LOGINDapat uang warisan, rumah besar di tengah kota kecil di antah berantah dengan pemandangan asri. Ah mantap. Penduduknya ramah, agak nyeleneh dikit tapi nggak apa-apa lah. Meski banyak hujan tai ayam dari pohon, karena burung laknat itu suka nangkring di atas pohon, yang penting rumah gratis. Di temani oleh tangan tanpa badan, menggeliat manja di pojokan. Iya, kalian tidak salah baca kok. Emang ceritanya aja agak nyeleneh.
View MoreKetika pertama kali menginjakkan kaki ke kota kecil di tengah antah berantah ini...kakiku kesemutan. Seperti ada semut dan kutu merayap di telapak kaki, naik hingga ke betis. Membangkitkan bulu roma remang-remang di tangan.
Sungguh indah. Sepanjang mata memandang ada bangunan tua, sapi, jalanan rusak dan ayam di atas pohon. Kenapa ada ayam di sana? Mana ku tau, mereka mungkin suka duduk cantik di atas pohon. Dan jika malam tiba maka pria bermata kambing akan datang mengetuk pintu. Ya, kau tidak salah baca. Pria bermata kambing akan datang berkunjung ke rumah penghuni baru. Seperti sebuah ritual yang harus di lewati penghuni baru. Atau mungkin ucapan selamat datang dari kota terpencil ini. Unik? Mungkin. Menyeramkan? Sudah pasti. Sayangnya tidak banyak yang tau aturan tidak tertulis di tempat ini. Karena selalu saja ad kabar orang hilang, dan mereka semua adalah penghuni baru. Belum genap satu minggu menempati rumah baru, mereka sudah menjadi topik hangat warga. Kasihan? Kau tidak memiliki waktu untuk mengasihi manusia tanpa logika, dan kemampuan bertahan hidup layaknya ikan hias. Tapi mau bagaimana lagi. Logika adalah hal mewah, ketika semua orang berlomba-lomba untuk jadi orang bodoh. Dan sok menjadi pahlawan kesiangan. Moorbridge bukanlah tempat bagi mereka yang ingin membuktikan, bahwa tingkat kemaskulinan mu serapuh tissue di bagi menjadi lima. Karena tempat ini akan menelan mu hidup-hidup, tempat ini tidak memiliki belas kasihan. Satu kesalahan dan ucapkan selamat tinggal pada nyawamu. Jangan menjadi pahlawan kesiangan, jangan gegabah, buka mata, telinga dan semua indra yang kau miliki. Buka juga hidungmu jika perlu, kadang perubahan bau bisa menjadi indikasi penting. Dan jangan pernah membukakan pintu meskipun ada suara rintihan minta tolong. Suara seseorang mencakar jendela ataupun pintu rumahmu. Tutup smua gorden jendela di rumah, dan kunci pintumu. Abaikan suaranya, dia akan berhenti sendiri kalau lelah. Anggap saja ucapan selamat datang di Moorbridge. Karena tempat ini seaneh penduduknya yang terlihat bahagia namun depresi. Apa yang ku maksud? Mana ku tau, aku sendiri bingung bagaimana mendeskripsikan tempat ini. Oh ya, namaku Reihan Osbourne, kau bisa memanggilku Rei. Aku baru saja pindah ke sini karena mendapatkan warisan dari nenek. Rumah nenek jatuh padaku beserta sejumlah uang. Cukup untukku hidup mewah dan bermanja-manja dengan kucing di rumah. Orang tuaku membuang ku ke tempat antah berantah ini. Setelah tau bahwa nenek ingin mewariskan rumahnya ke salah satu anaknya, atau cucunya yang sedang membutuhkan rumah. Namun semua menolak dengan keras, meskipun penghuninya akan di berikan uang sebesar dua juta poundsterling. Itu bukan termasuk uang warisan mereka, nenek termasuk cukup kaya sehingga semua mendapatkan uang warisan cukup adil. Tetapi aku masih heran, kenapa mereka menolak rumah gratis dan tambahan uang? Ternyata semua tau cerita tentang Moorbridge selain aku. Tentu saja. Mereka pasti bungkam agar aku mau menerima tawaran itu. Orang waras mana yang akan menolak rumah dua lantai dengan tiga kamar, ruang baca, ruang perapian, dapur luas dan suasana aesthetic pedesaan Inggris. Kenapa aku jadi seperti agen jual rumah. Kembali ke cerita. Intinya mereka pastilah sudah berencana untuk membuangku ke sini, mengingat ibuku berusaha untuk menyingkirkan ku sejak aku lulus kuliah. Cerita lama tentang anak hasil selingkuh yang di benci keluarga besar. Dan berujung menjadi kambing hitam. Yep, itulah aku. Mereka pasti bersorak bahagia, karena yang harus berurusan dengan kota kecil laknat ini adalah aku. Sayangnya, nenek tidak sekejam mereka. Selain uang dan rumah mewah dua lantai di Moorbridge, nenek memberikanku buku kecil berisikan aturan. Mungkin lebih tepatnya panduan agar hidup selamat di sini. Meskipun terkesan indah and estetik, dengan suasana kota kecil hampir seperti pedesaan zaman ratu Victoria. Tempat ini menyimpan aturan tak tertulis yang harus kau patuhi. Salah langkah sedikit makan nyawamu jadi taruhannya. Atau tersiksa seumur hidup dengan teror mistis, dan kunjungan gaib lainnya. Nenek menuliskan semua aturan yang ia temukan dan ikuti selama tinggal di sini. Aturannya terdengar gila, bahkan rasanya seperti di tulis oleh orang tidak waras yang lepas dari rumah sakit jiwa. Tapi nenek bukanlah orang gila yang akan menuliskan hal nyeleneh seperti ini. Dan sekarang giliranku untuk mengikutinya jika aku ingin selamat hidup di sini.Hutan Blackwood tidak