Share

Bab 7

Author: Aiko Arawati
last update Last Updated: 2024-07-04 13:56:41

Langit biru membentang luas. Burung berkicauan yang berasal dari tetangga Aro. Aro merupakan anak dari Sutrisno yang menikah dengan anak pendiri masjid di desanya. Pagi menjelang siang begini ia belum beranjak dari tempat tidurnya.

“Dasar pemalas! Cepat mandi sana!” gertak sang ayah yaitu Sutrisno.

“Ibu juga sudah masakin masakan kesukaanmu.”

Aro segera beranjak dari tempat tidurnya lalu menuju dapur. Tempe mendoan. Segera ia mencuci muka untuk menyantap hidangan yang dimasak oleh ibunya.

“Habis sarapan jangan lupa mandi, yo.”

“Iya, Bu.”

Ibunya Aro menyiapkan baju untuk dipakai Aro.

“Bu, jangan model baju yang ini dong. Baju yang ada rendanya,” rengek Aro.

Ibunya segera mengambil model baju yang dimaksud Aro. Penampilan. Lagi-lagi istrinya Sutrisno masih memikirkan omongan Warti yang berlalu. Mungkin Warti sendiri sudah melupakannya dan terus menjahit hingga Aro memasuki usia sekolah. Mungkin istrinya Sutrisno tidak ingin Aro berpenampilan cupu seperti dirinya.

“Yang ini, to?” tanya sang ibu sambil menyodorkan baju yang dimaksud Aro.

“Nah iya.” Jawab Aro meringis yang menunjukkan deretan gigi kuning yang jarang disikat.

“Ya sudah, cepetan mandi. Aku tak menyiapkan sarapanmu.”

Aro mengangguk cepat sambil menyamber baju tersebut. Kali ini Aro menyikat gigi yang terasa lama. Aro tak memedulikannya. Usai mandi, ia segera sarapan dengan lauk tempe mendoan yang sempat dicicipi sebelum mandi.

“Nanti kamu ke rumah budemu, yo.”

“Ada apa, Bu?” tanya Aro menghentikan sarapannya.

“Nganterin jahitan seperti biasa.”

Aro tersenyum tipis sambil mengangguk pelan lalu melanjutkan sarapannya. Dalam benak Aro, perintah ibunya sangat mendadak sekali. Aro sedang sarapan. Baru beberapa suapan, ibunya sudah meminta Aro untuk ke rumah Bude.

Jarak antara rumahnya dengan budenya cukup jauh. Aro harus mengayuh sepeda agar cepat sampai di sana. Hari libur. Jadi Aro  tidak berangkat sekolah. Cukup menyenangkan bagi Aro bisa bersenang-senang di rumah tanpa gangguan teman-temannya. Mulai dari menonton televisi sepuasnya hingga menggambar.

“Bude, ibu meminta dijahitkan baju. Modelnya macam baju kurung gitu.” Pinta Aro sambil menyerahkan selembar kain coklat berdiameter cukup panjang.

Selama bayi-bayinya tumbuh dan berkembang, Budenya itu masih menekuni mesin jahit. Warti tersenyum tipis sambil mengambil selembar kain yang dimaksud. Yup! Budenya Aro memang Warti. Sementara itu, Warti segera mengambil contoh busana dalam lembaran buku yang sebelumnya sudah ditulis aneka model baju dan ukuran.

***

Hampir sepekan, Aro bolak-balik antara rumahnya dengan rumah budenya. Hanya untuk mengecek jahitan milik ibunya. Namun, selama Warti menjahit pakaian milik istrinya Sutrisno, Aro bermain sepeda di halaman rumah budenya itu.

“Nis, kamu naik sepedaku aja,” tawar Aro.

“Boleh, ya?” tanya Anis.

“Tentu aja boleh, Nis,” jawab Aro.

Anis memang tidak memiliki sepeda. Lantas, Anis membonceng Aro yang memiliki sepeda. Sepeda yang dibelikan ayahnya.

“Aku belum bisa naik sepeda, lho,” celetuk Anis yang berharap bisa menaiki sepeda milik Aro.

“Kamu boleh kok bersepda dengan ini.” Aro menunjuk sepeda miliknya.

“Beneran?” tanya Anis berbinar.

