LOGINBenar.
Sebelum berangkat ke acara keluarga Brian, dia memang sudah membawa sebagian besar barang pribadinya keluar dari rumah. Surat cerai yang dia bawa pun masih tersimpan di dalam tas.
Sekarang semua rencana itu berantakan.
“Aku belum sempat mengembalikannya,” jawab Giska akhirnya.
Brian mengernyit bingung. “Mengembalikan?”
“Ke rumah orang tuaku.” kata Giska menggigit bibirnya.
“Kenapa?”
Giska menoleh. “Karena aku pikir kita akan lebih sering tinggal di sana.”
Jawaban itu membuat Brian diam beberapa saat. Dia seperti mencoba mencari sesuatu dari wajah istrinya, tetapi tidak menemukan apa-apa.
Kemudian pandangannya turun ke jemari Giska. “Cincin kamu kemana?”
Giska refleks menyembunyikan tangan kirinya di belakang tubuh. Terlambat. Brian sudah melihat jari manisnya yang kosong.
“Kamu lepas?”
Giska menelan ludah. “A–aku– Cincinnya sedang disimpan.”
Pertanyaan itu sederhana. Namun, justru itulah yang membuat Giska kesulitan menjawab.
Karena cincin itu sudah dia lepaskan beberapa hari lalu.
Karena sebelum datang ke acara keluarga Brian, dia sudah memutuskan bahwa dirinya tidak ingin membawa simbol pernikahan itu ketika menyerahkan surat cerai.
Dan karena sekarang Brian menatapnya dengan wajah yang sama seperti lima tahun lalu, seolah-olah tidak pernah ada alasan bagi mereka untuk melepaskan cincin tersebut.
“Aku lagi nggak mau memakainya,” jawab Giska akhirnya.
Brian masih menatap jemarinya. “Sejak kapan?”
Giska mengalihkan pandangan. “Brian, kamu baru pulang dari rumah sakit. Jangan banyak berpikir.”
“Tapi aku penasaran,” sahut Brian kemudian menggeser tubuhnya sedikit ke tengah kasur. Tatapannya masih tertuju pada Giska.
“Sebagai gantinya...” Brian berhenti sebentar. “Temani aku sampai tidur, boleh?”
Brian menepuk sisi kasur yang kosong. “Aku takut kamu pergi.”
Giska akhirnya duduk di sisi kasur. Sebenarnya dia tidak ingin tinggal terlalu lama. Ia ingin mengabari keluarganya bahwa mereka akan bercerai, dan angkat kaki dari rumah pria ini. Tetapi melihat Brian yang masih menatapnya dengan wajah cemas membuat langkahnya terhenti.
“Sebentar saja,” katanya akhirnya.
Brian mengangguk, lalu menarik selimut sampai ke dada. Giska berpikir setelah itu pria tersebut akan segera tidur, tetapi beberapa menit kemudian Brian justru kembali membuka mata. “Kenapa kamu tidur di situ?”
Giska menoleh. “Memangnya kenapa?”
Brian menggeser kepalanya sedikit di atas bantal. Tatapannya terlihat bingung, seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang baginya tidak masuk akal.
“Aku punya salah sebelum kecelakaan ini?”
Deg.
“Kenapa kamu kelihatan takut setiap kali aku mendekat?”
Giska langsung terdiam. Pertanyaan itu membuat suasana kamar yang semula tenang berubah perlahan. Dia tidak mungkin menjelaskan alasan sebenarnya. Tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya mundur karena laki-laki di hadapannya sekarang terasa seperti Brian yang dulu, sementara dia sudah terlalu lama berusaha melepaskan sosok suaminya yang sekarang.
“Memangnya aku takut?”
Brian mengangguk kecil. “Aku.. apa menyakitimu? Kenapa kamu menjauh?”
Giska menggigit bibir bagian dalam. “Karena kita memang sudah lama nggak tidur bersama.”
“Kenapa?”
Giska menarik napas panjang. “Ya... karena kita sudah terbiasa seperti ini.”
Brian semakin mengernyit. “Apa aku sesibuk itu sampai membuat kamu terbiasa?"
Benar.
Dada Giska mendadak terasa sesak. Dia menunduk dan pura-pura membetulkan ujung selimut agar tidak perlu menjawab tatapan Brian. “Dulu.”
“Dulu?”
Brian masih menatapnya. “Kalau begitu, kenapa sekarang tidak?”
