Ibu Mertua yang Gila Harta

Ibu Mertua yang Gila Harta

last updateLast Updated : 2026-09-16
By:  Pena Gabut77Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di balik pintu kamar yang terkunci, Damian memang melampiaskan seluruh cinta dan gairahnya yang membara pada Tisa. Namun, ketika benteng pernikahan mereka terus dihantam tuntutan uang yang membabi buta dan fitnah keji, kepasrahan gairah tak lagi mampu menyembuhkan luka di hati Tisa.

View More

Chapter 1

1

"Tukar balik sertifikat rumah ini atas nama Ibu, atau kamu suruh perempuan ini angkat kaki sekarang!"

Suara Ibu Yuliani begitu keras seraya melempar map merah berisi dokumen ke atas meja tamu.

Tisa Anggraeni berdiri di dekat pintu dapur sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat di tangannya bergetar pelan. Belum sempat ia menaruh cangkir itu, ibu mertuanya sudah datang membawa badai.

"Bu, tolong jangan mulai lagi," kata Damian. Pria itu berdiri membelakangi jendela ruang tamu. "Ini masih pagi. Rumah ini dibeli pakai tabungan Damian sama Tisa. Kenapa tiba-tiba balik nama ke Ibu?"

"Kenapa? Kamu masih berani tanya kenapa? Ibu yang membesarkan kamu dari kecil sampai jadi manajer sukses! Rumah ini hak Ibu. Lagipula, istri kamu ini cuma jualan baju tidur online! Uang dari mana dia bisa ikut patungan kalau bukan murni meras uang kamu?"

Tisa menaruh nampan di atas meja dengan gerakan tertahan. Matanya menatap wanita paruh baya di depannya.

"Saya punya pembukuan sendiri, Bu," potong Tisa dengan nada datar, berusaha keras menahan gemetar di suaranya. "Lima puluh persen uang muka rumah ini murni dari rekening bisnis saya. Mas Damian tahu betul soal itu."

"Diam kamu! Nggak usah ikut campur kalau orang tua lagi ngomong sama anak!" bentak Ibu Yuliani. "Kamu kira saya nggak tahu? Bisnis pakaian nggak jelas kayak gitu paling sebentar lagi juga gulung tikar. Damian, Ibu butuh seratus juta hari ini juga buat DP kavling perumahan baru!"

Damian melotot. "Seratus juta? Minggu lalu Damian baru transfer lima puluh juta untuk arisan Ibu. Uang dari mana lagi hari ini, Bu?"

"Ya kamu usahakan! Potong gaji kamu, atau jual aja tuh mobil Tisa!" Ibu Yuliani menunjuk kunci mobil di atas meja. "Buat apa dia naik mobil bagus cuma buat bolak-balik toko? Kamu itu laki-laki, harus tegas! Ibu ini yang melahirkan kamu, bukan dia!"

Tisa tidak beralih menatap Damian. Ia menunggu. Setiap kali adegan ini terulang, di titik inilah dadanya terasa sesak.

Damian adalah pria yang begitu penyayang dan lembut ketika berada di sisi istrinya. Namun, semua keberanian itu seolah lenyap setiap kali ia berhadapan dengan ibunya. Di depan sang ibu, Damian berubah menjadi pria yang penurut, tak berdaya, bahkan nyaris tak mampu membantah sedikit pun.

"Damian nggak bisa kasih seratus juta sekarang, Bu," suara Damian melemah, matanya menghindari tatapan Tisa. "Keuangan kantor lagi diaudit."

"Oh, jadi kamu lebih milih perempuan ini dibanding Ibu sendiri?" Ibu Yuliani tersenyum sinis. "Ingat ya, Damian. Asal kamu tahu, Septiana baru saja pulang dari luar negeri. Kemarin ibunya telepon nanyain kamu. Kalau dulu kamu nikah sama Septiana, kamu nggak bakal pusing mikirin utang atau punya istri yang cuma jualan baju tidur!"

"Bu, jangan bawa-bawa Septiana lagi," tegur Damian, nada suaranya mulai naik. "Damian udah nikah sama Tisa."

"Nikah tapi nggak bisa ngatur istri buat apa?" Ibu Yuliani menyambar tas mewahnya. "Kalau sampai besok sore uang seratus juta itu belum masuk ke rekening Ibu, Ibu bakal datang ke kantor kamu dan cerita ke bos kamu gimana anak yang Ibu besarkan malah nelantarin ibunya sendiri!"

Wanita paruh baya itu berbalik tanpa sedikit pun menoleh. Langkahnya menghentak menuju pintu. Tangannya mencengkeram gagang pintu, lalu membantingnya kasar sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang tamu.

Damian memutar badan dan menatap Tisa. "Tisa... aku minta maaf. Kamu tahu sendiri Ibu kalau lagi emosi.”

