Masuk.Rendra Pradipta duduk di ruang pemeriksaan dengan kedua tangan bertumpu di atas meja. Sejak penyidik mulai membuka satu per satu dokumen transaksi di hadapannya, ia lebih banyak diam. Beberapa nama perusahaan yang muncul di sana sebenarnya sudah tidak asing baginya, tetapi melihat semuanya tersusun sebagai barang bukti membuat situasi yang selama ini ia coba abaikan terasa jauh lebih nyata. “Uang yang Anda kirim melalui perusahaan perantara ternyata mengalir ke perusahaan yang terafiliasi dengan Wijaya Group,” ujar penyidik sambil menunjuk salah satu lembar transaksi. “Apa hubungan Anda dengan mereka?” Rendra mengatupkan rahang sebelum menjawab. “Saya hanya berhubungan dengan Hendra. Saya tidak pernah bertemu langsung dengan pihak yang memberikan perintah.” Penyidik tidak segera menanggapi. Ia mengambil selembar kertas dari map di sampingnya, kemudian mendorongnya ke hadapan Rendra. “Kalau begitu, jelaskan pesan ini.” Rendra menunduk dan membaca tulisan yang tercetak di sana.
* Setelah berminggu-minggu menyelidiki, akhirnya Raka bisa sedikit bernapas lega meski ia tahu apa yang baru saja ia temukan pasti akan memicu konflik besar di dalam keluarganya karena pada kenyataannya semua bukti benar-benar mengarah pada Rendra, pamannya. "Serahkan semua bukti ke pihak berwenang," perintah Raka dengan suara tegas. "Mulai dari catatan transaksi, riwayat akses dokumen, sampai hubungan perusahaan perantara dengan pihak yang menerima informasi kita. Pastikan semuanya diserahkan sesuai prosedur." Dimas tampak ragu. "Kau yakin melakukan itu? Kalau nama Pak Rendra masuk laporan resmi, masalah ini pasti sampai ke seluruh keluarga besar. Papa Bram mungkin tidak akan bisa menerimanya." Raka menghela napas panjang. "Aku tahu dia keluargaku. Tapi aku tidak bisa melindunginya dengan mengorbankan perusahaan dan ribuan orang yang bergantung padanya. Biar hukum yang menilai." Setelah seluruh dokumen diverifikasi kembali, Pradipta Group menyerahkan semua bukti kepada penyidik
Pagi itu, Raka tiba di kantor dengan disambut oleh setumpuk laporan mengenai kebocoran proyek Arunika. Sejak Pradipta Group kehilangan proyek Arunika, dua calon mitra bahkan meminta penjelasan tertulis mengenai keamanan informasi perusahaan sebelum melanjutkan negosiasi. Raka tahu permintaan maaf saja tidak cukup. Karena itu ia berusaha menemukan pelaku kebocoran sekaligus memulihkan kepercayaan para mitra. Tak lama kemudian, Dimas masuk membawa sebuah map coklat. “Kami menemukan transaksi yang berkaitan dengan perusahaan pesaing yang memenangkan proyek Arunika,” jelasnya setelah meletakkan dokumen di hadapan Raka. “Pembayaran ini tercatat sebagai jasa konsultasi, tetapi perusahaan penerimanya diduga menjadi perantara penyebaran dokumen rahasia kita.” Raka memeriksa bukti transfer yang terlampir. Transaksi itu dilakukan sehari setelah revisi terakhir proposal Arunika selesai. “Siapa pemilik perusahaan perantara tersebut?” “Secara resmi, namanya Hendra Wijaya. Namun, kami mene
. Beberapa hari kemudian Rendra Pradipta baru saja memarkir mobilnya di halaman rumahnya yang mewah ketika ada notif pesan masuk di ponselnya. Semula ia hendak mengabaikannya, tetapi ketika ia melirik sekilas dan melhat kalimat pertama yang terbaca, ia menghentikan gerakannya yang akan membuka pintu mobil. *Tim audit mulai memeriksa akses dokumen Arunika. Pak Raka sepertinya sudah curiga.* Rendra menggenggam ponselnya dengan wajah tetap tenang, meski pikirannya mulai dipenuhi perhitungan. Ia tahu kebocoran informasi itu pada akhirnya akan memicu penyelidikan, tetapi tidak menyangka Raka bergerak secepat ini. Selama ini, ia menggunakan perusahaan perantara untuk menyalurkan informasi kepada pesaing dan menghindari transaksi langsung yang bisa mengarah kepadanya. Namun, jika tim audit mulai menelusuri riwayat akses dan aliran dana, bukan tidak mungkin mereka menemukan sesuatu yang selama ini tersembunyi. Ia tak jadi turun dari mobil malah kembali keluar setelah menghubungi or
.Rendra Pradipta. Dia adalah salah satu saudara Bram yang sudah bekerja di Pradipta Group sejak perusahaan itu berdiri. Ia tidak memiliki jabatan tertinggi, tetapi posisinya cukup untuk memberinya akses ke berbagai informasi penting.Ketika rapat berakhir, Rendra menjadi orang pertama yang meninggalkan ruangan.Rendra berjalan melewati lorong dengan langkah tenang, bahkan sempat menyapa beberapa karyawan seperti biasa. Tidak ada yang menyadari bahwa beberapa menit sebelumnya, pria itu telah menerima sebuah pesan singkat di ponselnya.“Data sudah kami terima. Pembayaran berikutnya akan dikirim setelah informasi berikutnya tersedia.”Rendra membaca pesan tersebut sekilas sebelum menghapusnya. Wajahnya tetap tenang, tetapi senyum tipis muncul di sudut bibirnya.Selama ini ia memang tidak pernah merasa puas melihat Raka memimpin Pradipta Group. Menurutnya, posisi itu seharusnya tidak hanya menjadi milik satu orang. Ia telah bertahun-tahun berada di belakang layar, melihat Raka mendapatka
.Pagi itu, suasana di kantor Pradipta Group berubah sedikit berbeda. Beberapa orang dari divisi legal dan pengembangan bisnis terlihat keluar-masuk ruang rapat dengan wajah tegang, sementara Dimas sudah berdiri di depan ruang kerja Raka sejak hampir dua puluh menit lalu. Pria itu berjalan mondar-mandir dengan berkas laporan di tangannya. “Apa yang terjadi?" tanya Raka yang baru saja datang.Tanpa menjawab, Dimas langsung membuka pintu ruang kerja Raka dan langsung ikut masuk lalu menutup pintu dengan rapat. Setelah Raka duduk di atas kursi kebesarannya, pria itu meletakkan map hitam yang ia bawa ke atas meja.“Ada masalah dengan proyek Arunika,” katanya dengan nada serius. “Informasi yang seharusnya masih menjadi rahasia internal sudah berada di tangan salah satu perusahaan pesaing.”Raka yang baru saja membenahi posisi duduknya, bahkan belum sempat membuka map yang diulurkan oleh Dimas, seketika mengangkat wajahnya menatap ke arah asisten sekaligus sahabatnya itu. hendak menuju mej







