LOGIN"Turun!" Jenson menghentikan mobilnya di depan gang gelap menuju rumah Navya, gadis itu mengernyit bingung saat tahu Jenson berhenti di depan gang rumahnya.
"Dari mana kau tahu ini gang rumahku?" tanya Navya menatap tajam Jenson. Jenson membalas balik tatapan Navya yang berhasil membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, tatapan pria itu berbeda tidak seperti tatapannya saat berada di sekolah. "Mau gue tahu dari mana alamat rumah lo itu gak penting buat lo dan gak ada urusannya juga sama lo, mending lo turun sekarang dari mobil gue atau gue tendang lo keluar!" Jenson menjauhkan wajahnya dari hadapan Navya dan memandang datar ke arah depannya. Navya membuka pintu mobil lalu keluar dan menutupnya dengan kuat, dalam hati ia bersumpah akan membenci pria itu seumur hidupnya. Jenson turun dari mobil dan menatap datar bangunan mewah di depannya, pria itu melirik sekilas ke arah bagasi mobil yang terletak di depan rumah, dan matanya menangkap tampilan mobil merah sport milik mamanya terparkir rapi di depan rumah, ia yakin sebentar lagi hidupnya akan menderita di tangan mamanya sendiri. Jenson menghela napas panjang sambil menatap kosong pintu rumah yang sebentar lagi akan mempertemukan dirinya dengan mamanya, ia melangkah pelan masuk ke dalam rumah sambil berharap semoga mamanya ada di dalam kamar bukan ruang tamu. Mama Jenson duduk di sofa sambil memutar cincin di jari, ia menatap datar kedatangan putranya yang seperti pencuri ingin mencuri. Wanita itu membuka suaranya dan bertanya, "Habis ngapain kamu sampai berjalan seperti itu?" Langkah Jenson terhenti dan menoleh cepat saat mendengar suara mamanya bertanya, ia menggengam tangan sendiri erat-erat lalu menjawab pertanyaan mamanya. "Habis belajar ma." "Yakin kamu, tidak berbohong kan?" Mama Jenson menyipitkan matanya curiga menatap sikap putranya yang seperti ketakutan. "Tidak ma aku tidak berbohong, aku tidak pernah bolos dari kelas." "Baiklah, kalau gitu masuk ke kamarmu dan jangan masuk ke rumah seperti itu lagi jika kamu tidak melakukan kesalahan." "Iya ma, maafkan Jenson." Jenson menundukkan kepalanya lalu berjalan cepat ke arah kamarnya. Navya menyandarkan kepala ke dinding rumahnya, ia berusaha keras memikirkan pekerjaan apa yang harus ia lakukan agar mendapatkan uang dalam jumlah yang besar. Nama Hazel terlintas di pikirannya, ia akan bertanya besok ke Hazel apakah gadis itu memiliki pekerjaan untuknya. Navya membuka pintu rumah saat mendengar ada suara ketukan dari luar, gadis itu mengangkat alis nya sebelah saat tidak menemukan siapapun di luar rumahnya. Saat akan masuk ke dalam rumah kakinya tidak sengaja menendang kotak berwarna coklat, ia mengambil kotak itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Navya membuka kotak itu dan menatap datar isi dalam kotak yang terdapat mayat tikus tanpa kepala, gadis itu sudah menduga hal seperti ini akan terjadi mengingat ia sekarang berada di sekitar Elysian Prince. "Kak Na, kakak baik-baik saja?" Jenna memukul pelan pundak Navya menyadarkan gadis itu dari lamunannya. "Kakak baik-baik saja, kenapa?" Navya balik bertanya sambil tersenyum. "Apa di sekolah ada masalah?" "Tidak ada kak, semuanya baik-baik saja seperti biasa, tapi kakak yang jadi perbincangan teman-temanku." "Kenapa kakak?" "Karena kakak pintar, kakak berhasil masuk Alexander High School, dan semua teman-temanku memuji kakak." "Itu hanya kebetulan, semua sekolah sama tidak ada yang istimewa," ujar Navya mengelus pelan rambut adiknya. 