Tisa mundur beberapa langkah ketika Damian hendak mendekatinya. "Sampai kapan, Mas?"

"Tisa, tolonglah. Aku lagi pusing banget—"

"Aku juga cape, Mas!" suara Tisa bergetar hebat. "Tiap kali Ibu kamu datang dan menginjak-injak harga diri aku di rumah aku sendiri, kamu cuma bisa minta aku ngertiin ibu! Kamu nggak pernah tegas bilang 'enggak' saat ibu ngerendahin usaha yang aku bangun dari nol!"

"Aku udah nolak uang seratus juta itu, Tisa!" bentak Damian. Emosi yang tertahan dari ibunya meluap ke arah Tisa. "Kamu pikir aku nggak tertekan? Ibu menekan aku dari depan, kamu nuntut aku dari belakang! Aku di tengah-tengah harus gimana?!"

Tisa menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Tanpa kata lagi, ia berbalik dan melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamar utama.

"Tisa! Mau ke mana kamu? Kita belum selesai bicara!"

Damian mengejar. Sebelum Tisa sempat mendorong pintu kamar sampai terkunci, tangan Damian menahan kencang pintu tersebut. Pria itu menyusup masuk, lalu membanting pintu dan menguncinya dari dalam.

"Lepasin aku, Mas," kata Tisa sambil berdiri membelakangi Damian di samping tempat tidur.

"Enggak. Kita beresin sekarang," jawab Damian.

Pria itu melangkah maju, langsung memeluk pinggang Tisa dari belakang dengan erat. Dadanya menempel ketat di punggung Tisa. Tisa mencoba menghentakkan badannya, melepaskan cengkraman tangan Damian di perutnya, tapi tenaga Damian jauh lebih kuat.

"Jangan sentuh aku kalau cuma mau melampiaskan karena kamu gagal ngadepin Ibu kamu," bisik Tisa, napasnya tersendat saat bibir Damian menempel di leher belakangnya.

"Kamu istri aku," napas Damian terasa hangat dan memburu di kulit leher Tisa. "Jangan pernah tatap aku seolah kamu mau pergi, Tisa. Aku bisa gila."

"Kamu sendiri yang bikin aku merasa sendiri di rumah ini..."

Genggaman tangan Damian semakin kencang. Ia memutar tubuh Tisa secara paksa hingga wanita itu menghadapnya. Matanya merah membendung emosi yang membakar. Tanpa memberi jeda sedikit pun untuk Tisa protes, Damian menunduk dan mencium bibir Tisa secara mendalam.

Bukan ciuman lembut, melainkan ciuman yang sarat tuntutan dan rasa takut kehilangan yang campur aduk. Tisa sempat mendorong dada suaminya, menolak disentuh saat hatinya masih sakit. Namun Damian makin merapatkan tubuhnya, menyelipkan jarinya ke sela-sela rambut Tisa dan menahan tengkuknya.

Aroma tubuh Damian dan kehangatan sentuhannya selalu jadi celah meluluhkan Tisa. Jemari Tisa yang tadinya mendorong dada Damian berubah meremas kemeja suaminya.

Damian mengangkat tubuh Tisa dan merebahkan istrinya ke kasur. Di balik pintu yang terkunci rapat, amarah dan sakit hati akibat makian Ibu Yuliani perlahan tergerus oleh luapan gairah di antara mereka—sebuah cara yang selalu mereka pakai untuk melupakan masalah sementara.

Jam menunjukkan delapan pagi saat Tisa terbangun. Kasur di sampingnya sudah kosong. Damian sudah pergi bekerja tanp pamit, Tisa duduk perlahan merapikan baju tidurnya yang kusut dengan perasaan hampa yang makin menjadi-jadi.

Saat ia meraih gelas air di meja samping tempat tidur, ponselnya tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Tisa membuka pesan itu. Sebuah foto muncul di layar. Dalam foto itu, Damian tampak duduk berhadapan di resto sebuah hotel dengan wanita yang mengenakan gaun elegan berambut panjang. Wanita itu tersenyum manis sambil memegang pergelangan tangan Damian, dan Damian diam saja tanpa menepisnya.

Di bawah foto, ada pesan singkat bertuliskan:

“Foto ini diambil pagi ini di resto hotel dekat kantor Damian. Damian sarapan bareng Septiana. Di rumah kamu cuma tempat pelampiasan kalau dia lagi pusing, Tisa. Jangan tunggu sampai kamu benar-benar dibuang.”

Tangan Tisa gemetar hebat membaca tulisan itu. Belum sempat air matanya menetes, dari lantai bawah terdengar gedoran pintu depan yang sangat keras, disusul teriakan Ibu Yuliani dari luar.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status