Home / Fantasi / Kinari dan Benang Waktu / Bab XXXVI Cause and Consequences

Share

Bab XXXVI Cause and Consequences

Author: Niskala
last update Huling Na-update: 2025-08-23 00:05:40
Bayangan tangan itu terayun—bukan tangan daging, melainkan konstruksi segitiga yang menekuk bagai sendi, garis-garis lurusnya merekah jadi jaringan cahaya.

Sekali kibasan, lembah sinusoidal pun meregang, permukaannya bergetar seperti kulit air yang disentuh badai.

Riak-riak itu membentuk mosaik—dan dari mosaik itu, muncullah bayangan Thalu’mera.

Raksasa laut purba itu muncul tak utuh; tubuhnya yang berlapis sisik bintang kini terkikis, pinggirannya rapuh seperti pasir ditiup angin.

Sayap-sayap siripnya patah, dan mata yang dulu menyala bagai dua bintang kembar kini redup, seolah dilahap kabut yang lahir dari ruang itu sendiri.

“Lihatlah,” suara Syrakhal meledak tanpa nada, namun menyusup ke dalam nadi Kinari. “Eksistensimu di sini telah mengganggu keseimbangan.

Apa yang kau yakini sebagai takdir lautmu, kini menjerit dalam keretakan. Inikah harga dari keras kepalamu?”

Kinari terhuyung, pupil matanya melebar hingga seolah menelan seluruh iris.

Ia mencoba melangkah,
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab LI Whispers of the Unheard

    Asap memerihkan mata, menyesaki paru. Suara memantul dari beton: teriakan, komando, dentum. El’Thyren berdenyut kencang sampai terasa menyakitkan. Retakan di langit merambat lebih jelas—serpihan kecil waktu jatuh seperti salju tak terlihat, menyentuh kulit dan membuat dingin tulang. “Pisahkan arus,” seru Kael, suaranya hanya untuk mereka berdua. “Kau tarik amarah, aku tarik takut.” Kinari mengangguk. Ia melangkah ke depan, membentangkan telapak. Aetheryn menggema dalam bayang, tidak seperti tombak, melainkan seperti pilar gaib yang menciptakan ruang kosong di tengah keriuhan. Dari ujung jemarinya, ia memanggil air tipis yang ia pelajari dari pipa-pipa kota—Hujan Tiris; bukan deras, hanya kabut sejuk yang menempel di kulit, menenangkan mata yang pedih gas. Kabut itu tidak menghalangi, hanya memberi jeda bernapas. Kael menenun Sutera Lumen di atas kepala massa—benang nyaris tak terlihat yang menunda momentum lemparan, memperlambat batu yang semestinya melayang. Batu itu tetap

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab L The Fractured Oath of Justice

    Malam itu, taman kecil di bawah apartemen berkilap lembut oleh lampu jalan yang diselimuti kabut. Daun-daun basah memantulkan cahaya seperti sisik ikan mithril. Kinari dan Kael duduk di bangku besi—dinginnya menembus pakaian yang baru saja mereka pelajari namanya. El’Thyren di dada Kinari berdenyut pelan, seperti detak jantung yang sedang menimbang. “Di dunia manusia,” Kael membuka suara, “retakan tidak membelah seperti tebing. Ia merayap seperti lumut—halus, menjalar, perlu dibersihkan secara berkala.” “Artinya,” sahut Kinari, menatap permukaan kolam yang menangkap wajah bulan, “kita harus tinggal. Sepanjang umur. Mengikat hidup pada tempat yang bukan rumah.” “Di realm lain,” Kael melanjutkan, suaranya rendah, “kita datang, menutup luka, lalu selesai. Di sini tidak ada ‘sekali’. Hukum sosial mereka berputar perlahan, membentuk celah yang selalu baru. Jika kita memaksakan pedang… dunia akan menolak. Jika kita lembut, celah-celah itu tumbuh lagi.” Kinari menghela napas,

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab XLIX Symphony of Nora Batara

