Mag-log inOrang yang hebat memang akan tetap menonjol di mana pun. Bahkan ikut membaca drama di internet bisa berubah jadi ajang cari kerja. Bisa dapat pekerjaan, bahkan bisa bekerja bareng ilustrator besar, benar-benar untung besar!Di sisi lain.Martin melihat pernyataan Moonbreeze yang tidak mau menurut, lalu menghantam meja dengan marah. Dia langsung menelepon Maeris."Kamu bilang sendiri, gimana kita mau menutup masalah ini sekarang? Siapa sebenarnya orang ini, berani sekali melawanku secara langsung?""Dia punya banyak penggemar fanatik, malah bisa dimanfaatkan. Suruh mereka serang Lunara, sekalian mengalihkan perhatian."Maeris memikirkannya sejenak. Caranya ini memang bukan ide yang buruk. Dia kembali mengerahkan upaya besar untuk mengarahkan para penggemar itu melakukan serangan online ke Lunara.Selama mereka percaya bahwa Lunara yang membocorkan data gim, hingga membuat Moonbreeze terseret masalah, mereka akan fokus menyerang Lunara. Dengan begitu, tidak ada lagi tenaga untuk memperha
Martin sama sekali tidak merasa ada yang salah dengan ucapannya.Keluarga Narasoma sangat besar. Tidak mungkin kekurangan uang segelintir itu.Apalagi soal perjodohan antara Elina dan Kayden. Meski belum benar-benar ditetapkan, tetapi semua anggota Keluarga Sankara sudah tahu.Tangan Elina gemetar, berusaha menahan amarahnya, lalu menuding, "Kamu tahu nggak sih, Kayden sudah menikah? Aku sama sekali nggak ingin dijodohkan sama dia!"Martin memang tidak tahu soal pernikahan Kayden. Namun, dia juga tidak terlalu peduli."Nggak masalah, Kak. Bukankah Keluarga Narasoma masih punya tiga putra? Selain yang dari keluarga ketiga nggak bisa dipilih, masih ada dua lagi. Kamu pilih saja.""Martin!" Elina benar-benar tidak percaya kata-kata tidak tahu malu seperti itu bisa keluar dari mulutnya.Martin mengorek telinganya. "Ada apa, sih? Keluarga Narasoma saja nggak bereaksi apa-apa, kenapa malah kamu yang datang menginterogasiku?""Dari mana kamu dapat data gim itu?"Mata Martin berputar sejenak.
Casya langsung berdiri dan berlari ke belakang Lunara, bahkan memijat bahunya."Jadi begitu tahu Kak Lunara mau buka perusahaan perhiasan, aku langsung ingin kerja untukmu. Aku punya banyak sekali desain!""Kalau begitu, bawa sini biar kulihat."Awalnya, Lunara dan Casya sendiri juga tidak benar-benar berpikir desain itu bisa digunakan. Namun, ternyata desain itu bukan hanya layak digunakan. Bahkan saat melihatnya, Lunara langsung terpukau."Kamu punya bakat besar di bidang desain. Kalau set perhiasan ini dikerjakan detailnya sama pengrajin yang ahli, pasti akan laris manis.""Benarkah? Tapi aku cuma asal gambar saja ...."Casya menatap desain di layar komputer dengan tidak percaya diri.Selama bertahun-tahun, sebagai satu-satunya anak perempuan di Keluarga Narasoma dan ditambah lagi dia hanya berasal dari keluarga putra ketiga, Casya memang tidak pernah terlalu diperhatikan. Kalau langit Keluarga Narasoma runtuh, selalu ada Kayden yang menopangnya.Sejak kecil, takdirnya seolah hanya
Bagaimanapun, Shaka dan istrinya, Floryn, telah membawa skandal besar bagi Keluarga Narasoma.Floryn sendiri yang merencanakan semuanya, mengarahkan suaminya untuk berselingkuh, lalu sengaja difoto dan disebarkan ke internet. Di waktu yang tepat, dia juga tidak lupa menghubungi tunangan wanita itu sehingga membuat seluruh kota gempar.Floryn dicap oleh Zafran sebagai wanita licik, sehingga tidak diizinkan lagi bertemu dengan Alden dan Casya. Zafran bahkan melarang semua orang untuk mengungkit kembali nama istrinya dan Shaka. Seolah-olah dalam Keluarga Narasoma, tidak pernah ada orang-orang itu.Sekarang, Alden mengajukan keinginan untuk pergi menemui mereka karena sebentar lagi adalah ulang tahun Floryn.Alden berdiri dengan ragu-ragu. Saat berbicara tentang orang tuanya, tidak ada lagi kesombongan sebagai tuan muda keluarga besar, yang hanya tersisa senyum getir."Akhir-akhir ini aku sering memimpikan ibuku. Dia bilang kalau aku nggak segera datang menemuinya, dia akan mati. Setiap ka
