LOGINMenurut Valeria Marsella, hidupnya adalah bencana karena ia harus terjebak menjadi dompet berjalan bagi pamannya yang tukang pukul. Namun, ternyata bencana yang sesungguhnya baru dimulai saat ia bertemu dengan David Bagaskara Mahendra, putra konglomerat yang suka berbuat seenaknya. Hanya karena berjuang menyelamatkan sahabatnya yang akan dijual kepada pria hidung belang, Val harus menanggung resiko dipecat dari pekerjaannya hingga berakhir menjadi pelayan di apartemen mewah David. Yang siapa sangka mengantarkannya pada kehidupan baru yang penuh emosional, karena ia betul-betul dipermainkan oleh pria obsesif itu. "Padahal sudah bertunangan! Tapi dia menjeratku, enggan melepasku bersama pria lain seolah aku miliknya yang paling berharga. Tidakkah dia terlalu kejam?" —Valeria Marsella.
View MorePunya wajah cantik dan tubuh seksi itu anugerah? Salah besar! Bagi Valeria Marsella—alias Val, yang bisa dikategorikan anugerah itu, jika kau terlahir kaya. Cantik dan seksi kalau miskin, buat apa? Yang ada cuma jadi beban hidup tambahan, karena setiap harinya akan ada saja wanita bersuami yang mengecapmu sebagai jalang murahan. Apalagi jika kau hidup sebatang kara tanpa orang tua, dan bekerja di malam hari. Tamat sudah reputasimu.
Sialnya, hidup seperti itulah yang harus dijalani Val sedari remaja. Putus sekolah di umur 16 tahun, lalu terpaksa bekerja sebagai pelayan di kelab malam karena cuma itu pekerjaan dengan gaji cukup besar yang mau menerima orang tidak berpendidikan tinggi sepertinya. Entah dosa apa yang telah Val lakukan di kehidupan sebelumnya—jika kau percaya akan adanya reinkarnasi—nasibnya malang sekali harus terlahir di tengah keluarga yang buruk. Orang tuanya bercerai sewaktu ia masih kecil dan sama-sama meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab. Hingga membuatnya terpaksa harus melanjutkan hidup bersama pamannya yang tidak berperikemanusiaan. Kelakuannya boleh dikatakan preman sejati. Pekerjaannya sehari-hari sebagai tukang palak pedagang pasar, sesekali bahkan mencopet. Belum lagi kebiasaan buruknya yang suka berjudi. Pantas dia menjadi bujang lapuk sampai sekarang. Tapi itu bukan suatu hal yang bisa Val syukuri. Justru sebaliknya. Val benci pamannya yang tak kunjung mempunyai istri di usianya yang sudah menginjak kepala empat. Karena gara-gara itu, Val jadi terus terjebak dalam tekanan yang pamannya ciptakan. Dia menjadikan Val mesin ATM berjalan tanpa mau tahu dan peduli apa yang harus dilalui gadis yang kini baru menginjak usia 20 tahun itu demi mencari segelintir rupiah untuk disetor. Kalau Val melawan atau telat menyetor uang pada pamannya, siap-siap tubuh molek Val lebam-lebam disiksa habis olehnya. Namun, Val sudah biasa. Hidupnya sudah keras sedari kecil, jadi itu saja bukan apa-apa. Ia bahkan sudah sering mendapatkan perilaku yang lebih buruk dari itu. Yaitu dilecehkan. Seperti yang tengah dialaminya saat ini, di mana seorang kakek renta yang tidak tahu malu dengan umur menampar bokongnya cukup keras ketika Val sedikit berjongkok untuk menaruh minuman di atas mejanya. Val memelototinya tidak senang. Jangan kaget. Val bukan tipe wanita lemah yang akan meringkuk ketakutan atau pasrah saja jika diperlakukan kurang ajar seperti barusan. Sudah dibilang, Val sudah biasa hidup keras. Maka ia tidak takut dengan segala risiko dari perlawanannya. “Hehehe... apa terlalu kencang?” Kakek itu memandang salah tingkah mendapati respons gadis di hadapannya. Suara parau khas dimakan usia yang menguar dari kerongkongannya sungguh membuat Val mual. “Tidak juga,” jawab Val seraya menegakkan badan dan melipat tangan di dada. “Anda bisa melakukannya lagi dengan memakai tongkat kayu atau besi panas sekalian, kalau Anda mau. Aku akan menikmatinya.” “Sungguh?” Wajah kakek tua itu langsung berbinar nakal. Terlihat dia sempat menyisir setiap lengkungan elok tubuh Val dengan matanya yang sudah menunjukkan gejala katarak. Mungkin sedang membayangkan dia melakukan apa yang diminta gadis itu barusan, sambil melihatnya merintih nikmat disertai wajah menggoda. “Ya, tentu. Maksudku, aku akan menikmati sekali menyaksikan tua bangka tidak ingat umur seperti Anda, mendarat di penjara setelah aku melaporkan