Share

74. Saya Serius, Pak!

Penulis: Estaruby
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-19 21:47:26

"Mama nggak habis pikir! Kok bisa sih Nindy sejahat itu sama kamu?!"

Malam itu, selepas makan malam sederhana yang hangat, Mama Arina membahas kembali video yang sempat ramai dikirimkan di grup arisan. Video yang menampakkan bahwa Arina dituduh menjadi perebut suami orang.

"Dia ada masalah apa yah? Padahal dari kecil juga selalu nempelnya sama kamu, kan? Kemana-mana maunya ngikut kamu. Mama tuh masih positif thinking, nggak mau mikir yang jelek-jelek tentang dia selama ini. Tapi lama kelamaan mama jadi kepikiran, apa iya yang tante-tante kamu bilang itu benar adanya? Kalau keluarganya Nindy itu memang selalu iri sama yang kita punya?"

Arina hanya diam mendengarkan. Biasanya sang mama adalah orang paling positif thinking yang bahkan tidak mudah terpengaruh oleh gosip-gosip sebaran para tantenya. Tapi kali ini? Jarang sekali Arina melihat mamanya jadi mulai emosi begini.

Papa Arina menengahi, "Hus, sudahlah, Ma! Nggak perlu dibahas lagi. Toh juga Arina terbukti nggak salah. Selain itu,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   79. Girls Time

    Beraroma wangi hair mask dan suara hair dryer yang menderu-deru menjadi latar belakang sore itu. Silvia bersandar santai di kursi salon mewah di dalam mall, wajahnya penuh kemenangan karena berhasil "menculik" Arina yang sudah hampir dua bulan sulit diajak nongkrong.Bagaimana tidak? Setiap Silvia mengajaknya pergi, Arina selalu beralasan bahwa dia tengah berada dalam pertemuan, mengajar, atau bahkan ikut keliling pertemuan bisnis dengan kekasih barunya itu. Bahkan kedekatan itu dia ketahui berkat video viral kemarin. Dia hampir saja memutus persahabatan mereka karena Arina tidak menceritakan apapun padanya."Memang susah mengambil waktu si Miss Sibuk," sindir Silvia sambil melirik Arina yang tengah duduk di kursi sebelahnya, rambutnya sudah penuh krim perawatan. Arina sejak tadi sibuk dengan ponselnya. Membalas pesan entah pekerjaan atau dari kekasihnya yang mungkin tidak bisa bertemu hari ini."Harus banget ya aku nyulik dulu baru bisa ketemu? Atau Askara harus ikut sekalian baru ka

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   78. Rona Merah di Pipi Arina

    Pagi itu, mobil hitam milik Askara berhenti di depan rumah Arina. Dari balik jendela, Arina terlihat menata rambutnya tergesa, pipinya sudah bersemu merah bahkan sebelum keluar rumah. Debaran jantungnya cukup kencang sejak pagi. Gadis itu berusaha terlihat tenang, namun sepertinya rona itu tak bisa tertutupi dengan sempurna.Hari ini hari pertama mereka resmi berpacaran, dan baru kali ini Askara datang dengan status berbeda—bukan sekadar rekan kerja atau kolega , tapi kekasih yang siap menjemputnya.Begitu Arina melangkah keluar, senyum malu-malunya tak bisa disembunyikan. Askara menunggu di depan mobil, membuka pintu dengan tenang, senyum tipisnya seperti biasa—tenang tapi cukup membuat jantung Arina berdetak dua kali lipat lebih cepat.“Pagi, Arina,” sapa Askara dengan suara rendahnya yang khas.“Pagi,” jawab Arina hampir berbisik, padahal dalam hatinya serasa ada kembang api meledak-ledak.Kedua orang dewasa itu hanya diam bertatapan selama beberapa detik. Kalau ada yang melihat, m

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   77. Hubungan Rumit Ayah dan Anak