Anis Rahma yang kini tumbuh dengan segala fasilitas seadanya, tak membuatnya menunjukkan wajah yang melas. Kakaknya Anis yakni anak perempuan pertama Warti, ikut membantu perekonomian Anis. Jadi Anis Rahma tak pernah merasa kekurangan apapun. Justru Anis tidak suka jajan.

Berbeda dengan Aro yang gemar sekali jajan di sekolahnya. Sebenarnya, Anis dan Aro satu atap sekolah. Hanya beda tingkatan kelas. Anis merupakan senior Aro di sekolahnya.

Penampilan. Aro yang mengenakan baju renda dengan kunciran kuda, membuat Anis menatapnya sejenak.

“Ngomong-ngomong, penampilanmu hari ini sangat lucu.” Anis menahan gelak tawa.

“Lucu? Lucu gimana?” tanya Aro yang memang tidak mengerti sama sekali.

“Lucu aja.” Anis meringis.

“Kok bisa?” tanya Aro semakin tidak mengerti.

Aro mengayuh sepedanya agak cepat. Menahan rasa yang entah karena guyonan Anis yang dianggap kelewat batas. Hari demi hari berlalu. Jahitan baju milik istrinya Sutrisno pun jadi model pakaian terbaik. Itu menurut Warti yang sering membuat baju untuk pameran.

Akan tetapi, itu dulu. Semenjak Anis tumbuh menjadi gadis kecil yang manis. Warti tidak lagi memamerkan hasil jahitan di balai desa. Urusannya mengurus kebutuhan sekolah Anis, menjadi hal utama. Kini, Warti disibukkan oleh sekolah Anis, karena kedua kakaknya Anis tidak sekolah.

“Alhamdulillah, Mbak bajuku sudah jadi.” Ucap ibunya Aro sambil memberikan uang untuk Warti.

Jasa menjahit di tempat budenya lumayan mahal yakni seratus ribu rupiah. Namun, ibunya Aro tidak memikirkan tarif tersebut. Ibunya Aro justru senang bisa semakin mengakrabkan diri dengan budenya itu. Yup! Hubungan kekeluargaan sangat penting dibandingkan sepeser uang.

“Nggak masalah tempat menjahit Mbak ini terkenal mahal. Toh, uang nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan kekompakan keluarga kita.”

“He he he. Uhuk!” Tiba-tiba saja, Warti mengalami batuk sambil mengatupkan telapak tangan membekap mulut. Darah.

“Mbak kenapa?” tanya istri Sutrisno mulai khawatir.

“Mungkin kelelahan.”

“Nis! Anis!” teriak ibunya Aro memanggil-manggil Anis.

“Anis tadi kusuruh belanja di desa sebelah.” Warti tersenyum pucat.

“Terus gimana, Mbak?”

“Nggak gimana-gimana. Nanti juga sembuh,”

Rintik hujan mulai mengguyur pelataran rumah Aro. Bebatuan yang menghias di sepanjang depan rumahnya basah. Anis yang usai dari berbelanja, berteduh di teras rumah Aro.

“Lho, Nis masuk aja. Ngapain berdiri di situ?” ajak ibunya Aro sangat lembut.

“Iya, Mbak makasih.”

“Oh iya, Nis emakmu sakit. Tadi sewaktu aku ngambil jahitan, emakmu batuk. Dia nggak ngomong apa-apa, sih. Hanya saja aku sempat kaget ngelihat kondisi emakmu.”

Anis hanya membalas dengan senyuman kecut. Hujan berhenti tepat saat Anis melangkahkan kaki meninggalkan rumah Aro. Anis kaget melihat emaknya tergeletak di atas ranjang. Kedua bola matanya menatap nanar tubuh yang terbaring tak berdaya itu. Saat itu, Anis masih berusia 13 tahun yang artinya kelas 6 SD.

