ログインDapat uang warisan, rumah besar di tengah kota kecil di antah berantah dengan pemandangan asri. Ah mantap. Penduduknya ramah, agak nyeleneh dikit tapi nggak apa-apa lah. Meski banyak hujan tai ayam dari pohon, karena burung laknat itu suka nangkring di atas pohon, yang penting rumah gratis. Di temani oleh tangan tanpa badan, menggeliat manja di pojokan. Iya, kalian tidak salah baca kok. Emang ceritanya aja agak nyeleneh.
もっと見るDemi jenggot Pedro Pascal, yang tadi barusana apa?!
Rei membeku di tempat ketika suara itu menyentuh telinganya. Ia bersumpah bisa merasakan hembusan dingin nafas dari makhluk itu. Bahkan baunya lebih busuk dari bau bangkai dan tai kucingnya. Bau bajingan. Keringat dingin mengalir di punggung hingga ke bokong. Rei bisa merasakan jiwanya menguap dari ubun-ubun, terbang melayang ke udara dan melambaikan tangan layaknya di film kartun. Jantungnya rasanya sudah pindah ke jempol kaki, atau mungkin sudah melompat keluar dari tenggorokan dan lari duluan ke luar rumah dari rumah sialan ini. Tubuh Rei kaku, kaki terasa seperti manekin diskonan yang dipasang di depan toko baju. Ia tidak berani menoleh. Jangankan menoleh, bernapas saja rasanya dia butuh izin tertulis dari malaikat maut. Perlahan dengan gerakan lebih lambat dari siput sariawan, Rei menurunkan jam saku di tangannya. Kepalanya bergerak pelan seperti boneka kayu kurang pelumas. Perlahan menoleh ke belakang, di mana hanya ada debu yang bergoyang. Halu lagi. Ingin rasnaya menghela nafas lega, tapi dia tau kalau itu terlalu cepat. Ini rumah tua yang entah berapa lama tidak di huni. Kalau mistis ya wajar, tapi tidak sampai hantu neneknya juga yang menggentayangi rumah ini. Eh, tapikan ini rumah neneknya. "Tenang, tenang, cuma debu dan kain." gumamnya pada diri sendiri dengan suara gemetar. Rei kembali melirik jam saku di tangannya, jarumnya masih berputar mundur. Seakan waktu di sini bergerak melawan hukuma alam, setiap jarum itu bergerak mundur sedetik. Rei merasa kalau waktu di sekitra juga berjalan mundur, karena ruangan terasa bergoyang. Atau mungkin darah rendahnya kumat. Apapun itu, dia tidak bisa berdiri mematung di sini terus menerus. Malam sebentar lagi tiba, tidak mungkin juga Rei mengandalkan senter ponselnya untuk semalaman. Ponselnya masih menyala, tapi baterainya sudah mulai berteriak minta tolong. Kalau ponsel ini mati, tamatlah riwayatnya. Dia akan terjebak dalam kegelapan bersama suara bisikan serak yang memanggilnya 'anak haram'. "Oke Rei, tarik nafas...buang. Tarik lagi...buang lagi," bisiknya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih balapan F1 di dalam dada. Ia harus mencari kotak saklar. Ingatannya kembali ke instruksi singkat yang sempat ia baca di amplop tadi. Katanya, kotak utama ada di dekat pintu masuk atau di lorong bawah. Tapi masalahnya, untuk sampai ke sana, Rei harus melewati tangga kayu yang bunyinya sudah seperti orkestra film horor berbudget rendah. Rei melangkah keluar dari ruang kerja neneknya dengan langkah yang sangat hati-hati. Senter ponselnya menyorot ke depan, membelah kegelapan lorong lantai dua yang terasa semakin menyempit. Kain putih yang menutupi perabotan tampak seperti barisan hantu yang sedang berdiri menontonnya lewat. "Jangan dilihat, jangan dilihat," gumamnya berusaha memberanikan diri. Setiap kali kakinya menyentuh lantai kayu, suara deritan nyaring menggema di seluruh rumah. Rasanya seperti sedang mengumumkan keberadaannya pada apapun yang ada di rumah ini. Seakan berkata: Halo hantu-hantu sekalian, aku di sini, silakan sergap dari belakang. Pikiran Rei melayang ke mana-mana. Ia bisa membayangkan nenek Jeanne tertawa puas di alam sana, melihat cucu yang tidak diakuinya ketakutan setengah mati. Nenek tua itu memang punya selera humor yang sangat buruk. Memberi warisan rumah megah tapi bonus serangan jantung. Benar-benar cara yang elegan untuk membalas dendam dari liang