Share

Kesepakatan?

Author: midnstarlight
last update publish date: 2026-10-21 16:12:19

Giska terbangun lebih awal daripada biasanya. 

Bukan karena dia ingin menyiapkan sarapan untuk pria yang tak pernah menyentuh makanannya lagi, melainkan karena sejak semalam dia belum menemukan cara untuk menjalani hari-hari berikutnya tanpa membuat keadaan semakin rumit.

Di meja makan, dua piring sudah tertata. Segelas air putih dan obat-obatan Brian diletakkan di sampingnya, sesuai instruksi dokter. 

Giska baru saja hendak membawa cangkir kopinya ke ruang tengah ketika suara langkah terdengar dari arah kamar.

“Pagi, istriku.”

Giska menoleh.

Istriku?

Tangan Giska yang tengah menuangkan air berhenti sejenak. Sapaan itu masih terdengar asing di telinganya, terlebih setelah sekian lama dia terbiasa mendengar Brian hanya mengucapkan hal-hal seperlunya sebelum berangkat kerja.

Brian menarik kursi, lalu duduk di meja makan. Dia memperhatikan hidangan di hadapannya sebelum menoleh kepada Giska yang masih berdiri di dekat meja dapur.

Brian melirik kursi kosong di seberangnya. “Kamu nggak ikut sarapan?”

“Aku sudah makan.”

Padahal, sejak bangun tadi Giska bahkan belum sempat menyentuh makanannya. 

Dia hanya ingin menyelesaikan semua keperluan Brian secepat mungkin, kemudian kembali rumah orang tuaunya.

Semakin sedikit waktu yang mereka habiskan bersama, semakin kecil kemungkinan Brian mengajukan pertanyaan yang belum sanggup dia jawab.

“Biasanya setiap pagi kamu harus makan.”

Giska menoleh. Brian mengatakannya dengan nada ringan, seolah mereka sedang membicarakan kebiasaan kecil yang masih berlaku di antara mereka. 

Barangkali memang begitu yang dia ingat. Barangkali dalam ingatannya, mereka masih pasangan yang sesekali sarapan bersama sebelum Brian berangkat ke kantor.

Sebelum Brian sempat bertanya lebih jauh, ponsel di atas meja bergetar. Sebuah nama muncul di layar, diikuti beberapa panggilan yang belum terjawab. Brian mengambilnya, lalu mendengarkan suara asistennya yang terdengar tergesa-gesa dari seberang.

Ada masalah dengan jadwal konferensi pers yang bahkan Brian tidak ingat.

Brian langsung menegakkan punggung. “Halo dengan siapa?”

“Brian.” Giska menatapnya.

Pria itu berhenti bicara.

“Kamu baru keluar dari rumah sakit. Dokter menyuruhmu beristirahat.”

Kalimat itu membuat Brian menatapnya lebih lama.

Akhirnya, Brian meletakkan ponselnya. Masalahnya, pria itu tidak paham apa yang dibicarakan di ponselnya.  Lalu dia mendongak, “Apa.. aku sekarang direktur?”

Pertanyaan itu. Pertanyaan yang ia benci.

“Ya.”

Brian kembali menyantap sarapannya. Beberapa saat kemudian, dia mengangkat wajah, seolah baru teringat sesuatu.

“Ngomong-ngomong, kamu mau bekerja?” 

Giska membeku. 

“Sudah aku ingatkan, kalau kamu harus pindah kantorku.” Brian mengernyit, berusaha merangkai ingatan yang masih tersisa.

Giska menurunkan gelasnya perlahan. Ada sesuatu yang terasa ganjil saat mendengar Brian membicarakan pekerjaan.

“Aku sudah berhenti bekerja.”

Brian mengangkat kepala. “Berhenti?”

“Iya. Sejak kita menikah.”

Alis Brian bertaut. Dia tahu Giska pernah meninggalkan pekerjaannya, tetapi sepertinya baru sekarang dia benar-benar memikirkan apa arti keputusan itu bagi istrinya. 

“Aku mau ke rumah Mama.” tambah Giska menambahkan. “Ada urusan sebentar.”

“Kenapa.. berhenti?” pertanyaan itu membuat Giska menahan nafas. 

Giska menatapnya cukup lama sebelum menjawab. “Aku pernah membicarakannya.”

“Kapan?”

“Beberapa kali.”

Brian terdiam. Dia mencoba mengingat percakapan yang dimaksud, tetapi tidak menemukan jawaban yang jelas. Mungkin Giska pernah mengatakannya saat mereka makan malam. Mungkin ketika dia pulang larut dan istrinya masih terjaga di ruang tengah. 

Namun, semua ingatan itu terasa samar, seperti potongan percakapan yang tidak pernah dianggapnya cukup penting untuk disimpan.

“Aku benar-benar nggak ingat,” katanya akhirnya.

Giska mengambil teko dan menuangkan air ke gelasnya sendiri. “Aku sudah berhenti, Brian. Itu sudah lama terjadi. Kamu nggak perlu memikirkannya sekarang.”

