Share

Bab 170

Penulis: Cathy
Sudut Pandang Abigail:

Selesai makan, kami langsung kembali ke kantor. Aku memutuskan untuk menunggu Ryan, lalu nanti kami pulang bersama ke vila.

Sementara dia bekerja, aku akan tidur di ruang rahasianya.

Sebenarnya aku ingin mengunjungi Carmen dan Selly di kantor mereka, tetapi tiba-tiba aku merasa malas. Aku bisa menemui mereka lain kali.

Aku sedang tidur nyenyak ketika tiba-tiba terbangun oleh ponselku yang berdering. Aku menguap, lalu duduk dengan malas untuk meraih ponselku.

"Halo?" sapaku
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 200

    Aku langsung menyuruh sekretarisku membatalkan semua jadwalku hari itu. Aku menawarkan diri untuk menjaga korban itu, sementara Mama dan Papa pulang ke vila untuk beristirahat.Mama benar-benar tidak mau meninggalkan pasien itu. Aku tidak tahu kenapa, tetapi makin lama, aku justru merasa iba padanya. Seolah ada sesuatu tentang perempuan ini yang tidak bisa kujelaskan.Untuk saat ini, aku hanya ingin mengetahui dua hal. Siapa namanya, siapa yang ingin membunuhnya. Dia masih terlalu muda untuk terjebak dalam masalah seperti ini. Di usianya, dia seharusnya masih berada di bawah perlindungan orang tua."Nggak! Berhenti! Jangan!"Aku refleks berdiri ketika mendengar teriakan keras itu. Aku berlari ke arah ranjang dan bisa melihat dengan jelas ketakutan di wajahnya serta butiran keringat di keningnya, meskipun ruangan itu dingin. Aku juga melihat tubuhnya gemetar."Tolong kasihani aku! Jangan!" teriaknya sambil terus menangis.Aku segera mendekat dan memegang tubuhnya, lalu menepuk pipinya p

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 199

    "Ya. Papa dan aku sama-sama punya golongan darah O positif, jadi kami nggak akan bisa bantu meskipun kami ingin," jawabku.Perhatian kami teralihkan ketika seseorang mengetuk pintu. Seorang perawat dan seorang dokter masuk ke ruangan.Mereka menyapa kami sebelum berjalan menuju pasien. Kami membiarkan mereka melakukan pekerjaan mereka.Mama tiba-tiba bertanya, "Dok, apa dia akan pulih? Apa dia butuh tambahan kantong darah lagi?"Dokter itu langsung menggeleng. "Jangan khawatir, Bu. Kondisinya sudah stabil. Kami juga sudah menangani luka-lukanya. Sekarang putrimu hanya perlu istirahat.""Hah? Putri? Dok, kami nggak kenal gadis ini. Kami hanya menolongnya," jawab Mama.Aku tak bisa menahan rasa terkejut mendengar ucapan dokter itu. Aku menatap pasien yang masih tidak sadarkan diri, lalu menatap Mama."Bukan? Oh, maaf .... Aku kira dia putrimu. Kalian sangat mirip," jelas dokter itu.Aku langsung melihat keterkejutan di wajah Mama dan Papa. Mereka berdua secara bersamaan menatap pasien ya

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 198

    Aku makin bingung karena percakapanku dengan Papa setelah itu. Aku tidak bisa berhenti memikirkan apa yang baru saja kutemukan."Itulah yang Papa nggak ngerti. Luka yang ada pada tubuh korban bukan karena ditabrak Felicia. Dia ditembak oleh seseorang. Itu sebabnya dia kehilangan begitu banyak darah," jawab Papa.Aku langsung merasa kasihan pada korban yang bahkan belum kami ketahui namanya."Maksud Papa gimana? Jadi Felicia bukan orang yang melukai korban? Felicia nggak bersalah dalam kejadian ini?" tanyaku dengan bingung.Papa mengangguk. "Polisi sedang menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Mereka berusaha menemukan orang yang menembak korban. Mungkin dia mencoba mencari pertolongan, lalu berlari ke tengah jalan. Felicia nggak bersalah karena di mobilnya bahkan nggak ada goresan sedikit pun," jawab Papa.Aku langsung merasa lega. Setidaknya Felicia tidak akan terseret ke dalam tuntutan hukum."Kalau begitu, nyawa korban benar-benar dalam bahaya. Syukurlah Felicia nggak ikut tersere