'Dan sekolah itu sekolah terburuk yang pernah ada,' lanjut Navya dalam hati. Keesokan paginya. Navya menunggu Hazel di depan gang, gadis itu menendang kecil batu yang berada di sekitarnya, suara klakson mobil membuat Navya mengangkat kepalanya dan tersenyum melihat Hazel yang tersenyum ke arahnya. Navya berlari kecil ke arah mobil Hazel lalu masuk ke dalam mobil. "Terima kasih ya Zel karena mau jemput aku tiap pagi," ujar Navya sembari memasang sabuk pengamannya. "Sama-sama cantik aku temanmu, dan lagi pula rumah kita sejalan jadi aku tidak merasa repot sama sekali." Setelah mengatakannya Hazel kembali menghidupkan mobilnya, saat mobil itu akan melaju tiba-tiba kucing hitam melintas di depan mereka, hal itu berhasil membuat mobil berhenti mendadak. "Astaga, kenapa kucing itu tiba-tiba melintas?" tanya Hazel lalu turun dari mobilnya, Navya menepuk dadanya pelan mencoba menenangkan diri dan mengusir pikiran buruk dari kepalanya. Hazel kembali masuk ke dalam mobil lalu melihat keadaan Navya dan bertanya, "Kamu baik-baik saja?" "Aku baik-baik saja, bagaimana dengan kucingnya?" "Dia menghilang aku sudah mencoba mencarinya tapi tetap tidak ada." "Ini aneh, kemarin aku juga mengalami hal yang sama, ada yang mengetuk pintu rumahku tapi orangnya tidak ada yang ada malah kotak berisi mayat tikus tanpa kepala." Hazel terdiam mendengar cerita Navya, gadis itu memegang pundak Navya lalu merubah duduk Navya agar menghadap dirinya, kemudian ia menatap serius mata Navya. "Na dengarkan aku, itu semua adalah pertanda bahwa gerbang kehancuran kamu telah dibuka, semua pertanda itu menjadi peringatan bahwa kamu harus pergi atau hidup tenang kamu yang akan jadi taruhannya." Sepanjang perjalanan Navya terus-terusan di hantui dengan perkataan Hazel. Hazel mengenggam erat tangan Navya berusaha memberikan gadis itu kekuatan untuk percaya bahwa ia bisa melewati semuanya. Navya turun duluan dari mobil Hazel dan berjalan pelan menuju kelasnya, ia tidak sadar saat Hazel tidak berada di belakangnya sama sekali, pikirannya hanya tertuju dengan apa yang dikatakan Hazel tadi. Grisella yang melihat Navya berjalan sendiri perlahan membawa langkahnya mendekati Navya, lalu menarik tangan gadis itu dan membawanya ke gudang kosong yang berada di belakang sekolah. Grisella membuka kasar pintu gudang dan menghempaskan kuat tubuh Navya ke lantai gudang yang dingin. Kathryn dan Natasha yang melihat hal itu tersenyum miring, berbeda dengan Wilona yang hanya diam menatap datar pemandangan di depannya. "Apa yang kalian lakukan? jangan bully aku terus bangsat!" bentak Navya mencoba menahan sakit di sekujur tubuhnya. "Hah? Apa kata lo jangan bully lo terus, memangnya lo siapa sialan!" Natasha menendang kuat punggung Navya hingga suara teriakan pilu gadis itu menggema di ruangan yang kosong. Kathryn dan Grisella memegang perut mereka yang terasa sakit akibat kebanyakan ketawa melihat kondisi tubuh di depan mereka, sedangkan Wilona memutuskan untuk pergi tidak ingin ikut campur perbuatan teman-temannya. Navya mengepalkan tangannya kuat hingga kuku tangannya menjadi putih, ia bangkit dari posisi meringkuknya dan menyemprotkan cairan kemiri ke arah mata Natasha Kathryn dan Grisella hingga ketiga gadis itu menjerit kesakitan. Navya tersenyum miring melihat penderitaan ketiga gadis di depannya.Chris mengagetkan Navya dari belakang dengan cara menepuk bahunya, ia tertawa melihat ekspresi terkejut Navya. "Ayo lagi ngapain, nungguin prince ya?" goda