terlihat menakutkan dari kejauhan.Itu adalah hal pertama yang Rei pikirkan ketika mereka sampai di tepi hutan. Dia mengharapkan sesuatu yang gelap. Sesuatu yang penuh dengan pohon-pohon mati dan kabut tebal dan suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk meremang.Tapi yang dia lihat hanyalah hutan biasa. Pohon-pohon tinggi dengan daun yang hijau. Cahaya matahari yang menembus celah-celah dahan. Semak-semak yang tumbuh liar di antara akar-akar yang menonjol. Bahkan ada suara burung berkicau dengan riang, seperti tidak ada yang salah dengan tempat ini."Kau yakin ini tempatnya?" tanya Kieran pelan.Rei mengangguk pelan. "Aku yakin."Dia bisa merasakannya. Tarikan itu. Sesuatu yang halus tapi kuat. Sesuatu yang menariknya ke dalam hutan. Ke arah sesuatu yang menunggu di sana.Kieran menatap hutan itu selama beberapa detik. Kemudian dia mengangkat tasnya dan mulai berjalan. "Baiklah. Ayo kita masuk."Rei mengikuti. Langkahnya mantap. Langkahnya penuh tekad.Mereka mel
Rei bangun dengan kepala yang terasa lebih berat dari biasanya.Dia tidak ingat kapan dia tertidur. Yang dia ingat hanya duduk di sofa ruang tengah dengan cermin di pangkuannya, menatap langit-langit, dan memikirkan tentang pintu itu. Pintu kayu tua yang berdiri di tengah halaman. Pintu yang tidak ada di Moorbridge yang dia kenal.Tapi sekarang, cermin itu sudah tidak ada di pangkuannya. Sudah dia letakkan di meja. Sudah dia bungkus dengan kain. Sudah dia sembunyikan di bawah tumpukan buku di ruang kerja neneknya.Dia tidak ingin melihatnya lagi. Setidaknya, tidak sekarang.Rei duduk di sofa selama beberapa menit, mencoba mengumpulkan keberanian untuk memulai hari. Dia bisa mendengar ayam-ayam berkokok di luar. Dia bisa mendengar sapi-sapi gondrong bersuara. Dia bisa mendengar suara kicau burung yang entah dari mana. Semua suara normal. Semua suara yang biasa dia dengar setiap pagi.Tapi ada sesuatu yang berbeda.Rei menoleh ke jendela. Gorden masih tertutup, tapi dia bisa melihat cah
Twenty OneRei tidak tidur malam itu.Dia duduk di sofa ruang tengah dengan lentera gas di tangannya dan buku catatan neneknya di pangkuannya. Matanya terus kembali ke halaman terakhir, ke catatan yang ditulis dengan tulisan kecil dan gemetar. Cermin. Cermin yang bisa menunjukkan kebenaran. Cermin yang bisa menunjukkan jalan keluar.Tapi di mana? Neneknya tidak memberikan petunjuk apapun tentang lokasinya. Hanya "tempat yang paling tidak kau duga." Itu bukan petunjuk. Itu teka-teki. Teka-teki yang dibuat oleh wanita yang sudah mati dan mungkin masih menyimpan dendam.Rei menghela nafas dan menutup buku itu. Dia menatap jendela. Langit masih gelap, tapi ada sedikit cahaya di ufuk timur. Sebentar lagi matahari terbit. Sebentar lagi dia bisa berhenti merasa seperti sedang diawasi.Tapi dia tahu perasaan itu tidak akan hilang hanya karena matahari terbit.Dia bangkit dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan kompor dan mula
Rei tidak tidur malam itu. Dia duduk di ruang tengah dengan lentera gas di tangannya, menatap pintu depan dengan mata yang tidak berkedip. Setiap kali ada suara, entah itu angin yang bertiup, ranting yang bergesekan, atau sesuatu yang lebih mencurigakan, dia mengencangkan pegangan pada lenteranya dan bersiap untuk berlari. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara. Hanya keheningan yang begitu pekat sampai Rei bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Keheningan yang terasa seperti selimut basah yang menekan seluruh tubuhnya. Keheningan yang membuatnya merasa seperti sedang diawasi. Ketika matahari akhirnya terbit, Rei menghela nafas lega. Dia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang kaku, dan berjalan menuju jendela. Otot-ototnya terasa seperti kayu yang sudah terlalu lama tidak digerakkan. Lehernya kaku. Punggungnya nyeri. Tapi setidaknya dia masih hidup. Dia membuka gorden dengan hati-hati dan
Matahari mulai merangkak naik ke ufuk timur, cahayanya menyelinap masuk melalui celah gorden. Di iringi suara ayam bersahutan. Rei yang tertidur dengan posisi acak menggerutu, memgomel pada ayam di luar yang membangunkannya. Rei merengut sebal, berputar di kasur sebelum akhirnya menarik tubuhnya ban
"Permisi. Pesanan atas nama Rei Osbourne. Rei tersentak bangun dengan napas yang memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Terbatuk beberapa kali karena terlalu cepat menarik nafas hingga tersedak. Bayangan wajah ibunya yang meleleh masih tertanam jelas di dalam kepala. "Permisi." teriak seseor
Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Re
Rei menghela nafas, menyanggah dahunya dengan kedua tangan. Sikut bertumpu pada kayu jendela, semabri memandang halaman belakang di penihi tanaman, rumput liar, bunga liar, ayam dan sapi. Punya siapa kau tanya? mana ku tau. Mereka selalu datang dan pergi seenak pantat mereka. Baru semalam dia di






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.