Daisy sebenarnya bukan tipe anak seperti itu. Namun tidak menutup kemungkinan, saat remaja nanti dia juga bisa memberontak.Membayangkan adegan itu, keduanya saling berpandangan lalu tertawa. Bahkan Ignas yang sedang menyetir di depan juga ikut tersenyum.Kayden menggeleng. "Sifat Daisy mirip kamu.""Tentu saja, Daisy itu anakku."Daisy dan Lunara sama-sama terlihat lembut di luar, tapi sebenarnya punya pendirian kuat dan keras kepala. Sekali sudah menentukan sesuatu, keputusannya sulit diubah.Saat Daisy keluar bersama Saphira dan diminta untuk memilih mainan sendiri, begitu dia memilih sebuah mainan, dia tidak akan melirik yang lain lagi.Dalam hal ini, dia sangat mirip Lunara.Kayden menggenggam tangan Lunara lebih erat.Semoga saja, dirinya ini juga adalah pilihan Lunara yang tidak akan mudah diubah.....Setelah pulang, Lunara menyampaikan pendapatnya kepada Priya.Priya menghela napas lega."Aku memang agak nggak nyaman tinggal di sini. Bagaimanapun, kalian belum mengadakan perni
Gaia dan Eirene berjalan di depan, sehingga mereka tidak mendengar kalimat itu.Setelah makan, mereka pun berpisah. Eirene menarik dua orang yang sudah mabuk itu pergi, sementara Lunara menunjuk ke arah mobil yang terparkir di seberang jalan.Eirene juga tidak banyak bertanya.Wajah Lunara cantik, tubuh dan kepribadiannya juga tidak ada yang bisa dikritik. Hanya dengan berdiri di sana saja, sudah tidak terhitung berapa banyak orang di perusahaan mereka yang diam-diam bertanya pada Eirene dan Gaia tentang status hubungan Lunara.Di sekitar Lunara tentu selalu ada banyak orang yang mendekatinya.Kalau Lunara ingin bercerita, pasti akan dia katakan sendiri. Kalau Lunara memang enggan menceritakannya, malah terkesan kurang ajar kalau mereka bertanya lebih jauh.Eirene mengangguk. "Aku duluan ya. Mereka berdua satu arah denganku. Kamu hati-hati di jalan, kalau sudah sampai kabari di grup.""Oke, Kak Eirene hati-hati di jalan, pelan-pelan ya nyetirnya."Mobil itu melaju dan segera menghilang
Suara Kayden terdengar datar tanpa emosi. "Ada yang suka."Garpu dan pisau di tangan Lunara hampir tak bisa dia pegang, sampai sedikit bergetar. Yang dimaksud Kayden ... jangan-jangan dirinya?Rupert menoleh ke arahnya. "Tante suka yang ini? Nah, buat Tante!" Sambil berkata begitu, dia mengambilkan
Pandangan Kayden tertuju ke wajah Lunara. Pencahayaan kamar redup, di matanya terlihat jelas jejak kelelahan.Rumah ini sangat kecil. Jika semua ruangan digabung, bahkan tidak sebesar ruang tamu apartemen Kayden. Namun entah kenapa, dia malah tertawa dari lubuk hatinya."Belajar ngompol darimu?"Rup
Labelnya masih belum dilepas, sepertinya memang benar-benar baru.Sebelumnya, pernah ada kejadian orang yang mengetuk pintu mereka tengah malam. Di rumah mereka hanya ada tiga perempuan dan semuanya termasuk kelompok rentan. Lunara pun membeli sandal pria dan berniat menaruhnya di depan pintu.Namun
Lunara berdiri di samping mobil. "Aku naik MRT saja."Tatapan Kayden dalam dan tenang, dia melirik Lunara sekilas. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Masuk." Dia tidak memberi Lunara pilihan lain.Jam sibuk pagi di Kota Andara selalu padat. Arus kendaraan macet dan jalanan penuh. Kalau memaksa naik MR