Chris sambil menaik turunkan alisnya. "Mana ada, aku gak nungguin dia ya," jawab Navya memukul pelan lengan Chris. "Kalian gak masuk kelas? Nanti kena hukum kalau terlambat," tanya Rian dari arah belakang Chris dan Navya. Chris melihat sekitar Rian, tapi tidak menemukan keberadaan dia sahabatnya, ia menatap Rian dan bertanya, "Di mana Marvin dan prince?" "Mereka masih di tangga, bentar lagi naik," jawab Rian merangkul pundak Navya dan menyeret gadis itu masuk ke dalam Kelas Nirmala. Bel pulang sekolah berbunyi. Navya menutup buku catatannya setelah selesai mencatat semua materi yang diberikan Miss Vina, ia menatap sekitarnya tapi tidak menemukan siapapun. Navya merasakan dingin tiba-tiba yang membuat bulu kuduknya berdiri, ia buru-buru memasukkan semua barangnya ke dalam tas lalu keluar dari kelas. Saat d
"Bersik goblok, bisa diam gak sih?" Natasha menatap tajam Grisella, menendang kursi gadis itu agar ia duduk kembali di kursinya. "Sakit bangsat!" Grisella mengelus pelan lututnya yang terkena tendangan kursi dari Natasha, lalu mendudukkan kembali tubuhnya di kursi. Jenson Rian Marvin dan Chris masuk ke dalam kelas, mereka langsung memasang wajah datar saat melihat kondisi Kathryn dan teman-temannya sudah membaik, mereka tahu apa yang dilakukan para gadis itu hingga bisa kembali pulih. Kathryn bangkit dari duduknya dan menghampiri Jenson, gadis itu memasang wajah imutnya dan bertanya dengan nada lembut. "Kamu baik kan sayang? Maaf aku tidak mengurusmu selama dua minggu kemarin, tapi aku janji aku akan mulai mengurusmu lagi." "Kapan kamu keluar dari rumah sakit?" tanya Jenson dengan nada datar, menatap lurus tepat ke arah Kathryn. "2 hari yang lalu, kenapa?" tanya Kathryn menatao curiga Jenson. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu kapan kamu sembuh." "Nanti siang ke ka
Pertanyaan Navya berhasil membungkam Veer, pria itu tidak tahu mau menjawab apa, karena permasalahan keluarga Jenson tidak ada yang boleh tahu dan ia sudah berjanji. "Berapa hasil poinmu melawan temanmu?" tanya Veer mengalihkan pembicaraan. "5 2 kata Miss Vina." "Baiklah, poin yang bagus." "Kamu mengalihkan pembicaraan?" tanya Navya menatap curiga wajah Veer yang tampak ketakutan di depannya. Veer menghembuskan napasnya kasar dan menganggukkan kepalanya. "Maaf Na, aku tidak berhak mengatakannya, mungkin orang lain yang bisa menjelaskan." Navya diam dan membiarkan Veer melanjutkan pekerjaannya, Navya tahu Veer berhutang budi kepada Jenson itu sebabnya ia tidak mungkin memberitahu kebenarannya. Jenna tersentak dari tidurnya saat mendengar suara ketukan di pintu, ia membuka pintu kamarnya dan suara Navya terdengar dari balik pintu. "Jenna ini kakak, bukan pintunya kakak ngantuk." Jenna melirik jam, jam baru menunjukkan pukul 22.00 malam, tapi bagaimana bisa kakakny
Saat sampai di depan ruang Miss Vina, pintu itu terbuka dari dalam, Navya masuk dengan menundukkan kepalanya, ia melihat Miss Vina duduk di sofa sambil melipat kakinya dan menatap tajam kertas di depannya. Miss Vina membuka suara, bertanya tanpa menatap murid di depannya. "5 2 , bagaimana bisa, apa yang kamu lakukan sampai bisa mengalahkan murid yang menjadi perwakilan sekolah tahun lalu?" Navya diam, bingung mau menjawab apa, ia pun juga bingung dan tidak tahu bagaimana caranya ia bisa meraih poin sebanyak itu, padahal ia sudah berusaha melesetkan semuanya dari target, tapi entah bagaimana peluru itu selalu bisa kembali tepat pada sasarannya. Melihat Navya yang hanya diam, Miss Vina berbicara memperingatkan Navya atas posisi dia yang sebenarnya. "Kamu tahu, kamu masuk ke sekolah ini bukan karena keberuntungan yang kamu miliki, tapi karena kamu terpilih untuk menjadi target selanjutnya, dia sudah mengincarmu sejak lama dan pertandingan kali ini kamu menang itu bukan karena usa
