LOGINMengetahui dirinya ternyata hanya istri kedua. Dania memilih pergi dan menggugat cerai. Dalam pelarian, ia diselamatkan oleh Kaivan, kakak sepupu suaminya, rival bisnis yang jauh lebih berkuasa. Dengan dukungannya. Dania bangkit menjadi desainer ternama. Kini, sang mantan suami dan istri pertama pria itu harus menyaksikan perempuan yang mereka remehkan menjelma menjadi saingan paling berbahaya.
View More[Kamu akan pulang malam ini, ‘kan? Aku menunggumu, Sayang.]
Notifikasi pesan yang masuk ke ponsel Devano—suaminya membuat wajah Dania memucat. Jantungnya mendadak berdebar dua kali lebih cepat. Ia mengerjap berulang kali, memastikan tak ada yang salah dengan indra penglihatannya. “Siapa dia?” gumam Dania tercekat. Nama pengirim pesan tersebut adalah Aurelie Cornelia. Nama yang entah kenapa terasa familiar bagi Dania. Walaupun ia merasa belum pernah bertemu dengan pemilik nama itu. Dan pesan yang wanita itu kirimkan pada suaminya membuat dadanya panas. Dania spontan melangkah mundur. Ia bergegas mencari ponselnya sendiri. Dadanya semakin berdebar keras. Wanita itu mencari tahu siapa Aurelie Cornelia di internet. Dan berbagai informasi dari pemilik nama tersebut langsung berseliweran. Dania tak peduli dengan profesi dan ketenaran wanita itu. Yang ingin ia tahu hanyalah hubungan wanita itu dengan suaminya. Dan setelah mencari tahu lebih dalam, Dania mendapati kenyataan pilu yang membuat matanya kontan berkaca-kaca. ‘Pernikahan desainer ternama Aurelie Cornelia dengan pengusaha muda Devano Sebastian yang menjadi trending topik lima tahun lalu.’ “Apa-apaan ini?!” pekik Dania dengan mata melebar sempurna. Bukan hanya satu artikel yang memuat berita tentang pernikahan Aurelie dan Devano lima tahun silam. Dan Dania tak pernah tahu tentang itu. Dan selama tiga tahun ini, ia mengira hanya dirinya satu-satunya wanita dalam kehidupan Devano. “Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa belum menyiapkan makan malam?” Suara bariton sang suami membuat Dania kontan menoleh. Air matanya nyaris tumpah. Namun, wanita itu masih berusaha menahannya. Ia langsung menghampiri pria itu dan bertanya dengan lantang, “Siapa Aurelie?” Perubahan signifikan tampak jelas di wajah Devano yang selalu berekspresi dingin. Namun, dalam hitungan detik ekspresi pria itu kembali datar. “Apa yang kamu bicarakan? Cepat siapkan makan malam. Aku harus pergi untuk meeting penting malam ini.” Dania tertawa sumbang. “Meeting atau menemui istri pertamamu?” Senyum sinis tersungging di bibir Dania saat melihat keterkejutan di wajah sang suami. Ia menunggu suaminya menyangkal. Namun, hingga beberapa menit kemudian, pria itu masih terpaku. Seolah-olah sedang mencari pembelaan yang masuk akal. “Kenapa kamu menipuku? Apa salahku?” cerca Dania tanpa basa-basi. Dania maju se langkah, sengaja mempertipis jaraknya dengan sang suami. “Itu yang membuatmu tak pernah mengajakku ke acara keluargamu? Bahkan, menyembunyikan pernikahan kita dari publik? Karena ada hati yang kamu jaga?” Selama ini, pernikahan mereka memang disembunyikan dari publik. Devano beralasan jika posisinya di perusahaan masih belum stabil, sehingga membuka status mereka di depan publik dapat mempengaruhi posisi pria itu. Dania selalu percaya saja selama ini. Namun, ternyata ada alasan lain yang Devano sembunyikan darinya. Dania memang bukan berasal dari keluarga terpandang seperti Devano. Sehingga Dania juga tak mempermasalahkan Devano yang tidak pernah mengajaknya ke acara keluarga pria itu. Ia mengira Devano tak ingin dirinya dicerca. Rupanya dirinya memang disembunyikan karena Devano memiliki istri lain yang statusnya jelas di mata semua orang. Devano menghela napas kasar seraya menyentuh lengan Dania. Namun, langsung ditepis oleh sang empunya. “Aku tidak mau membahasnya sekarang. Aku masih banyak urusan setelah ini.” “Jangan mengalihkan pembicaraan!” sentak Dania dengan suara meninggi. “Kamu sudah punya istri cantik, terkenal, dan berasal dari keluarga terpandang, untuk apa kamu menikahiku?!” Dania kembali mencerca suaminya. Kedua tangan Dania mengepal di sisi tubuhnya. “Apa satu istri tidak cukup