Wanto mengusap bulir bening yang terjatuh di kedua sudut matanya. Lelaki yang bekerja di sawah itu pun menatap sedih Anis. Uang darimana untuk berobat Warti?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kisah Gadis Pemburu Uang dan Lelaki Sholih   Bab 55

    Hari demi hari berlalu begitu saja. Anis sudah bisa melayani pembeli di toko pakaian Aro.“Anis, aku seneng banget bulan ini kita mendapat banyak sekali pesanan baju. Jadi, aku bisa menggajimu dengan bonus.”“Wah, makasih banyak ya, Ro.” Anis tersenyum manis yang membuat Aro membatin, ‘ternyata kalau dilihat-lihat Anis cantik juga.’“Aro?” Anis mengguncang-guncang tubuh Aro.“Eh eh, iya, Nis. Maaf ya aku malah jadi melamun. He he he.”“Iya nggak apa-apa, Ro. Takutnya kalau kamu melamun gini nanti kesambet, lho.”“Yeee malah bercanda.”Anis dan Aro tenggelam dalam gelak tawa. Tiba-tiba saja dari lubang hidung Anis keluar cairan merah. Anis mimisan.“Kamu kenapa, Nis?” tanya Aro dengan nada khawatir.“Nggak tahu nih, Ro tiba-tiba aja mimisan. Sebelumnya nggak pernah gini. Mana aku sedang hamil.”“Kamu harus periksa ke dokter, Nis.”“Gimana sama kerjaanku, Ro?”“Udah. Kamu nggak usah mikirin tentang kerjaan. Oh ya, Tomo bawa ponsel, nggak?”“Tomo nggak bawa ponsel kalau kerja, Ro. Memang

  • Kisah Gadis Pemburu Uang dan Lelaki Sholih   Bab 54

    Matahari mulai menyembul dari ufuk timur. Setelah sarapan nasi dengan sambal goreng tempe, Anis segera mengantar Putri ke sekolah. Tomo seperti biasa pergi bekerja membangun rumah di desa sebelah. Pukul 07.05 WIB Anis selesai mengantar Putri ke sekolah, lalu menghentikan mesin motor di depan rumah Aro.“Kamu ke sini kok pagi banget sih, Nis?” tanya Aro yang baru selesai membuka toko pakaian.“Iya nih, Ro. Aku tadi habis mengantar Putri ke sekolah.”“Wah iya. Katanya kamu mau jadi karyawan di tokoku ya, Nis?” tanya Aro yang duduk-duduk di dalam toko. Anis kemudian duduk-duduk sambil menjawab dengan suara parau, “Iya nih, Ro. Aku bingung nyari uang tambahan untuk biaya lahiran nanti.”“Selamat juga ya atas kehamilanmu. Memangnya kamu nggak apa-apa bekerja dalam keadaan hamil begini?”“Nggak apa-apa kok, Ro. Uang dari pekerjaannya Tomo yang sebagai kuli bangunan nggak cukup buat biaya lahiran nanti.”“Jadi begitu. Mulai hari ini kamu sudah bisa bekerja kok, Nis. Ohya, suamimu tahu apa ng

  • Kisah Gadis Pemburu Uang dan Lelaki Sholih   Bab 53

    Anis teringat akan sesuatu. Ia terlambat datang bulan. Lalu ia menghitung tanggal terkahir datang bulan.“Jangan-jangan aku hamil.”Untuk memastikan kebenaran, ia membeli tespek di apotik terdekat. Setelah dilakukan tes sederhana, Anis terkejut melihat hasilnya. Ia positif hamil. Anis tersenyum bahagia.Ia membagikan kebahagiaannya melalui akun FB.“Tomo,” ucap Anis sambil melingkarkan lengannya ke punggung Tomo.“Iya, kenapa, Nis?”“Hari ini aku sangat bahagia.”“Bahagia kenapa?” Tomo melepaskan pelukannya dengan pelan.“Kamu tahu nggak kalau aku sedang hamil.”“Apa? Kamu hamil? Kita bakal punya anak lagi dong.”“Iya. Putri bakal punya adik.”“Jadi, kamu muntah-muntah waktu kemarin ternyata hamil toh.”“Iya. Kamu bahagia kan?”“Iya. Aku bahagia banget.”“Tapi, dari mana nyari uang tambahan buat biaya lahiran nanti? Juga uang tambahan buat anak kedua kita? Aku bingung.”“Kamu tenang ya, Nis. Aku akan nyari pekerjaan tambahan.”“Memangnya mau kerja apa?”“Entahlah. Kita lihat saja nant