Navya membalas pelukan adiknya, ia mengelus lembut rambut panjang Jenna dan bertanya, "Kenapa baru pulang, kamu dari mana?" "Dia dari sekolah kita," jawab Chris turun dari mobilnya, lalu mendekati Navya dan Jenna. Navya yang terkejut mendengar jawaban Chris langsung menatap tajam Jenna dan bertanya, "Sekolah, ngapain?" Mendengar suara Navya yang berubah dingin dan cara menatapnya tajam, membuat Jenna ketakutan, ia menundukkan kepalanya sambil meremas kuat jari-jarinya, lalu menjawab pelan. "Maaf kakak." Navya menghembuskan napasnya kasar, lalu melihat Chris dan berujar, "Terima kasih karena telah membantu adikku." "Sama-sama, kalau gitu aku pulang dulu, Jenna kakak pulang ya." Chris tersenyum melihat Jenna yang menganggukkan kepalanya sambil menunduk, gadis itu belum mau mengangkat kepalanya karena masih takut dengan aura Navya yang berubah jadi dingin. Setelah Chris pergi Navya menatap adiknya yang masih menunduk, gadis itu melangkahkan kakinya pergi masuk ke dalam ruma
Jenson datang dari belakang Navya, ia berdiri di samping gadis itu melindungi tubuh Navya dari tatapan Lorenzo, ia merapatkan tubuhnya dan berbisik pelan di telinga Navya. "Fokus dengan targetmu." Navya menganggukkan kepalanya, ia membiarkan tubuh Jenson menutupi tubuhnya dari samping, para siswa dan siswi yang melihat kedekatan intim tubuh Navya dan Jenson langsung membicarakannya, bahkan ada yang memfotonya untuk dijadikan bahan gosip dengan teman sekelasnya. Navya sadar dan ia tahu bahwa semua siswa dan siswi yang ada di akademi menembak sedang membicarakan mereka, ia merasa risih dengan perkataan murid yang berada di dekatnya, ia berbisik pelan bertanya, "Bagaimana apa dia sudah pergi?" "Sudah," jawab Jenson tapi tidak melepaskan tangannya dari pinggang Navya. Navya mencoba melepaskan tangan besar Jenson dari pinggangnya, tapi ia tidak kuat tangan itu terlalu besar dan kekar, Navya menatap memelas ke arah Jenson. "Aku mohon lepaskan tanganmu, mereka memperhatikan kita."
"Siapa yang melakukannya?" tanya Wylona sembari membantu ketiga temannya membersihkan mata dan wajah mereka dari air kemiri. "Ya jelas perempuan itu bodoh! Siapa lagi kalau bukan dia?" bentak Kathryn menjawab pertanyaan Wylona. "Ya masalahnya gadis siapa yang lo maksud Ryn?" "Navya Wylona k
"Hazel, kenapa memanggilku?" tanya Navya setelah membuka pintu kamar mandi. "Aku, memanggilmu. Siapa yang mengatakannya?" Hazel mencuci tangannya lalu mendekati Navya yang berada di depan pintu " Kathryn." Jawaban Navya berhasil membuat Hazel terdiam. "Sial! Dia membohongimu Na." "Baiklah
Tok Tok Tok. Suara ketukan di pintu terdengar. Miss Vina menjawab dari dalam. "Masuk!" "Bibi," panggil Kathryn sambil tersenyum. "Kathryn, kemarilah!" Miss Vina menutup berkas-berkas yang sedang ditandatanganinya lalu menyuruh Kathryn untuk duduk di sampingnya. Kathryn menutup pintu di b
Rian masuk ke dalam kelas mengambil ponselnya, dan Hazel masuk menghampiri Navya, ia mengernyitkan alisnya bingung melihat Navya yang hanya duduk diam menunduk di kursi. Setelah mendapatkan ponselnya Rian berlalu pergi meninggalkan Navya dan Hazel. Hazel mendekati Navya dan bertanya, "Ada apa? A







