Masuk"Siapa yang melakukannya?" tanya Wylona sembari membantu ketiga temannya membersihkan mata dan wajah mereka dari air kemiri.
"Ya jelas perempuan itu bodoh! Siapa lagi kalau bukan dia?" bentak Kathryn menjawab pertanyaan Wylona. "Ya masalahnya gadis siapa yang lo maksud Ryn?" "Navya Wylona ku sayang," balas Natasha mengambil tisu dan mengelap wajahnya yang basah. "Jangan bercanda tidak mungkin Navya yang melakukannya, karena saat aku sampai di sana dia dalam keadaan meringkuk menahan sakit dari perbuatan kalian. Jadi tidak mungkin kalau dia pelakunya!" bentak Wylona tidak percaya dengan ucapan ketiga temannya. 'Sial! Gadis itu bermuka dua ternyata.' umpat Kathryn kepada dirinya sendiri. "Kenapa terlambat Kathryn Wylona Natasha dan Grisella?" tanya Miss Vina dingin menatap datar keponakannya dan ketiga temannya. "Maaf miss kami tadi antri di kamar mandi," jawab Kathryn menundukkan kepalanya. "Baiklah lain kali jangan diulangi lagi perbuatan kalian!" "Baik miss," jawab Kathryn lalu masuk ke dalam kelas bersama temannya. Saat ingin duduk di kursinya Kathryn menatap tajam Navya penuh tuduhan, ia yakin gadis itu yang sudah menyiramkan air merica ke matanya dan teman-temannya. Navya membalas tatapan Kathryn sambil tersenyum kecil, merasa puas karena berhasil membalas perbuatan mereka. Bel istirahat berbunyi. "Kamu baik-baik saja?" tanya Hazel khawatir sembari memperhatikan kondisi tubuh Navya yang tampak luka di beberapa bagian. "Aku baik-baik saja, tidak usah khawatir luka-luka ini sudah seperti temanku jadi mereka tidak akan menyakitiku." Navya tertawa kecil di akhir kalimatnya terdengar seperti mentertawakan diri sendiri. Hazel terdiam tidak tahu harus membantu seperti apa, gadis itu hanya bisa mengelus pelan bahu Navya mencoba untuk memberikan kekuatan agar ia tidak menyerah melawan semuanya. "Tidak mau menyerah saja?" tanya Hazel sekali lagi mencoba meyakinkan Navya untuk menyerah sekarang sebelum semuanya terlambat. "Menyerah dari segi apa Zel?" tanya Navya menatap sendu Hazel. "Dari semuanya, mulai dari sekolah kelas dan kehidupanmu yang sekarang. Pergi aja Na sebelum semuanya terlambat, masih ada waktu untuk kabur dan kembali ke kehidupan lamamu," pinta Hazel menatap serius Navya. "Maaf Zel aku tidak bisa." "Ya kenapa, apa alasannya?" "Aku tidak bisa memberitahumu sekarang, tapi aku janji akan menceritakan semuanya di saat waktu yang tepat." "Oke terserahmu, itu keputusan dan hidupmu aku tidak akan ikut campur, tapi ada hal yang harus kamu ingat." Suara Hazel berhenti memandang sekeliling kantin memastikan tidak ada orang di sekitar mereka. "Sekolah ini hanya diperuntukkan untuk anak kalangan atas, sudah banyak anak kalangan bawah yang mencoba untuk bersekolah di sini tapi semuanya berhenti di tengah jalan, Kelas Nirmala bukan hanya muridnya yang mengerikan tapi guru dan sistem di kelas itu juga mengerikan, dan terakhir jika kamu masih berada di jalan kamu yang sekarang maka bersiaplah bukan hanya murid sekolah ini yang akan memburumu tapi semuanya." Navya terdiam mendengar perkataan Hazel, untuk kesekian kalinya gadis itu memperingatinya betapa ngerinya jalan yang ia lalui sekarang. Navya tidak yakin apakah itu sudah keseluruhan cerita atau masih sebagian yang di ceritakan Hazel, ia ingin bertanya tapi tidak siap mendengar seluruh kengerian cerita yang akan diceritakan Hazel nanti. Bel pulang sekolah berbunyi. Kathryn bangkit dari duduknya lalu menghampiri meja Navya, ia menggebrak kuat meja di depannya. "Apa yang lo sembunyikan dari kami!" bentak Kathryn menatap