แชร์

Dia

ผู้เขียน: Nyctophilia.
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-01 14:43:38

"Hazel, kenapa memanggilku?" tanya Navya setelah membuka pintu kamar mandi.

"Aku, memanggilmu. Siapa yang mengatakannya?" Hazel mencuci tangannya lalu mendekati Navya yang berada di depan pintu

" Kathryn." Jawaban Navya berhasil membuat Hazel terdiam.

"Sial! Dia membohongimu Na."

"Baiklah, kalau gitu aku pergi dulu, semoga saja Miss Vina belum masuk kelas."

Hazel menganggukkan kepalanya, Navya segera berlari menuju Kelas Nirmala, dalam hati ia terus berdoa semoga ia belum terlambat.

Navya menghentikan langkahnya di dalam kelas dan menundukkan kepalanya. "Maaf Miss saya terlambat, tadi saya-"

"Keluar!" Satu kata dingin yang keluar dari bibir Miss Vina berhasil membungkam Navya, ia membalikkan tubuhnya dan keluar dari kelas.

Navya duduk di samping pintu sambil memikirkan apa alasan Miss Vina membencinya, seingatnya ia masih baru di sekolah ini bukankah seharusnya kesalahan dia bisa dimaklumi.

Navya menggelengkan kepalanya membuang jauh-jauh pikiran buruk tentang gurunya. Ia harus memfokuskan pikiran dan pendengarannya untuk pelajaran hari ini.

Bel pulang sekolah berbunyi.

Rian berdiri menghampiri Jenson yang duduk di belakang. "Prince apa aku perlu meminta tolong Hazel untuk menemani Navya membeli kursi?"

"Tidak perlu Marvin dan Chris yang akan menemaninya," ucap Jenson dingin menatap lurus ke arah Marvin dan Chris.

Marvin dan Chris hanya menganggukkan kepalanya, mau sampai kapanpun mereka tidak akan bisa melawan perintah Jenson, karena perintah itu mutlak dan tidak bisa dibantah.

"Navya!" panggil Chris berlari menghampiri Navya.

Navya menoleh dan terkejut melihat salah satu sahabat Jenson menghampirinya, ia tidak tahu kesalahan apa yang telah dia perbuat hingga harus berurusan dengan Elysian Prince.

Tadi Rian yang menghampirinya, lalu sekarang Chris tidak bukan hanya Chris Marvin juga ada di sana berlari mendekati mereka berdua.

"Ada apa, kenapa kalian mendatangiku kalian menginginkan sesuatu?" tanya Navya ketakutan, ia memundurkan langkahnya agar tidak terlalu dekat dengan Chris dan Marvin.

Chris memukul pelan kepala Navya. "Aish gadis bodoh, siapa juga yang menginginkan sesuatu dari lo."

"Lalu kenapa menghampiriku?"

"Lo gak akan beli kursi atau memang mau dimarahi Miss Vina terus?" tanya Marvin yang dibalas gelengen dari Navya.

"Ya sudah kalau gitu ayo ikut kami, kami akan menemani lo membeli kursinya," sambung Marvin.

"Aku bisa beli sendiri, kalian tidak perlu menemaniku," tolak Navya tegas.

"Memangnya lo tahu di mana beli kursi itu?" tanya Chris menatap Navya.

Navya menggelengkan kepalanya. "Tidak tahu, tapi aku akan berusaha mencarinya."

Marvin menarik tangan Navya agar berdiri lebih dekat dengan mereka, pria itu menatap lurus tepat di mata coklat Navya. "Navya dengarkan gue, segala sesuatu di Alexander High School tidak bisa lo cari di tempat biasa, mereka dibuat di satu tempat dan hanya di sana mereka ada, lo murid baru jadi lo gak akan tahu di mana tempatnya."

"Betul apa kata Marvin, ikut kami, kami akan mengantar lo ke tokonya," sahut Chris meyakinkan Navya.

Navya ragu, ia tidak mengenal Chris maupun Marvin dengan baik, namun mengingat ia memang tidak tahu harus membeli kursi di mana, akhirnya ia mengangguk pelan.

"Kalau gitu ikuti kami." Marvin dan Chris berjalan duluan menuju mobil mereka diikuti Navya di belakangnya.

Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya mereka sampai di toko tempat pembuatan barang-barang Alexander High School.