perbuatan Anda ke polisi,” tantang Val berani, lalu mengambil ponselnya dari saku. “Lakukan saja, aku sudah mulai merekam untuk dijadikan bukti.” Mendengar itu, wajah si kakek berubah marah. Dia melepeh cerutu yang sedari tadi menempel di bibirnya. “Dasar jalang kurang ajar! Berani sekali kau menghinaku! Tidak tahu siapa aku, hah?!” “Tahu. Mangkanya aku merekam.” Val masih dengan beraninya memamerkan ponsel di hadapan pria tua itu. Ia tidak main-main dengan ancamannya. Ia betulan sedang merekam. “Anda pasti salah satu pebisnis penting yang reputasinya bisa hancur dalam sekejap jika rekaman ini tersebar. Apa aku salah?” “Kurang ajar!” Lagi, pria tua itu menggeram marah. Kali ini dia berdiri dari duduknya, menyodorkan tongkatnya di hadapan wajah Val lalu berseru lagi, “pergi kau dari hadapanku, jalang sialan!” Val mematikan kamera, menyimpan ponselnya kembali dalam saku seraya tersenyum puas. “Dengan senang hati.” Ia membungkuk mencemooh sebelum melangkah pergi dari hadapan si tua bangka menggelikan itu. Jika kau berpikir apa Val tidak takut orang itu akan mengadukan kelakuan buruknya ke atasan, lalu ia terancam dipecat, percayalah Val sudah mengantisipasi kemungkinan tersebut. Karena itulah ia selalu menyempatkan untuk merekam setiap orang yang melecehkannya. Rata-rata orang yang datang ke kelab megah ini merupakan orang-orang penting dan berpengaruh. Jelas mereka akan ketakutan dengan ancamannya yang bisa memicu skandal besar. Gadis itu sudah melakukan ini selama dua tahun terakhir, dan belum pernah gagal. Jadi ia terus mempertahankan senjata andalannya tersebut sampai detik ini. “Wah, gila! kau masih berani melakukan itu?!” Yang bicara barusan, dia adalah teman dekat Val selama bekerja di kelab malam ini. Rupanya dia memperhatikan kelakuan Val dari kursi di meja bar tempatnya bersantai sambil menunggu ada pelanggan datang menghampirinya. Namanya Kinara Sri Ningsih. Sungguh malang kisahnya. Dia berasal dari salah satu pelosok desa di Jawa Timur. Datang ke Jakarta atas dorongan dari ayahnya yang menyerahkannya pada pihak yang mengaku mengelola yayasan ART. Tahu-tahu dia malah dijual untuk bekerja menjadi wanita penghibur di sini. Val masih ingat ketika seorang pria paruh baya bertubuh gempal menjadi pelanggan pertamanya. Kinar menangis dan memberontak sejadi-jadinya, memohon pertolongan dari orang-orang yang ditatapnya, termasuk Val. Tapi apa daya, pada saat itu Val tidak bisa menolong. Dan ia menyesalinya. Andai saja keberanian dalam dirinya sudah ada sejak hari itu, mungkin ia bisa membantu Kinar dengan salah satu trik andalan yang biasa dipakainya dalam keadaan-keadaan mendesak. Sayang sekali semuanya sudah kadung terlambat, dan kini masa depan Kinar sudah hancur. Padahal usianya satu tahun lebih muda di bawah Val. “Selama belum ketahuan bos, ya berani saja. Toh ini demi menjaga reputasi serta masa depanku,” sahut Val bercanda. Ia masuk ke dalam bilik bar, menaruh nampan yang tadi digunakannya untuk mengantarkan minuman di meja belakang. “Kalau suatu hari ketahuan lalu kau dipecat bagaimana?” tanya Kinar penasaran. “Kalau dipecat ya?” Val merenung sejenak. Tangannya bertumpu di atas meja bar. “Hm... paling siap-siap saja dipukuli oleh pamanku karena tidak bisa setor uang.” Kinar menatap tak percaya temannya itu. “Val... bisa tidak sih, kalau mengatakan yang buruk-buruk semacam itu, wajahmu ditekuk sedikit? Jangan terlalu sering berpura-pura kuat, Val. Kita ini wanita, pada dasarnya butuh bersandar pada seseorang. Tidak bisa selalu berusaha tegar sendirian. Rasanya pasti akan terlalu menyakitkan.” “Aku sudah sering bersandar kok. Pada tembok. Atau tiang.” Val tertawa tanpa beban menanggapi candaan yang diciptakannya. Sementara Kinar hanya mendengus menyabarkan hati. Berhadapan dengan Val si hati batu—begitu Kinar menyebutnya—memang terkadang membuatnya harus sering-sering melapangkan dada. Percakapan terhenti sejenak. Val kembali disibukkan dengan seorang pelanggan yang baru datang menghampiri meja bar. Dia minta diantarkan minuman serta camilan ke salah satu meja berbayar di kelab malam ini. Setelah selesai menyiapkannya, Val berpamitan pada Kinar. “Aku antar ini dulu.” Kinar hanya mengangguk singkat seraya