Giska memejamkan mata sebentar. Dalam hati, dia merutuki keputusannya sendiri karena mau menemani Brian. Pria itu baru mengalami kecelakaan, tetapi pertanyaannya justru semakin sulit dijawab.
“Brian, kamu baru kecelakaan. Kepalamu juga masih diperban. Jangan memikirkan yang aneh-aneh.”
Brian menatapnya dalam-dalam, “Aku cuma bertanya.”
“Nanti kamu tahu sendiri.”
Giska menatapnya kesal. Namun, wajah itu justru membuat hatinya terasa semakin berat. Brian benar-benar berbeda dari laki-laki yang selama dua tahun terakhir dia kenal.
Atau mungkin bukan berbeda. Mungkin pria yang sekarang adalah Brian yang dulu, laki-laki yang masih mau bertanya ketika merasa ada sesuatu yang tidak dia mengerti.
Brian yang dulu mengusahakannya.
“Kita sudah punya batas masing-masing,” ujar Giska akhirnya.
“Batas?” kata Brian memekik dahi. “Suami istri punya batas?”
“Iya.” Giska menarik selimut hingga menutupi kedua tangannya. “Jadi kamu nggak perlu memikirkan itu sekarang.”
Brian terdiam cukup lama. “Berarti aku nggak boleh mendekat?”
Giska menatapnya. Ada sesuatu dalam tatapan Brian yang membuat hatinya mencelos. Pria itu tidak sedang menggoda. Dia benar-benar terlihat takut kalau dirinya akan kembali menjauh.
“Nanti. Kalau kamu sembuh.”
“Aku cuma mau kehadiran kamu.”Brian mengangkat wajah, menanti penjelasan kalimat singkat itu.Giska menerawang lurus, sebisa mungkin menghindari tatapan suaminya. “Ketika aku mengajakmu makan malam, aku ingin kita benar-benar makan malam. Ketika aku bilang aku sedang punya masalah, aku ingin kamu mendengarkan sebelum memutuskan bahwa masalah itu bisa menunggu. Ketika keluargamu bertanya tentang anak, aku ingin kamu berdiri di sampingku dan menjelaskan bahwa itu urusan kita berdua.” Suaranya mulai bergetar, tetapi gadis itu tetap melanjutkan ucapan yang telah lama terpendam.“Aku tidak mau terus menjawab pertanyaan mereka sendirian. Aku tidak mau terus menebak-nebak apa yang sebenarnya kamu pikirkan. Dan aku tidak mau menghabiskan sisa hidupku dengan menunggu kamu punya waktu untuk menjadi suamiku.”Laki-laki yang kini duduk di sofa itu menunduk. Untuk pertama kalinya sejak menemukan dokumen itu, ia kehabisan kata-kata. “Aku tidak tahu kalau kamu merasa seperti itu,” ucapnya dengan pe
“Kesepakatan perceraian?”Brian membaca ulang tulisan di tangannya seolah-olah dengan membacanya sekali lagi, kalimat itu akan berubah menjadi sesuatu yang lebih masuk akal. Ia membalik halaman pertama, lalu kembali ke halaman sebelumnya. Brian Kaleandra. Nama lengkapnya tercetak jelas di sana. Begitu pula nama Giska Anastasia, tanggal penyusunan dokumen, dan tanda tangan yang tampak sangat dikenalnya.Itu tanda tangannya sendiri. Brian mengangkat wajah, mengulang pertanyaan yang sama. “Giska, ini maksudnya apa?”Giska berdiri beberapa langkah dari Brian dengan tas yang masih tersampir di bahu. Wajahnya mendadak pucat seperti seseorang yang baru menyadari bahwa pintu yang selama ini berusaha ditahannya akhirnya terbuka juga. “Letakkan kembali,” ucapnya dengan tatapan datar.Laki-laki itu menyela dengan cepat, tetapi tetap dengan nada rendah. “Jawab pertanyaanku dulu, Giska.”Giska hanya mampu menghela napas berat. “Brian, kamu baru pulang dari rumah sakit.”“Aku tahu.” Laki-laki yang