“Tapi kamu menyukai pekerjaanmu, kan?”

Pertanyaan itu membuat Giska terdiam. Tentu saja dia menyukainya. Kalau pria itu tidak memintanya berhenti bekerja agar setiap hari mencintainya.

Nyatanya? ia yang ditinggal.

Dia ingin bertanya lebih jauh, tetapi Giska sudah mengalihkan perhatian ke ponselnya yang bergetar di atas meja.

Nama ibunya muncul di layar.

Giska segera mengangkat panggilan itu. Suara ibunya terdengar dari seberang, menanyakan kabar setelah kecelakaan dan memastikan Giska tidak mengalami cedera serius.

Setelah menutup telepon, Giska membuka aplikasi perbankan dan memeriksa sisa uang di rekeningnya. Kebiasaan itu sudah dilakukannya selama bertahun-tahun, bahkan sebelum menikah. Tapi sejak menikah, pria itu yang suka rela memberikannya. Bahkan uang yang dikirimkan suaminya masih ia simpan dan setelah bercerai nanti, akan ia kembalikan.

Karena menikahinya, bukan uang yang ia inginkan.

“Ayah.. sudah sembuh?” tanya Brian berhati-hati. “Apa mereka membutuhkan sesuatu?”

“Tidak ada yang perlu kamu urus.”

Brian mengernyit mendengar jawabannya. “Aku hanya bertanya.”

Giska memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia tidak bermaksud bersikap kasar, tetapi dia juga tidak ingin percakapan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Brian mungkin masih menganggap dirinya sebagai suami yang bisa membantu menyelesaikan persoalan keluarga Giska. 

Namun, selama bertahun-tahun, Giska telah terbiasa mengurus semuanya tanpa menunggu kehadiran Brian.

Saat hendak beranjak, tangannya tidak sengaja menyenggol beberapa lembar dokumen yang terletak di ujung meja. Kertas-kertas itu meluncur ke lantai. Giska segera membungkuk untuk mengambilnya, tetapi Brian lebih dahulu meraih salah satu lembar yang jatuh di dekat kursinya.

Giska menegakkan tubuh.

Brian memegang dokumen itu sambil mengamati bagian atasnya. Dahinya berkerut ketika membaca judul yang tercetak di sana. 

Brian membalik halaman berikutnya, lalu menemukan nama mereka berdua pada bagian yang memuat informasi tentang para pihak.

“Kesepakatan perceraian?” gumamnya. “Ini apa?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kita Sudah Berpisah, Sayang   Kembali Bekerja

    Pagi itu, Brian kembali mengenakan setelan kerja setelah hampir dua minggu menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah.Kemeja putih, celana bahan hitam, jam tangan di pergelangan kiri, serta aroma parfum yang sudah bertahun-tahun menjadi ciri khasnya. Semuanya terasa akrab. Bahkan ketika ia berdiri di depan cermin untuk merapikan kerah, gerakannya tetap sama seperti sebelum kecelakaan itu terjadi.Hanya saja, kali ini, ada satu hal yang berbeda. Biasanya, ia akan langsung mengambil ponsel, membaca puluhan surel, lalu bergegas meninggalkan rumah tanpa sempat memikirkan apa pun selain pekerjaan. Namun, pagi ini, langkahnya terhenti ketika melewati ruang makan.Brian melihat Giska sedang duduk di sana sambil membaca sebuah buku, ditemani secangkir air hangat. Ia melirik jam tangannya. Masih ada waktu lima belas menit sebelum ia harus berangkat.“Kamu sudah sarapan?” tanyanya sambil duduk di hadapan istrinya.“Sudah,” jawab perempuan itu tanpa mengalihkan pandangan dari halaman bukunya

  • Kita Sudah Berpisah, Sayang   Ide Ala Ode

    “Aku tahu. Karena itu aku ingin mengenalmu lagi.”Giska menoleh kepadanya, menatapnya dengan keheranan. Alisnya pun nyaris bersatu dengan kerutan di dahinya.“Jadi, aku akan mulai dari sekarang. Kalau kamu bersedia bercerita, aku akan mendengarkan. Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan memaksamu.”Perempuan itu menatap wajah Brian cukup lama. Seolah sedang mencoba mencari tanda-tanda bahwa laki-laki itu hanya sedang bersikap manis karena kehilangan ingatan. Namun, ia tak menemukan sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk menuduhnya berbohong. Barangkali, Brian memang sedang berusaha. Mungkin juga, ia belum tahu apakah usahanya akan bertahan.“Kalau begitu, lain kali jangan cuma bertanya tentang hal-hal yang kusukai,” ujar Giska.Brian mengerutkan dahi. “Lalu?”“Tanyakan juga hal-hal yang membuatku lelah. Hal-hal yang membuatku sedih. Jangan hanya mau mengenal sisi diriku yang menyenangkan.”Brian mengangguk perlahan. “Baik. Aku akan menggali semua informasi itu. Aku harap, kamu juga ma