tajam Navya. Seisi kelas mendadak hening melihat princess sekolah mengamuk di Kelas Nirmala, Natasha tersenyum miring melihat ketakutan terpancar jelas di mata Navya, ia mendekati keduanya lalu menyiramkan air ke wajah Navya dan tertawa. "Ryn gadis kayak dia gak pantas di ajak bicara, pantasnya ya langsung di siksa baru dia takut sama kita," ujar Natasha menyeringai dengan suara rendah. Jenson Rian Marvin dan Chris menatap malas pemandangan di samping mereka, Jenson berbicara datar tanpa emosi. " Kalau mau siksa dia jangan di kelas, nanti kotor Miss Vina benci kotor." Setelahnya Elysian Prince pergi tanpa ingin mencegah perbuatan buruk Kathryn dan teman-temannya kepada Navya. Navya menatap kepergian mereka dengan mata berkaca-kaca, harapannya untuk di selamatkan hilang sudah, satu-satunya orang yang bisa mencegah semua ini malah mendukung perbuatan mereka dan membiarkan mereka melakukan hal keji tersebut. Navya berjalan secara perlahan menuju gerbang sekolah, berharap ada kendaraan yang bisa membawanya ke rumah mangsa atau mereka akan menghabisinya hari ini. Tepukan di bahu pelan yang berasal dari belakang membuat Navya menoleh, gadis itu terkejut saat melihat salah satu murid Kelas Nirmala ada di sampingnya sambil tersenyum. "Hai Na, maaf aku tidak pernah menegurmu selama ini, kenalkan aku Lorenzo Morelli." Renzo mengulurkan tangannya bermaksud untuk mengajak Navya berjabat tangan. Navya hanya menatap datar uluran tangan Lorenzo, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju gerbang. Lorenzo menghembuskan napasnya kasar saat menyadari bahwa ia barusan ditolak oleh seorang gadis. Lorenzo kembali mengejar Navya dan mengajak gadis itu berbicara. "Apa kamu perlu bantuan, atau mau aku antar pulang?" Navya hanya diam tidak menanggapi ucapa Lorenzo, ia terus berjalan sambil sesekali merintih kesakitan karena kakinya membiru akibat tadi di pukul kayu. Lorenzo yang geram mendengar suara rintihan Navya, akhirnya berjalan pelan mendekati Navya dari belakang, lalu mengangkat tubuh gadis itu dan menggendongnya bridal style, membawa Navya menuju mobilnya. Navya menjerit tertahan akibat perbuat mendadak Lorenzo terhadap tubuhnya. "Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" "Diam! Atau kau mau aku buang ke parit seberang jalan?" tanya Lorenzo, sorot matanya mengunci pergerakan Navya. Navya menggelengkan kepalanya, suaranya yang lantang tiba-tiba melemah merasakan aura dominant yang di keluarkan Lorenzo. Lorenzo tersenyum tipis melihat Navya yang sudah tenang di pelukannya, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil, membiarkan Navya menyembunyikan wajah cantiknya di balik jaket miliknya. "Sudah sampai, kamu mau terus seperti ini?" tanya Lorenzo mengelus pelan rambut hitam ikal Navya. Navya yang sadar dengan perbuatannya langsung menjauhkan wajahnya dan memalingkannya ke samping, tidak ingin melihat wajah Lorenzo yang tepat berada di sebelah wajahnya. Lorenzo kembali tersenyum melihat tingkah laku Navya, ia menarik sabuk pengaman milik Navya lalu memasangkannya, setelahnya ia menutup pintu mobil dan masuk ke bagian pengemudi. Tanpa mereka berdua sadari seseorang dari tadi melihat perbuatan mereka dan memfotonya, ia tersenyum miring saat membayangkan apa yang akan terjadi besok dengan Navya. "Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang," tanya Lorenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depannya. Navya menyebutkan alamat di mana ia ingin diantarkan, Jenson yang mendengar itu terdiam ia tahu itu rumah mangsa.Chris mengagetkan Navya