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 197

    Sudut Pandang Orson:"Aku benar-benar salut sama pemilik bar ini. Tempat ini sudah beberapa kali digerebek, tapi sepertinya nggak berpengaruh sama sekali ke dia. Dia tetap saja menjalankan bisnisnya," kata Bradley.Aku tak bisa menahan diri untuk memikirkannya. "Mungkin dia punya koneksi. Memang selalu begitu kalau seseorang punya teman atau keluarga yang punya jabatan. Mereka bisa lolos dari apa saja."Bradley hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi aku melihat teman-teman kami mulai berdatangan.Aku cukup menikmati mengobrol dengan mereka. Aku belajar banyak hal, terutama saat kami membahas bisnis masing-masing.Aku sebenarnya belum ingin pulang, tetapi ketika tempat itu makin berisik karena pertunjukan yang makin vulgar di atas panggung, aku memutuskan untuk berdiri dan pergi."Aku pulang dulu ya. Besok pagi aku ada rapat," kataku.Mereka mulai protes, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena aku langsung membalikkan badan.Aku berjalan menuju area parkir. Di sana, aku melihat seoran

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 196

    Sudut Pandang Orson:"Mobil?" Ketika turun ke lantai bawah, aku langsung mendengar suara Felicia yang terdengar sangat bersemangat.Truk yang kemungkinan mengantarkan mobil itu sudah pergi. Felicia tampak seperti ingin mencium mobil itu karena terlalu senang. Sepertinya ini yang Mama sebut sebagai kejutan untuknya.Namun, kenapa mobil? Apa mereka tidak merasa berbahaya membiarkan seseorang seperti Felicia mengemudi ke mana-mana? Dia masih di bawah umur."Orson ... lihat, menurutmu gimana mobil baru adikmu?" tanya Mama sambil tersenyum.Aku tidak bisa menahan diri untuk menghela napas. "Kenapa Mama nggak kasih tahu aku soal ini? Kenapa Mama beliin dia mobil?""Adikmu sudah besar sekarang, Orson. Lagian, dia sudah punya izin belajar mengemudi. Nilainya di sekolah juga bagus. Papa dan Mama sudah janji akan beliin dia sesuatu yang dia inginkan," jawab Mama.Aku kembali menggeleng."Jadi itu alasan dia nggak mau pesta ulang tahun? Tapi Mama, dia masih di bawah umur. Dia nggak boleh mengemud

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 195

    "Kalau begitu, kasih saja semuanya ke pacarmu yang kurus itu! Atau jangan-jangan kamu sendiri yang mau pakai? Kamu bukan banci, 'kan?" kata Felicia dengan marah.Mataku langsung menyipit mendengar ucapannya. Ucapannya ini makin membuktikan seperti apa perilakunya. Dia benar-benar tidak sopan!Rasanya percakapan kami tidak akan menghasilkan apa pun, jadi aku hanya menghela napas. Aku menatapnya lama sebelum memutuskan keluar dari kamar.Kalau terus begini, rambutku bisa memutih karena kesal. Mungkin aku harus lebih serius mencari adik kandungku supaya gadis ini mengetahui kebenaran tentang identitasnya. Dengan begitu, dia tidak akan bersikap begitu angkuh padaku."Eh, kamu lupa bawa barang-barang yang kamu belikan buatku. Aku sudah nggak mau lagi, jadi bawa saja keluar." Kudengar dia berkata tepat saat aku hendak pergi.Aku berbalik dan menatapnya tajam."Sudahlah! Yang kuinginkan cuma ucapan terima kasih sederhana. Aku nggak pernah mengambil kembali barang yang sudah kuberikan!" bentak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status