Share

Bab 167

Author: Cathy
"Ryan, jangan di situ. Nanti bisa ninggalin bekas," keluhku pura-pura.

Aku mendengarnya menghela napas pelan sebelum perlahan berdiri. Akhirnya dia melepaskanku, jadi aku melangkah mundur. Memalukan sekali kalau kami bercinta di kantor. Suamiku memang gampang terbakar gairah. Hanya sedikit gesekan saja, dia sudah terangsang.

Tatapanku mengikuti dirinya ketika kusadari dia berjalan ke arah pintu. Kemudian, dia mengunci pintu dan kembali menghampiriku dengan seringai tipis sambil perlahan melepas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 313

    Sudut Pandang Trinity:"Ka ... kamu?" Lututku hampir lemas saat melihat wajah Dante. Aku tidak pernah menyangka mimpi buruk dari masa laluku akan kembali."Kangen aku nggak, Sayang?" katanya sambil menyeringai ketika menarikku menuju mobil.Aku tidak bisa menahan diri untuk berteriak ketakutan, "Dante, tolong kasihanilah aku! Nggak! Aku nggak mau ikut denganmu! Aku nggak berutang apa pun padamu. Tolong lepaskan aku!"Aku berharap dia masih memiliki sedikit belas kasihan. Aku benar-benar mengira sudah aman darinya, tetapi ternyata aku salah."Nggak, Sayang. Kamu lupa kamu masih berutang sama aku? Bukannya bibimu menjualmu padaku? Siapa namanya? Sylvia, 'kan?" tanyanya dengan seringai.Dia menarikku dengan kuat, membuatku tidak bisa melakukan apa pun selain menangis ketakutan. Apa yang dia inginkan dariku? Kenapa dia melakukan hal ini kepadaku?Ketika aku keluar dari mobil, dia mengangkatku ke pundaknya seolah tubuhku tidak berbobot sama sekali. Aku berusaha melepaskan diri, tetapi dia t

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 312

    Sudut Pandang Orang Ketiga:Dante duduk di mobil sambil mengertakkan gigi. Dia memandang kejauhan dengan sorot mata serius. Amarah dan rasa tidak rela memenuhi dirinya setelah melihat apa yang terjadi."Aku nggak nyangka, kamu ternyata punya sisi genit juga. Dasar perempuan. Baru sebentar aku meleng, sudah ada saja yang mendekatimu," gumamnya sambil mengepalkan tangan."Bawa dia ke sini, mau dia suka atau nggak," perintah Dante kepada anak buahnya.Dia sedang berada di area kampus, menatap ke satu arah. Dia harus menahan diri agar tidak keluar dari mobil dan menyeret paksa Trinity dari pria yang sedang mengobrol dengannya."Bukannya aturan Keluarga Baskoro sangat ketat? Kenapa yang kulihat malah seperti ini?" gumamnya. Aura mengintimidasi terpancar darinya, membuat anak buah yang sedang berbicara dengannya merinding."Tuan, biasanya Nona Trinity diantar dan dijemput oleh sopirnya. Mungkin sopirnya belum datang, jadi dia punya waktu untuk mengobrol dengan teman-temannya," jelas salah sa

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 311

    Sudut Pandang Felicia:Setelah beberapa kali dering, Dante akhirnya mengangkat telepon.Meskipun aku masih terluka karena kejadian tadi, aku tetap berusaha tegar. Aku tidak bisa terus-terusan menangis. Aku harus tetap tenang karena ada anak-anak yang membutuhkan perhatianku.Aku sudah terbiasa hidup tanpa Orson, jadi seharusnya aku tidak menangis seperti ini. Aku juga sudah terbiasa sendirian, jadi seharusnya aku bisa membiasakan diri dengan rasa sakit ini."Ada apa? Masa-masa bulan madumu sudah berakhir?" tanyanya begitu panggilan tersambung.Aku menahan tangisku. Menjadi lemah bukanlah sifat seorang anggota Keluarga Sandiaga."Jemput aku sekarang. Aku yakin kamu bisa melacak lokasiku, 'kan?" kataku dengan serius, mengabaikan ucapannya. Aku sedang tidak ingin bercanda dengannya.Lagi pula, aku tidak ingin Dante tahu aku sedang menangis. Dia bisa saja benar-benar menghajar Orson. Aku tidak mau ada keributan di antara mereka."Bertengkar sama pacarmu ya? Sudah kubilang, jangan percaya s

