LOGINDi balik pintu kamar yang terkunci, Damian memang melampiaskan seluruh cinta dan gairahnya yang membara pada Tisa. Namun, ketika benteng pernikahan mereka terus dihantam tuntutan uang yang membabi buta dan fitnah keji, kepasrahan gairah tak lagi mampu menyembuhkan luka di hati Tisa.
View More"Tukar balik sertifikat rumah ini atas nama Ibu, atau kamu suruh perempuan ini angkat kaki sekarang!"
Suara Ibu Yuliani begitu keras seraya melempar map merah berisi dokumen ke atas meja tamu. Tisa Anggraeni berdiri di dekat pintu dapur sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat di tangannya bergetar pelan. Belum sempat ia menaruh cangkir itu, ibu mertuanya sudah datang membawa badai. "Bu, tolong jangan mulai lagi," kata Damian. Pria itu berdiri membelakangi jendela ruang tamu. "Ini masih pagi. Rumah ini dibeli pakai tabungan Damian sama Tisa. Kenapa tiba-tiba balik nama ke Ibu?" "Kenapa? Kamu masih berani tanya kenapa? Ibu yang membesarkan kamu dari kecil sampai jadi manajer sukses! Rumah ini hak Ibu. Lagipula, istri kamu ini cuma jualan baju tidur online! Uang dari mana dia bisa ikut patungan kalau bukan murni meras uang kamu?" Tisa menaruh nampan di atas meja dengan gerakan tertahan. Matanya menatap wanita paruh baya di depannya. "Saya punya pembukuan sendiri, Bu," potong Tisa dengan nada datar, berusaha keras menahan gemetar di suaranya. "Lima puluh persen uang muka rumah ini murni dari rekening bisnis saya. Mas Damian tahu betul soal itu." "Diam kamu! Nggak usah ikut campur kalau orang tua lagi ngomong sama anak!" bentak Ibu Yuliani. "Kamu kira saya nggak tahu? Bisnis pakaian nggak jelas kayak gitu paling sebentar lagi juga gulung tikar. Damian, Ibu butuh seratus juta hari ini juga buat DP kavling perumahan baru!" Damian melotot. "Seratus juta? Minggu lalu Damian baru transfer lima puluh juta untuk arisan Ibu. Uang dari mana lagi hari ini, Bu?" "Ya kamu usahakan! Potong gaji kamu, atau jual aja tuh mobil Tisa!" Ibu Yuliani menunjuk kunci mobil di atas meja. "Buat apa dia naik mobil bagus cuma buat bolak-balik toko? Kamu itu laki-laki, harus tegas! Ibu ini yang melahirkan kamu, bukan dia!" Tisa tidak beralih menatap Damian. Ia menunggu. Setiap kali adegan ini terulang, di titik inilah dadanya terasa sesak. Damian adalah pria yang begitu penyayang dan lembut ketika berada di sisi istrinya. Namun, semua keberanian itu seolah lenyap setiap kali ia berhadapan dengan ibunya. Di depan sang ibu, Damian berubah menjadi pria yang penurut, tak berdaya, bahkan nyaris tak mampu membantah sedikit pun. "Damian nggak bisa kasih seratus juta sekarang, Bu," suara Damian melemah, matanya menghindari tatapan Tisa. "Keuangan kantor lagi diaudit." "Oh, jadi kamu lebih milih perempuan ini dibanding Ibu sendiri?" Ibu Yuliani tersenyum sinis. "Ingat ya, Damian. Asal kamu tahu, Septiana baru saja pulang dari luar negeri. Kemarin ibunya telepon nanyain kamu. Kalau dulu kamu nikah sama Septiana, kamu nggak bakal pusing mikirin utang atau punya istri yang cuma jualan baju tidur!" "Bu, jangan bawa-bawa Septiana lagi," tegur Damian, nada suaranya mulai naik. "Damian udah nikah sama Tisa." "Nikah tapi nggak bisa ngatur istri buat apa?" Ibu Yuliani menyambar tas mewahnya. "Kalau sampai besok sore uang seratus juta itu belum masuk ke rekening Ibu, Ibu bakal datang ke kantor kamu dan cerita ke bos kamu gimana anak yang Ibu besarkan malah nelantarin ibunya sendiri!" Wanita paruh baya itu berbalik tanpa sedikit pun menoleh. Langkahnya menghentak menuju pintu. Tangannya mencengkeram gagang pintu, lalu membantingnya kasar sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang tamu. Damian memutar badan dan menatap Tisa. "Tisa... aku minta maaf. Kamu tahu sendiri Ibu kalau lagi emosi.” Tisa mundur beberapa langkah ketika Damian hendak mendekatinya. "Sampai kapan, Mas?" "Tisa, tolonglah. Aku lagi pusing banget—" "Aku juga cape, Mas!" suara Tisa