Navya memilih kursi yang diinginkannya, setelah mendapatkannya seorang pekerja mengangkat kursi itu lalu meletakkannya di bagasi mobil Chris.

"Terima kasih kalian mau membantuku," ujar Navya sambil tersenyum.

"Tidak masalah," balas Chris dengan senyuman tipis di bibirnya.

"Setelah ini lo mau kemana?" tanya Marvin melirik sebentar lewat kaca spion.

"Ke rumah mangsa, tolong antar aku ke sana," balas Navya dengan suara pelan.

"Itu imbalan dari uang yang dikasih Rian?" Chris merubah duduknya menghadap Navya agar lebih leluasa bicara dengan gadis itu.

Navya menganggukkan kepalanya.

"Na, dengarkan gue, nanti saat di sana lo jangan penasaran dengan apapun, cukup lakukan apa yang ditugaskan sama lo, jangan ngintip atau jangan sentuh apapun, pokoknya jangan penasaran, setelah selesai langsung pergi." Peringat Chris yang berhasil membuat Navya terdiam.

Selama di perjalanan Navya hanya diam, sejujurnya ia takut tapi mau bagaimana lagi, ia harus bertahan di Alexander High School dan Kelas Nirmala bagaimanapun caranya.

"Na sudah sampai," ujar Marvin setelah menghentikan mobilnya di depan hutan.

"Di sini?" tanya Navya sedikit ragu.

"Iya, di dalam sana," tunjuk Marvin ke arah hutan yang tampak sedikit gelap.

"Dari mobil ini lo jalan aja lurus terus, nanti lo ketemu rumah kayu megah, nah itu dia rumah mangsa."

Navya menganggukkan kepalanya lalu keluar dari mobil. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam hutan.

Rumah kayu megah ditemukan setelah menempuh perjalanan cukup lama, Navya melirik sekitar, rumah ini cukup seram jika di perhatikan secara seksama.

2 pohon besar tepat berada di depan rumah dan di sekelilingnya hanya ada pohon seperti pada umumnya.

Navya berjalan menaiki tangga yang berada di depan pintu, saat berada di tangga terakhir dia membuka pintu dan suara deritan pintu terbuka terdengar keras menggema di ruang kosong.

Navya masuk ke dalam dan menutup pintu, ia ingat tugasnya di sini hanya bersih-bersih jadi dia harus cepat mengerjakannya supaya bisa kembali ke rumah.

Navya mulai membersihkan apa yang perlu dibersihkan. Bau amis, suara rintihan pelan dan suara-suara benda jatuh ia abaikan.

Dari lantai dua terdengar suara benda berat diseret perlahan, sesekali muncul suara rintihan yang begitu pelan hingga Navya tidak yakin apakah ia benar-benar mendengarnya.

Setelah selesai membersihkan, Navya keluar dari rumah dengan menutup rapat kembali pintu rumah mangsa. Ia berlari menjauhi rumah itu dengan mengabaikan segala tatapan dari makhluk yang berada di sekitar rumah.

Saat berjalan di antara pepohonan Navya mendengar langkah kaki berat dari balik pepohonan, karena penasaran ia mencoba mendekat lalu Jenson muncul dari arah belakangnya.

"Sudah selesai?" Suara dingin dan bau amis yang melekat pada tubuh Jenson, seketika membuat Navya terjatuh di tanah yang kotor.

"Su-sudah." Navya bangkit dari jatuhnya, dan mundur sedikit dari Jenson, ia merasa tidak nyaman dengan pria itu sekarang.

"Mau aku antar pulang?" Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan, buktinya pria itu tidak mendengar dulu jawaban Navya dan malah menarik tangannya dengan kuat lalu membawanya paksa meninggalkan hutan.

Navya merasa ada yang aneh dengan Jenson, tangan pria itu dingin tidak seperti manusia biasanya, aroma tubuh pria itu juga amis dan tatapannya kosong tidak seperti tatapan Jenson biasanya.

