LOGINPagi ini Kiara dibangunkan oleh mual yang luar biasa. Isi perutnya seperti diaduk-aduk dari dalam, memaksa Kiara untuk mengeluarkan semuanya.Dengan gerakan cepat, Kiara berlari ke kamar mandi. Disusul Joshua di belakangnya, pria itu terjaga saat Kiara tiba-tiba keluar dari pelukannya dengan gerakan tergesa-gesa.Kiara terduduk lemas di depan kloset, ia merasa semua isi perutnya sudah dia muntahkan tapi kenapa rasa mual terus mendesak. Joshua memijat pelan kedua bahu Kiara.“Udah puas?” tanya Joshua saat Kiara mulai berhenti muntah.Dengan mata tertutup, Kiara mengangguk lemah.Joshua berdiri mengambil tisu, kemudian menyeka pinggir bibir Kiara. Lalu menggendong istrinya kembali ke ranjang.Di atas ranjang Kiara memijat keningnya, semua terasa berputar-putar hingga ia tak sanggup membuka mata.“Pusing banget, Jo,” lirih Kiara bergetar. Joshua duduk di samping Kiara yang berbaring, menggeser tangan wanita itu menggantikan memijat kepala istrinya.“Bagian mana yang sakitnya?” bisik Jos
Kiara berdiri di depan penggorengan. Ia mengenakan apron seperti biasa, agar tidak mengotori kemeja satinnya. Dari arah belakang terdengar suara langkah Joshua, “Kia, kan aku udah bilang, kamu nggak perlu masak. Jangan sampai kecapean, sayang,” ucap Joshua sambil membuka tali apron Kiara.“Aku gak capek, Jo. Bikin nasi goreng doang apa capeknya coba?” protes Kiara.“Sini aku lanjutin, kamu arahin aja.” Joshua memakai apron yang ia ambil dari Kiara. “Kata yayasan penyalur tenaga kerjanya, mereka lagi nyari orang yang pas buat kriteria yang aku cari. Paling lama lusa mbak yang khusus masak udah mulai kerja,” jelas Joshua di sela-sela mengaduk nasi goreng.Di samping, Kiara tersenyum puas melihat Joshua dengan apron merah muda dan kemeja abu-abu yang digulung hingga siku terlihat sangat kontras. “Udah, Jo. Cukup, udah mateng itu. Matiin aja kompornya, lalu pindahkan ke piring kita,” Kiara menahan senyum agar tidak mengembang. Joshua terdiam sejenak, dengan ragu ia membuka suara, “Kia
Joshua memarkirkan mobil di pekarangan rumah mertuanya. Membukakan pintu untuk Kiara, dengan hati-hati menuntun Kiara turun dari mobil.“Mama,” panggil Kiara sambil mengetuk pintu.Dari dalam rumah terdengar langkah kaki berjalan mendekat. Suara kunci terbuka. Dari balik pintu terlihat Nadia tersenyum ramah.“Kia, Mama kangen banget nak,” ucap Nadia memeluk erat putri semata wayangnya. Mengelus lembut punggung Kiara.“Kia, juga kangen sama Mama,” ujar Kiara melerai pelukan hangat itu.“Ayo masuk, Joshua.” Nadia mempersilakan anak dan menantunya ke ruang tengah rumah.“Papa mana, Ma?” Joshua mengedarkan pandangan mencari keberadaan Arman.“Ada di kamar, sebentar Mama panggil. Oya, kemarin Joshua datang ke sini. Katanya kamu lagi gak enak badan, Kia. Beneran udah sembuh nak?” Langkah Nadi terhenti mengingat hal itu.“Udah kok, Ma,” balas Kiara seadanya, lalu melirik ke arah Joshua. “Iya Ma, kemarin, Kia demam dikit,” jawab Joshua sambil menggaruk alisnya yang tidak gatal dengan telunjuk
Pagi kembali menyapa apartemen dengan hangat sinar matahari. Kali ini kehangatannya terasa berbeda bagi Kiara dan Joshua. Mereka tidak lagi berdua, ada dunia baru yang mereka nantikan.Joshua berjalan menuju meja makan, dengan roti panggang di tangannya.“Aku bakal cari satu orang lagi untuk kerja di rumah kita, Kia.” ucap Joshua meletakkan piring di atas meja.“Maksudnya?” dahi Kiara bertaut tipis.“Mulai besok, kamu gak boleh masuk dapur lagi untuk keperluan apa pun. Kecuali mengambil minuman atau makanan yang sudah siap,” Joshua kembali berjalan mengambil kopinya dan teh hangat Kiara.“Kan kita udah ada mbak yang bersih-bersih rumah,” ucap Kiara masih tak mengerti arah pembicaraan Joshua.“Jadi aku bakal nyari satu orang lagi khusus buat masak, agar nutrisi kamu selama hamil tetap terjaga dan kamu gak perlu masak,” Joshua menjeda kalimatnya.“Sama kayak mbak yang sekarang. Cuma datang beberapa jam, setelah kerjaan mereka selesai, boleh langsung pulang,” jelas Joshua sambil meletaka
“Joshua,” panggil Kiara pelan.Akhirnya Joshua mengangkat kepala menatap Kiara. Dengan mata berkaca-kaca Joshua meletakkan kertas itu di sofa, dengan satu gerakan ia menarik Kiara masuk dalam pelukannya.“Terima kasih, Kiara,” ucap Joshua semakin serak. Dapat Kiara rasakan air mata Joshua mengalir deras membasahi bahu Kiara. Untuk pertama kalinya ia melihat Joshua menangis seperti ini.Tangan Kiara terangkat menepuk-nepuk pelan punggung Joshua yang bergetar karena isak tangis pria itu. “Terima kasih, sayang,” Joshua terus mengulangi kata-kata itu. Tangan Kiara beralih mengusap rambut Joshua, menyisir dengan jarinya, lalu mencium kepala Joshua. Kali ini Kiara yang menunggu Joshua selesai dari tangisannya. Beberapa menit berlalu, Joshua menarik diri dari pelukan Kiara.“Terima kasih, sayangku,” ucap Joshua menetap Kiara. Kiara tersenyum hangat, lalu menghapus air mata Joshua yang membasahi pipi pria itu.“Aku pikir kamu tidak senang, Jo,” khawatir Kiara.“Nggak senang gimana, ini ada
Hampir setengah jam Kiara sesenggukan dalam pelukan Joshua. Kemeja pria itu basah oleh air mata penyesalan istrinya. Dengan sabar Joshua menunggu Kiara tenang, masih sambil menepuk-nepuk pelan punggung wanita itu.Perlahan sesenggukan itu berubah jadi isakan kecil, napas Kiara mulai teratur dan tenang.“Sudah nangisnya?” tanya Joshua saat Kiara melepaskan diri dari pelukannya. Kiara masih menunduk tak sanggup bertatapan dengan Joshua. Ia hanya mengangguk sebagai jawaban.“Sudah bisa jelaskan apa alasan di balik kemarahan kamu ini?” Joshua kembali bertanya, namun tidak mendesak.Kiara bergeming. Ia meremas ujung baju kaosnya. Masih bingung bagaimana cara memulainya.Joshua menatap lama istrinya, wanita itu terlihat sangat rapuh. Tatapannya turun ke jari-jarinya lentik Kiara. Joshua sadar satu hal, meski Kiara berencana kabur hingga ke luar negeri tapi cincin pernikahan masih bertengger di jari manisnya. Melihat Kiara yang masih bergeming. Joshua menggendong Kiara untuk duduk di sofa