  • Kita Sudah Berpisah, Sayang   Mulai dari Nol

    Pukul dua siang, Giska baru saja keluar dari bazar buku di salah satu pusat perbelanjaan. Sebuah kantong kertas berisi tiga novel tergenggam di tangan kanannya. Ia sebenarnya berniat membeli satu buku saja, tetapi diskon yang ditawarkan membuatnya pulang dengan tiga judul sekaligus.Setidaknya, kegiatan itu berhasil membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Sejak kembali ke rumah mereka, ia memang berusaha menjalani hari seperti biasa. Namun, keberadaan Brian membuatnya terus dihadapkan pada kenangan-kenangan yang selama ini berusaha ia singkirkan.Ada kalanya ia ingin kembali menjadi Giska yang dulu. Perempuan yang bisa menyambut Brian pulang dengan senyum lebar, menceritakan kejadian-kejadian kecil sepanjang hari, lalu tertawa bersama sebelum tidur. Sayangnya, ia juga ingat bagaimana perempuan itu perlahan berubah menjadi seseorang yang lebih sering menatap layar ponsel, menunggu pesan dari orang yang entah masih memedulikannya atau tidak.Giska mengembuskan napas pelan, kemudian ber

  • Kita Sudah Berpisah, Sayang   Tidak Ada Kata Terlambat

    Secercah sinar matahari menelisik melalui celah ventilasi kamar Giska. Perempuan itu mengerjapkan mata, mencoba beradaptasi dengan hari yang sudah berganti. Setelah nyawanya terkumpul, ia mulai bangkit dari ranjang berukuran sedang itu.Aroma manis margarin menyeruak begitu Giska membuka pintu kamarnya. Seperti aroma roti yang baru dipanggang. Meski masih mengantuk, ia berjalan ke sumber yang membuat indra penciumannya aktif.Dari ambang pintu yang menghubungkan dapur dan ruang tengah, ia melihat Brian menata dua piring sarapan. Sederhana, hanya dua lembar roti panggang yang sebelumnya dioles margarin serta dua pilihan selai. Kacang dan cokelat.Ia mengamati laki-laki itu dari jauh sambil tersenyum. Batinnya berandai-andai. ‘Seandainya kamu melakukan ini lebih awal, sebelum aku mengajukan surat cerai,’ ujarnya yang tak mampu tersampaikan.“Eh, Giska, sudah bangun. Sini, sarapan dulu,” ucap Brian ketika tatapan mereka bertemu.Giska mendadak kikuk. Ia tersenyum dan mengangguk singkat,

  • Kita Sudah Berpisah, Sayang   Sebuah Jarak

    Di dalam kamar, Giska membuka lemari pakaian. Sebagian besar pakaiannya memang masih berada di sana, tetapi beberapa bagian sudah kosong setelah ia membawa barang-barang yang paling sering digunakan ke rumah orang tuanya. Ia mengeluarkan beberapa potong pakaian dari tas dan mulai menatanya kembali.Sementara, suaminya berdiri di ambang pintu. Ia tidak langsung masuk, teringat bahwa Giska sudah menetapkan batas di antara mereka. “Boleh aku masuk?” ucapnya sedikit takut. Baginya, Giska yang sekarang lebih menyeramkan.Giska menoleh sebentar. “Ada apa?”“Aku mau mengambil obat yang tadi diletakkan di nakas.”“Ambil saja.”Brian berjalan menuju nakas di sisi tempat tidur, mengambil kantong obat, lalu memeriksa labelnya. Setelah memastikan obat yang harus diminum malam itu, ia kembali menatap Giska yang melipat pakaiannya. Ia sengaja tidak menatap Brian terlalu lama, sebab setiap kali melihat wajah laki-laki itu, ia teringat pada sosok suami yang pernah begitu ia cintai. Sosok yang kini se

  • Kita Sudah Berpisah, Sayang   Perubahan Batas

    “Hari ini, pulang sama aku, ya?” Giska terdiam. Permintaan Brian terdengar sederhana, tetapi baginya, pulang ke rumah mereka bukan sekadar mengikuti suaminya kembali. Ada banyak hal yang harus ia hadapi jika kembali ke tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan, baik yang manis maupun yang menyakitkan.Ia melirik Arini dan Karyo yang sekarang sedang bersantai di ruang tamu sambil bermain ponsel masing-masing. Keduanya tidak ikut campur, tetapi dari obrolan semalam bersama Arini, Giska tahu bahwa kedua orang tuanya berharap ia dan Brian bisa menyelesaikan masalah rumah tangga mereka.“Aku pulang bukan berarti kita sudah baikan,” ujar Giska akhirnya.Brian mengangguk cepat. “Aku tahu.”“Dan aku juga nggak mau kamu menjadikan kondisimu sekarang sebagai alasan untuk terus bergantung sama aku.”“Aku nggak akan begitu.”Giska mengangkat sebelah alis. “Kamu bahkan masih harus dibantu untuk mengambil air minum.”Laki-laki di hadapannya terdiam. Ia tak bisa membantah karena kejadian beberap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status