lahat. "Sikring mana sikring..." gumam Rei yang mendadak kembali ke bahasa setelan pabrik. Saking takutnya, Rei sampai kembali ke bahasa setelan awal. Rasanya lebih lega di hati kalau menggunakan bahasa ibu. Langkahnya terhenti di ujung dasar tangga, ia mengarahkan senternya dinding, menyapu sisi kanan dan kiri sampai akhirnya menemukan kontak saklar. Kotaknya ada di pilar dekat pintu masuk, bersebelahan dengan gantungan topi tua. Ia mencoba membuka penutup kotak itu, tapi ternyata sudah agak berkarat. Rei harus menggunakan sedikit tenaga, menariknya dengan sentakan kecil sampai akhirnya pintu kotak itu terbuka dengan suara derit yang memekakkan telinga. "Uh...yang mana saklar lampunya?" gumam Rei sambil menggaruk kepala. Rei menarik keluar lembaran instruksi di sakunya lagi. Menggaruk kepalanya lagi sambil membaca instruksi mengenai tombol mana yang harus di cetek. Zzzzt... jeglek! Lampu di lorong berkedip-kedip sejenak, mengeluarkan suara berdengung khas lampu tua, sebelum akhirnya menyala dengan cahaya kuning temaram. Meskipun tidak terlalu terang, setidaknya dia tidak perlu lagi bergantung pada baterai ponselnya yang tinggal 15 persen. Rei menghela nafas panjang, bahunya merosot lega. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Ah, indahnya cahaya ilahi. " ucapnya sambil tersenyum lebar. Ia berbalik dengan niat ingin kembali ke ruang tengah, untuk mengecek furniture dan barang-barang yang perlu di bersihkan. Namun, tepat saat ia memutar tubuhnya, matanya menangkap sesosok putih tinggi yang berdiri tepat di depannya. Jantungnya serasa turun ke perut dan Rei memekik kaget. "Jabang bayi!" Refleks, karena rasa takut yang sudah mencapai ubun-ubun, Rei mengepalkan tangannya dan melayangkan tinju sekuat tenaga. Ia tidak berpikir dua kali. Pikirannya hanya satu: pukul dulu tanya nanti. BUKK! "Adaw! Bangsat!" Rei mendesis kesakitan, memegangi tangannya yang berdenyut. Ternyata itu bukan hantu. Tapi gantungan jaket dan topi dari kayu jati, lengkap dengan sebuah mantel tua bertengger manis beserta kain putih menutupinya. Karena posisinya yang tinggi dan bentuknya yang memang agak mirip orang berdiri, dalam kondisi cahaya kuning remamg-remang, di tambah mental yang sudah tidak stabil, Rei pun tertipu. "Sialan, sakitnya sampai ke ginjal."keluh Rei pelan. Ia meniup-niup buku jarinya yang memerah karena ulahnya sendiri. Gantungan baju itu sekarang tergeletak malang di lantai. Kain putihnya tersingkap sedikit, memperlihatkan kayu jati yang baru saja terlena tonjokan mesra dari Rei. Ia merasa sangat bodoh. Kalau ada kamera tersembunyi di sini, videonya pasti akan viral dengan judul 'Pria bodoh meninju gantungan baju'. Ia mencoba membenarkan posisi gantungan baju itu kembali sambil menggerutu. Mengasihani diri sendiri dan mempertanyakan nasibnya yang selalu saja sial. Pertama lahir sebagai anak haram, sekarang malah dapat rumah angker. Rei mendengus kesal, menghentakkan kakinya menuju ruang tengah. Rata-rata masih tertutup dengan kain, jadi Rei menarik paksa kainnya. Berakhir dengan debu berterbangan dan dia batuk dan bersin. Salahnya sendiri emosi. Perabotan di rumah ini terbilang masig bagus, seakan di rawat secara rutin. Meski debu berterbangan di mana-mana, perabotan di sini masih layak pakai. Sofa dan kursi tunggal bergaya zaman Victoria dengan ukiran pada kayunya. Lampu antik dan perapian. Bisa di bilang rumah ini cukup estetik dan pas untuk Rei, yang memang menyukai rumah dengan nuansa unik. Punya rumah di kota kecil atau pedesaan adalah impiannya. Udara sejuk bertemankan sapi dan ayam nangkring di atas genteng. Rei mencoba duduk di pinggirannya dengan sangat hati-hati, takut kalau-kalau ada per yang melompat keluar dan menusuk bokongnya. Empuk. Ternyata sofanya masih sangat layak. Lumayan lah, masih layak pakai. Dia tidak harus membeli perabotan baru, uang warisannya bisa ia simpan untuk masa depan. Rei