ibu sudah memberikan semuanya pada Rodric beberapa hari yang lalu," lanjut Hazel menjelaskan pada Selena. "Ibu dicegat oleh beberapa preman, dan aku yang mendengar cerita Ibu lewat telepon langsung pergi ke sana." Hazel tampak kesusahan menceritakan itu pada Selena. Perasaan takut yang mendominasinya, membuat dirinya menjelaskan pada Selena dengan bertele-tele. "Aku benar-benar panik saat itu, sampai aku tidak mengingat Lucian," lanjutnya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.