dari belakang dengan cara menepuk bahunya, ia tertawa melihat ekspresi terkejut Navya. "Ayo lagi ngapain, nungguin prince ya?" goda Chris sambil menaik turunkan alisnya. "Mana ada, aku gak nungguin dia ya," jawab Navya memukul pelan lengan Chris. "Kalian gak masuk kelas? Nanti kena hukum kalau terlambat," tanya Rian dari arah belakang Chris dan Navya. Chris melihat sekitar Rian, tapi tidak menemukan keberadaan dia sahabatnya, ia menatap Rian dan bertanya, "Di mana Marvin dan prince?" "Mereka masih di tangga, bentar lagi naik," jawab Rian merangkul pundak Navya dan menyeret gadis itu masuk ke dalam Kelas Nirmala. Bel pulang sekolah berbunyi. Navya menutup buku catatannya setelah selesai mencatat semua materi yang diberikan Miss Vina, ia menatap sekitarnya tapi tidak menemukan siapapun. Navya merasakan dingin tiba-tiba yang membuat bulu kuduknya berdiri, ia buru-buru memasukkan semua barangnya ke dalam tas lalu keluar dari kelas. Saat d
"Bersik goblok, bisa diam gak sih?" Natasha menatap tajam Grisella, menendang kursi gadis itu agar ia duduk kembali di kursinya. "Sakit bangsat!" Grisella mengelus pelan lututnya yang terkena tendangan kursi dari Natasha, lalu mendudukkan kembali tubuhnya di kursi. Jenson Rian Marvin dan Chris masuk ke dalam kelas, mereka langsung memasang wajah datar saat melihat kondisi Kathryn dan teman-temannya sudah membaik, mereka tahu apa yang dilakukan para gadis itu hingga bisa kembali pulih. Kathryn bangkit dari duduknya dan menghampiri Jenson, gadis itu memasang wajah imutnya dan bertanya dengan nada lembut. "Kamu baik kan sayang? Maaf aku tidak mengurusmu selama dua minggu kemarin, tapi aku janji aku akan mulai mengurusmu lagi." "Kapan kamu keluar dari rumah sakit?" tanya Jenson dengan nada datar, menatap lurus tepat ke arah Kathryn. "2 hari yang lalu, kenapa?" tanya Kathryn menatao curiga Jenson. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu kapan kamu sembuh." "Nanti siang ke ka
Pertanyaan Navya berhasil membungkam Veer, pria itu tidak tahu mau menjawab apa, karena permasalahan keluarga Jenson tidak ada yang boleh tahu dan ia sudah berjanji. "Berapa hasil poinmu melawan temanmu?" tanya Veer mengalihkan pembicaraan. "5 2 kata Miss Vina." "Baiklah, poin yang bagus." "Kamu mengalihkan pembicaraan?" tanya Navya menatap curiga wajah Veer yang tampak ketakutan di depannya. Veer menghembuskan napasnya kasar dan menganggukkan kepalanya. "Maaf Na, aku tidak berhak mengatakannya, mungkin orang lain yang bisa menjelaskan." Navya diam dan membiarkan Veer melanjutkan pekerjaannya, Navya tahu Veer berhutang budi kepada Jenson itu sebabnya ia tidak mungkin memberitahu kebenarannya. Jenna tersentak dari tidurnya saat mendengar suara ketukan di pintu, ia membuka pintu kamarnya dan suara Navya terdengar dari balik pintu. "Jenna ini kakak, bukan pintunya kakak ngantuk." Jenna melirik jam, jam baru menunjukkan pukul 22.00 malam, tapi bagaimana bisa kakakny
Saat sampai di depan ruang Miss Vina, pintu itu terbuka dari dalam, Navya masuk dengan menundukkan kepalanya, ia melihat Miss Vina duduk di sofa sambil melipat kakinya dan menatap tajam kertas di depannya. Miss Vina membuka suara, bertanya tanpa menatap murid di depannya. "5 2 , bagaimana bisa, apa yang kamu lakukan sampai bisa mengalahkan murid yang menjadi perwakilan sekolah tahun lalu?" Navya diam, bingung mau menjawab apa, ia pun juga bingung dan tidak tahu bagaimana caranya ia bisa meraih poin sebanyak itu, padahal ia sudah berusaha melesetkan semuanya dari target, tapi entah bagaimana peluru itu selalu bisa kembali tepat pada sasarannya. Melihat Navya yang hanya diam, Miss Vina berbicara memperingatkan Navya atas posisi dia yang sebenarnya. "Kamu tahu, kamu masuk ke sekolah ini bukan karena keberuntungan yang kamu miliki, tapi karena kamu terpilih untuk menjadi target selanjutnya, dia sudah mengincarmu sejak lama dan pertandingan kali ini kamu menang itu bukan karena usa