Jika benar dia bukan Jenson, lalu siapa dia?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Tumbal

    Chris mengagetkan Navya dari belakang dengan cara menepuk bahunya, ia tertawa melihat ekspresi terkejut Navya. "Ayo lagi ngapain, nungguin prince ya?" goda Chris sambil menaik turunkan alisnya. "Mana ada, aku gak nungguin dia ya," jawab Navya memukul pelan lengan Chris. "Kalian gak masuk kelas? Nanti kena hukum kalau terlambat," tanya Rian dari arah belakang Chris dan Navya. Chris melihat sekitar Rian, tapi tidak menemukan keberadaan dia sahabatnya, ia menatap Rian dan bertanya, "Di mana Marvin dan prince?" "Mereka masih di tangga, bentar lagi naik," jawab Rian merangkul pundak Navya dan menyeret gadis itu masuk ke dalam Kelas Nirmala. Bel pulang sekolah berbunyi. Navya menutup buku catatannya setelah selesai mencatat semua materi yang diberikan Miss Vina, ia menatap sekitarnya tapi tidak menemukan siapapun. Navya merasakan dingin tiba-tiba yang membuat bulu kuduknya berdiri, ia buru-buru memasukkan semua barangnya ke dalam tas lalu keluar dari kelas. Saat d

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Peringatan

    "Bersik goblok, bisa diam gak sih?" Natasha menatap tajam Grisella, menendang kursi gadis itu agar ia duduk kembali di kursinya. "Sakit bangsat!" Grisella mengelus pelan lututnya yang terkena tendangan kursi dari Natasha, lalu mendudukkan kembali tubuhnya di kursi. Jenson Rian Marvin dan Chris masuk ke dalam kelas, mereka langsung memasang wajah datar saat melihat kondisi Kathryn dan teman-temannya sudah membaik, mereka tahu apa yang dilakukan para gadis itu hingga bisa kembali pulih. Kathryn bangkit dari duduknya dan menghampiri Jenson, gadis itu memasang wajah imutnya dan bertanya dengan nada lembut. "Kamu baik kan sayang? Maaf aku tidak mengurusmu selama dua minggu kemarin, tapi aku janji aku akan mulai mengurusmu lagi." "Kapan kamu keluar dari rumah sakit?" tanya Jenson dengan nada datar, menatap lurus tepat ke arah Kathryn. "2 hari yang lalu, kenapa?" tanya Kathryn menatao curiga Jenson. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu kapan kamu sembuh." "Nanti siang ke ka

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Sembuh

    Pertanyaan Navya berhasil membungkam Veer, pria itu tidak tahu mau menjawab apa, karena permasalahan keluarga Jenson tidak ada yang boleh tahu dan ia sudah berjanji. "Berapa hasil poinmu melawan temanmu?" tanya Veer mengalihkan pembicaraan. "5 2 kata Miss Vina." "Baiklah, poin yang bagus." "Kamu mengalihkan pembicaraan?" tanya Navya menatap curiga wajah Veer yang tampak ketakutan di depannya. Veer menghembuskan napasnya kasar dan menganggukkan kepalanya. "Maaf Na, aku tidak berhak mengatakannya, mungkin orang lain yang bisa menjelaskan." Navya diam dan membiarkan Veer melanjutkan pekerjaannya, Navya tahu Veer berhutang budi kepada Jenson itu sebabnya ia tidak mungkin memberitahu kebenarannya. Jenna tersentak dari tidurnya saat mendengar suara ketukan di pintu, ia membuka pintu kamarnya dan suara Navya terdengar dari balik pintu. "Jenna ini kakak, bukan pintunya kakak ngantuk." Jenna melirik jam, jam baru menunjukkan pukul 22.00 malam, tapi bagaimana bisa kakakny

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Ucapan selamat

    Saat sampai di depan ruang Miss Vina, pintu itu terbuka dari dalam, Navya masuk dengan menundukkan kepalanya, ia melihat Miss Vina duduk di sofa sambil melipat kakinya dan menatap tajam kertas di depannya. Miss Vina membuka suara, bertanya tanpa menatap murid di depannya. "5 2 , bagaimana bisa, apa yang kamu lakukan sampai bisa mengalahkan murid yang menjadi perwakilan sekolah tahun lalu?" Navya diam, bingung mau menjawab apa, ia pun juga bingung dan tidak tahu bagaimana caranya ia bisa meraih poin sebanyak itu, padahal ia sudah berusaha melesetkan semuanya dari target, tapi entah bagaimana peluru itu selalu bisa kembali tepat pada sasarannya. Melihat Navya yang hanya diam, Miss Vina berbicara memperingatkan Navya atas posisi dia yang sebenarnya. "Kamu tahu, kamu masuk ke sekolah ini bukan karena keberuntungan yang kamu miliki, tapi karena kamu terpilih untuk menjadi target selanjutnya, dia sudah mengincarmu sejak lama dan pertandingan kali ini kamu menang itu bukan karena usa