  • Kisah Gadis Pemburu Uang dan Lelaki Sholih   Bab 52

    Anis terpaksa menghentikan aktivitasnya yang sedang menyapu. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan berteriak memanggil nama Tomo, “Tomo, kamu udah selesai apa belum mandinya?”“Iya bentar lagi kok,” sahut Tomo dari balik pintu kamar mandi.Selesai mandi, Tomo bertanya kepada Anis, “mengapa kamu teriak kaya gitu? Ada apa? Apa kamu udah kebelet pipis?”“Enggak kok, Tom. Aku cuman mau bilang aja tadi kamu dicariin sama Diki,” jawab Anis.“Ada apa memangnya? Nunggu aku selesai mandi kan bisa. Kenapa harus teriak gitu?”“Ya maaf. Nanti malam Diki ada acara bancaan. Kamu diundang ke acara bancaan.” Anis nyengir bagai kuda yang tidak berdosa. Ia memasang wajah kuyu di depan Tomo. Lelaki ganteng itu manyun.“Ya sudah kalau gitu. Iya aku pasti datang kok.”Anis tersenyum menyeringai. Tomo membalas dengan senyuman pahit. Kemudian Anis ke kamar mengambil ponsel pintarnya. Lalu mengirim pesan WA kepada Aro.[Aro, gimana kandunganmu sehat?][Sehat kok, Nis. Alhamdulillah.][Alhamdulilla

  • Kisah Gadis Pemburu Uang dan Lelaki Sholih   Bab 51

    Anis mencuci piring lalu mengelapnya agar cepat kering. Hari semakin siang. Anis melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11.00 WIB. Ia segera mengenakan jilbab biru tua yang tersampir di kursi kamar. Hampir saja lupa, Anis mengambil ponsel pintarnya.Tomo belum pulang kerja. Ia harus menjemput Putri yang pulang sekolah. Namun, ia mematikan mesin motornya di depan rumah Aro.“Anis, ada apa?” tanya Aro sambil mengelus-elus perutnya yang buncit.“Enggak ada apa-apa kok, Ro. Aku lagi nunggu Putri pulang sekolah kok. Kamu nggak keberatan kan aku nunggu Putri di rumahmu?” jawab Anis.“Tenang aja, Nis. Nggak masalah kok.”“Oh ya, Ro ngomong-ngomong kamu sedang hamil ya?”“Iya nih Nis. Alhamdulillah banget diberikan rezeki oleh Allah berupa janin yang akan menjadi anak.”“Udah berapa bulan kamu hamil, Ro?”“Udah tiga bulan ini, Nis.”“Wah.”“Udah jam 12 siang ya, Ro. Cepat banget.”“Iya Nis.”“Ya udah ya Ro aku mau jemput Putri.”“Iya, Nis. Hati-hati.”Anis pun menjemput Putri di sekolah. L

  • Kisah Gadis Pemburu Uang dan Lelaki Sholih   Bab 50

    Demi mengurangi rasa bosan yang menggelayut di hati. Anis mengambil ponsel pintarnya yang berada di kamar. Ternyata ada pesan dari Widya. Sudah lama sekali Widya tidak mengirim pesan.[Hai Anis. Kamu apa kabar?][Kabarku baik, Wid. Kamu sendiri gimana kabarnya?][Kabarku juga baik, Nis. Ohya, sekarang kamu kerja di mana, Nis?][Aku jadi reseller sih, Wid di rumah. Kamu kalau ingin beli koleksi pakaianku boleh aja.][Wah, berarti kamu punya penghasilan sendiri dong.][Ngomong-ngomong sekarang kamu kerja di mana, Wid?][Aku di rumah aja kok, Nis. Bantu-bantu bisnis suami.][Suami? Kamu udah nikah ya, Wid?][Iya, Nis. Udah hampir dua tahun kok.][Selama itu kamu nggak ngabarin aku ya, Wid.][He he. Maaf ya, Nis. Tapi sekarang kamu udah punya anak kan, Nis?][Anakku udah besar lho, Wid.][Wah iyakah?][Iya, Wid. Udah sekolah SD.][Wah nggak kerasa ya waktu begitu cepat berlalu.][Begitulah. Ngomong-ngomong kamu nikah sama orang mana, Wid?][Nikah sama pacarku saat masih kerja di Jakarta k