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 310

    Sudut Pandang Felicia:"Kenapa reaksimu begitu? Orson, jujur saja, apa kamu bisa menerimaku apa adanya? Menerima keluargaku dan seluruh identitasku?" tanyaku.Dia tidak bisa menjawab. Aku bisa melihat jelas kegelisahan mendalam di wajahnya. Aku memaksakan senyuman.Aku berharap setelah aku memberitahunya, semuanya akan baik-baik saja. Aku berharap dia bukan hanya bisa menerima diriku, tetapi juga keluarga kandungku."Katakan sesuatu, aku menunggu jawabanmu. Apa kamu bisa menerimaku, Orson? Apa kamu bisa meneriakkan ke seluruh dunia kalau wanita yang kamu cintai berasal dari Keluarga Sandiaga?" tanyaku.Harapanku perlahan memudar. Kekecewaan mendalam mulai memenuhi hatiku."Felicia, maaf. Aku nggak bermaksud membuatmu marah. Aku cuma terkejut. Aku mencintaimu, tapi aku nggak tahu apakah ...." Dia terdiam di tengah kalimat. Jelas sekali dia sedang bimbang. Sepertinya tidak bisa menerima kenyataan tentang identitasku."Apakah kamu bisa menerimanya? Apakah kita masih bisa melanjutkan hubun

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 309

    Sudut Pandang Felicia:"A ... apa kamu bilang? Kamu mencintaiku? Kamu juga mencintaiku, Felicia? Benarkah? Ya Tuhan. Apa aku sedang bermimpi?" tanyanya.Aku melihat air mata mulai menggenang di matanya. Aku menatapnya dengan tak percaya.Itu artinya, aku benar-benar penting baginya. Dia benar-benar mencintaiku juga. Hanya saja, aku terlalu takut untuk menyadarinya karena aku takut semua orang yang kusayangi akan membenciku."Aku mencintaimu, Orson. Aku benar-benar mencintaimu. Kamu tahu itu, 'kan? Aku nggak mungkin sebodoh itu sampai terus menyerahkan diriku padamu kalau kamu nggak penting bagiku," kataku sambil menangis. Aku bisa melihat keterkejutan di matanya saat mendengarkanku."Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya? Kenapa kamu menyembunyikannya dariku? Kalau kamu jujur, kita nggak akan sampai di situasi seperti ini. Kita nggak akan terpisah. Kalau aku tahu kamu juga mencintaiku, aku pasti akan melakukan apa pun untuk mempertahankan hubungan kita.""Felicia, aku siap memperjuan

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 308

    "Menikah dengannya? Tentu saja nggak. Siapa yang bilang aku punya hubungan dengannya?" tanyaku.Orson duduk di hadapanku dan menatapku lekat-lekat."Serius? Memangnya nggak ya?" tanyanya.Aku langsung menggeleng."Ya. Dan yang kamu katakan itu nggak mungkin," jawabku sambil menyesap jus jeruk yang baru saja diberikannya. Setelah menghabiskannya, aku berdiri dan berbalik menghadapnya."Bukannya kamu mau mengajakku keliling? Kamu juga nggak berniat mengembalikanku ke keluargaku, jadi setidaknya cari cara agar aku nggak bosan di sini," kataku, buru-buru mengalihkan pembicaraan. Aku belum ingin membahas situasi rumit di antara kami.Aku ingin bersenang-senang dan menciptakan kenangan indah bersamanya. Walaupun hanya beberapa hari, aku ingin menikmati kehadirannya dalam hidupku, sebelum dia harus kembali kepada Marceline."Kalau suatu hari aku melamarmu, apa kamu mau menerimanya?" tanyanya.Aku kembali menatapnya. Aku tidak tahu apakah dia sedang bercanda atau serius. Seandainya dia tidak p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status