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Hasil tidak diharapkan

    Navya membalas pelukan adiknya, ia mengelus lembut rambut panjang Jenna dan bertanya, "Kenapa baru pulang, kamu dari mana?" "Dia dari sekolah kita," jawab Chris turun dari mobilnya, lalu mendekati Navya dan Jenna. Navya yang terkejut mendengar jawaban Chris langsung menatap tajam Jenna dan bertanya, "Sekolah, ngapain?" Mendengar suara Navya yang berubah dingin dan cara menatapnya tajam, membuat Jenna ketakutan, ia menundukkan kepalanya sambil meremas kuat jari-jarinya, lalu menjawab pelan. "Maaf kakak." Navya menghembuskan napasnya kasar, lalu melihat Chris dan berujar, "Terima kasih karena telah membantu adikku." "Sama-sama, kalau gitu aku pulang dulu, Jenna kakak pulang ya." Chris tersenyum melihat Jenna yang menganggukkan kepalanya sambil menunduk, gadis itu belum mau mengangkat kepalanya karena masih takut dengan aura Navya yang berubah jadi dingin. Setelah Chris pergi Navya menatap adiknya yang masih menunduk, gadis itu melangkahkan kakinya pergi masuk ke dalam ruma

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Jenna Chris

    Jenson datang dari belakang Navya, ia berdiri di samping gadis itu melindungi tubuh Navya dari tatapan Lorenzo, ia merapatkan tubuhnya dan berbisik pelan di telinga Navya. "Fokus dengan targetmu." Navya menganggukkan kepalanya, ia membiarkan tubuh Jenson menutupi tubuhnya dari samping, para siswa dan siswi yang melihat kedekatan intim tubuh Navya dan Jenson langsung membicarakannya, bahkan ada yang memfotonya untuk dijadikan bahan gosip dengan teman sekelasnya. Navya sadar dan ia tahu bahwa semua siswa dan siswi yang ada di akademi menembak sedang membicarakan mereka, ia merasa risih dengan perkataan murid yang berada di dekatnya, ia berbisik pelan bertanya, "Bagaimana apa dia sudah pergi?" "Sudah," jawab Jenson tapi tidak melepaskan tangannya dari pinggang Navya. Navya mencoba melepaskan tangan besar Jenson dari pinggangnya, tapi ia tidak kuat tangan itu terlalu besar dan kekar, Navya menatap memelas ke arah Jenson. "Aku mohon lepaskan tanganmu, mereka memperhatikan kita."

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Lorenzo

    "Siapa yang melakukannya?" tanya Wylona sembari membantu ketiga temannya membersihkan mata dan wajah mereka dari air kemiri. "Ya jelas perempuan itu bodoh! Siapa lagi kalau bukan dia?" bentak Kathryn menjawab pertanyaan Wylona. "Ya masalahnya gadis siapa yang lo maksud Ryn?" "Navya Wylona k

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Taruhan

    "Turun!" Jenson menghentikan mobilnya di depan gang gelap menuju rumah Navya, gadis itu mengernyit bingung saat tahu Jenson berhenti di depan gang rumahnya. "Dari mana kau tahu ini gang rumahku?" tanya Navya menatap tajam Jenson. Jenson membalas balik tatapan Navya yang berhasil membuat jantu

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Rumah mangsa

    Tok Tok Tok. Suara ketukan di pintu terdengar. Miss Vina menjawab dari dalam. "Masuk!" "Bibi," panggil Kathryn sambil tersenyum. "Kathryn, kemarilah!" Miss Vina menutup berkas-berkas yang sedang ditandatanganinya lalu menyuruh Kathryn untuk duduk di sampingnya. Kathryn menutup pintu di b

  • Ketika Pangeran Menaruh Perhatian Padanya.    Kebohongan

    Rian masuk ke dalam kelas mengambil ponselnya, dan Hazel masuk menghampiri Navya, ia mengernyitkan alisnya bingung melihat Navya yang hanya duduk diam menunduk di kursi. Setelah mendapatkan ponselnya Rian berlalu pergi meninggalkan Navya dan Hazel. Hazel mendekati Navya dan bertanya, "Ada apa? A

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status