  • Kisah Gadis Pemburu Uang dan Lelaki Sholih   Bab 49

    Anis yang merayakan ulang tahun anaknya mengundang Aro di acara tersebut. Sama seperti teman-temannya Putri, Aro pun memberikan kado ulang tahun kepada Putri. Anis tersenyum sangat manis. Tomo yang berdiri di samping Anis, melirik Aro.Aro menyadari tingkah Tomo segera berdehem. Tomo menjadi salah tingkah. Perayaan ulang tahun diiringi tepuk tangan dari teman-temannya Putri. Putri segera merapalkan doa lalu meniup lilin.Suara riuh dari anak-anak yang bertepuk tangan, membuat Aro melihat Tomo. Tomo nyengir kuda sambil mengusap bagian belakang kepala. Entah mengapa Aro dan Tomo saling berpandangan. Anis yang menyadari sikap aneh Aro dan Tomo, hanya bisa diam.“Makasih ya teman-teman sudah datang di acara ulang tahunnya Putri,” ucap Anis.“Sama-sama, Tante,” sahut Acil.Acara ulang tahun Putri pun selesai. Anak-anak itu bergegas pulang.“Aku pulang dulu ya, Nis,” kata Aro sambil nyengir.“Kamu jangan pulang dulu, Ro.”“Memangnya kenapa, Nis?”“Kamu makan dulu gih. Aku udah masakin nasi

  • Kisah Gadis Pemburu Uang dan Lelaki Sholih   Bab 48

    Anis masih mengingat bagaimana bapaknya pergi untuk selamanya. Waktu itu Anis memutar gagang pintu kamar. Setelah Tomo memeriksa kondisi bapaknya dengan wajah pucat. Ternyata denyut nadi bapaknya Anis sudah tidak ada.Hari ini Anis bersama sang kakak akan mengadakan pengajian 100 hari untuk mengenang bapaknya. Putri yang sudah bisa bicara selalu bertanya tentang acara tersebut.“Ibu, pengajian ini sebenarnya untuk apa?” tanya Putri dengan wajah polos.“Pengajian ini sudah menjadi tradisi di desa sini, Put. Setiap kali ada yang meninggal, kami harus memperingatinya.” Anis berusaha menjawab Putri sebisa mungkin.“Aku jadi kangen digendong sama Si Mbah, Bu.”“Kamu kangen ya?”“Iya, Bu.”“Anak ayah kenapa cemberut?” tanya Tomo yang kebetulan melalui Anis yang sedang membungkus makanan.“Putri kangen sama Si Mbah, Yah,” jawab Putri.“Kalau Putri kangen sama Si Mbah, Putri bisa mendoakan Si Mbah,” ujar Anis sambil menyeka dahi yang berkeringat.“Benar tuh. Putri harus doakan Si Mbah,” sahut

  • Kisah Gadis Pemburu Uang dan Lelaki Sholih   Bab 47

    Bagas terbangun dari tidurnya. Lelaki itu hanya tersenyum pahit memandang wajah Aro. Lalu mereka berdua salat berjamaah di ruang salat. Pagi ini Aro membereskan rumah yang sebenarnya sudah rapi.Lalu Aro menyiapkan sarapan. Pagi ini pun Bagas harus pergi ke dokter. Semalam perut lelaki itu kesakitan. Aro mengambil gawainya yang berada di kamar. Ia mengirim pesan WA kepada Anis.[Anis, aku boleh curhat?]Tak berselang lama balasan dari Anis.[Iya curhat aja, Ro. Apa perlu aku ke rumahmu biar kamu bisa cerita leluasa?][Nggak perlu, Nis.][Memangnya ada apa sama kamu, Ro?][Aku bingung, Nis. Penjualan pakaianku menurun. Kamu ada saran nggak?][Wah iya. Kamu jualan pakaian. Aku nanti ke rumahmu sekalian mau beli baju.][Kebetulan, Ro aku ini kan pernah kerja di Jakarta sebagai penjaga toko pakaian. Jadi aku punya saran untuk tokomu.][Apa tuh, Nis?][Kamu coba nyebar selebaran. Terus kamu buat diskon yang sesuai dengan jenis bahan pakaian yang kamu jual, Ro.][Boleh juga tuh, Nis. Makasi

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status