MasukMeskipun Maya memiliki keteguhan batin dan tekad yang kuat untuk bertahan di lingkungan Istana Bayangan yang asing, proses beradaptasi dengan kehidupan magis yang dipenuhi oleh ribuan Aturan Kuno ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Setiap sudut bangunan raksasa ini menyimpan tradisi kaku, dan ketidaktahuannya akan detail-detail kecil kerap melahirkan insiden yang tak terduga. Pada hari ketiga masa latihannya yang intensif, Nyonya Vespera menugaskan Maya untuk melakukan studi mandiri—mempelajari peta wilayah perbatasan, perjanjian sihir Kuno, serta silsilah keluarga kerajaan dari klan-klan pendiri. Tugas tersebut mengharuskan Maya menghabiskan seluru sorenya di Perpustakaan Agung, sebuah bangunan megah berlapis tujuh yang terpahat langsung di dalam tebing batu obsidian. Perpustakaan ini dikenal sebagai sanctum paling tenang dan dihormati di kerajaan, menyimpan jutaan gulungan perkamen tua dan kitab sihir langka yang dilindungi oleh mantra-mantra pelindung tingkat ting
Mentari pagi baru saja terbit tipis di balik bentangan awan tebal Negeri Bayangan, memancarkan pendaran cahaya keperakan yang dingin menembus jendela-jendela kristal setinggi lima meter di Sayap Mawar Hitam. Setelah peristiwa gempar di Balairung Utama yang menguji batas keberanian dan menegaskan status barunya di hadapan seluruh dewan bangsawan, Maya kini tidak lagi dipandang sebagai sekadar tamu fana yang asing. Namun, berstatus resmi sebagai calon pendamping sang Penguasa Bayangan membawa konsekuensi baru yang jauh lebih berat. Menjadi calon Ratu berarti harus menguasai ratusan protokol diplomatik, silsilah klan Kuno yang rumit, serta tata bahasa tubuh istana yang kaku dan penuh jebakan sosial.Pagi itu, Aula Latihan Khusus di sayap utara istana telah disulap menjadi arena etiket yang amat mencekam. Di tengah ruangan berlantai pualam licin yang dilapisi sihir penyeimbang, berdiri seorang wanita tua bertubuh jangkung dengan jubah abu-abu ketat—Nyonya Vespera, Kepala Instruktur Etiket
Gema bisikan dan desas-desus racun di Balairung Utama perlahan-lahan kembali teratur, meski atmosfer di sekitar pilar-pilar batu obsidian raksasa kini sepenuhnya diwarnai oleh rasa segan serta ketakutan yang amat baru. Keberangkatan Lord Brandon yang tertunduk malu dengan jemari lecet memerah menyisakan ruang hampa yang dipenuhi oleh tatapan takjub dari para tetua klan berdarah murni. Di tengah ruangan yang perlahan kembali bernapas itu, posisi Lucien yang masih merangkul pinggang Maya secara protektif terasa begitu kokoh dan tak tergoyahkan, seolah menjadi benteng pertahanan mutlak yang tak akan pernah bisa ditembus oleh siapa pun bagi sang gadis fana.Lucien menundukkan kepalanya sedikit ke arah kanan, mendekatkan rahang tegasnya ke arah telinga Maya. Kepulan napas hangatnya berhembus halus, menyentuh kulit leher Maya, sementara suara berat sang Raja mengalun sangat rendah—sebuah bisikan privat yang hanya ditujukan khusus untuk pendengaran sang Tunangan Kerajaan seorang."Kau sunggu
Harapan Lady Lysandra untuk melihat Maya hancur, terpojok, dan dipermalukan di hadapan seluruh dewan kerajaan runtuh sepenuhnya hanya dalam hitungan menit berikutnya. Keangkuhan para bangsawan muda yang mengelilingi Maya mendadak memuncak tatkala seorang pangeran muda bertubuh tinggi besar dari klan utama Es Utara—Lord Brandon, keponakan kandung Lysandra—melangkah maju memangkas jarak secara agresif dan demonstratif. Pria itu sengaja mengambil alih panggung provokasi, bermaksud membuktikan superioritas darah murni di depan seluruh hadirin yang menyaksikan dari kejauhan.Wajah Brandon yang tampan dipenuhi keangkuhan murni khas bangsawan yang terbiasa menundukkan klan-klan kecil. Di jemari tangan kanannya terikat cincin bersihir es purba yang memancarkan pendaran hawa beku menusuk tulang, secara sengaja disebarkan ke udara di sekitar mereka untuk mengintimidasi fisik fana sang gadis."Lady Maya," sapa Brandon dengan nada suara meliuk-liuk yang dibuat-buat, membungkuk sangat rendah secar
Deklarasi tegas Lucien di atas podium takhta memang sanggup memancarkan dominasi mutlak yang membuat seluruh ruangan bertekuk lutut. Tekanan aura sang penguasa yang berpadu dengan luapan sihir Primordial dari tubuh Maya berhasil membungkam keraguan terbuka para tetua dewan tua. Namun, dinamika di Istana Bayangan tidak pernah sesederhana itu. Begitu ritual pengumuman selesai dan jamuan makan resmi dimulai, Lucien terpaksa berpisah sejenak dari sisi Maya untuk berdiskusi secara mendesak dengan para jenderal perang dan petinggi klan di sudut balairung. Seiring melangkah jauhnya sang Raja, keheningan mencekam yang semula membungkus ruangan perlahan-lahan mencair, berganti menjadi riak bisikan racun yang kian membendung udara pesta.Maya berdiri sendirian di dekat meja panjang bertaplak beludru hitam yang dipenuhi oleh cawan-cawan anggur kristal serta bermacam-macam hidangan buah-buahan sihir yang asing. Kepulan asap dupa berbahan kayu cendana magis membumbung tinggi, mempertegas atmosfer
Langkah kaki bertempo tegas dari jajaran prajurit berzirah besi hitam bergema teratur di sepanjang koridor utama Sayap Mawar Hitam. Sejak pengakuan Lucien mengenai Kontrak Primordial dan keputusan tegas Maya untuk bertahan di Istana Bayangan, atmosfer di seluruh penjuru istana telah berubah total. Tempat yang semula terasa bagaikan penjara megah penuh bisikan bisu kini berubah menjadi kancah politik terbuka, di mana seluruh mata bangsawan berdarah murni tertuju penuh pada sosok gadis fana yang membawa sihir Primordial tersebut.Pagi itu, Maya berdiri diam di depan cermin kristal berbingkai emas setinggi tubuhnya. Gaun yang mengenakannya kali meunjukkan perbedaan yang amat drastis dari sebelumnya—bukan lagi kain zamrud biasa, melainkan gaun beludru hitam pekat berhiaskan sulaman benang-benang sihir emas yang berpendar halus setiap kali ia menghembuskan napas. Kain gaun itu jatuh dengan sangat anggun, menyapu lantai pualam. Di lehernya yang jenjang, melingkar sebuah kalung batu obsidian