bergetar hebat. "Tiap kali Ibu kamu datang dan menginjak-injak harga diri aku di rumah aku sendiri, kamu cuma bisa minta aku ngertiin ibu! Kamu nggak pernah tegas bilang 'enggak' saat ibu ngerendahin usaha yang aku bangun dari nol!" "Aku udah nolak uang seratus juta itu, Tisa!" bentak Damian. Emosi yang tertahan dari ibunya meluap ke arah Tisa. "Kamu pikir aku nggak tertekan? Ibu menekan aku dari depan, kamu nuntut aku dari belakang! Aku di tengah-tengah harus gimana?!" Tisa menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Tanpa kata lagi, ia berbalik dan melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamar utama. "Tisa! Mau ke mana kamu? Kita belum selesai bicara!" Damian mengejar. Sebelum Tisa sempat mendorong pintu kamar sampai terkunci, tangan Damian menahan kencang pintu tersebut. Pria itu menyusup masuk, lalu membanting pintu dan menguncinya dari dalam. "Lepasin aku, Mas," kata Tisa sambil berdiri membelakangi Damian di samping tempat tidur. "Enggak. Kita beresin sekarang," jawab Damian. Pria itu melangkah maju, langsung memeluk pinggang Tisa dari belakang dengan erat. Dadanya menempel ketat di punggung Tisa. Tisa mencoba menghentakkan badannya, melepaskan cengkraman tangan Damian di perutnya, tapi tenaga Damian jauh lebih kuat. "Jangan sentuh aku kalau cuma mau melampiaskan karena kamu gagal ngadepin Ibu kamu," bisik Tisa, napasnya tersendat saat bibir Damian menempel di leher belakangnya. "Kamu istri aku," napas Damian terasa hangat dan memburu di kulit leher Tisa. "Jangan pernah tatap aku seolah kamu mau pergi, Tisa. Aku bisa gila." "Kamu sendiri yang bikin aku merasa sendiri di rumah ini..." Genggaman tangan Damian semakin kencang. Ia memutar tubuh Tisa secara paksa hingga wanita itu menghadapnya. Matanya merah membendung emosi yang membakar. Tanpa memberi jeda sedikit pun untuk Tisa protes, Damian menunduk dan mencium bibir Tisa secara mendalam. Bukan ciuman lembut, melainkan ciuman yang sarat tuntutan dan rasa takut kehilangan yang campur aduk. Tisa sempat mendorong dada suaminya, menolak disentuh saat hatinya masih sakit. Namun Damian makin merapatkan tubuhnya, menyelipkan jarinya ke sela-sela rambut Tisa dan menahan tengkuknya. Aroma tubuh Damian dan kehangatan sentuhannya selalu jadi celah meluluhkan Tisa. Jemari Tisa yang tadinya mendorong dada Damian berubah meremas kemeja suaminya. Damian mengangkat tubuh Tisa dan merebahkan istrinya ke kasur. Di balik pintu yang terkunci rapat, amarah dan sakit hati akibat makian Ibu Yuliani perlahan tergerus oleh luapan gairah di antara mereka—sebuah cara yang selalu mereka pakai untuk melupakan masalah sementara. Jam menunjukkan delapan pagi saat Tisa terbangun. Kasur di sampingnya sudah kosong. Damian sudah pergi bekerja tanp pamit, Tisa duduk perlahan merapikan baju tidurnya yang kusut dengan perasaan hampa yang makin menjadi-jadi. Saat ia meraih gelas air di meja samping tempat tidur, ponselnya tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Tisa membuka pesan itu. Sebuah foto muncul di layar. Dalam foto itu, Damian tampak duduk berhadapan di resto sebuah hotel dengan wanita yang mengenakan gaun elegan berambut panjang. Wanita itu tersenyum manis sambil memegang pergelangan tangan Damian, dan Damian diam saja tanpa menepisnya. Di bawah foto, ada pesan singkat bertuliskan: “Foto ini diambil pagi ini di resto hotel dekat kantor Damian. Damian sarapan bareng Septiana. Di rumah kamu cuma tempat pelampiasan kalau dia lagi pusing, Tisa. Jangan tunggu sampai kamu benar-benar dibuang.” Tangan Tisa gemetar hebat membaca tulisan itu. Belum sempat air matanya menetes, dari lantai bawah terdengar gedoran pintu depan yang sangat keras, disusul teriakan Ibu Yuliani dari luar.Di sebuah ballroom hotel bintang lima di pusat kota, Tisa Anggraeni berdiri anggun mengenakan setelan blazer. Rambut panjangnya disanggul rapi, memancarkan aura pengusaha wanita yang