Mag-log inNamun Javier juga mengerti, Kayden sebenarnya sudah sangat menahan diri.Soal Lunara dan anaknya, fakta bahwa Kayden tidak membalas dengan darah dibayar darah saja sudah menjadi batas terakhirnya sebagai anak dan cucu keluarga itu.....Beberapa hari kemudian, di acara makan malam sebuah merek mewah, suasana penuh dengan orang-orang yang saling bersulang.Meski disebut sebagai jamuan makan malam, sebenarnya acara itu adalah ajang promosi produk baru dan perhiasan mewah dari brand tersebut. Beberapa artis yang menjadi duta dan promotor juga hadir serta berjalan di karpet merah.Sejak acara peluncuran Kepompong Pecah terakhir kali, cukup banyak nyonya kaya yang mulai akrab dengan Lunara. Begitu melihat dia datang bersama Casya dan Elina, mereka langsung menyapa dengan hangat.Gaia melambaikan tangan dari sudut meja."Lunara, di sini."Setelah Lunara mendekat, Gaia tersenyum."Aku tahu kamu nggak suka acara sosial begini, jadi aku sengaja ambilin tempat buat kamu."Di acara seperti ini, h
Bagi Kayden, membuat perusahaan Keluarga Sankara bangkrut saja sudah termasuk kemurahan hati. Dia tidak takut membuat Zafran marah.Hanya saja, fondasi pria tua itu terlalu dalam. Walaupun sudah tidak ikut mengurus urusan keluarga, jaringan dan relasinya tetap sangat luas. Menggoyahkannya memang mudah, tapi yang diinginkan Kayden bukan sekadar menggoyahkan.Satu-satunya yang dia khawatirkan hanyalah Lunara.Tatapan Kayden bergerak sekilas. Lewat jendela kecil di area pintu masuk, dia melihat di hutan bambu luar rumah utama, seorang wanita muda sedang mendorong kursi roda Shaka. Keduanya tertawa dan berbicara akrab.Tangan Shaka terus membelai punggung tangan wanita itu berulang kali. Wanita itu bukan hanya tidak menjauh, malah tersenyum manja.Kemudian, mereka masuk ke dalam hutan bambu kecil.Di luar hutan bambu, Alden berdiri di sana dengan tangan terkepal, seolah sedang mempertimbangkan apakah harus masuk atau tidak. Saat masih ragu-ragu, dia menoleh dan melihat Kayden sedang memand
Hinari tertegun sejenak, lalu mengisap rokok di ujung jarinya. Tak lama kemudian dia tertawa, mematikan rokoknya lalu langsung merangkul Lunara. "Aku sampai mau jatuh cinta sama kamu."Lunara terdiam. Jadi, sifat Rupert yang bicara sembarangan itu ternyata memang turunan dari Hinari!....Silvar tiba di rumah sakit dan mencari ke beberapa ruang pemeriksaan sebelum akhirnya menemukan Elina. Saat itu, Elina sedang tertidur.Kepalanya terangguk-angguk saat bersandar di kursi. Cairan terakhir di selang infus sudah hampir habis masuk, bahkan darah mulai mengalir balik.Silvar dengan cepat menutup katup infus. Dia memanggil perawat, mengembalikan sedikit darah yang tadi mengalir balik, lalu mencabut jarumnya."Tolong anggota keluarga bantu tekan bekas jarumnya sebentar. Tunggu beberapa menit baru boleh pergi.""Baik."Silvar duduk, lalu menekan punggung tangan Elina. Barulah dia sadar tangan Elina sedingin itu seperti bongkahan es. Elina membuka mata dengan samar-samar. Saat melihat Silvar,
Lunara tidak percaya. Kalau Kayden sampai tahu soal ramalan Silvar, berarti sang peramal pasti sekalian meramal dirinya juga. Namun, Kayden malah tidak mau membicarakan ramalan miliknya sendiri.Lunara menarik ujung lengan bajunya. "Peramal itu bilang apa tentang kamu?""Lupa.""Ciih. Daisy, ingatan papamu buruk, nanti kita belikan suplemen otak buat dia."Daisy mengangkat kepala dengan bingung. "Ingatan Papa bagus, kok. Waktu nonton kartun bareng aku kemarin, Papa masih ingat semuanya."Justru dia sendiri yang lupa.Lunara sengaja memanjangkan nada suaranya, "Ooh, berarti papamu sengaja ya."Sudut mata Kayden dipenuhi senyum saat dia melirik Lunara."Peramal itu bilang hidupku akan penuh jalan berliku dalam karier, masa muda penuh kesulitan, dan hubungan saudara kandung nggak harmonis karena saling curiga. Tapi orang tuaku saling mencintai dan kehidupan pernikahanku juga harmonis."Waktu itu, sang peramal juga mengatakan bahwa meski hidupnya penuh kesulitan, hal paling langka adalah b
Beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya datang membawa banyak barang. Aroma sup ayam langsung memenuhi ruangan. Minyak ayam berwarna keemasan mengapung di permukaannya, membuat hati orang terasa hangat sekaligus sesak.Di telinganya, yang terdengar hanya makian dan tuduhan tanpa akhir.Saat keluar rumah tadi, kepalanya pusing dan pandangannya berkunang-kunang. Pakaian yang dia kenakan di dalam masih piama. Begitu menunduk, Elina melihat penampilannya sendiri yang berantakan dan menyedihkan.Dia ingin tersenyum, tapi akhirnya berhenti."Karena dia memang bodoh. Dan kalian adalah sumber yang membesarkan si bodoh itu. Alfie nggak mau bangkrut? Ingin bangkit lagi? Boleh saja. Datang dan mohon padaku."Elina menatap ibu jarinya yang baru saja dilepas perbannya. Kuku baru yang tumbuh masih tipis dan lembut, belum terlalu bisa digunakan. Akan tetapi, itu adalah kuku yang tumbuh kembali.Elina berkata tenang, "Mungkin saja aku akan berbaik hati menyelamatkannya."Setelah berkata dem
Ucapan Silvar itu seperti hantaman keras.Tangan Sutan yang memegang ponsel sampai bergetar. Dia bahkan tidak sempat marah karena sikap dingin Silvar. Dengan nada meninggi, dia berkata, "Kenapa Keluarga Narasoma menargetkanmu? Apa yang sudah kamu lakukan sampai menyinggung mereka?"Keringat dingin di punggung Alfie langsung membasahi bajunya.Musim semi sudah mulai menghangat, tapi Alfie malah merasa hawa dingin yang menusuk.Apa semua perbuatannya sebelumnya sudah diketahui Kayden?Tidak, tidak mungkin. Kalau Kayden benar-benar tahu Alfie pernah menyentuh istrinya, reaksi Kayden tidak mungkin sesantai ini. Membiarkan perusahaannya bangkrut perlahan dari hari ke hari, tidak berbeda dari penyiksaan perlahan-lahan.Apa metode Kayden bisa selembut itu?Alfie terus mencari berbagai alasan untuk menenangkan dirinya sendiri.Ingus dan air matanya bercampur di wajahnya. Dia memeluk kaki Sutan sambil menangis tersedu-sedu."Aku nggak melakukan apa-apa! Pasti Elina ngomong sesuatu di depan Silv







