로그인Keesokan harinya, Brenda langsung diberhentikan dan diminta keluar oleh Amy.Orang-orang lain di dalam tim tidak mengerti apa yang terjadi. Ada yang ingin bertanya, tetapi mereka teringat semalam Amy masuk ke kamar Lunara dan baru keluar lama setelahnya.Seketika, mereka merasa kemungkinan besar itu memang keputusan sang nyonya. Nyonya terlihat lembut dan tidak banyak menunjukkan emosi, tidak disangka tindakannya begitu tegas dan cepat.Untuk sesaat, beberapa orang langsung merasa waswas dan berpikir mereka harus melakukan pekerjaan masing-masing dengan baik. Tidak mudah menemukan majikan sebaik orang Keluarga Narasoma.Mereka juga tidak peduli sebenarnya apa yang telah dilakukan Brenda. Mereka hanya tahu, kalau sampai dipecat, berarti Brenda sudah melakukan sesuatu yang membuat Lunara tidak bisa lagi menoleransinya.Brenda terkejut. "Apa ada yang kurang bagus dengan pekerjaanku? Kenapa aku dipecat?"Amy sudah mengenal Brenda selama beberapa tahun. Dia juga pernah membimbing Brenda sen
"Kalau nggak, menurutmu dia pakai apa buat menaklukkan Kayden? Dengan badan kayak begitu, aku rela dilecehkan.""Kalau wanita begitu yang lecehin kamu, itu malah hadiah buat kamu."Tatapan Kayden melirik ke sana dan bertemu dengan dua mahasiswa yang asal berbicara itu. Begitu merasakan tatapan dinginnya, mereka langsung diam dan mempercepat langkah pergi.Kayden menarik Lunara ke samping. Dia melepas jaket yang dipakainya, lalu memakaikannya pada Lunara sambil berkata dengan nada kesal, "Nggak usah temani aku. Kamu larinya terlalu lambat, malah bikin repot. Tunggu di sini."Memang dari awal Lunara juga tidak benar-benar ingin lari. Dia hanya mencari alasan untuk menemani Kayden.Setelah dibilang begitu, dia langsung mencari tempat di sudut dan mengeluarkan tablet untuk menggambar.Namun, baru selesai membuat sketsa kasar, dia mendengar keributan dari depan."Jangan berkelahi!""Kenapa kamu tiba-tiba mukul orang?"Lunara berdiri di atas tangga dan melihat ke sana, baru sadar kalau orang
Di dalam tim, Brenda bukan sosok yang menonjol. Pekerjaan yang dia lakukan juga lebih banyak membantu. Siapa pun yang butuh bantuan, dia pasti bisa turun tangan dan menjadi asisten dadakan. Kalau dibilang terus terang, dia itu seperti asisten untuk lima orang sisanya.Lunara pun paham posisi Brenda di dalam tim memang tidak terlalu penting."Kalau kamu sudah yakin, ya ganti saja dia. Itu hakmu."Toh Amy adalah pemimpin tim. Kalau ada perubahan internal apa pun, cukup Amy sendiri yang memutuskan. Tidak perlu sampai meminta persetujuan pihak pemberi kerja.Waktu wawancara dulu pun, Daisy yang menyukai Amy, makanya tim mereka bisa bekerja.Amy sangat berterima kasih pada Lunara. Lunara tidak menyalahkannya, juga tidak marah besar, benar-benar menjaga harga dirinya."Nyonya, aku pasti akan mengatur tim dengan baik. Nyonya tenang saja."Lunara menggeleng pelan. "Aku juga punya perusahaan sendiri. Kalau berharap semua orang sejalan denganku, jelas itu mustahil. Hati manusia sulit ditebak, ja
Amy tidak akan membiarkan setitik nila itu merusak susu sebelanga.Setelah berkata demikian, Hilda pergi dengan angkuh. Amy kembali ke tim. Brenda bertanya padanya, "Kak Amy, kenapa tadi Bu Hilda cari kamu?"Sebelumnya Amy tidak terlalu memperhatikan Brenda. Dia hanya menganggap usianya masih muda, wajar kalau penasaran dengan Keluarga Narasoma. Akan tetapi, rasa ingin tahunya terlalu berlebihan. Jauh lebih dibanding anggota tim lainnya.Amy memasang wajah serius dan berkata, "Hal yang nggak berhubungan dengan Nona Daisy nggak perlu ditanyakan. Itu bukan urusanmu. Kita hanya perlu menjaga Nona dengan baik."Brenda mengangguk. "Iya."Melihat Daisy, dia kembali berkata, "Kak Amy, kalau nanti Tuan punya anak lain, kita masih bisa terus merawat mereka, 'kan?"Amy mendengarnya, lalu merasa mungkin Brenda memang tidak punya niat lain. Dia hanya peduli pada pekerjaannya. Apakah dirinya yang salah menilai orang, atau tuduhan Hilda tadi hanya asal bicara?Amy tidak bisa memastikan. Sudahlah, di
Hilda belum pernah bertemu orang seperti Lunara. Dia juga tidak tahu apakah wanita ini pura-pura bodoh atau memang benar-benar tidak paham.Wajah Lunara tampak putih mulus dan cerah. Saat Lunara mengangkat kepala menatapnya, cahaya lampu jatuh di garis rahangnya. Melihat Hilda menatapnya, Lunara bahkan tersenyum tipis.Sikapnya begitu lembut, seperti sedang berbicara dengan anak kecil, "Ada hal lain?"Hilda merasa amarah di dadanya terus tertahan. Tidak mungkin dia memukul orang yang bersikap ramah padanya. Sebesar apa pun keinginannya untuk bersikap seenaknya, Hilda tidak punya alasan untuk marah pada Lunara.Dia hanya bisa menahan diri dan memaksakan senyum. "Kak Lunara, waktu itu aku salah bicara. Eden bilang aku buat kamu marah, jadi menyuruhku pulang ke rumah untuk merenung. Bisa nggak kamu bicara sama Kakak, supaya kalian nggak marah lagi padaku.""Anggap saja aku masih muda."Anak-anak Keluarga Narasoma usianya tidak jauh berbeda. Selain Eden dan Casya yang sedikit lebih muda, k
Hilda mengerucutkan bibir. "Ke depannya Kak Kayden dan Kak Lunara nggak berencana punya anak lagi?" Nada bicaranya bahkan terdengar agak aneh, seperti menyimpan antusiasme tersembunyi.Lunara meliriknya dengan heran.Setiap kali Hilda membuka mulut, permusuhannya terhadap Lunara bahkan bisa dipahami oleh Daisy yang baru berusia tiga tahun. Kalau dibilang tidak sengaja, Lunara jelas tidak percaya.Lunara menundukkan mata, rona merah muncul di wajahnya, lalu berkata malu-malu, "Mau, kok. Kakakmu juga sangat rajin berusaha."Priya langsung menarik pelayan untuk berdiri. "Di kamarku masih ada benang wol, tolong bantu aku bentangkan, mau aku rapikan."Bukan karena merasa ucapan Lunara tidak pantas. Sejak kecil Lunara memang bicara seperti itu. Kalau terlalu menahan diri, Priya malah merasa aneh. Dia hanya khawatir kalau dirinya dan pelayan tetap di sini, Lunara jadi tidak bisa tampil maksimal.Senyum di wajah Hilda langsung membeku. Lunara pura-pura tidak sengaja menarik sedikit kerah piyam