menghela nafas panjang, perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi. Mata Rei bergulir perlahan, memindai barang-barang di sekitar. Jam tua, perapian, lemari piring dan gelas keramik, perabotan kayu dengan ukiran unik, dan perapian. Gelas dan piring keramik di lemari itu pasti harganya mahal, belum lagi semua vas dan barang antik di rumah ini. Kalau di jual, harganya pasti cukup mahal. Hal itu membuat Rei bertanya, kenapa nenek Jeanne memberikan rumah ini padanya. Kalau ayah, paman dan bibinya tau, mereka pasti akan protes dan menentang surat wasiat nenek. Tetapi malah Rei yang mendapatkan rumah ini beserta isinya. "Apa yang sebenarnya kau pikirkan, nenek tua." gumam Rei perlahan. Rei bangkit lagi setelah melamun selama dua puluh menit. Ia mulai berkeliling, menarik satu per satu kain putih yang menutupi furnitur lainnya. Kemudian berjalan menuju dapur, hendak melihat apakah dapurnya masih layak pakai. Dan ya, dapurnya masih layak pakai, bersih dan rapi. Semua lemari penyimpanan masih kokoh, tidak di makan oleh rayap, meja marmernya juga terlihat bersih tanpa debu. Ia meraba permukaan meja marmernya dengan gerakan lembut. Benar-benar bersih tanpa debu, seakan baru saja di bersihkan. "Mungkin tuan Powell yang membersihkan." batin Rei sambil memeriksa sekeliling dapur. Kulkas, kompor, oven, microwave, dan tempat cuci piring. Semuanya masih berfungsi dengan baik, hanya butuh di bersihkan saja agar tidak bau. Karena peralatan di sini pastilah sudah lama tidak di pakai. Kompornya bahkan menyala dengan baik, sepertinya memang bagian dapur sengaja di bersihkan terlebih dahulu. Mungkin memang tuan Powell yang membersihkan dapur, mengingat dia hobi memasak dan maniak kopi. Pastilah dia uang membersihkan tempat ini demi bisa menyeduh secangkir kopi. Rei bersandar di meja marmer, matanya menyapu setiap sudut dapur yang luasnya hampir sama dengan luas apartemennya dulu. Pikirannya mulai membuat catatan mental tentang apa saja yang harus di beli besok. Sabun cuci piring, bahan makanan, spons untuk cuci piring, sabun cuci baju, dan air suci kalau ada. Saat Rei sedang sibuk melamunkan merk sabun cuci mana yang paling ampuh membasmi kuman, sebuah gerakan di balik jendela dapur menangkap perhatiannya. Rei menyipitkan mata sejenak. Ada sesuatu yang bergerak di dekat bingkai jendela bawah. Putih, bulat, dan terlihat goyang-goyang. "Apa lagi sekarang?" gumam Rei lelah. Ia mendekat ke jendela dengan langkah pelan, berhenti tepat di depan wastafel. Ia melongok sedikit untuk melihat apa yang tadi lewat. "PEKOK! KOK! KOK! KOK! PEKOK!" "Wagh!" Rei melompat mundur sampai tungkainya membentur pinggiran meja marmer. Tepat di balik kaca, seekor ayam betina berwarna putih berlarian tidak jelas. Ayam itu berlari berputar-putar seperti ornag mabuk. "Ayam gila!" gerutu Rei kesal. "Sini ku goreng kau!" Rei menempelkan wajahnya pada jendela, hendak membuka jendelanya, tetapi tangannya terhenti karena ayam yang tadi menggagetkannya, sekarang dengan santainya bertengger di bahu neneknya yang seharusnya ada di dalam tanah. Tetapi yang berdiri menghadap Rei itu bukan neneknya. Nenek Jeanne terlihat kurus kering, rambutnya di gerai and kulit keriputnya terlihat menggelambir, hanya berpegangan pada tulang. Ia terlihat seperti tengkorak dengan kulit. Senyum nenek Jeanne juga tidak normal. Ujung mulutnya tertarik sampai ke telinga, dengan gigi ompong, tersenyum lebar. Bola matanya hitam dan mengeluarkan cairan seakan sedang menangis. Rei membeku di tempat, wajahnya pucat dengan keringat dingin menuruni leher dan dahinya. Nenek Jeanne tertawa, tawa melengking yang terdengar bukan seperti manusia. Apapun itu yang beridiri di luar sana dan melambaikan tangannya pada Rei. Itu bukan neneknya.Tidak bisa tidur. Hahahaha. Sial. Matanya tidak mau terpejam setelah semalaman meringkuk di dalam selimut. Seakan benda tipis itu mampu melindunginya dari