    Mereka mengintai pengelola pasar; pria itu duduk di sebuah bilik kecil di pojok pasar, dikelilingi kertas-kertas yang seperti daun-daun mati. Ia menutup jendela saat Kael mendekat; di raknya ada foto-foto pejabat kota, jabat tangan, segel, surat perjanjian. Kinari menyentuh pintu bilik—Sutera Lumen merayap menjilati kaca, memperlihatkan rekaman pantulan: notasi tanda tangan yang bergeser, angka-angka yang dinaikkan lalu diturunkan, bukti-bukti transfer yang tidak pernah sampai pada kasir pasar. Pengelola itu menoleh, wajahnya pucat ketika ia melihat kenyataan tercermin di kaca. Bukan hanya malu: ia melihat retak pada waktunya sendiri—keputusan yang ia ambil menggetarkan benang ruang di bawahnya. Namun pengelola menjadi marah, bukan menyesal. Ia menggeram bahwa pemerintah kota tak cukup memberi alokasi, bahwa biaya pasar semakin menekan, bahwa sulit menyeimbangkan buku. Dalam bahasa yang tampak rasional itu terselip sebuah pilihan: korupsi adalah jalan pintas, pilih

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab XLVIII Echoes of the Tainted Pact

    Pasar Nora Batara menatap mereka seperti mulut raksasa yang mengunyah bara. Lampu-lampu minyak di kios-kios memantul pada lembar-lembar kain, pada timbangan kuno, pada wajah-wajah penjual yang terkadang tangannya bersandar pada kebiasaan lama—kebiasaan yang menumbuhkan korosi pada waktu. Di udara ada bau rempah, ikan asin, keringat, dan parfum tiruan — sebuah simfoni manusia yang hidup sekaligus rapuh. El’Thyren di dada Kinari berdenyut tak tenang; denyutnya seperti nadi yang ditusuk jarum, berganti cepat dari lembut menjadi getar tajam. Sutera Lumen yang mereka tenun di seantero kota meriak di kaca-kaca; jalinan kecil itu menangkap gema niat yang berlalu, lalu menyalurkannya pada kalung sang ratu. Kael menutup matanya sejenak dan membaca pola: bukan satu retakan besar yang tunggal, melainkan ratusan retak halus—retak halus yang menjalar dari dua pusat yang berbahaya. Kerakusan kecil di sudut-sudut pasar, dan keputusan besar yang disepuh oleh korupsi lembaga. Mereka berjalan

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab XLVII The Plan B

    Malam kedua, Plan B diuji. Di pasar malam, seorang pria muda berdiri terlalu lama di depan dompet-dompet yang tergantung.Matanya melayang, telunjuknya sesekali bergerak. Di atas tarikan nafsu kecil itu, kopi panas di kaca pun memunculkan cincin yang tak normal; sutera jala bergetar. El’Thyren menyala sekali—detak singkat. “Lihat,” Kael menunjuk dengan dagu dari atap seng, “jalinannya bernyanyi.” Kinari menutup mata—mencari nada lemah—lalu menghembuskan jeda halus. Di bawah, sinar lampu neon tiba-tiba mengerjap. Napas pria itu tertahan tanpa sebab, dan di sela satu detik yang memanjang—ia melihat bayangan ibunya, mungkin, atau anak yang menunggu makan di rumah. Tangannya turun. Retakan yang siap dirajut tidak jadi menganga. Jala tenang kembali. “Begitu caranya,” Kael berbisik. “Satu denting. Satu dunia batal runtuh.” Namun tidak semua niat berhenti oleh rasa iba. Ada yang lebih keras—lebih tua—seperti dendam berkaki tajam. Dini hari ketiga, di gang yang bau besi dan bawang g

  • Kinari dan Benang Waktu   Bab XLVI The Silken Weave of Lumen

    Malam itu, peta kota terbentang di dinding apartemen seperti kulit naga yang direntang. Garis-garis jalanan menjelma nadi, simpang menjadi simpul saraf, dan lampu-lampu kecil di kejauhan berkedip bagai bintang yang turun merasakan tanah. Kael menandai beberapa titik dengan kapur putih, sementara Kinari menggambar tanda-tanda laut di sela sudut peta—sigil arus, mata badai, dan huruf Aumeta yang melingkar seperti pusaran. “Rencana awal,” Kael membuka suara, “kita mengamati manusia. Kita kotak-kotakkan berdasarkan pola—rakus, putus asa, gengsi, dendam, kebetulan. Lalu kita pantau; lihat siapa yang bergetar ke arah retakan.” Kinari mengangguk, mata birunya memantulkan pendar El’Thyren. “Kita bentuk regu kecil dari para ‘cosplayer’ itu, mereka bisa jadi mata.” “Kita bisa,” sambung Kael, “tapi jumlah manusia terlalu banyak. Kota ini sendiri adalah samudra kepala, dan tiap kepala membawa ribuan niat—sebagian tak sempat jadi perbuatan, sebagian mekar diam-diam. Kita akan terbakar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status