untukmu?!” Rahang Devano mengetat sempurna. Tuduhan Dania berhasil menyulut emosinya. “Karena aku butuh keturunan!” Jawaban Devano membuat dada Dania mencelos. Rupanya karena itu. Devano hanya menjadikan dirinya sebagai batu loncatan untuk mendapatkan keturunan. Bukan karena pria itu mencintainya. Cinta yang selama ini Devano katakan hanyalah tipu muslihat untuk membuatnya terjerat. Dan bahkan, setelah mendapatkan keturunan darinya pun, Devano tak pernah benar-benar peduli pada putra mereka. Pria itu selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Selama ini Dania mengira Devano benar-benar di sibukkan oleh pekerjaan hingga hanya memiliki sedikit waktu untuk keluarga. Ternyata itu karena Devano memiliki rumah lain yang tak pernah Dania ketahui. “Oh, ternyata karena itu?” balas Dania lirih. “Ceraikan aku sekarang! Aku tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain!” tegas Dania penuh penekanan. Dania tak akan pernah sudi menjadi duri dalam hubungan orang lain. Seandainya ia lebih peka dan mencari tahu sejak awal, dirinya tidak akan terjebak di sini. Jika ia tahu Devano adalah pria beristri, ia tidak mungkin menerima pinangan pria itu. “Tidak ada perceraian!” jawab Devano dengan sorot tajam. “Kamu pikir bisa bertahan hidup tanpa diriku? Memangnya siapa yang akan menampungmu?” tanya pria itu dengan senyum remeh. “Kamu cukup merawat anak kita dengan baik dan kehidupanmu akan terjamin. Aku sudah menikahimu, kamu tidak perlu menuntut apa-apa lagi!” pungkas Devano sebelum membalikkan tubuhnya. Sebelum benar-benar pergi, Devano kembali bersuara, “Simpan apa yang kamu tahu dan kamu akan aman.” Dania hendak membalas ucapan Devano lagi. Namun, langkahnya terhenti karena putranya yang sedari tadi tertidur lelap menangis. Ia segera menghampiri dan menggendong putranya. Berusaha menenangkan bocah berusia dua tahun itu. Tangis Dania akhirnya pecah. Dadanya amat sesak. Ia mengira Devano berselingkuh darinya. Rupanya pria itu jauh lebih kejam dari yang ia kira. Pria yang amat ia cintai itu ternyata hanya menjadikan dirinya istri kedua demi mendapatkan keturunan. Setelah putranya kembali tertidur lelap, Dania membaringkan sang putra di ranjang. Ia menghapus kasar sisa lelehan air matanya. Wanita itu tak ingin berlarut-larut menangisi kebodohannya. “Aku harus pergi,” gumam Dania dengan suara serak. Dania yakin cepat atau lambat Devano akan melakukan sesuatu. Pria itu hanya menginginkan keturunan darinya. Devano bisa mengambil Zavian—putranya kapan saja. Bahkan, mengklaim Zavian sebagai anak dari istri pertama pria itu. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!” desis Dania seraya bergerak membereskan barang-barangnya. Satu-satunya yang Dania miliki adalah putranya. Apa pun yang terjadi, ia tak ingin dipisahkan dengan putranya. Jadi, sebelum Devano bertindak, lebih baik dirinya pergi. Dania hanya mengemas barang-barang penting miliknya dan putranya. Ia tak punya banyak waktu dan tak mau menimbulkan kecurigaan. Rumah ini diawasi banyak penjaga. Dania ingin berhasil membawa pergi putranya tanpa memancing kecurigaan siapa pun. Dania menunggu hingga beberapa jam kemudian. Setelah memastikan keadaan rumah benar-benar sepi, ia langsung membawa putranya keluar kamar. Wanita itu hanya membawa satu tas ransel berukuran sedang. Ia berjalan mengendap-endap tanpa suara. Dania sudah mencapai gerbang utama, ia pikir dirinya sudah lolos. Ternyata ia salah besar, seorang security melihatnya. Wanita itu bergegas lari sekuat tenaga. Bagaimanapun caranya, ia harus pergi dari rumah ini sekarang juga. “Nyonya, berhenti!” Dania menulikan telinganya. Ia terus berlari tak tentu arah. Sesekali menoleh ke belakang, memastikan jaraknya dengan orang yang mengejarnya masih cukup jauh. Hingga kakinya tak sengaja tersandung. Ia terjerembab di tanah. Putranya terbangun dan menangis. Dania berusaha bangkit, tetapi kakinya sulit digerakkan. Di saat yang sama, sebuah mobil melintas. Ia pikir dirinya dan putranya akan tertabrak. Namun, mobil itu ternyata berhenti tepat di hadapannya. Pengemudinya turun. Ia yakin akan dimaki, tetapi ternyata, “Kalau kamu benar-benar ingin meninggalkan Devano, naiklah!”