tegas dan profesional.Di depannya, dua perwakilan investor dari perusahaan ritel internasional tersenyum puas setelah menandatangani berkas nota kesepahaman investasi senilai sepuluh miliar rupiah."Selamat, Miss Tisa," ujar Mr. Robert, perwakilan investor utama, sambil menjabat tangan Tisa dengan hangat. "Kami sangat mengagumi ketahanan dan kualitas desain produk Anda. Dana investasi tahap pertama sebesar tiga miliar rupiah akan langsung masuk ke rekening bisnis Anda sore ini untuk memulai pembangunan pabrik baru.""Terima kasih atas kepercayaannya, Mr. Robert. Saya pastikan brand kami tidak akan mengecewakan," jawab Tisa mantap dengan senyuman profesional.Sintia, pelayan toko Tisa yang ikut mendampingi di sebelah Tisa, tampak berkaca-kaca menahan haru. Siapa yang menyangka, hanya dalam hitungan dua pu
"Kamu benar-benar membiarkan ibu membusuk di sel cuma gara-gara mempertahankan gengsi kamu, Damian?!" Suara Septiana terdengar di pelataran parkir kantor polisi yang mulai sepi. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Damian, menahan langkah pria itu yang hendak masuk ke dalam mobil. Damian menghentikan langkahnya. Pria itu memutar badan perlahan dengan tatapan yang penuh amarah. "Lepaskan tangan kamu, Septiana." "Aku nggak akan lepaskan sebelum kamu sadar!" bentak Septiana tanpa rasa takut. "Tisa itu sudah buang kamu! Dia sudah daftarkan gugatan cerai online, dia laporkan Tante Yuliani ke polisi, dan dia sama sekali nggak peduli karier kamu hancur! Kenapa kamu masih ngarep wanita kayak gitu?!" "Yang bikin karirku hancur dan Ibuku masuk penjara itu kelakuan kamu dan Ibu sendiri!" teriak Damian keras. "Kalau kamu dan Ibu nggak mengacak-acak toko Tisa tadi siang, hal kayak gini nggak akan pernah terjadi!" Pengacara berjas yang berdiri di dekat mobil Septiana berdehem pelan, mencoba me
"Tisa... ini apa?"Suara Damian bergetar hebat. Pria itu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan mata Tisa, memperlihatkan pesan dari sekretarisnya.Tisa membaca tulisan di layar itu dengan kening berkerut. "Penggelapan uang kantor? Tanda tangan aku?" Tisa menatap Damian dengan pandangan tidak percaya. "Mas, kamu pikir aku pernah ikut campur urusan dokumen kantor kamu?""Tapi di sini tertulis nama toko kamu sebagai penerima transfer dana lima ratus juta itu, Tisa!" bentak Damian. Rasa panik melukai akal sehatnya. Di satu sisi ibunya sedang digiring polisi, di sisi lain karir yang ia bangun bertahun-tahun hancur dalam hitungan detik. "Rekening toko kamu yang dipakai!"Tisa tertawa, matanya menatap Damian tanpa kedipan. "Kamu menuduh aku, Mas? Kamu lebih percaya pesan singkat dari kantor kamu daripada istri kamu sendiri?""Aku nggak menuduh kamu!" suara Damian meninggi di tengah kerumunan pedagang pasar yang makin ramai menonton. "Tapi jelaskan ke aku kenapa bisa ada nama toko kamu d
"Tahan mereka, Sintia! Jangan biarkan satu kardus pun keluar dari gudang!" teriak Tisa ke ponselnya.Damian yang berdiri di atas anak tangga langsung tersentak. "Tisa! Ada apa? Siapa yang ke gudang kamu?"Tisa tidak sudi menjawab. Ia menyambar kunci mobil dari saku celananya, menurunkan koper besarnya dengan cepat, lalu melangkah menuruni tangga."Tisa, tunggu!" Damian mengejar dari belakang, menyenggol lengan Tisa di dekat pintu depan. "Aku ikut! Biar aku yang selesaikan kalau ini ulah Ibu!""Nggak usah sok pahlawan, Mas!" bentak Tisa sambil membalikkan badan di teras. "Ibu kamu sudah bertindak seperti preman! Kalau sampai ada barangku yang hilang atau rusak, aku nggak cuma laporkan orang-orang itu, tapi ibu kamu juga!"Tanpa menunggu tanggapan Damian, Tisa masuk ke dalam mobilnya, menancap gas kencang, dan membelah jalanan kompleks menuju kawasan pusat grosir. Damian mengumpat pelan, menyambar kunci mobilnya sendiri, lalu menyusul di belakang mobil Tisa dengan kecepatan tinggi.***












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.