Navya membalas pelukan adiknya, ia mengelus lembut rambut panjang Jenna dan bertanya, "Kenapa baru pulang, kamu dari mana?" "Dia dari sekolah kita," jawab Chris turun dari mobilnya, lalu mendekati Navya dan Jenna. Navya yang terkejut mendengar jawaban Chris langsung menatap tajam Jenna dan bertanya, "Sekolah, ngapain?" Mendengar suara Navya yang berubah dingin dan cara menatapnya tajam, membuat Jenna ketakutan, ia menundukkan kepalanya sambil meremas kuat jari-jarinya, lalu menjawab pelan. "Maaf kakak." Navya menghembuskan napasnya kasar, lalu melihat Chris dan berujar, "Terima kasih karena telah membantu adikku." "Sama-sama, kalau gitu aku pulang dulu, Jenna kakak pulang ya." Chris tersenyum melihat Jenna yang menganggukkan kepalanya sambil menunduk, gadis itu belum mau mengangkat kepalanya karena masih takut dengan aura Navya yang berubah jadi dingin. Setelah Chris pergi Navya menatap adiknya yang masih menunduk, gadis itu melangkahkan kakinya pergi masuk ke dalam ruma
Jenson datang dari belakang Navya, ia berdiri di samping gadis itu melindungi tubuh Navya dari tatapan Lorenzo, ia merapatkan tubuhnya dan berbisik pelan di telinga Navya. "Fokus dengan targetmu." Navya menganggukkan kepalanya, ia membiarkan tubuh Jenson menutupi tubuhnya dari samping, para siswa dan siswi yang melihat kedekatan intim tubuh Navya dan Jenson langsung membicarakannya, bahkan ada yang memfotonya untuk dijadikan bahan gosip dengan teman sekelasnya. Navya sadar dan ia tahu bahwa semua siswa dan siswi yang ada di akademi menembak sedang membicarakan mereka, ia merasa risih dengan perkataan murid yang berada di dekatnya, ia berbisik pelan bertanya, "Bagaimana apa dia sudah pergi?" "Sudah," jawab Jenson tapi tidak melepaskan tangannya dari pinggang Navya. Navya mencoba melepaskan tangan besar Jenson dari pinggangnya, tapi ia tidak kuat tangan itu terlalu besar dan kekar, Navya menatap memelas ke arah Jenson. "Aku mohon lepaskan tanganmu, mereka memperhatikan kita."
"Turun!" Jenson menghentikan mobilnya di depan gang gelap menuju rumah Navya, gadis itu mengernyit bingung saat tahu Jenson berhenti di depan gang rumahnya. "Dari mana kau tahu ini gang rumahku?" tanya Navya menatap tajam Jenson. Jenson membalas balik tatapan Navya yang berhasil membuat jantu
"Hazel, kenapa memanggilku?" tanya Navya setelah membuka pintu kamar mandi. "Aku, memanggilmu. Siapa yang mengatakannya?" Hazel mencuci tangannya lalu mendekati Navya yang berada di depan pintu " Kathryn." Jawaban Navya berhasil membuat Hazel terdiam. "Sial! Dia membohongimu Na." "Baiklah
Deg! Satu kelas membeku. Wajah Kathryn langsung pucat. Navya sendiri bahkan tidak bisa bernapas dengan benar, ia tidak mengerti. Kenapa pria ini melakukan semua itu? Jenson menarik kursi di sebelahnya lalu duduk santai, tatapannya masih tertuju pada Navya, seolah sedang mengamati sesuatu yang m
Navya menggenggam erat tali tasnya saat berdiri di depan gerbang Alexander High School. Bangunan sekolah itu menjulang megah seperti istana. Pilar putih berdiri tinggi, halaman luas dipenuhi mobil mahal, dan seragam para murid terlihat jauh lebih mewah dibanding sekolah biasa. Gadis muda berambut