“Jangan sentuh istriku!” geram Devano dengan suara tertahan. Pria itu spontan hendak menarik Dania ke sisinya. Namun, Kaivan dengan sengaja agak mendorong wanita itu mundur. Dania pun mengikuti kode yang Kaivan berikan. Ia tak ingin berurusan dengan Devano lagi dan kedatangan Kaivan sangat membantunya. Kaivan terkekeh sinis. “Istri? Maksudmu mantan istri?”Rahang Devano semakin mengetat. Matanya melotot tajam hingga urat-uratnya tampak jelas. Dania tak pernah melihat Devano se marah ini. Akan tetapi, apa pun yang pria itu lakukan kini tak berarti lagi baginya. Bahkan, jika pria itu mengamuk sekalipun.Devano tak pernah menyebut Dania ‘istri' pada siapa pun selama ini. Dan setelah hubungan mereka berakhir, pria itu malah baru mengakuinya. Itu membuat Dania semakin muak. Ia menyesal pernah memberikan seluruh hatinya pada pria itu. Cinta itu yang membuat Dania bodoh. Sehingga sangat mudah diperalat dan menutup mata akan banyaknya kejanggalan yang terjadi selama ini. Itu karena Dania s
Langkah Dania lantas terhenti. Wanita itu membeku selama beberapa saat. Walaupun sudah menduga akan bertemu dengan Devano dan Aurelie di sini, ia tak menyangka akan melihat keduanya tepat ketika baru melangkah masuk. Denyut nyeri kontan menggerayangi dadanya. Helaan napas berat lolos dari bibirnya. Rasanya masih sulit menerima kenyataan tersebut. Dania memejamkan matanya sejenak. Ia tak boleh seperti ini. Dan jangan sampai Devano ataupun Aurelie menyadari ekspresinya. Setelah menenangkan gemuruh di dadanya, Dania kembali melanjutkan langkah. Sebisa mungkin ia mengabaikan keberadaan Devano dan Aurelie. Meskipun ia menyadari jika Devano telah melihatnya. Tujuan utamanya datang kemari bukan untuk bertemu mereka. Melainkan untuk membangun relasi. “Dania, akhirnya kamu datang!” seru seorang wanita dengan gaun hitam glamor yang tiba-tiba menghampiri Dania. Awalnya Dania terkejut. Namun, wanita itu mengubah ekspresinya dengan cepat. Ia menyunggingkan senyum lebar dan membalas sapaan wani
“Ternyata kamu yang menggambar desain-desain itu?”Dania yang sedang menemani Zavian menggambar kontan tersentak. Ia menoleh ke samping dan mendapati Kaivan sudah duduk di single sofa. Dania pun langsung menghentikan aktivitasnya dan kembali menegakkan tubuhnya.“Maaf, aku akan membereskannya. Tadi Zavian ingin menggambar di sini.” Dania langsung membereskan alat-alat gambarnya dan beberapa kertas yang sudah terisi. Sebenarnya Dania ingin menemani Zavian menggambar di kamar mereka saja. Akan tetapi, Zavian memaksa ingin menggambar di ruang tengah. Katanya bosan di kamar terus. Dania pun tak bisa memaksa. Ia khawatir putranya malah rewel dan mengganggu penghuni lain di rumah ini. “Lanjutkan saja,” jawab Kaivan sembari mencondongkan tubuhnya dan mengacak rambut Zavian sekilas. Kaivan membuka jasnya dan bersandar di sofa. Sorot matanya masih mengarah pada beberapa kertas HVS yang sudah terisi desain pakaian. Dari mulai dan casual hingga formal. “Kamu desainer? Atau hanya suka menggam
“Kerja sama?” tanya Dania dengan kening berkerut. “Aku tahu kamu ingin menyembunyikan putramu dari Devano. Kebetulan, aku juga sudah muak dengan tingkahnya yang selalu menjatuhkanku. Kalau kamu mau, aku bisa membantumu,” jawab Kaivan sembari menoleh sekilas ke arah Dania. “Kamu bisa mempertimbangkannya. Aku tidak memaksa kalau kamu tidak setuju,” pungkas pria itu sebelum mempercepat laju mobilnya pada jalanan yang mulai lengang. Dania masih tercenung. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Saat ini pikirannya masih kacau. Wanita itu tak ingin terlalu cepat mengambil keputusan yang hanya akan ia sesali di kemudian hari. Dirinya perlu waktu sebelum memutuskan apa pun. Dania juga tidak bisa serta merta percaya pada Kaivan. Devano saja bisa menipunya dengan begitu mudah, apalagi pria di sampingnya ini. Dania tak ingin jatuh ke lubang yang sama lagi di saat luka menganga di dadanya belum sembuh. Sisa perjalanan itu Dania habiskan dengan lamunan panjang. Ia sampai tidak menyadari jika mobil












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.