    Malam itu di rumah megah keluarga Danendra, segala sesuatu tampak sempurna dari luar. Lampu-lampu taman berpendar lembut, tirai sutra menari pelan diterpa angin malam, dan siapa pun yang melihat dari kejauhan akan berkata bahwa di balik dinding marmer itu, ada keluarga yang bahagia.Namun di dalamnya, suara retak pelan sedang tumbuh.Askara kecil, dengan piyama bergambar pesawat, berdiri terpaku di balik koridor panjang yang dingin. Dari celah pintu ruang tamu, ia melihat dua sosok yang selama ini ia panggil mama dan ayah—selalu tersenyum di depan kamera, selalu terlihat harmonis di pesta keluarga—kini berdiri berhadapan dengan wajah tegang dan suara meninggi.“Kamu pikir aku buta dengan semua yang kamu lakukan?” suara mama bergetar, namun tajam.Pasangan itu masih mengenakan pakaian pesta mahal mereka. Baru saja sampai rumah setelah beberapa hari disibukkan oleh agenda-agenda penting sebagai pebisnis yang mengharuskan mereka untuk menunjukkan keharmonisan demi menjaga citra. Namun be

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   76. Ancaman Atau Rekonsiliasi?

    "Apa yang aku bilang tentang tidak saling menginvasi ranah pribadi masing-masing?"Pintu besar berlapis kayu mahoni itu berayun terbuka dengan hentakan yang cukup keras. Askara melangkah masuk, rahangnya mengeras, sorot matanya menyala oleh amarah yang sulit ditutupi.Dia berdiri di dalam kediaman megah yang memancarkan kemewahan di setiap sudutnya. Lantai marmer putih berkilau memantulkan cahaya lampu kristal yang tergantung anggun di langit-langit tinggi. Ukiran emas menghiasi pinggiran pilar-pilar besar, sementara karpet Persia tebal membentang sempurna di sepanjang lorong utama.Dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan mahal berbingkai perunggu, dan di sisi kiri ruangan utama, sebuah grand piano hitam mengilap berdiri sebagai pusat perhatian. Aroma wangi bunga segar dari vas kristal di meja konsol bercampur dengan hawa dingin dari pendingin ruangan, menambah kesan eksklusif yang dingin dan kaku.Namun, kemegahan itu seolah tak ada artinya di hadapan kemarahan Askara. Setiap langkahnya

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   75. Official

    Pintu pagar rumah Arina masih terbuka ketika ia melangkah pelan bersama Askara. Malam begitu teduh, menyisakan sisa hangat dari jamuan sederhana di ruang makan tadi. Sesekali suara jangkrik terdengar, menemani langkah mereka menuju mobil hitam yang terparkir di depan.Arina menoleh, menatap Askara dengan tatapan lembut yang sedikit ragu. “Terima kasih… untuk semuanya,” ucapnya lirih. “Tiga hari ini, kamu selalu ada, selalu melindungi, bahkan ikut repot mengurus hal-hal yang seharusnya bukan tanggung jawabmu.”Askara menoleh, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Kalau bukan tanggung jawabku, lalu tanggung jawab siapa?” godanya ringan, membuat pipi Arina sontak bersemu.Wanita itu mengalihkan pandangannya, mengeratkan genggaman pada ujung pakaiannya. Namun Askara tak membiarkannya larut dalam canggung terlalu lama. Ia mencondongkan tubuh sedikit, nada suaranya terdengar santai tapi dalam, “Jadi… kita ini apa, Rin?" Keheningan melanda sejenak. Semilir angin malam menggoda dua insan y

  • Konsultasi Cinta dengan Dosen Muda   74. Saya Serius, Pak!

    "Mama nggak habis pikir! Kok bisa sih Nindy sejahat itu sama kamu?!"Malam itu, selepas makan malam sederhana yang hangat, Mama Arina membahas kembali video yang sempat ramai dikirimkan di grup arisan. Video yang menampakkan bahwa Arina dituduh menjadi perebut suami orang."Dia ada masalah apa yah? Padahal dari kecil juga selalu nempelnya sama kamu, kan? Kemana-mana maunya ngikut kamu. Mama tuh masih positif thinking, nggak mau mikir yang jelek-jelek tentang dia selama ini. Tapi lama kelamaan mama jadi kepikiran, apa iya yang tante-tante kamu bilang itu benar adanya? Kalau keluarganya Nindy itu memang selalu iri sama yang kita punya?"Arina hanya diam mendengarkan. Biasanya sang mama adalah orang paling positif thinking yang bahkan tidak mudah terpengaruh oleh gosip-gosip sebaran para tantenya. Tapi kali ini? Jarang sekali Arina melihat mamanya jadi mulai emosi begini.Papa Arina menengahi, "Hus, sudahlah, Ma! Nggak perlu dibahas lagi. Toh juga Arina terbukti nggak salah. Selain itu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status