penampakan di luar. Agak nggak logis memang, namanya juga orang takut. Setelah melihat sosok nenek Jeanne yang bukan nenek Jeanne, Rei lansung lari ke lantai dua dan mengunci dirinya di kamar. Tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin membanjiri seluruh badan. Tidak peduli jika kasurnya agak berdebu, urusan batuk dan bengek bisa di pikirkan nanti. Dia tidak mau mati konyol hanya karena melihat setan menyerupai neneknya. Rei baru bisa tidur ketika jam tua di ruang tengah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Ia akhirnya tertidur setelah semalaman meringkuk ketakutan dalam selimut. Rei baru bangun ketika matahari sudah mulai tinggi dan ayam-ayam mulai berisk di pekarangan belakang rumahnya. Butuh waktu setidaknya sepuluh menit bagi Rei untuk mengumpulkan keberaniannya. Ia baru berani keluar dari dalam selimut sete
Ketika pertama kali menginjakkan kaki ke kota kecil di tengah antah berantah ini...kakiku kesemutan. Seperti ada semut dan kutu merayap di telapak kaki, naik hingga ke betis. Membangkitkan bulu roma remang-remang di tangan.Sungguh indah.Sepanjang mata memandang ada bangunan tua, sapi, jalanan rusak dan ayam di atas pohon. Kenapa ada ayam di sana? Mana ku tau, mereka mungkin suka duduk cantik di atas pohon. Dan jika malam tiba maka pria bermata kambing akan datang mengetuk pintu.Ya, kau tidak salah baca. Pria bermata kambing akan datang berkunjung ke rumah penghuni baru. Seperti sebuah ritual yang harus di lewati penghuni baru. Atau mungkin ucapan selamat datang dari kota terpencil ini.Unik? Mungkin. Menyeramkan? Sudah pasti.Sayangnya tidak banyak yang tau aturan tidak tertulis di tempat ini. Karena selalu saja ad kabar orang hilang, dan mereka semua adalah penghuni baru. Belum genap satu minggu menempati rumah baru, mereka sudah menjadi topik hangat warga. Kasihan? Kau tidak memi
In memory of Jeanne Osbourne. Beloved grandmother, matriarch of the family and the greatest mother. Beloved grandmother, huh. Rei hampir saja tertawa di tengah pemakaman, ketika ibunya menyebut Jeanne sebagai nenek yang baik hati, penyayang, dan penuh belas kasih. Wow, rasanya dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata tersebut. Nenek tercinta? Nenek sihir si iya. Rei memaksakan diri untuk tidak mendengus sinis mendengarnya. Beberapa anggota keluarganya sampai melotot, memperingatinya agar menjaga tingkah lakunya. Lucu sekali, anak bibi Bertha saja sejak tadi tidak mendengarkan, sibuk membalas pesan dari pria yang dia sukai. Sampai hidungnya tenggelam dalam ponselnya. Ia menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Sekuat tenaga dia berusaha memberikan wajah sedih seakan dia sedang berkabung. Meski jatuhnya jadi seperti sedang menahan buang air besar. Siapa suruh mereka menyeretnya kemari. Biasanya mereka juga, menguncinya dia atas loteng jika hendak pergi m
“Hei anak haram, tuan Powell memanggilmu.” sinis Olivia sambil merengut. “Hah?" Rei yang baru saja selesai mrasakan bulu romanya meremang seperti lampu disko menoleh dengan wajah melongo. Paman dan bibinya sudah bubar tratur menuju mobil masing-masing. Hanya Olivia yabg misg tersisah karena bibi Bertha masih bersandiwara sambil menangis dan meraung. Seakan dia yang paling kehilangan sosok seorang ibu. Menjenguk nenek saja ogah-ogahan, paling datang meminta uang setelah itu menghilang layaknya setan. Lucu kan. Rei ragu-ragu mulai melangkah menjauh, sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan tadi itu cuma halu, atau dia kurang kopi. Dan ya, tidak ada siapapun di sana. Mungkin cuma halu. Ya, cuma halusinasi saja. Rei menghela nafas, mempercepat langkahnya menuju mobil di mana bibi dan pamannya sudah menunggu. Tetapi sebuah tangan menghentikan langkahnya. "Rei." Ia menoleh, mendapati pengacara neneknya menahan puncaknya. "Tuan Powell?" Rei berbisik kaget.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.