Share

6

"Ini keluarga saya," kata Panji membuat pelayan itu mengangguk paham lalu mempersilakan mereka masuk.

"Mau pesen apa Bu?" tanya pelayan itu, ia semakin ramah kala mengetahui jika mereka keluarga Hana.

Setelah mereka menyebutkan pesanan masing-masing, ia langsung pergi menunaikan tugas. Gina yang memiliki ide kala melihat pelayan itu sangat dekat dengan Hana, mempunyai rencana. Bergegas wanita tersebut pindah dari tempat duduk ke dekat Hana saat Panji pamit ke toilet.

"Sepertinya kamu dan pelayan itu sangat dekat," tutur Gina membuat Hana menoleh menatap ia heran tetapi mengangguk sebagai jawaban. 

"Memang, aku sangat dekat dengan mereka," sahut Hana seadanya, memang benar bukan. 

"Kalau gitu, gak masalah dong kalau kita minta diskon," ucap Gina melancarkan rencananya membuat Hana menaikan sebelah alis.

"Bukannya kamu orang berada, ngapain minta diskon segala," cecar Hana membuat Gina mendengkus. 

"Sudahlah, Gin, dia tidak akan bisa membantu. Dia hanya akrab dengan pelayan di sini, gak mungkin bisa dapet diskon cuma karna mereka berteman. Kecuali dia kenal dengan pemiliknya," sembur Dewi gemas dengan tingkah menantunya, ia segera menarik lengan Gina agar ikut ke tempat duduknya semula lagi.

"Ihh ... kali aja bisa, kan, Bu. Kan lumayan," sungut Gina mempautkan bibirnya karena merasakan sakit di lengan akibat tarikan sang mertua.

"Boleh aja, Gin, memang kamu mau beli berapa?" tanya Hana membuat Gina dan Dewi menatapnya.

"Serius? Kamu bisa bantu," kata Gina mulai tak yakin lalu menyeringai.

"Mau minta diskon lima puluh persen, Han. Bisa gak? mau beli enam," seru Gina membuat Hana melotot.

"Ckck, kamu yang bener aja Gin. Cuma beli segitu sampe minta diskon lima puluh persen, huh ... gimana tempat ini dapat untung, modalnya aja gak cukup," ujar Hana menggelengkan kepala dengan perkataan Gina.

"Bilang aja kamu gak bisa," cibir Gina disambut pelototan Midah karena kesal menantunya terus di cela.

"Bisa kok, tempat ini, kan, punyaku. Tapi ya ngotak dikit, masa cuma beli segitu minta diskon lima puluh persen, untung kagak modal aja kagak cukup," cecar Hana membuat Gina mendengkus. 

"Kamu terlalu halu kalau ini punyamu," hina Dewi menatap remeh ke arah Hana. 

"Hana gak halu, memang tempat ini punya Hana, Hana Bos di sini," kata Hana membuat beberapa tertawa karena menganggap wanita itu tengah melawak. 

"Kalau gak percaya ya udah," ketus Hana kesal.

"Bener kok, ini tempat punya Mama sama Ayah," bela Mawar hanya disambut lirikkan beberapa orang membuat gadis itu juga merengut marah. 

Panji yang selesai dari toilet langsung duduk di samping sang istri. Ia mengeryitkan alis kala melihat wajah tertekuk Hana. Dia segera menggenggam jemari wanitanya membuat perempuan tersebut menoleh. 

"Kamu kenapa, Han?" tanya Panji.

"Tolong bilangin istrimu, jangan ketinggian halunya. Kalian itu orang miskin, jatuh itu sakit lho, masa bilang kalau tempat ini punya dia," ujar Dewi dengan nada menghina.

Panji menatap sang Bibi dengan marah, semenjak mereka pulang ke kampung dia selalu mencela. Ia mengusap tangan Hana lalu mengisyaratkan agar sabar. 

"Bi, memang ini tempat kami, bahkan udah ada beberapa cabang," ujar Panji bersamaan pelayan menaruh pesanan di meja. 

 Dewi menyeringai, ia menunggu hidangan di letakan ke meja. Sedangkan Gina langsung menyantap pesanannya. Dikala wanita yang membawa makanan itu hendak pergi, dia ditahan Dewi. 

"Sebentar dulu, dimana pemilik tempat ini. Aku harus memberitahu ada orang yang mengaku-ngaku pemilik tempat ini," seru Dewi membuat semua mata menatapnya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status