menyesap bir dalam gelasnya. Hingga Val berlalu pergi menembus kerumunan pesta berlatar musik DJ bising yang memekakkan telinga. **Val masih menatap kontrak di tangannya beberapa saat, sebelum akhirnya menyerah dan mengasihnya kembali kepada Anton. Percuma terus menggerutu. Kontrak itu sudah ditandatangani, dan sekarang mau tidak mau ia harus menerima segala konsekuensinya.Belum selesai memusingkan soal itu, tiba-tiba sebuah pikiran lain muncul di kepalanya. “Kalau soal gaji bagaimana?” tanya Val. Wajahnya masih suntuk. “Jangan bilang kau tidak akan menggajiku?” David yang menangkap sedikit kecemasan di wajah Val malah berpikir untuk menjahilinya. Pria itu melipat tangan di dada seraya memberikan tatapan menuntut. “Setelah semua yang kuberikan padamu serta temanmu, kau masih sempat mempertanyakan gaji? Kau ini materialistis sekali.” “Mana ada aku materialistis?!” Val langsung membalas. “Gaji adalah hak setiap pekerja meskipun aku hanya seorang pelayan rumah! Aku cuma mempertanyakan hakku!” David terkekeh kecil. “Kalau begitu buktikan dulu dedikasimu padaku. Gajimu akan ditentukan dari hasil kerjamu selam
Val kini berdiri kaku di ruang tengah penthouse dengan seragam pelayan kependekan telah melekat di tubuhnya. Di sampingnya juga ada seorang lagi yang mengenakan seragam sama persis sepertinya. Namun berbeda jauh dengan Val, dia tampak rapi dan kelihatan sangat nyaman. Gesturnya juga tenang dan tegap, tidak seperti Val yang terlihat jelas penuh beban.Dia adalah wanita yang kemarin sempat melayani Val. Dia menyunggingkan senyum ramah setiap kali mata mereka bertemu.Val sendiri masih belum terbiasa dengan pakaian yang dikenakannya. Berkali-kali tangannya diam-diam menarik ujung rok yang menurutnya kelewat pendek itu ke bawah. Namun, setiap kali ditarik, beberapa saat kemudian rok tersebut kembali naik ke posisi semula.Hal itu membuat Val kesal. Sementara David yang berdiri di hadapan mereka beberapa kali memerhatikannya dengan sudut bibir terangkat. Bukan tatapan yang membuat Val merasa terancam, melainkan lebih seperti seseorang yang diam-diam menikmati tingkah lucu orang lain.“Nam
Ketukan pintu terdengar cukup keras di pagi buta, tepat saat jam dinding menunjukkan pukul lima lewat dua puluh. Val yang baru saja tertidur sebentar setelah semalaman suntuk memikirkan banyak hal, langsung terbangun dengan napas berat. Matanya menyipit, kepalanya masih terasa pening.Awalnya ia menyangka Kinar yang mengetuk. Namun, ketukan kedua kembali terdengar—kali ini lebih konstan dan terasa agak jauh. Jelas datang dari pintu depan.Dengan langkah diseret, Val keluar kamar. Ia sempat melirik ke kamar Kinar, masih sunyi. Gadis itu pasti kelelahan sekali setelah semua yang dilaluinya seharian kemarin.Begitu pintu dibuka, Val langsung berhadapan dengan Anton yang sudah berdiri tegak seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda mengantuk pada wajah pria itu. Bahkan sejak pagi-pagi sekali, ekspresinya tetap datar dan sulit ditebak.“Ada apa?” tanya Val dengan suara serak.“Ikut denganku ke penthouse Tuan David.”Val mengerjapkan mata. Ia masih belum sepenuhnya sadar.“Untuk apa?”Anton mema
Sekali lagi, Val dan Kinar dibuat melongo oleh kebaikan seorang David.Bagaimana tidak? Tadinya mereka pikir pria itu hanya akan menyiapkan unit apartemen studio untuk ditinggali mereka berdua. Itu saja menurut Val sudah lebih dari cukup.Tapi siapa sangka, yang tersaji di hadapan mereka justru unit yang agak luas dengan dua kamar tidur. Itu artinya, Val dan Kinar akan memiliki kamar masing-masing! Tidakkah pria itu terlalu murah hati?Tidak hanya sampai di situ, bahkan seluruh ruangan telah dilengkapi dengan perabotan yang cukup lengkap. Mulai dari rak sepatu di dekat pintu berikut dua pasang sandal rumah. Mini dapur dan kulkas di ujung ruangan yang sudah diisi berbagai stok makanan. Serta meja makan dari kaca berikut chandelier yang memancarkan cahaya kuning temaram, menambah kesan hangat sekaligus elegan pada ruangan. Oh, Val bahkan belum melihat isi kamar mandi serta kamar tidurnya. Tetapi ia berani bertaruh, di sana juga pasti tersedia fasilitas yang sangat cukup untuk memenuhi k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.