Giska terbangun lebih awal daripada biasanya. Bukan karena dia ingin menyiapkan sarapan untuk pria yang tak pernah menyentuh makanannya lagi, melainkan karena sejak semalam dia belum menemukan cara untuk menjalani hari-hari berikutnya tanpa membuat keadaan semakin rumit.Di meja makan, dua piring sudah tertata. Segelas air putih dan obat-obatan Brian diletakkan di sampingnya, sesuai instruksi dokter. Giska baru saja hendak membawa cangkir kopinya ke ruang tengah ketika suara langkah terdengar dari arah kamar.“Pagi, istriku.”Giska menoleh.Istriku?Tangan Giska yang tengah menuangkan air berhenti sejenak. Sapaan itu masih terdengar asing di telinganya, terlebih setelah sekian lama dia terbiasa mendengar Brian hanya mengucapkan hal-hal seperlunya sebelum berangkat kerja.Brian menarik kursi, lalu duduk di meja makan. Dia memperhatikan hidangan di hadapannya sebelum menoleh kepada Giska yang masih berdiri di dekat meja dapur.Brian melirik kursi kosong di seberangnya. “Kamu nggak iku
Benar. Sebelum berangkat ke acara keluarga Brian, dia memang sudah membawa sebagian besar barang pribadinya keluar dari rumah. Surat cerai yang dia bawa pun masih tersimpan di dalam tas.Sekarang semua rencana itu berantakan.“Aku belum sempat mengembalikannya,” jawab Giska akhirnya.Brian mengernyit bingung. “Mengembalikan?”“Ke rumah orang tuaku.” kata Giska menggigit bibirnya.“Kenapa?”Giska menoleh. “Karena aku pikir kita akan lebih sering tinggal di sana.”Jawaban itu membuat Brian diam beberapa saat. Dia seperti mencoba mencari sesuatu dari wajah istrinya, tetapi tidak menemukan apa-apa.Kemudian pandangannya turun ke jemari Giska. “Cincin kamu kemana?”Giska refleks menyembunyikan tangan kirinya di belakang tubuh. Terlambat. Brian sudah melihat jari manisnya yang kosong.“Kamu lepas?”Giska menelan ludah. “A–aku– Cincinnya sedang disimpan.”Pertanyaan itu sederhana. Namun, justru itulah yang membuat Giska kesulitan menjawab.Karena cincin itu sudah dia lepaskan beberapa hari
Brian diperbolehkan pulang setelah dokter menilai kondisinya cukup stabil untuk melanjutkan pemulihan di rumah dengan pengawasan dan kontrol lanjutan. Dokter mengingatkan agar Brian tidak langsung kembali bekerja, menghindari aktivitas berisiko, serta segera kembali ke rumah sakit jika mengalami gejala yang memburuk.Giska datang menjemputnya bersama taxi online. Entah kemana mobil yang mereka kendarai kini berada.Ia tidak berniat menginap atau kembali tinggal bersama Brian. Mereka masih memiliki urusan hukum yang belum selesai, dan ia tidak ingin perhatian sesaat membuat batasan di antara mereka menjadi kabur.Namun, ketika Brian keluar dari kamar rawat dengan langkah perlahan, membawa tas kecil di tangan, Giska spontan menghampirinya. "Hati-hati."Brian tersenyum. "Terima kasih, Sayang."Giska menarik tangannya kembali. Panggilan itu masih terdengar terlalu akrab. Terlebih setelah sekian lama ia tidak mendengarnya secara langsung.Perjalanan menuju rumah berlangsung tenang. Brian
“Pasien mengalami amnesia parsial retrograde.”Kalimat dokter terngiang di benak Giska saat dirinya berada di UGD. Amnesia.. apalah itu, kondisi ketika seseorang kehilangan akses terhadap sebagian ingatan yang terbentuk sebelum kecelakaan.Brian masih mengingat identitas dirinya, pekerjaannya, dan Giska sebagai istrinya. Ia bahkan masih mampu mengingat sejumlah kenangan dari awal pernikahan mereka. Namun, ingatannya tentang pengalaman pribadi dalam dua tahun terakhir tampak samar atau hilang, termasuk berbagai peristiwa yang perlahan meretakkan hubungan mereka.Seolah-olah, bagi Brian, pernikahan mereka masih berada pada masa ketika keduanya saling mencintai tanpa dibebani masalah yang akhirnya membawa mereka ke ambang perceraian. Meski begitu, Giska tahu bahwa kondisi tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan belum bisa dipastikan apakah ingatan Brian akan kembali sepenuhnya.“Tidak ada obat yang bisa membuat ingatannya kembali.”Sementara Giska sibuk mencari solusi.







